Segitiga Cinta Reina

Segitiga Cinta Reina
DIFTHA PRATAMA


__ADS_3

Diftha baru tiba di kost-kostan setelah seharian penuh dirinya mengikuti acara kampus yang lumayan menguras tenaga dan pikiran. Pemuda dua puluh tahun tersebut baru saja meletakkan tas ranselnya di atas meja, saat ia merasakan ponselnya yang bearda di dalam ransel bergetar.


Sepertinya ada panggilan masuk!


Diftha bergegas membuka ranselnya, lalu mencari-cari keberadaan ponselnya yang kerap terselip bersama barang-barangnya yang lain. Tadi selama kegiatan, Diftha memang tak sempat membuka ponselnya karena ia sibuk di lapangan.


"Dapat!" Gumam Diftha yang akhirnya menemukan ponselnya di dasar ransel. Bergegas Diftha menyalakan benda persegi warna hitam tersebut untuk mengecek siapa yang menelepon. Kedua mata Diftha sintak membelalak, saat mendapati puluhan panggilan tak terjawab dari nomor sang adik.


Gizta kenapa?


Jarang-jarang adik Diftha itu menelepon kalau tidak ada hal penting.


Diftha tak menunggu lagi, dan pemuda itu segera menelepon balik nomor sang adik.


"Halo!"


Suara seorang wanita di seberang sana yang Diftha yakini bukan suara Gizta. Diftha tentu sangat hafal dengan suara kecil sang adik yang akan terdengar melengking saat marah.


"Maaf, ini dengan siapa? Bukankah ini nomor adik saya, Gizta? Kau temannya Gizta?" Tanya Diftha menerka-nerka.


"Bukan! Saya perawat di rumah sakit." Perempuan di seberang telepon menyebutkan salah satu rumah sakit swasta yang berada di kota asal Diftha.


"Gizta di rumah sakit?" Tanya Diftha yang pikirannya mulai kemana-mana.


"Maaf sebelumnya, anda siapanya Gizta Annastasia?"


"Saya kakaknya!" Jawab Diftha cepat.


"Kakak kandungnya!" Ujar Diftha lagi.


"Oh, iya! Apa anda bisa ke rumah sakit sekarang?"


"Iya! Iya!" Diftha sedikit tergagap dan otaknya mendadak blank harus melakukan apa. Saat ini posisi Diftha memang di kota yang berbeda dengan adik dan orangtuanya,karena Diftha memang kuliah di luar kota setelah lulus SMA.


"Adik saya baik-baik saja, kan, Suster?" Diftha memastikan sekali lagi ditengah kekalutannya.


"Iya silahkan datang kesini dulu, Pak! Nanti akan kami jelaskan!"


Telepon terputus, dan Diftha bergegas pergi ke terminal kota untuk pulang menemui sang adik.


Tapi ngomong-ngomong, kenapa tadi yang menelepon Diftha adalah perawat dan bukan kedua orangtua Diftha?


Apa Papa dan Mama belum tahu tentang apa yang terjadi pada Gizta?


****


Diftha tercenung di tempatnya, saat dua tubuh yang sudah tertutup kain warna putih, terhampar di hadapannya. Diftha ingin menangis dan berteriak keras, tapi ia sama sekali tak mampu melakukannya.


Dua orangtua yang begitu Diftha sayangi.....

__ADS_1


Mereka sudah pergi untuk selamanya meninggalkan Diftha dan juga Gizta yang kini terbaring tak berdaya, dengan luka parah di kepala.


Ya, adik dan kedua orang tua Diftha mengalami kecelakaan saat mereka baru pulang dari rumah sakit untuk mengantar Gizta berobat. Motor yang dikendarai Papa Diftha bersenggolan dengan sebuah pick up, lalu oleng dan jatuh ke kolong truk kontainer. Kedua orang tua Diftha langsung meninggal di tempat, sementara Gizta, adik Diftha masih selamat namun mengalami cedera yang cukup parah di bagian kepala.


"Ma, Pa!" Diftha terisak-isak saat memeluk jenazah kedua orang tuanya.


"Kenapa harus secepat ini?"


"Kenapa?"


Greeeeek!


Suara pintu pagar yang dibuka dari dalam menyentak lamunan Diftha tentang kejadian lima tahun lalu, saat ia harus kehilangan kedua orang tuanya dalam satu waktu.


"Mas Diftha! Sudah pulang?" Seorang wanita paruh baya yang tadi membuka pagar, langsung menyambut Diftha dan Reina.


"Iya, Mbok!"


"Oh, iya! Kenalkan, ini Reina teman saya, Mbok!" Ujar Diftha selanjutnya seraya memperkenalkan Reina pada wanita paruh baya tadi.


"Ini Mbok Yun, Rei! Tetangga aku yang sehari-hari menjaga Gizta saat aku kerja," ujar Diftha lagi menjelaskan pada Reina yang langsung mengangguk.


"Tadi mbak Gizta sudah mandi, Mas! Dan sekarang mbok mau langsung pamit pulang, karena mau pergi ke rumah saudara. Ada acara," ucap Mbok Yun sekaligus berpamitan pada Diftha.


"Oh, iya! Silahkan, Mbok!"


"Terima kasih sudah menjaga Gizta hari ini, ya!" Ucap Diftha tulus, sebelum Mbok Yun berlalu dan keluar dari pagar.


"Ya!" Reina mengangguk, lalu mengekori Diftha yang sudah terlebih dahulu masuk melalui pintu depan.


Baru saja Reina menjejakkan kakinya ke dalam rumah Diftha, sebuah pemandangan mengharukan langsung menyambut Reina.


Seorang gadis remaja, terlihat tak berdaya di atas sebuah kursi roda. Tubuh gadis itu begitu kurus, dan tatapan matanya kosong. Tangan serta kakinya juga terlihat lunglai tak bertenaga.


"Hai, Gizta! Lihat, siapa yang datang!" Diftha yang sudah bersimpuh di samping kursi roda Gizta.


Reina yang tadinya hanya menatap trenyuh ke arah Gizta, akhirnya ikut menghampirinya adik Diftha tersebut dan menyapanya.


"Hai, Cantik!" Sapa Reina seraya mencium kening Gizta.


Tatapan mata Gizta yang tadinya kosong, mendadak berubah berbinar.


"Pacar Abang?" Tanya Gizta dengan suara dan pelafalan yang tak terlalu jelas.


"Bukan! Teman Abang!" Jawab Diftha seraya mengusap lembut kepala Gizta.


"Gizta sudah makan?" Gantian Reina yang bertanya pada gadis lumpuh di depannya tersebut.


"Sudah!" Jawab Gizta seraya tersenyum dan menatap lekat wajah Reina.

__ADS_1


"Bagus!" Reina mengacungkan kedua ibu jarinya pada Gizta.


Sementara Diftha sudah bangkit berdiri dan meninggalkan Reina yang langsung akrab dengan Gizta. Meskipun suara Gizta saat berbicara terdengar lirih dan pelafalannya juga sedikit terbata-bata, namun Reina bisa memahami hingga dua gadis beda usia itu kadang tertawa bersama.


"Mau kemana?" Tanya Reina saat melohat Diftha yang sudah keluar lagi dengan rambut setengah basah serta celana pendek dan hoodie warna hitam.


"Beli makanan sebentar. Tadi kamu belum makan, kan?" Jawab Diftha yang langsung membuat Reina tertawa kecil.


"Kok tahu aku belum makan?" Reina masih terkikik.


"Iya tadi kan dari kantor kita langsung ke sini!" Diftha mengacak rambut Reina dengan gemas.


"Ngomong-ngomong, kamu mau makan apa?"


"Mmmm, idem aja!" Jawab Reina seraya mengeluarkan dompet dari tasnya.


"Tidak usah, Rei!"


"Aku bayar makanan aku sendiri!" Paksa Reina seraya menyodorkan selembar uang pada Diftha.


"Tidak usah!"


"Ambil! Atau tidak usah beliin aku makan!" Ancam Reina menatap tajam pada Diftha yang hanya menghela nafas.


"Sisa uang aku, beliin camilan buat Gizta, ya!" Pesan Reina sebelum Diftha keluar dari pintu depan.


"Iya!" Jawab Diftha sembari memakai helmnya.


Tak berselang lama, deru siara motir Diftha sudah terdengar menjauh.


Ping!


Reina sedikit terlonjak, saat ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk. Segera gadis itu membukanya.


[Aku keluar kota sampai lusa] -Angga-


Reina tak menunggu dan langsung membalas pesan Angga.


[Ya! Safe flight dan jaga kesehatan] -Reina-


Terkirim tapi tidak dibaca!


"Kebiasaan!" Gumam Reina seraya memutar bola mata. Reina akhirnya lanjut bercengkerama bersama Gizta.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2