
Reina bangun dengan rasa kesal yang memenuhi hatinya. Semalaman gadis itu menunggu telepon dari Angga hingga tertidur. Namun Angga tak menelepon balik Reina sama sekali setelah pria itu pamit untuk mandi.
Menyebalkan!
Atau jangan-jangan Angga sibuk teleponan dengan Beth Bethany yang kata Fairel adalah pemilik toko kue di Jalan Seroja.
Baiklah!
Reina akan menyelidikinya nanti saat ia senggang!
Reina baru saja akan meletakkan ponselnya ke atas nakas, saat tiba-tiba ada pesan masuk. Reina mengambil ponselnya lagi dan membuka pesan yang rupanya dari Diftha tersebut.
Ada dua foto yang dikirimkan oleh Diftha.
[Pagi, Rei! Maaf, aku mengganggu. Aku hanya ingin mengirimkan foto candid-mu bersama Gizta yang kemarin iseng aku ambil. Maaf kalau aku lancang] -Diftha-
[Aku berniat menghapus foto tadi dari ponselku. Tapi berhubung itu adalah fotomu, jadi aku berinisiatif untuk mengirimkannya dulu padamu sebelum aku hapus. Boleh kau hapus juga kalau menurutmu jelek] -Diftha-
Reina segera membuka foto yang dikirimkan oleh Diftha. Gadis itu lalu tersenyum sendiri saat melihat foto yang diambil oleh Diftha.
"Bagus begini fotonya," gumam Reina memuji hasil jepretan Diftha. Gadis itu lalu mengetikkan pesan untuk Diftha.
[Fotonya bagus. Jangan dihapus!] -Reina-
Balasan pesan dari Diftha langsung masuk selang beberapa menit.
[Sudah aku hapus] -Diftha-
Ck!
Reina berdecak, sebelum kemudian gadis itu mengirim balik fotonya bersama Gizta ke nomor Diftha. Tak lupa Reina juga mengetikkan pesan untuk Diftha di bawah foto yang ia kirim.
[Simpan untuk kenang-kenangan dan jangan dihapus] -Reina-
[Siap! Semoga apa yang menjadi keinginan Gizta bisa terwujud] -Diftha-
Reina mengernyit saat membaca pesan dari Diftha.
[Apa memang keinginan Gizta? Maukah kau memberitahuku?] -Reina-
[Ada pokoknya! Aku siap-siap ke kantor dulu! Takut telat] -Diftha-
"Ck! Dasar Diftha! Suka sekali buat orang penasaran!" Gerutu Reina setelah membaca oesan terakhir Diftha. Reina lalu ganti memeriksa pesan dari Angga, untuk memastikan barangkali calon tunangan Reina itu sudah siuman dari lupanya.
Tetap tidak ada pesan apapun!
Hhhh!
Sepertinya sekali lagi Reina harus bersabar menghadapi sikap Angga yang entahlah!
Apa Reina juga yang harus terus-terusan memulai semuanya?
__ADS_1
Mulai menghubungi dulu. Mulai mengirim pesan dulu. Mulai ini dulu itu dulu.
Reina sudah jengah!
Setelah menarik nafas dalam-dalam, Reina akhirnya meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu beranjak dari atas tempat tidur dan langsung pergi ke kamar mandi. Reina juga akan siap-siap ke kantor!
****
"Ini uang untuk belanja bahan-bahan masakan,trus nanti Mbak masak sesuai penjelasan aku tadi, ya!" Ujar Reina pada ART di rumahnya. Tak lupa gadis itu juga mengangsurkan beberapa lembaran uang pada ART tersebut.
"Lalu nanti makanannya dikirim ke kantor, Non?" Tanya ART memastikan.
"Bukan! Nanti aku yang akan memberitahu Pak supir alamat tujuannya. Mbak masak saja, oke!" Jawab Reina yang langsung membuat sang ART mengangguk.
"Baik, Nona!"
Reina yang merasa urusannya di dapur sudah selesai, segera beranjak karena ia juga harus segera pergi ke kantor.
"Kamu pesan masakan apa pada Mbak, Rei? Kenapa titip uang segala? Bahan-bahan di kulkas masih lengkap, lho!" Cecar Mom Yumi pada sang putri.
"Yang di kulkas kan bahan-bahan makanan untuk di rumah, Mom! Ini Reina mau kirim makanan untuk seseorang. Jadi biar Mbak belanja lagi," jelas Reina yang sepertinya sedikit membuat bingung Mom Yumi.
"Mau kirim makanan untuk siapa memang?" Tanya Mom Yumi penuh selidik.
"Untuk Gizta," jawab Reina seraya meringis.
Ya, andai Reina bisa memasak, mungkin Reina akan memasaknya secara langsung saja di rumah Diftha agar Gizta bisa makan makanan hangat yang bergizi setiap hari. Tapi kemampuan memasak Reina memang payah karena sedari remaja Reina paling ogah pergi ke dapur. Berbanding terbalik dengan Mom Yumi yang rajin dan gemar memasak.
Mungkin Reina memang titisan Dad Liam yang tak bisa memasak!
"Gizta siapa?" Tanya Mom Yumi lagi masih dengan tatapan penuh selidik.
"Adiknya Diftha, Mom!"
"Diftha?"
"Teman sebangku Reina saat SMA dulu. Sekarang Diftha bekerja sebagai sekretaris Angga, jadi ya begitulah!"
"Kebetulan adik Diftha ini sedang sakit akibat kecelakaan, Mom. Jadi butuh perhatian lumayan ekstra serta asupan makanan yang bergizi," terang Reina panjang lebar pada Mom Yumi yang sudah mirip dokter saja.
Haish!
Reina bahkan tak pernah bercita-cita menjadi dokter seperti Sakya anaknya Aunty Thalita.
"Begitu!"
"Kedua orang tuanya-"
"Sudah meninggal saat kecelakaan," jawab Reina cepat seraya meringis yang langsung membuat raut wajah Mom Yumi berubah prihatin.
"Yang Reina lakukan ini tidak berlebihan, kan, Mom?" Tanya Reina meminta pendapat Mom Yumi.
__ADS_1
"Sama sekali tidak, Rei! Mom senang dengan kepedulianmu pada Gifta?"
"Gizta, Mom!" Ujar Reina mengoreksi dengan cepat karena Mom Yumi salah memanggil nama adik Diftha.
"Iya Gizta." Mom Yumi mengangguk-angguk.
"Ngomong-ngomong, kau tadi sudah sarapan?" Tanya Mom Yumi selanjutnya pada sang putri.
"Sudah, Mom! Ini mau berangkat. Abang Iel sudah berangkat, ya? Reina mau numpang." Reina langsung berjalan cepat ke ruang makan dan rupanya Fairel masih disana dan sedang melahap sisa potongan rotinya yang terakhir.
"Abang! Bagaimana surprize untuk Rossie semalam? Sukses?" Tanya Reina sedikit meledek sang abang.
"Sukses sekali!" Jawab Fairel bersungut.
Sepertinya sukses gagal total jika dilihat dari ekspresi wajah Fairel. Entah apa yang terjadi semalam.
Fairel diusir oleh Om Robert karena membuat kegaduhan tengah malam?
Atau Rossie yang tak kunjung bangun untuk menemui Fairel?
"Keren!" Reina mengacungkan ibu jarinya pada Fairel.
"Apanya yang keren?" Fairel kembali bersungut-sungut dan Reina sontak tergelak.
"Dad nanti, jangan lupa bicara pada Tante Anne, ya!" Pesan Fairel seraya bangkit dari duduknya, lalu membersihkan remah-remah roti dari atas celananya.
"Dad lagi yang kamu suruh-suruh! Dad tidak mau ikut campur tentang perseteruanmu dengan Keano itu!" Jawab Dad Liam ikut bersungut pada Fairel.
"Ck! Tapi Iel harus bisa mendapatkan Rossie, Dad! Keano pasti main curang" Fairel tak berhenti bersungut dan menyalahkan Keano yang jelas-jelas adalah sepupunya sendiri.
"Abang saja yang usahanya belum maksimal!" Sahut Reina sok tahu.
"Diam, kau!" Fairel sudah mengacungkan bogemnya pada Reina, saat terdengar teguran keras dari Mom Yumi
"Ieeeeel!!!" Geram Mom Yumi.
"Hehe, peace, Mom!" Fairel cepat-cepat mengganti bogem dengan jari yang membentuk huruf V sebelum omelan tujuh hari tujuh malam ala Mom Yumi mulai terdengar.
"Ayo berangkat, Bang!" Ajak Reina akhirnya seraya menggamit lengan Fairel.
"Lepas! Aku bukan pacarmu!" Sentak Fairel tetap sambil bersungut-sungut.
Setelah berpamitan pada Dad Liam dan Mom Yumi, dua anak di keluarga Halley tersebut segera berangkat.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1