
"Tidak mampir?" Tanya Reina setelah gadis itu memeluk Angga sekali lagi. Pasangan kekasih itu sudah tiba di kediaman Halley dan saat ini jam menunjukkan pukul tujuh malam.
Angga menggeleng dan memeriksa leher Reina lagi, untuk memastikan kalau bekas perbuatannya di kantor tadi sudah tidak nampak dan tertutup oleh concealer. Reina yang memancing dan Angga yang tak bisa menahan diri. Jadilah mereka berdua tadi melakukan hal yang seharusnya Angga hindari.
Ya, Angga sudah berjanji pada dirinya sendiri beberapa hari yang lalu, tapi sore ini malah Angga mengulanginya lagi! Payah!
"Sudah tak terlihat," gumam Angga yang sudah selesai memeriksa leher Reina.
"Kau menjemputku besok?" Tanya Reina lagi memastikan, sebelum gadis itu turun dari mobil Angga.
"Aku tidak janji," jawab Angga ragu yang langsung membuat ekspresi wajah Reina berubah.
"Besok aku mungkin tak akan ada di kantor seharian, Rei!"
"Jadwalku di luar penuh," jelas Angga sembari mengusap wajah Reina dan mencoba memberikan pengertian pada kekasihnya tersebut.
"Jangan marah!" Pinta Angga lagi dengan nada lembut.
"Ya!" Jawab Reina yang tetap merengut. Reina lalu membuka sabuk pengaman dan pintu mobil. Lalu gadis itu turun dari mobil Angga.
"Bye!" Ucap Angga pada Reina yang tetap merengut.
"Bye! Hati-hati di jalan!" Jawab Reina yang meskipun kesal namun tetap melambaikan tangan pada Angga dan menunggu hingga mobil Angga meninggalkan kediaman Halley.
Padahal Reina pikir apa yang terjadi di kantor tadi adalah pertanda baik dan Angga akan mulai mengesampingkan pekerjaannya. Namun ternyata Angga tetaplah pria workaholic!
Sudahlah!
Reina lanjut masuk ke rumah,dan saat gadis itu baru tiba di teras, ia malah berpapasan dengan Mom Yumi dan Dad Liam yang sudah berpakaian sangat rapi.
"Baru pulang, Rei? Lembur?" Cecar Dad Liam to the point.
"Ya! Lembur menenami Angga dan selingkuhannya," jawab Reina sedikit kesal.
"Angga selingkuh?" Kedua mata Dad Liam langsung melotot hebat dan nada suara Dad kandung Reina itu sudah naik tujuh oktaf.
"Bercanda, Dad!" Kekeh Reina selanjutnya yang membuat Dad Liam semakin tajam melotot ke arahnya.
"Selingkuh dengan laptopnya maksud Reina! Angga lembur tadi, jadi Reina menemaninya," jelas Reina akhirnya sembari meringis.
"Kalau bicara itu jangan setengah-setengah, Rei! Dad-mu nyaris jantungan ini!" Nasehat Mom Yumi yang langsung membuat Reina kembali meringis.
"Iya, Mom, Maaf!" Ucap Reina sembari mengerucutkan bibirnya.
"Kalau Angga benar-benar selingkuh, Dad akan langsung turun tangan untuk menghajarnya!"
"Tak peduli dia anak kesayangan Robert atau apa! Dad tetap akan menghajarnya!" Ucap Dad Liam berapi-api yang langsung membuat Mom Yumi geleng-geleng kepala.
"Angga tidak selingkuh jadi sudah jangan bertingkah lebay! Ayo pergi! Kita sudah terlambat!" Ajak Mom Yumi sembari menarik lengan Dad Liam.
"Mom dan Dad mau kemana?" Tanya Reina kepo.
"Ada acara di luar!" Jawab Mom Yumi sambil terus berlalu menuju ke mobil.
"Mom! Abang Iel belum pulang?" Tanya Reina lagi berseru pada Mom dan Dad-nya yang sudah masuk ke dalam mobil.
"Iel sedang di luar kota dan baru pulang nanti saat hari pertunanganmu!" Jawab Mom Yumi.
Tak berselang lama, mobil yang membawa kedua orang tua Reina tersebut sudah melaju pergi, meninggalkan Reina yang hanya mampu mendengus.
Di rumah sendiri!
Huh!
****
"Terima kasih, Dad!" Ucap Reina sembari mencium pipi Dad Liam yang pagi ini berbaik hari mengantar Reina ke kantor.
"Mom akan mengomel jika melihatmu mencium pipi Dad seperti tadi!" Ucap Dad Liam yang malah membuat Reina kembali mencium pipi Dad-nya itu lagi.
"Seperti ini?"
"Reina!" Dad Liam menatap tajam pada sang putri.
"Apa? Yang cemburuan kan Dad, bukan Mom!"
"Meskipun Reina meluk-meluk Dad, Mom sikapnya biasa saja. Beda cerita kalau Abang Iel yang meluk-meluk Mom. Dad langsung mencak-mencak tak karuan," Cerocos Reina panjang lebar membuka semua kartu As Dad Liam.
__ADS_1
"Ck! Mom hanya milik Dad seorang!"
"Jadi yang boleh memeluk dan menciumnya ya cuma Dad!" Sergah Dad Liam cepat yang langsung membuat Reina tergelak.
"Iya, iya! Yang puber kedua dan bucin akut!" Ledek Reina sembari membuka pintu mobil, lalu keluar dari mobil sang Dad.
"Bye, Dad!" Ucap Reina sekali lagi seraya melambaikan tangan ke arah mobil Dad Liam yang langsung melaju pergi.
"Baru datang juga?" Sapa sebuah suara yang langsung membuat Reina kaget.
"Hai!" Reina balik menyapa sang empunya suara yang ternyata adalah Diftha yang juga baru tiba di kantor.
"Tadi diantar siapa? Pacar kamu?" Tanya Diftha lagi berbasa-basi.
"Bukan!" Sergah Reina cepat.
"Itu tadi Dad aku!" Ujar Reina lagi yang langsung membuat Diftha mengangguk. Reina dan Diftha lalu masuk ke kantor bersamaan.
"Ini aku bawakan pesanan kamu kemarin."
"Kopinya menyusul nanti," tukas Duduk sembari menyodorkan satu kantung plastik kepada Reina sebelum keduanya naik lift.
"Ini apa?" Tanya Reina yang langsung memeriksa isi dari kantong plastik tadi.
"Ya ampun!"
"Banyak sekali!" Gumam Reina setelah mendapati beberapa buah roti mentega di dalam kantong plastik.
"Katanya kamu suka. Jadi aku belikan banyak," ujar Diftha sembari mengulas senyum.
"Aku ganti uangnya!" Reina segera merogoh tasnya untuk mencari dompet.
"Tidak usah, Rei!" Tolak Diftha cepat.
"Tidak apa!"
"Kau kan sedang berhemat untuk membayar terapi dan perawat Gizta." Ujar Reina seraya menyodorkan lembaran uang biru pada Diftha.
"Tidak usah!" Tolak Diftha lagi sungkan.
"Gajiku yang sekarang sudah lebih dari cukup untuk membayar terapi dan perawat Gizta," terang Diftha yang langsung membuat Reina mengernyit.
"Ya! Pak Angga baik sekali dan memberiku bonus yang lumayan saat gajian kemarin. Kata pak Angga pekerjaanku bagus dan memuaskan," cerita Diftha kemudian yang langsung membuat Reina mengangguk.
"Syukurlah kalau begitu! Semoga kau betah bekerja disini." Reina menepuk punggung Diftha.
"Pasti betah dong!" Sahut Diftha cepat penuh semangat.
"Kan ada yang menyemangati disini," lanjut Diftha lagi sedikit bergumam.
"Apa?" Tanya Reina yang tak terlalu jelas mendengar gumaman Diftha.
"Tidak ada apa-apa! Kau sudah sampai di lantaimu!" Ujar Diftha cepat bersamaan dengan pintu lift yang sudah terbuka di lantai divisi keuangan.
"Eh, iya!"
"Baiklah, aku turun duluan! Bye!" Pamit Reina pada Diftha sembari gadis itu melangkah keluar dari lift.
"Bye, Reina!" Jawab Diftha seraya mengulas senyum dan terus menperhatikan punggung Reina hingga pintu lift kembali tertutup dan lift lanjut naik ke lantai atas. Semangat bekerja Diftha seolah baru saja terisi full sekarang!
****
"Jangan lupa, ya, Diftha!"
"Aku pergi satu jam lagi!" Pesan Angga pada Diftha sebelum bos Diftha itu menghilang ke dalam ruangannya.
"Iya, Pak!" Jawab Diftha sembari meyugar rambutnya sendiri. Sedari pagi Diftha memang sudah sibuk mondar-mandir menemani Angga dari meeting hingga bertemu beberapa rekan bisnis.
Diftha memeriksa sebentar ponselnya, sebelum ia lanjut menyiapkan berkas yang tadi dipinta oleh Angga. Ada beberapa pesan dari Reina yang belum sempat Diftha buka dan baca.
[Kopi?] -Reina-
[Sepertinya kau sibuk. Baiklah, aku makan rotinya tanpa kopi saja] -Reina-
"Astaga!" Diftha menepuk keningnya sendiri, lalu pria itu cepat-cepat menyiapkan berkas untuk diserahkan pada Angga, sebelum lanjut pergi ke pantry untuk membuat kopi untuk Reina.
"Diftha!" Panggil Angga bersamaan dengan Diftha yang baru keluar dari pantry sembari membawa secangkir kopi.
__ADS_1
"Itu untukku?" Tanya Angga yang sepertinya tertarik pada kopi di tangan Diftha.
"Mmmmmm, iya,Pak!"
"Silahkan!" Jawab Diftha yang akhirnya menyodorkan kopi tadi pada Angga. Padahal seharusnya itu kopi untuk Reina!
Tak apa!
Nanti Diftha tinggal membuatnya lagi.
"Enak! Manisnya pas!" Puji Angga yang langsung menenggak habis kopi dari Diftha.
"Berkasnya-
"Sudah siap, Pak!" Diftha langsung mengambil berkas yang sudah ia siapkan dan mengangsurkannya pada Angga.
"Saya perlu ikut?" Tanya Diftha selanjutnya.
"Tidak usah!"
"Nanti aku kirim lagi via email berkas yang harus kau kerjakan, dan kalau sudah selesai kau bisa langsung pulang."
"Kau ada acara reuni hari ini, kan?" Ujar Angga panjang lebar sembari melontarkan pertanyaan yang membuat Diftha kaget.
Kok Pak Angga bisa tahu kalau Diftha ada reuni hari ini?
"I-iya, Pak! Kok bisa tahu?" Diftha akhirnya balik bertanya pada Angga.
"Dari Reina," jelas Angga yang langsung membuat Diftha mengangguk. Mungkin Reina sudah minta izin duluan tadi dan sekalian memintakan izin untuk Diftha juga.
Ya ampun!
Reina perhatian sekali!
"Jadi,saya boleh pulang lebih cepat untuk datang ke acara reuni, Pak?" Tanya Diftha lagi memastikan.
"Ya!"
"Nanti pergi saja bersama Reina," tukas Angga santai sebelum pria itu berlalu dan masuk ke dalam lift. Meninggalkan Diftha yang kini tersenyum sendiri karena rencananya hari ini seolah mendapatkan jalan yang mulus!
"Saatnya membuat kopi untuk Reina!" Gumam Diftha yang kembali pergi ke pantry.
****
Reina menyodorkan map pada Angga sembari mengerucutkan bibirnya.
"Jangan cemberut begitu! Kau bisa pergi reuni nanti bersama Diftha," ucap Angga sembari mengusap wajah Reina.
"Tapi aku lebih suka pergi bersamamu. Kita bisa sekalian mengundang teman-temanku untuk datang ke acara pertunangan kita nanti," rengut Reina yang malah membuat Angga tertawa kecil.
"Kau bisa mengundang mereka semua nanti. Sudah ada undangannya?" Tanya Angga memastikan.
Reina menggeleng,
"Tadi pagi belum datang undangannya. Kata Mom mungkin sore atau malam baru diantar," jelas Reina.
"Kau bisa memberitahu teman-temanmu dulu dan undangannya menyusul kalau begitu!" Ujar Angga memberikan solusi.
"Kau yakin tidak mau menemaniku ke acara reuni, Angga?" Tanya Reina masih berharap.
"Aku tidak bisa, Rei!"
"Sore ini aku juga ada janji penting bersama Keano," jelas Angga lagi dan Reina hanya bisa mendes*h kecewa
"Aku pergi dulu!" Pamit Angga selanjutnya seraya mencium kedua tangan Reina.
"Ya! Hati-hati!" Ucap Reina setengah hati.
Angga langsung keluar dari ruangan Reina, dan pria itu sedikit kaget melihat Diftha yang rupanya sudah ada di depan ruang kerja Reina.
"Siang, Pak!" Sapa Diftha sopan.
"Siang!" Jawab Angga sembari memperhatikan kopi di tangan Diftha, lalu pria itu sedikit mengernyit. Namun kemudian Angga tak terlalu memikirkannya karena ia sedang terburu-buru dan harus secepatnya pergi.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.