
Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Suasana di kediaman Halley juga mulai berangsur sepi. Para tamu undangan sudah pulang ke rumah masing-masing, menyisakan anggota keluarga Halley dan keluarga Hadinata yang masih berkumpul di halaman depan.
Sedangkan Angga dan Reina memilih untuk memisahkan diri dan dua sejoli yang baru saja bertunangan tersebut, kini duduk di tepi kolam renang di halaman belakang kediaman Halley.
"Kau tidak membagikan undangan untuk para karyawan," ujar Angga memulai pembicaraan.
"Aku membagikannya. Tadi mereka semua datang," jawab Reina tanpa sedikitpun menatap pada Angga. Tatapan gadis itu hanya lurus ke depan, ke arah air di kolam yang beriak kecil karena hembusan angin.
"Apa kau sedang menjaga perasaan seseorang?" Tanya Angga lagi dengan nada menyindir.
"Tidak!" Jawab Reina setelah gadis itu terdiam beberapa saat.
"Lalu kenapa harus menyembunyikan undangan di bawah meja kerjamu-"
"Aku hanya tidak ada waktu untuk membagikannya," sergah Reina menyela pertanyaan penuh sindiran dari Angga.
"Tidak ada waktu." Angga bergumam sinis. Pria itu lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, menangkupkan kedua tangan,lalu menghela nafas panjang beberapa kali.
"Begini." Angga menghela nafas sekali lagi.
"Jika memang kau merasa nyaman bersama Diftha yang perhatian-" Kalimat Angga langsung terhenti, karena Reina yang tiba-tiba sudah bangkit berdiri, lalu menatap tajam ke arah Angga.
"Tidak masalah jika kau ingin berpaling, Rei!" Angga melanjutkan kalimatnya dengan suara lirih.
Tatapan tajam Reina seketika berubah menjadi tatapan penuh kekecewaan. Gadis itu menggeleng samar, sebelum akhirnya pergi berlalu dan meninggalkan Angga.
Angga kembali menghela nafas, sembari menahan rasa sesak yang menghimpit dadanya. Pria itu lalu mengusap wajahnya sendiri dengan kasar dan menyugar rambutnya berulang kali.
Dasar bodoh!
****
"Reina dan Iel belum bangun, Yum?" Tanya Dad Liam saat mendapati meja makan yang sepi. Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi dan seharusnya semua anggota keluarga Halley sudah berkumpul di meja makan sekarang untuk menikmati sarapan.
Lalu kenapa sekarang hanya ada Dad Liam dan Mom Yumi saja?
"Itu Iel!" Ucap Mom Yumi sembari mengendikkan dagunya ke arah tangga, dimana Fairel muncul sembari mengenakan kacamata hitam. Terang saja Dad Liam langsung menatap heran ke arah putra sulungnya tersebut.
"Pagi, Dad!"
"Pagi, Mom!" Sapa Fairel sambil sedikit membenarkan letak kacamata hitamnya.
"Kenapa pagi-pagi memalai kaca mata hitam, Iel? Apa kau sedang di pantai sekarang?" Tanya Dad Liam dengan nada suara yang meninggi.
"Iel sakit mata, Dad!" Jawab Fairel beralasan sembari duduk di samping Mom Yumi, lalu meraih dua lembar roti yang disodorkan oleh sang Mom.
"Sakit mata?"
"Kau baru saja mengintip seseorang?" Tanya Dad Liam lagi heran yang hanya membuat Mom Yumi menahan tawa.
"Reina mana? Masih berendam?" Tanya Dad Liam selanjutnya karena Reina yang tak kunjung turun dari lantai atas.
__ADS_1
"Biar aku periksa." Mom Yumi sudah bangkit dari duduknya, saat kemudian Fairel menyuruh Mom-nya tersebut untuk kembali duduk.
"Biar Iel saja, Mom!" Fairel ganti bangkit berdiri, lalu berlari ke arah tangga dan naik dengan cepat ke lantai dua.
"Rei! Kau tidak ke kantor?" Fairel mengetuk pintu kamar Reina sembari berseru pada adikmya tersebut.
"Reina Halley!" Panggil Fairel lagi yang sudah ganti mencoba untuk membuka pintu kamar Reina.
Tidak dikunci!
"Rei! Kau masih mandi?" Tanya Fairel lagi sembari masuk ke kamar Reina yang terlihat sepi.
"Rei-"
"Astaga!" Pekik Fairel yang langsung berlari menghampiri Reina yang sudah terkapar di depan kamar mandi.
"Reina!" Fairel langsung membopong tubuh Reina dan membaringkannya di atas tempat tidur. Badan Reina juga terasa panas saat Fairel mengangkatnya tadi. Kenapa Reina tak memberitahu Mom atau Dad kalau memang dia sakit?
"Mom! Dad! Reina pingsan di kamar!" Seru Fairel dari lantai atas, yang langsung membuat Mom Yumi dan Dad Liam berhamburan naik ke lantai dua.
"Reina kenapa, Iel?" Tanya Mom Yumi yang sampai terlebih dahulu di kamar Reina.
"Badannya panas, Mom! Iel rasa Reina sakit," jelas Fairel yang langsung membuat Mom Yumi memeriksa suhu tubuh sang putri.
"Panas sekali," gumam Mom Yumi cemas.
"Kita bawa ke UGD," cetus Dad Liam bersamaan dengan Reina yang sudah sadar dan membuka mata.
"Reina tidak mau ke rumah sakit, Dad!" Ucap Reina dengan suara lirih.
"Reina tidak mau ke rumah sakit, Mom!" Rengek Reina lagi.
"Tapi badanmu panas sekali!" Dad Liam tetap bersikeras.
"Nanti juga turun kalau Reina minum obat," sergah Reina tak kalah keras kepala.
"Perlu aku telponkan Angga?" Tawar Fairel yang sudah mengeluarkan ponselnya.
"Tidak usah!" Reina refleks menyalak pada sang Abang yang langsung mengernyit.
"Kenapa Abang Iel pakai kacamata pagi-pagi?" Reina ganti melontarkan pertanyaan yang membuat Fairel berdecak.
"Suka-suka akulah!"
"Aku mau ke kantor!" Tukas Fairel selanjutnya seraya menghampiri Reina.
"Mau apa?" Tanya Reina memicing curiga.
"Cepat sembuh!" Fairel mengacak rambut Reina yang langsung membuat Reina mendengus.
"Mau foto prewedding, malah sakit!" Kekeh Fairel lagi sebelum pria itu berlalu ke arah pintu kamar Reina. Fairel juga sudah meletakkan ponselnya di telinga, saat pria itu sampai di ambang pintu kamar.
__ADS_1
"Angga! Reina sakit dan pingsan di kamarnya pagi ini! Kau jenguk dia sekarang!" Ucap Fairel lantang yang rupanya benar-benar menelepon Angga.
"Abang!!!!" Teriak Reina geram, sebelum kemudian gadis itu menyadari tatapannya aneh dari Mom Yumi dan Dad Liam.
Mom Yumi meletakkan sekali lagi punggung tangannya di kening Reina.
"Masih demam," gumam wanita paruh baya tersebut.
"Reina minum obat saja, Mom!" Rengek Reina sekali lagi
"Iya! Tapi sarapan dulu," tukas Mom Yumi akhirnya. Wanita paruh baya itu lalu bangkit berdiri dan mengajak Dad Liam keluar dari kamar Reina.
"Reina tidak hamil, kan?" Celetuk Dad Liam tiba-tiba saat ia dan Mom Yumi sudah keluar dari kamar.
"Apa maksudmu?" Mom Yumi langsung menyalak dan mendelik horor pada sang suami.
"Katamu, Reina dan Angga sudah-"
"Belum sejauh itu!" Geram Mom Yumi masih mendelik-delik.
"Oh," Dad Liam langsung membulatkan bibirnya tanpa dosa.
"Aku tak perlu memberikan bogem mentah untuk Angga berarti," kekeh Dad Liam lagi yang benar-benar membuat Mom Yumi ingin menjewer telinga suaminya tersebut.
****
Reina sedang berbaring miring dan menghadap ke arah pintu kamar, saat kemudian daun pintu tersebut terbuka dan ada Angga yang berdiri di ambang pintu.
Reina langsung membuang nafas dengan kasar dan berbalik memunggungi pintu masuk. Sementara Angga sudah masuk dan menutup kembali pintu kamar.
"Sakit karena rindu?" Tanya Angga yang langsung membuat Reina mendengus. Reina masih memunggungi Angga yang kini duduk di tepi tempat tidur.
Angga lalu mengulurkan tangannya dan hendak mengusap punggung Reina. Namun kemudian Angga mengurungkan niatnya tersebut dan tak jadi mengusap punggung Reina.
"Maaf aku tidak bisa lama, karena ada meeting," ucap Angga selanjutnya yang kembali membuat Reina mendengus.
"Ya! Aku memang pria workaholic yang selalu sibuk dan jarang ada waktu untukmu. Sangat berbeda dengan Diftha yang selalu memberikanmu perhatian kecil."
"Membawakan kopi untukmu setiap misalnya," Angga tertawa sumbang dan Reina langsung berdecak.
"Aku mana pernah melakukannya," sambung Angga lagi tetap tertawa sumbang. Seolah pria itu sedang menertawakan dirinya sendiri.
"Kau saja yang tak pernah mau berusaha! Padahal kau juga bisa melakukan hal yang sama!" Sergah Reina tetap memunggungi Angga.
"Kau benar!" Ucap Angga sadar diri.
"Nanti aku bawakan obat mujarab agar kau cepat sembuh," tukas Angga selanjutnya seraya bangkit berdiri. Pria itu menatap cukup lama pada punggung Reina, sebelum kemudian berbalik dan keluar dari kamar Reina.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.