
"Kamu mau tidak jadi pacar aku, Faranisa Reina?"
Reina tertegun mendengar ungkapan cinta Diftha yang benar-benar di luar dugaan. Kelebat bayangan saat Diftha memberikan perhatiannya pada Reina mendadak berputar-putar di kepala Reina, seperti sebuah kaset yang diputar berulang-ulang.
"Awas!"
"Ada apa?"
"Kursinya basah! Nanti rok kamu basah juga."
"Aku menunggumu tadi. Aku pikir kau sedang ada urusan dan pulang terlambat."
"Aku tadi hanya khawatir, tapi sekarang aku sudah lega karena kau sudah sampai di rumah."
"Bagaimana kalau aku membuatkanmu kopi setiap pagi?"
"Sepertinya kamu berbakat jadi tukang pijit."
"Tukang pijit khusus buat kamu saja boleh tidak?"
"Sepertinya Pak Diftha naksir Bu Reina!"
"Maukah kau jadi pacarku, Faranisa Reina?"
"Reina!" Teguran Diftha membuyarkan lamunan serta kelebat bayangan yang sejak tadi berputar-putar di kepala Reina. Gadis itu sekarang menatap linglung pada Diftha yang masih menggenggam tangannya.
Reina menatap ke arah tangannya yang kini digenggam oleh Diftha, lalu gadis itu melepaskannya perlahan.
"Kau tidak harus menjawabnya sekarang, Rei! Aku akan menunggu sampai...." Diftha tersenyum dan menatap tulus ke arah Reina. Niat Reina untuk berkata jujur kalau sebenarnya ia adalah kekasih Angga mendadak urung begitu saja.
Reina tak sampai hati jika harus menyakiti Diftha sekarang. Kenapa pria ini begitu tulus?
"Sampai kau siap memberikan jawaban." Diftha melanjutkan kalimatnya.
"Maaf, jika membuatmu kaget dengan tembakanku yang mendadak tadi, tapi aku hanya mengungkapkan apa yang selama ini terpendam di hatiku, Reina!"
"Aku menyukaimu, aku jatuh cinta padamu dan...." Diftha tertawa sendiri seolah ada hal yang lucu.
"Dan aku merasa kalau aku harus mengungkapkannya sekarang," lanjut Diftha lagi masih menatap penuh ketulusan pada Reina yang tetap membisu.
"Aku tahu kau hanya kaget dan mungkin sedikit shock." Diftha sudah merengkuh kedua pundak Reina.
"Jadi, kau tak perlu menjawabnya sekarang. Kau bisa berpikir dulu, atau menimbang-nimbang dulu, dan misalnya kau menolak tembakanku tadi, kita masih bisa berteman."
"Bukan begitu?" Tukas Diftha yang hanya membuat Reina mengangguk. Reina lalu memaksa untuk mengulas senyum meskipun perasaan di dalam hatinya kini terasa campur aduk tak karuan.
"Ayo kita bergabung dengan yang lain!" Ajak Diftha selanjutnya sembari menarik tangan Reina dan mengajak gadis itu untuk bergabung dengan teman-teman alumni yang lain. Mereka menikmati musik yang mengalun sembari berjoget ringan hingga malam mulai menjelang.
****
"Jam delapan!" Ucap Diftha setelah pria itu melihat arlojinya.
"Kita pulang naik taksi lagi," ujar Diftha selanjutnya sembari celingukan di depan kafe untuk mencari taksi.
"Aku akan mencari tumpangan yang searah ke rumahku saja, Dift!" ujar Reina yang perasaannya masih campur aduk tak karuan.
__ADS_1
"Memang siapa yang rumahnya searah dengan rumahmu?" Tanya Diftha menyelidik.
"Hesti!" Reina menunjuk ke pasangan suami istri yang sudah masuk ke mobil.
"Rumah suami Hesti kebetulan satu kompleks denganku beda blok saja."
"Aku akan menumpang di mobil Hesti," ujar Reina seraya memanggil sang teman yang bernama Hesti. Reina lalu menghampiri Hesti dan suaminya, kemudian berbincang sebentar, sebelum akhirnya gadus itu kembali menghampiri Diftha.
"Bisa?" Tanya Diftha memastikan.
"Ya!" Reina mengangguk-angguk.
"Aku pulang duluan, ya!" Pmit Reina selanjutnya.
"Hati-hati!" Diftha mengusap lembut kepala Reina yang mendadak membuat Reina sedikit salah tingkah.
"Soal yang tadi, kau bisa memikirkannya dengan santai," ujar Diftha lagi merujuk pada ungkapan cintanya pada Reina tadi.
"Ya." Jawab Reina lirih.
"Bye!" Diftha melambaikan tangan ke arah Reina dengan wajah sumringah, lalu Reina hanya membalas ala kadarnya, sembari memaksa mengulas senyum. Gadis itu lalu bergegas menuju ke mobil Hesti yang sudah siap berangkat.
"Semoga kau berkenan menerima cintaku, Reina," gumam Diftha penuh harap, setelah mobil yang ditumpangi Reina melaju pergi. Diftha lanjut mencari ojek saja untuk ulang ke rumah, agar tak terjebak kemacetan.
****
"Disini, Rei?" Tanya Hesti saat mobil teman Reina itu sampai di depan kediaman Halley.
"Iya!" Jawab Reina sedikit tergagap. Tadi sepanjang perjalanan Reina memang larut dalam lamunannya sendiri. Reina tiba-tiba merasa bimbang dengan ungkapan cinta dari Diftha tadi.
"Mau mampir?" Tawar Reina pada pasangan suami istri yang duduk di jok depan tersebut.
"Baiklah! Terimakasih tumpangannya, Pengantin baru!" Ucap Reina sebelum gadis itu turun dari mobil.
"Ah, pengantin lama ini, Rei! Sudah setahun lebih," kekeh Hesti seraya melambaikan tangan pada Reina yang sudah turun. Mobil Hesti langsung melaju pergi setelahnya.
Sementara Reina tampak menghela nafas beberapa kali sebelum gadis itu masuk ke dalam gerbang kediaman Halley. Pintu depan tampak terbuka dan sepertinya sedang ada tamu. Namun Reina tak terlalu menghiraukannya karena pikiran gadis itu masih saja bimbang tak karuan.
"Kau mau menjadi pacarku, Reina?"
Astaga!
Kenapa kalimat Diftha tadi terus saja menari-nari di benak Reina?
"Reina, baru pulang?" Tegur Mom Yumi yang langsung membuat Reina tersentak. Reina menatap sedikit lingkung pada Mom kandungnya tersebut dan juga pada wanita paruh baya yang duduk tak jauh dari Mom Yumi.
Ya, itulah Aunty Sita. Sepertinya dua wanita paruh baya tersebut sedang mengurus undangan pertunangan Reina dan Angga.
Apa pertunangan itu jadi digelar?
Apa Reina benar-benar akan bertunangan dengan Angga?
Lalu bagaimana dengan Diftha dan pernyataan cintanya tadi?
Pria itu pasti akan patah hati luar biasa jika tahu Reina akan bertunangan dengan Angga!
__ADS_1
Atau sebaiknya Reina tak perlu memberitahu Diftha agar perasaan pria itu tetap terjaga.
Lalu Diftha juga akan terus-terusan berharap pada Reina dan menunggu ungkapan cintanya dibalas oleh Reina!
Astaga, ini benar-benar memusingkan!
"Reina! Kenapa malah melamun?"tegur Mom Yumi sskali lagi yang kembali membuyarkan lamunan Reina.
"Eh, iya, Mom!" Reina bergegas menghampiri Mom Yumi lalu menyapa Aunty Sita juga.
"Ini." Aunty Sita menyodorkan sebuah buku pada Reina.
"Kau bisa menulis nama-nama temanmu yang akan kau kirim undangan, Rei!" Ujar Aunty Sita lagi bersamaan dengan pikiran Reina yang sudah jauh mengembara.
Teman-teman?
Reina tadi saja tak jadi mengumumkan pada teman-teman alumni-nya perihal pertunangannya dengan Angga yang akan digelar akhir pekan ini.
Lalu sekarang Reina haris menulis nama siapa?
Teman-temannya di kantor?
Lalu bagaimana dengan Diftha?
"Reina! Kenapa kamu melamun lagi?" Tegur Mom Yumi yang langsung menyentak lamunan Reina sekali lagi.
"Iya, Mom!"
"Bagaimana?" Tanya Reina tergagap.
"Kau kenapa sebenarnya? Sedari tadi Mom dan Aunty Dita bicara padamu, tapi kau terus saja melamun," tanya Mom Yumi tidak mengerti.
"Reina...." Reuna menutup kembali buku yang tadi diberikan oleh Aunty Sita.
"Reina tidak tahu harus mengundang siapa, Mom!"
"Minta Angga saja yang memutuskan akan mengundang siapa." Reina sudah bangkit dari duduknya.
"Bukankah teman Reina adalah teman Angga juga?" Lanjut Reina lirih sebelum gadis itu berlalu meninggalkan Mom Yumi dan Aunty Sita yang kini ternganga bingung.
"Maukah kau jadi pacarku, Reina?"
"Aku hanya khawatir karena ini sudah malam dan kau pulang sendiri tadi."
"Sudah lama aku suka padamu, Reina!"
"Aku jatuh cinta, aku sayang kepadamu. Maukah kau jadi pacarku, Reina?"
"Stop!" Reina membanting pintu kamarnya dengan keras,lalu gadis itu bersandar di balik pintu hingga tubuhnya meluruh ke lantai. Reina menyembunyikan wajahnya diantara kedua lutut dan berusaha mengusir semua perkataan Diftha yang terus saja terngiang di kepalanya. Semua perhatian dan sikap manis Diftha.....
Hati Reina mendadak jadi bimbang sekarang.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.