Segitiga Cinta Reina

Segitiga Cinta Reina
DATANG


__ADS_3

Reina menatap ke arah Fairel yang masih duduk di sudut kamarnya, sejak Reina mulai dirias hingga hampir selesai.


"Apa?" Tanya Fairel ketus yang rupanya sadar dengan tatapan heran dari Reina.


"Abang seperti tidak ada kerjaan," komentar Reina sinis.


"Aku ada pekerjaan penting!"


"Mengawasimu!" Ucap Fairel seraya mengarahkan kedua jarinya ke matanya sendiri, lalu ganti ke arah Reina.


"Ck!" Reina berdecak.


"Tidak menggoda Rossie? Atau mencari-cari perhatian gadis itu? Reina lihat abang sudah jarang membahas tentang Rossie belakangan-" kalimat Reina belum selesai, saat Fairel tiba-tiba sudah bangkit dari duduknya, lalu raut wajah pria itu berubah seperti menahan amarah.


"Aku akan keluar!" Ucap Fairel ketus, sebelum kemudian pria itu benar-benar keluar dari kamar Reina.


"Aneh!" Gumam Reina setelah melihat sikap Fairel yang mendadak marah hanya karena Reina menyebut bama Rossie.


Apa sebenarnya yang sudah terjadi?


Apa yang Reina lewatkan?


"Itu Reina!" Sebuah suara dari ambang pintu kamar Reina, langsung membuyarkan lamunan gadis itu. Reina menoleh ke arah pintu, dimana Rossie sedang berjalan ke arahnya sembari mengulas senyum.


Sementara di ambang pintu, berdiri Alice yang sepertinya baru saja mengantar Rossie tadi.


"Kau cantik sekali, Rei-"


"Eh, Kak Reina maksudnya," koreksi Rossie cepat yang sepertinya lupa memanggil kakak pada Reina.


Ya, Reina dan Rossie sebenarnya memang sebaya. Namun berhubung Reina yang sebentar lagi akan menjadi istri Angga yang notabebe adalah abangnya Rossie, jadilah sekarang status Reina adalah calon kakak ipar Rossie.


Tapi misalkan Rossie menikah dengan Abang Fairel juga, bukankah itu artinya Rossie juga akan menjadi kakak ipar Reina?


Lalu bagaimana nanti status Reina dan Rossie?


Adik ipar sekaligus kakak ipar, begitu?


Astaga!


Membingungkan sekali!


"Kenapa harus minta diantar oleh Alice kesink, Rossie? Kau lupa jalan ke kamarku?" Tanya Reina sedikit berseloroh pada Rossie.


"Sedikit," jawab Rossie seraya terkekeh.


"Abang Angga yang menyuruhku kemari sebenarnya," tukas Rossie kemudian membuat pengakuan, sembari tangan gadis itu mengeluarkan ponsel dari dalam tas kecil yang tersampir di pundaknya.


"Tidak boleh!" Sergah Reina yang langsung menutupkan telapak tangannya ke kamera ponsel Rossie.


"Alice!" Reina lanjut mengadu pada Alice yang hanya tertawa kecil.


"Aku tidak ikut-ikutan!" Alice mengangkat kedua tangannya, sebelum kemudian wanita itu berlalu pergi dan meninggalkan Reina bersama Rossie di kamar. Kebetulan Reuna juga sudah selesai dirias, dan hanya tinggal menunggu Mom Yumi datang menjemput.


"Ayolah! Abang Angga penasaran!" Paksa Rossie sambil berusaha mengambil kembaru ponselnya yang sudah direbut oleh Reina.


"Nanti tidak jadi kejutan, jika kau mengirim fotoku sekarang pada Angga," ujar Reina beralasan.


"Benar juga," gumam Rossie manggut-manggut.


Akhirnya gadis itu paham!


Rossie lalu menyimpan kembali ponselnya dan tak jadi mengambil foto Reina.

__ADS_1


"Aku akan turun-"


"Kau disini saja menemaniku!" Sergah Reina seraya menarik tangan Rossie dan memaksa gadis itu agar duduk lagi di sampingnya.


Sekalian Reina mau mengulik perihal yang terjadi diantara Rossie dan Abang Fairel. Serta mencaritahu kenapa Abang Fairel kerap uring-uringan belakangan ini. Mungkin saja ini semua memang berhubungan dengan proses pedekate Abang Fairel pada Rossie.


"Aku mau melihat Abang Angga mengucapkan janji pernikahan padahal," decak Rossie sambil kembali duduk di samping Reina. Rossie lalu sedikit membenarkan veil yang menjuntai di belakang kepala Reina.


"Pasti lancar! Angga sudah latihan," ujar Reina yakin.


"Yakin sekali!" Goda Rossie sedikit usil dan Reina hanya tersenyum tipis.


Ya, Angga memang antusias sekali dengan pernikahan ini, karena ini memanglah impian pria itu sejak lama.


Sebenarnya ini juga adalah impian Reina sejak dulu. Tapi entahlah, perasaan Reina mendadak kacau balau karena hari H pernikahan ini yang seperti ditentukan dengan terburu-buru oleh Abang Fairel tanpa alasan jelas. Lalu soal ungkapan cinta dari Diftha kemarin....


Ya ampun!


Kenapa Reina malah memikirkan Diftha lagi, Diftha lagi!


Kurang dari satu jam, Reina akan menjadi ostri sah Angga, dan Reina malah memikirkan pria lain!


Ini salah, Reina!


Ini salah!


"Kak Reina kenapa?" Tanya Rossie heran karena melihat Reina yang memejamkan matanya, lalu menggelengkan kepala.


"Hah?" Reina langsung menghentikan apa yang ia lakukan dan menatap bingung pada Rossie.


"Kak Reina kenapa geleng-geleng?" Rossie mengulangi pertanyaannya dan ekspresi wajah gadis itu masih heran atau mungkin bingung.


"Tidak kenapa-kenapa! Kepalaku mendadak sedikit sakit," jawab Reina mengarang.


"Tidak usah!" Tolak Reina cepat.


"Yakin?" Rossie masih khawatir.


"Iya!" Jawab Reina yakin seraya mengulas senyum.


"Ngomong-ngomong, kau tadi bertemu Abang Fairel?" Tanya Reina selanjutnya mengalihkan topik pembicaraan. Reina ingat pada tujuannya membuat Rossie duduk menemainya tadi. Reina ingin mengulik perihal perubahan sikap Abang Fairel!


"Ya! Kami berpapasan di tangga," jawab Rossie.


Reina langsung mengangguk.


"Lalu hubungan kalian bagaimana?" Tanya Reina lagi to the point. Wajah Rossie seketika langsung berubah bingung.


"Hubungan?"


"Iya, hubunganmu bersama Abang Fairel!" Suara Reina sudah mirip orang geregetan.


"Kau ada perasaan pada Abang Fairel, kan?" Tanya Reina memastikan. Jangan sampai Rossie tidak peka denagn semua usaha pedekate Abang Fairel beberapa tahun ke belakang.


Kalau iya, berarti calon adik ipar Reina ini memang sebelas dua belas dengan abangnya yang juga tidak pekaan!


Apa semua klan Hadinata memang demikian?


"Perasaan apa? Aku memang menganggap Abang Fairel sebagai abangku selama ini. Jadi, ya" Rossie mengendik sekali lagi dan wajah Reina seketika berubah kesal.


"Entahlah!" Ujar Rossie lagi yang tentu saja langsung membuat Reina menggerutu dalam hati.


Apa maksudnya entahlah?

__ADS_1


Selama ini Rossie hanya menganggap Fairel dan Keano sebagai abangnya disaat dua pria itu gencar melakukan pedekate demi mendapatkan hati seorang Rossie? Begitu?


Oh, kenyataan pahit macam apa ini?


Pantas saja Abang Fairel uring-uringan tak karuan!


Atau jangan-jangan Keano juga sekarang sedang uring-uringan seperti Abang Fairel.


"Jadi selama ini, kau hanya menganggap dua pria sinting yang merebutkan hatimu itu sebagai abang saja? Dua-duanya?" Tanya Reina sekali lagi dengan raut tak percaya.


Adik Angga ini benar-benar luar biasa!


"Dua pria sinting?" Rossie langsung mengernyit bingung.


"Abang Fairel dan Keano!" Ucap Reina dengan nada geregetan.


"Oh, memang mereka sinting, ya?" Tanya Rossie dengan raut polos yang hanya membuat Reina mendengus.


Ya, mereka sinting karena sibuk merebutkan dirimu yang bahkan sama sekali tak peduli pada mereka!


Reina berteriak dalam hati.


"Reina!" Suara Mom Yumi akhirnya mengakhiri obrolan tak berguna antara Reina dan Rossie. Mom kandung Reina itu rupanya sudah datang menjemput bersama dengan Mama Sita.


"Rossie! Kau disini?" Tegur Mama Sita seraya menghampiri sang putri yang langsung meringis tanpa dosa.


"Rossie kan menemani Kak Reina, Ma!" Ujar Rossie beralasan. Mama Sita hanya mendengar dan tak berkomentar lagi.


"Ngomong-ngomong, acaranya sudah dimulai, Ma?" Tanya Rossie pada sang mama.


"Sudah! Angga malah sudah selesai mengucapkan janji pernikahan," terang Mama Sita yang rupanya masih sedikit geregetan pada sang putri.


"Yang benar? Kok Rossie nggak dengar, ya," gumam Rossie bingung.


"Kau sibuk ngobrol bersama Reina mungkin!" Sergah Mom Yumi menerka-nerka.


"Iya, Aunty! Tadi Kak Reina tegang, jadi Rossie ajak ngobrol," jawab Rossie seraya meringis. Sementara Reina hanya diam dan memilih menyimak obrolan tiga wanita di depannya tersebut.


"Masih tegang?" Mom Yumi ganti menabya Reina seraya merengkuh kedua pubdak putri bungsunya tersebut.


"Angga sudah selesai mengucapkan janji pernikahan, Mom?" Reina malah balik bertanya pada Mom Yumi dengan suara pelan.


"Iya, sudah! Kau sudah sah menjadi istri Angga sekarang," jawab Mom Yumi seraya tersenyum bahagia.


"Ada apa, Reina masih belum percaya?" Timpal Mama Sita yang sudah ikut menghampiri Reina, dan mengusap punggung gadis itu.


"Masih grogi sepertinya," pendapat Mom Yumi seraya terkekeh.


"Ayo kita bawa turun saja kalau begitu, biar langsung bertemu dengan Angga dan tidak grogi lagi," cetus Mama Sita sembari membimbing Reina agar bangkit berdiri. Mom Yumi ikut membimbing sang putri keluar dari kamar, sementara Rossie mengikuti dari belakang Reina, sembari sedikit membenarkan veil yang menghiasi kepala kakak iparnya tersebut.


"Pelan-pelan," ucap Mom Yumi, saat Reina mulai menuruni tangga sembari menggamit lengan Mom Yumi dan Mama Sita. Reina menatap lurus ke arah ruang tengah kediaman Halley yang sudah disulap menjadi tempat acara serta dipenuhi oleh hiasan bunga berwarna putih.


Semua tamu yang hadir langsung menatap ke arah tangga, atau ke arah Reina lebih tepatnya. Semuanya, termasuk seorang pria yang mengenakan kemeja warna putih dan berdiri di sudut ruangan sembari memegangi kursi roda di depannya, dimana sang adik duduk dengan tenang dan menatap ke arah Reina.


Ya...


Itu adalah Diftha dan Gizta!


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2