Segitiga Cinta Reina

Segitiga Cinta Reina
SALAH TINGKAH


__ADS_3

"Sudah sampai!" Ucap Diftha sembari menghentikan motornya di depan rumah. Reina bergegas turun, lalu membuka gerbang depan agar Diftha bisa memasukkan sekalian motornya ke teras.


"Kok sepi? Mbak yang jagain Gizta ada, kan?" Tanya Reina saat mendapati pintu depan yang tertutup.


"Ada."


"Tadi pagi datang, kok!" Jawab Diftha yang sudah sekesai memarkirkan motornya di teras rumah. Setelah melepas helm, Diftha segera membuka pintu depan yang rupanya tidak tertutup.


"Mbak!" Panggil Diftha sebelum kemudian pria itu duduk di kursi teras dan melepaskan sepatunya.


Sementara Reina langsung masuk ke rumah dan memanggil Gizta setelah gadis itu mengucapkan salam.


"Permisi,"


"Gizta!" Panggil Reina sambil sedikit celingukan ke dalam rumah.


"Gizta! Kak Reina datang!" Ucap Reina lagi bersamaan dengan munculnya sebuah kursi roda dari arah dapur yang didorong oleh seorang wanita paruh baya.


Loh!


Reina pikir perawat Gizta masih muda. Ternyata.....


"Gizta!" Reina langsung menghampiri adik Angga tersebut.


"Apa kabar, Cantik," tanya Reina sembari mengusap lembut wajah Gizta yang kini tampak tersenyum sumringah.


"Ba-"


"-ik" jawab Gizta terbata.


"Gizta sudah makan, Mbak?" Tanya Diftha pada perawat Gizta.


"Sudah, Mas Diftha! Sudah mandi juga," jawab mbak perawat yang masih berdiri di belakang kursi roda Gizta.


"Mbak kalau hari ini mau pulang tidak apa-apa. Kebetulan saya tudak ada acara malam ini," tukas Diftha selanjutnya pada mbak perawat.


"Oh iya, Mas!"


"Saya siap-siap dulu!" Izin mbak perawat seraya berlalu ke arah belakang rumah.


"Malam ini tidak ada acara tapi lusa ada sepertinya," celetuk Reina seraya menghampiri Diftha.


"Lusa acara apa, ya?" Tanya Diftha pura-pura lupa.


"Apa, ya?" Reina sontak terkekeh dan sedikit meninju pundak Diftha. Saat itulah tiba-tiba terdengar tawa dari Gizta juga yang langsung membuat Reina dan Diftha spontan menengok ke arah adik Diftha tersebut.


"Eh! Bisa ketawa nyaring!" Reina langkah bersimpuh di samping Gizta dan memeluk gadis tersebut.


"Sepertinya karena melihat tingkah lucu kamu, Rei!" Pendapat Diftha yang sidah ikut bersimpuh di samping Gizta.


Sementara mbak perawat sudah kembali dari belakang.


"Saya pulang dulu, Mas Diftha! Besok saya datang jam enam, ya!" Pamit mbak perawat pada Diftha yang langsung bangkit berdiri lagi.


"Iya, Mbak! Terima kasih sudah menjaga Gizta hari ini!" Ucap Diftha seraya tersenyum pada perawat paruh baya tersebut.


Tak lupa, mbak perawat juga berpamitan pada Reina dan Gizta sebelum meninggalkan rumah Diftha.


"Kamu tidak mandi dulu?" Tanya Reina pada Diftha yang hendak bercengkerama dengan Gizta lagi.

__ADS_1


"Kenapa memang? Aku bau asem, ya?" Diftha segera mengendus aroma tubuhnya sendiri yang sontak membuat Reina tergelak.


"Kenapa tertawa? Apa yang lucu?" Diftha mengangkat sebelah alisnya ke arah Reina sekarang.


"Kamu lucu!" Jawab Reina bersamaan dengan tawa nyaring Gizta yang kembali terdengar.


"Tu! Gizta saja ikut tertawa," ujar Reina lagi yang semakin tergelak.


"Hmmmmm, sepertinya aku memang harus mandi sekarang," Diftha manggut-manggut, lalu pria itu segera menuju ke kamar di samping kamar Gizta.


Ya, itu adalah kamar Diftha!


"Kita jalan-jalan keluar, yuk!"


"Sembari menunggu anang kamu mandi," cetus Reina mengajak Gizta yang langsung tersenyum senang.


"Mau!" Jawab Gizta masih sambil tersenyum pada Reina.


"Oke!" Reina segera mengambil jaket Gizta dari kamar Gizta, lalu memakaikannya dengan hati-hati ke tubuh kurus adik Diftha tersebut.


Setelah selesai memakaikan jaket untuk Gizta, Reina lalu mendorong kursi roda Gizta ke arah teras.


"Kita keliling kompleks saja, ya! Mumpung langit belum gelap," ujar Reina sembari terus mendorong kursi roda Gizta keluar dari pagar, lalu menyusuri jalan beton yang membentang di depan rumah Diftha.


Suasana di lingkungan rumah Diftha ternyata lumayan ramai saat sire begini, karena ada banyak anak-anak yang bermain bola dan bersepeda.


Reina beberapa kali mengajak Gizta berhenti untuk sekedar melihat anak-anak yang bermain bola atau bersepeda dan Gizta terlihat begitu senang dengan suasana ini.


Setelah hampir tiga puluh menit berkeliling kompleks, Gizta dan Reina akhirnya sudah tiba lagi di rumah Diftha.


"Darimana?" Tanya Diftha yang sudah menyambut keduanya di depan pagar.


"Ayo masuk dan makan dulu!" Ajak Diftha selanjutnya yang sudah mengambil alih pegangan kursi roda Gizta dari Reina.


"Kau memasak?" Tanya Reina kepo karena seingat Reina, mereka tadi tidak mampir membeli makanan saat pulang dari kantor.


Atau mbak perawat yang memasak?


Eh, tapi mustahil juga karena kan mbak perawat tugasnya hanya merawat dan menjaga Gizta. Bukan memasak seperti halnya Asisten Rumah Tangga.


"Aku pesan tadi," jawab Diftha yang langsung membuyarkan lamunan Reina.


"Oh!"


"Kapan? Kok cepat?" Tanya Reina lagi kepo sembari mengekori Diftha yang rupanya langsung membawa Gizta ke kamar.


"Tadi, sebelum mandi!" Jawab Diftha yang hanya membuat Reina manggut-manggut.


Diftha lalu mengangkat tubuh Gizta dari atas kursi roda dan memindahkannya ke atas tempat tidur.


"Loh! Gizta sudah mau tidur?" Tanya Reina yang sepertinya baru sadar kalau Diftha sudah memindahkan sang adik.


"Mau nonton tivi," jawab Diftha sembari menyalakan televisi kecil di kamar Gizta.


"Sudah nyaman?" Tanya Diftha memastikan sebelum pria itu meninggalkan sang adik di kamar.


"Sudah!" Jawab Gizta.


"Baiklah! Abang akan makan dulu bersama Kak Reina, ya!" Pamit Dift selanjutnya sembari mengusap kepala Gizta.

__ADS_1


Reina lalu ikut menghampiri adik Diftha itu dan berpamitan juga.


"Nanti teriak saja kalau butuh sesuatu," pesan Reina yang hanya membuat Gizta mengangguk. Gadis itu sudah fokus pada layar televisi.


Selesai berpesan pada Gizta, Reina lalu menyusul Diftha ke meja makan, saat indera penciumannya menangkap aroma yang langsung membuat perut Reina keroncongan.


"Wah, baunya harum!"ucap Reina yang netranya langsung memindai semua makanan yang ada di atas meja.


"Nasi padang," ujar Diftha sembari menyodorkan piring berisi bungkusan nadi padang yang sudah ia buka pada Reina.


"Padahal aku baru kepikiran mau makan nasi padang, eh malah sudah kamu beliin," celetuk Reina yang langsung mendarat bokongnya di kursi, lalu sedikit mengaduk nasi padangnya agar lauk dan nasinya bercampur.


"Masa, sih? Jangan-jangan kita punya telepati," seloroh Diftha yang langsung membuat Reina tergelak.


"Efek dulu pernah duduk sebangku selama setahun apa, ya!" Timpal Reina di sela-sela gelak tawanya.


"Tapi dulu kita jarang ngobrol, lho!" Ujar Diftha lagi sembari memperhatikan Reina yang sudah menikmati nasi padangnya dan makan dengan lahap. Diftha benar-benar merasa kagum pada wanita di hadapannya tersebut dan getaran aneh yang dulu sempat Diftha rasakan saat masih duduk di bangku SMA saat dirinya sedang bersama Reina, kini mendadak kembali mencuat.


Ya, dulu Diftha memang tak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaannya pada Reina. Tapi sepertinya sekarang Diftha harus punya keberanian itu dan tak menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin tak akan datang dua kali.


Diftha harus secepatnya mengungkapkan perasaannya pada Reina!


"Kita jarang ngobrol karena kamu juga jarang ngomong, Dift!" Tukas Reina menanggapi pendapat Diftha tadi. Sementara Diftha masih senyum-senyum sendiri sembari menatap lekat wajah Reina.


"Pssstttt!" Reina mengibaskan tangannya di depan wajah Diftha yang sudah senyum-senyum sendiri sekarang.


Ya ampun!


Pria di depan Reina ini kenapa?


"Diftha!" Reina menegur Diftha sekali lagi dan sedikit lantang hingga akhirnya membuat Diftha tampak terlonjak.


"Kau sedang melihat apa? Kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Reina kepo sebelum gadis itu melahap makanannya lagi.


"Melihatmu. Kau lahap sekali makan," jawab Diftha jujur yang langsung membiat Reina balik menatap ke arah pria itu.


"Nasi padangnya enak!" Ucap Reina yang mendadak sedikit salting dengan tatapan aneh Diftha.


"Nasinya sampai keluar," kekeh Diftha yang tiba-tiba tangannya sudah terulur untuk mengambil sebutir nasi yang menempel di pipi Reina.


Ya ampun!


Diftha juga sudah mengambil tisu untuk menyeka sudut bibir Reina, namun seperti sebelumnya, Reina segera mengambil alih dan menyeka sudut bibirnya sendiri.


"Ngomong-ngomong, lusa kau datang ke reuni, kan?" Tanya Reina mengganti topik pembicaraan.


"Ya! Asal kau juga datang," jawab Diftha sembari menyuapkan nasi ke mulutnya.


"Aku datang juga asal kau datang. Agar ada teman," jawab Reina yang malah membuat Diftha terkekeh.


"Baiklah! Nanti kita datang bersama kalau begitu sekalian pulang dari kantor!" Putus Diftha akhirnya.


"Itu maksudku!" Pungkas Reina sebelum dua orang itu lanjut menghabiskan makanan mereka masing-masing.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2