
Diftha menatap pada pagar besi tinggi yang menjulang di hadapannya. Pria itu lalu melihat lagi ke ponselnya untuk membaca pesan yang baru saja masuk.
[Iya, itu rumah Reina, Dift! Mau pedekate atau datang melamar, nih? Aku tunggu undangannya!] -Hesti-
Diftha berdecak kecil lalu menggeleng-gelengkan kepalanya serta sedikit salah tingkah dengan balasan pesan dari Hesti. Tapi dalam hati Diftha segera mengaminkan dan berharap kalau ungkapan cintanya pada Reina kemarin akan terbalas dengan indah.
Diftha segera menekan bel yang ada di sisi gerbang. Tak berselang lama, gerbang sudah dibuka oleh seorang security yang segera mempersilahkan Diftha untuk masuk setelah Diftha menyampaikan tujuannya datang kemari.
Diftha menyusuri halaman rumah keluarga Halley yang luas, lalu pria otu segera menuju ke pintu utama yang tertutup. Sekali lagi, Diftha menekan bel yang ada di samping pintu utama.
Ting tong!
Seorang wanita paruh baya lalu membuka pintu dan menyambut kedatangan Diftha.
"Selamat siang, Bu!" Sapa Diftha sopan.
"Siang. Cari siapa?" Tanya wanita paruh baya tersebut.
"Reina ada?" Jawab Diftha sedikit ragu.
"Saya teman Reina di kantor," ujar Diftha lagi memperkenalkan diri.
"Oh!"
"Silahkan masuk!" Ujar wanita paruh baya tadi ramah.
Diftha lalu masuk dan duduk di kursi ruang tamu. Diftha juga sedikit mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tamu, dimana ada foto Reina, wanita paruh baya yang tadi membuka pintu, serta dua orang pria yang Diftha tebak adalah Dad dan abangnya Reina.
Ya, dulu saat masih SMA, Reina pernah mengatakan kalau dia punya seorang abang.
Dan wanita paruh baya yang membuka pintu tadi rupanya adalah Mom dari Reina.
"Sebentar, ya...."
"Diftha, Bu!"
"Eh, Tante maksudnya!" Sergah Diftha ceoat mengoreksi panggilannya pada Mom Yumi.
"Maaf," ucap Diftha lagi yang malah membuat Mom Yumi tertawa kecil.
"Tidak apa-apa! Jadi nama kamu Diftha, ya?" Tanya Mom Yumi memastikan.
"Iya, Tante!" Jawab Diftha cepat.
"Baiklah, Diftha. Sebentar Tante panggilkan Reina dulu," ujar Mom Yumi selanjutnya sembari berlalu meninggalkan Diftha di ruang tamu.
Tak berselang lama, Reina yang masih mengenakan piyama dan sebuah cardigan sudah muncul di ruang tamu dan mebemui Diftha.
"Diftha," gumam Reina yang sepertinya terkejut dengan kehadiran Diftha.
"Hai! Aku menjengukmu, karena kata anak-anak di divisi keuangan kau sakit hari ini dan tidak masuk," jelas Diftha yang langsung membantu Reina agar duduk di sofa.
"Terima kasih," ucap Reina sembari merapatkan cardigannya. Reina juga meraih tisu di atas meja untuk menyeka wajahnya yang sedikit sembab karena tadi setelah Angga pergi Reina memang menangis cukup lama.
"Tahu rumahku dari mana?" Tanya Reina selanjutnya berbasa-basi.
"Hesti," jawab Diftha sembari menatap lekat wajah Reina.
__ADS_1
"Apa kau sakit karena acara semalam?" Tanya Diftha selanjutnya merasa khawatir.
"Atau karena memikirkan jawaban untuk tembakanku?" Ujar Diftha lagi menerka-nerka sembari tertawa kecil.
"Bisa jadi," jawab Reina yang memaksa untuk ikut tersenyum bersama Diftha.
"Oh, ya! Aku membawakanmu roti dan buah," Diftha mengangsurkan sebuah bungkusan pada Reina.
"Lalu itu!" Reina mengendikkan dagunya ke sebuah buket bunga yang disembunyikan Diftha di belakang punggungnya.
"Eh, sedikit rusak." Diftha beralasan namun tetap memberikannya pada Reina.
"Tidak apa-apa! Nanti biar langsung ditaruh di vas oleh mbak."
"Mbak!" Reina memanggil sang maid yang langsung datang ke ruang tamu seraya membawakan minuman dan camilan untuk Diftha.
"Mbak, sekalian ini direndam di air segar, ya!" Pinta Reina seraya menyerahkan bunga dari Diftha tadi pada maid-nya.
"Siap, Nona!" Jawab maid yang langsung membawa bunga dari Diftha masuk ke dalam.
"Kau tadi bolos dari kantor? Angga tidak memarahimu?" Cecar Reina selanjutnya pada Diftha
"Jam istirahat," ujar Diftha beralasan.
"Dan kebetulan Pak Angga juga sedang keluar tadi," imbuh Diftha lagi.
Hmmmm. Sudah Reina duga!
Tadi juga Angga sudah berjanji untuk pergi sebentar. Namun nyatanya hingga jam makan siang Angga masih belum kembali!
Dasar!
"Sudah tadi. Sebelum ke sini," cerita Diftha.
"Ngomong-ngomong, aku boleh minum tehnya?" Tanya Diftha seraya menunjuk ke cangkir teh yang tadi dubawakan oleh maid.
"Astaga! Tentu saja boleh, Dift!" Jawab Reina seraya terkekeh.
"Silahkan! Silahkan!" Ujar Reina yang juga menyodorkan toples berisi camilan pada Diftha.
"Jadi sebenarnya kau sakit apa? Sudah ke dokter?" Tanya Diftha selanjutnya serelah pria itu minum teh dan makan camilan.
"Hanya kecapekan," jawab Reina.
"Kecapekan karena joget-joget semalam, ya?" Tebak Diftha yang hanya membuat Reina tersenyum sekaligus mengangguk.
Disaat bersamaan, ponsel Diftha berdering.
"Pak Robert telepon," ujar Diftha sembari minta izin pada Reina untuk mengangkat sebentar telepon dari Uncle Robert.
"Iya, Pak! Saya masih istirahat!"
"Oh, begitu! Baiklah, saya akan kembali ke kantor sekarang, Pak!"
"Selamat siang!"
Diftha sudah selesai berbicara di telepon dan pria itu segera menyimpan kembali ponselnya.
__ADS_1
"Aku harus kembali sekarang. Jam istirahat sudah selesai," ucap Diftha seraya tersenyum pada Reina.
"Diftha, soal yang kemarin-"
"Tidak usah buru-buru, Rei! Aku kesini benar-benar hanya menjengukmu karena aku sedikit khawatir dan sama sekali tak terbersit di pikiranku untuk menagih jawaban darimu," sela Diftha seraya terkekeh.
"Iya! Aku masih memikirkannya," gumam Reina beralasan.
Memikirkan disini tentu saja memikirkan bagaimana Reina akan memberitahu Diftha kalau sebenarnya ia adalah kekasih Angga.
Mustahil Reina menyampaikannya tanpa menyakiti hati Diftha.
"Ssttt! Jangan melamun!" Tepukan lembut dari Diftha membuat Reina tersentak sekaligus membuyarkan lamunan gadis itu.
"Ti-tidak!"
"Siapa yang melamun?" Reina memaksa untuk mengulas senyum pada Diftha. Gadis itu juga menyelipkan rambutnya ke belakang telinga demi menutupi salah tingkahnya.
"Aku pamit sekarang, ya!" Pamit Diftha yang sudah beranjak dari duduknya.
"Iya!"
"Terima kasih sudah datang menjengukku," ucap Reina yang sydah ikut bangkit berdiri mengikuti Diftha.
"Oh, ya! Ngomong-ngomong, kau tadi sudah makan belum? Wajahmu terlihat lesu," tanya Diftha penuh perhatian saat pria itu sudah berdiri di ambang pintu.
"Aku tidak selera makan. Sepertinya aku akan memesan nasi padang saja-"
"Bagaimana kalau aku pesankan nasi padang yang tempo hari kita makan di rumahku?" Cetus Diftha tiba-tiba yang langsung membuat kedua mata Reina melebar.
Reina juga sedang memikirkan nasi padang itu padahal.
Bagaimana Diftha bisa tahu?
"Kau waktu itu terlihat lahap saat memakannya," ujar Diftha lagi.
"Aku minta nama rumah makannya saja, Dift! Biar sopirku-"
"Tenang! Aku pesankan sekarang yang paket komplit dan nanti biar diantar ke sini," sela Diftha cepat seraya mengutak-atik ponselnya.
"Kebetulan sedang ada voucher juga," imbuh Diftha lagi sembari terkekeh.
"Oke! Nasi padang komplit sudah dipesan dan akan diantar kesini sebentar lagi!" Diftha tiba-tiba sudah mengusap puncak kepala Reina.
"Eh, sorry!" Ucap Diftha cepat yang membuat Reina salah tingkah juga.
"Aku pergi sekarang! Bye!" Pamit Diftha selanjutnya seraya keluar dari pintu utama kediaman Halley.
"Bye, Diftha!" Balas Reina yang tetap berdiri di ambang pintu, hingga Diftha keluar dari gerbang dan tak terlihat lagi. Reina menghela nafas dan memejamkan mata beberapa saat.
Bagaimana Reina bisa menyakiti Diftha yang sudah bersikap begitu baik dan tulus kepadanya?
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.