
"Rei!" Panggil Fairel seraya mendorong pintu kamar Reina hingga menjeblak terbuka.
"Ish! Berisik!" Gerutu Reina yang langsung membenamkan kepalanya di bawah bantal.
"Kau kenapa?" Tanya Fairel sembari memaksa untuk menyingkirkan bantal yang menutupi kepala Reina. Namun gadis itu keukeuh menolak.
"Ayo bangun dan cari hadiah untuk Rossie! Kau datang ke acara ulang tahun Rossie hari ini, kan?"
"Tidak!" Ujar Reina tegas, menjawab cerocosan pertanyaan dari Fairel.
"Why?"
"Sedang malas saja!" Jawab Reina beralasan.
"Apa karena Angga sedang di luar kota?" Fairel menerka-nerka namun Reina tak menjawab dan hanya mendengus.
"Keluar sana!" Usir Reina selang pada sang Abang.
"Apa kau sedang PMS?" Tanya Fairel lagi yang kali ini langsung membuat Reina memutar bola matanya.
"Anggap saja begitu!"
"Hush! Hush!" Usir Reina lagi.
"Kau pikir aku ayam?" Sungut Fairel seraya keluar dari kamar Reina.
Setelah pintu kamarnya kembali tertutup, Reina mengambil ponselnya yang berbunyi. Ada pesan masuk dari Angga.
[Kau datang ke acara ulang tahun Rossie hari ini, kan?] -Angga-
Reina memutar bola mata, lalu gadis itu mencoba menghubungi nomor Angga.
Tersambung namun tidak diangkat. Kebiasaan sekali!
Ting!
Ada pesan masuk lagi.
[Aku masih bertemu kolega. Nanti saja teleponnya] -Angga-
"Nanti saja teleponnya!" Reina menggerutu kesal.
"Tadi malam juga bilang begitu tapi apa? Ujung-ujungnya lupa dan memilih bercengkerama dengan pekerjaan!"
"Kenapa tak sekalian menikah dengan pekerjaanmu saja?" Reina tak berhenti menggerutu sembari menunjuk-nunjuk ke foto Angga yang terpajang di atas nakas.
Setelah puas meluapkan kekesalannya pada foto Angga, Reina lalu membenamkan lagi kepalanya ke bawah bantal hingga akhirnya gadis itu terlelap.
****
Reina mengerjapkan kedua matanya, saat samar-samar ia mendengar dering nyaring dari ponselnya dari atas nakas. Sedikit malas, namun Reina tetap mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menelepon.
Diftha?
"Halo!" Sapa Reina dengan suara yang masih serak khas orang bangun tidur.
"Rei, kau dimana? Jadi ke rumah bertemu Gizta?"
"Astaga!" Reina menepuk keningnya sendiri karena mendadak lupa dengan janjinya tadi untuk pulang bersana Diftha dan mampir ke rumah pria itu. Semua karena rasa cemburu Reina yang menggebu-gebu pada Beth tadi!
"Kau sudah pulang, ya? Suaramu seperti orang bangun tidur."
__ADS_1
"Aku benar-benar minta maaf, Diftha!" Ucap Reina penuh rasa bersalah.
"Tidak apa-apa! Aku akan langsung pulang-"
"Jadi kau belum pulang?" Reina melirik jam digital di atas nakas yang sudah menunjukkan hampir pukul enam sore. Lagi-lagi Reina harus merasa bersalah.
"Aku menunggumu tadi. Aku pikir kau sedang ada urusan dan pulang terlambat."
Terdengar kekehan Diftha dari ujung telepon.
"Ya ampun!" Reina jadi merasa bersalah pada Diftha sekarang.
"Tidak apa-apa, Rei!"
"Aku tutup teleponnya dulu, ya! Aku harus pulang."
"Iya, hati-hati. Bye!' Ucap Reina bersamaan dengan telepon Diftha yang sudah terputus. Reina mengusap wajahnya sendiri lali menggerutu pada dirinya sendiri yang bisa-bisanya melupakan janjinya pada Diftha.
"Besok saja aku ke rumah Diftha dan bertemu Gizta," tekad Reina sebelum gadis itu bangkit dan pergi mandi.
****
Reina yang sudah selesai mandi, turun ke lantai bawah dan menatap sedikit heran pada Fairel yang kini berdiri di bawah tangga sembari bersedekap.
"Ada apa?" Tanya Reina bingung.
"Kau akan ke pesta ulang tahun Rossie memakai kaos longgar dan celana pendek begitu?"
"Luar biasa! Antimainstream!" Fairel ganti bertepuk tangan dengan lebay.
"Aku tidak enak badan. Jadi aku tidak akan datang malam ini," ucap Reina seraya melipat tangannya di depan dada.
Reina masih enggan bertemu keluarga Hadinata setelah kejadian di toko kue Beth tadi.
"Tapi Rossie sahabat dan calon kakak iparmu, Rei!" Sergah Fairel yang sepertinya takterima jika Reina malam ini tak datang ke acara ulang tahun Rossie.
"Calon kakak ipar?" Reina mengernyit dengan kalimat Fairel yang ambigu.
Bukankah Angga adalah kakak Rossie? Lalu bagaimana ceritanya Rossie bisa jadi calon kakak ipar Reina?
"Baiklah, calon adik ipar merangkap calon kakak ipar. Kedepannya Rossie akan jadi istriku," ucap Fairel penuh percaya diri yang langsung membuat Reina menahan tawa.
"Ada apa? Tinggal bilang amin saja! Kenapa malah tertawa?" Sungut Fairel tak terima.
"Baiklah, Amin!" Ucap Reina akhirnya sedikit menyenangkan hati Fairel.
"Cepat ganti baju kalau begitu! Aku tunggu di mobil!" Perintah Fairel selanjutnya pada sang adik.
"Tidak mau!" Tolak Reina tegas.
"Aku akan menggantikan kau baju kalau begitu!" Ancam Fairel sok serius yang sontak langsung membuat Reina tergelak.
"Aku sungguh-sungguh!" Fairel tiba-tiba sudah melakukan satu gerakan cepat untuk mengangkat tubuh Reina dan meletakkannya di pundak.
"Abaang!" Teriak Reina keras yang hanya diabaikan oleh Fairel. Abang kandung Reina itu sudah mulai naik tangga masih sambil menggendong Reina di pundaknya.
"Gila! Kau berat juga, Rei!" Gumam Fairel dengan nafas ngos-ngosan yang sontak langsung membuat Reina memukul punggung Abangnya tersebut.
"Lepaskan makanya!" Ronta Reina yang tak berhenti memukul-mukul punggung Fairel.
"Abang! Turunkan Reina!"
__ADS_1
"Iiihhhh!" Reina tak berhenti berontak dan memukul-mukul punggung Fairel.
"Diam!" Gertak Fairel yang tak mampj lagi berkata-kata karena nafasnya yang nyaris putus karena naik tangga sembari menggendong Reina.
"Iiihhh!" Reina mulai geregetan sekarang.
"Sudah-"
"Sampai!" Lapor Fairel dengan nafas yang sudah ngos-ngosan tak karuan.
"Cepat-"
"Kau-"
Braaak!
Kalimat perintah Fairel belum selesai, saat Reina tiba-tiba sudah masuk ke kamarnya dan membanting pintu. Terdengar suara kunci yang diputar juga dari dalam kamar.
"Reina! Aku menyuruhmu ganti baju dan bukannya mengunci diri di kamar!"
"Buka pintunya, Rei!" Fairel terus menggedor pintu kamar sang adik, berharap Reina akan mau menuruti perkataannya.
"Reina!"
"Pergi saja sendiri!" Teriak Reina dari dalam kamar
"Ck! Dasar adik tak pengertian!" Gerutu Fairel yang akhirnya balik kanan dan meninggalkan kamar Reina, lalu turun lagi ke lantai bawah.
Sementara di dalam kamar, Reina mengusap perutnya yang tadi kelaparan.
"Lapar!" Keluh Reina bersamaan dengan ponselnya yang lagi-lagi berdering. Reina terpaksa bangkit berdiri, lalu mengambil ponselnya.
Panggilan video call dari Diftha!
Reina sedikit merapikan rambutnya sebelum mengangkat panggilan video call Diftha.
"Hai!" Sapa Reina setelah layar ponselnya menunjukkan wajah Diftha.
"Baru selesai mandi?" Tanya Diftha berbasa-basi.
"Sudah dari tadi!"
"Kau sendiri?" Reina mengendikkan dagunya ke layar ponsel atau lebih tepatnya ke arah Diftha.
"Baru sampai di rumah, dan mendadak sudah ada kejutan tak terduga!" Diftha membalik kamera ponselnya, lalu menunjukkan tumpukan thinwall di atas meja pada Reina.
"Kau yang mengirim semua ini, Rei?" Tanya Diftha meminta penjelasan dan Reina langsung meringis.
"Iya! Itu semua untuk Gizta," jawab Reina beralasan.
"Tapi apa harus sebanyak ini?" Tanya Diftha tak mengerti.
"Kau bisa menyimpannya di freezer untuk stok, Dift!" Tukas Reina memberikan solusi untuk Diftha yang tampak kebingungan. Pria itu hanya menatap ke arah Reina dan tak berkata-kata lagi.
"Itu semua untuk Gizta!" Ucap Reina lagi yang kali inj langsung membuat Diftha menghela nafas. Pria itu lalu menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Terima kasih atas semua perhatianmu pada Gizta, Rei!" Ucap Diftha tulus yang langsung membuat Reina mengulas senyum Di bibirnya. Ada sebuah perasaan hangat yang menyusup di hati Reina sekarang.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.