
Tok tok!
Diftha mengetuk pintu ruang kerja Reina, sebelum lanjut menggesernya sedikit.
Sepi!
Seperti tak ada orang!
"Pak Diftha mencari siapa?" Tanya seorang karyawan perempuan dari balik punggung, yang tentu saja langsung membuat Diftha kaget.
"Pak Diftha mencari Bu Reina?" Tanya karyawan itu lagi.
"Iya! Sedang keluar, ya?" Jawab Diftha menerka-nerka.
"Sebenarnya Bu Reina tidak masuk hari ini, Pak!" Ujar karyawan tadi yang langsung membuat Diftha sedikit terkejut.
Reina tidak masuk?
Apa gadis itu baik-baik saja?
Tapi tadi malam saat Diftha menelepon sepertinya Reina memang baik-baik saja.
"Terima kasih infonya, ya!" Ucao Diftha akhirnya pada karyawan tadi, sebelum pria itu meninggalkan ruang kerja Reina. Diftha merogoh ponselnya dari dalam saku, dan sembari menunggu lift pria itu mencoba untuk menelepon Reina.
"Halo!"
Suara Reina terdengar serak seperti semalam. Jangan-jangan Reina sakit!
"Rei, kau tidak ke kantor hari ini. Kau sakit?" Tanya Diftha khawatir.
"Iya, aku sedikit tidak enak badan."
"Sudah ke dokter? Minum obat?" Cecar Diftha semakin khawatir.
"Hanya kecapekan, Dift! Jadi aku istirahat saja dan tidak usah ke dokter."
"Begitu, ya!"
"Ngomong-ngomong, aku boleh menjengukmu saat istirahat nanti?" Tanya Diftha berharap.
Semoga Reina tak keberatan.
"Tidak usah, Dift! Aku sudah baikan dan besok aku sudah masuk lagi."
"Terima kasih atas perhatianmu."
"Sama-sama. Berarti kita ketemu besok saja di kantor, ya?" Diftha sedikit menepis rasa kecewa di hatinya karena Reina yang tak mengizinkan dirinya menjenguk gadis itu ke rumah.
"Iya! Besok aku sudah masuk."
"Baiklah. Selamat istirahat dan semoga cepat sembuh Rei!" Pungkas Diftha akhirnya bersamaan dengan lift yang sudah tiba di lantai delapan belas. Diftha menunggu sampai pintu terbuka.
"Terima kasih, Dift! Sampai jumpa besok. Bye!"
"Bye!" Balas Diftha sembari tersenyum sendiri. Disaat bersamaan, pintu lift terbuka dan ada Pak Robert yang berdiri di depan pintu.
"Siang, Pak!" Sapa Diftha sembari melangkah keluar dan mengembalikan ekspresi wajahnya senormal mungkin.
"Siang. Kau dari mana tadi?" Tanya Pak Robert penuh selidik.
"Dari lantai bawah, Pak! Maaf!" Ucap Diftha sedikit meringis.
"Kita ada rapat. Ayo!" Ajak Pak Robert selanjutnya yang langsung membuay Diftha mengangguk patuh, lalu mengikuti papa dari Angga tersebut untuk kembali turun ke lantai bawah.
****
__ADS_1
"Sudah, Mom!" Tolak Reina saat Mom Yumi kembali menyodorkan sesendok nasi ke depan mulutnya.
"Baru tiga sendok, Rei!"
"Tapi Reina sudah kenyang, Mom!" Reina langsung berbaring dan memunggungi Mom Yumi yang hanya geleng-geleng kepala.
"Mau mom antar ke dokter?" Tawar Mom Yumi sebelum beranjak.
"Reina sudah sehat! Tidak perlu ke dokter!" Jawab Reina sembari menutupi wajahnya dengan selimut.
"Baiklah!"
Mom Yumi akhirnya keluar dari kamar Reina dan menutup pintu. Wanita paruh baya itu menghela nafas sekali lagi dan merasa tak habis pikir dengan sikap Reina belakangan ini yang kerap sekali uring-uringan.
"Jadi tadi dari bandara langsung kesini?"
Mom Yumi baru turu dari lantai dua saat samar-samar ia mendengar suara Dad Liam yang sepertinya sedang bicara pada seseorang.
Pada Fairel?
Tapi sepertinya Fairel tadi belum pulang dari kantor.
"Kata Rossie, Reina sakit, Uncle! Jadi Angga langsung kesini untuk memastikan keadaan Reina."
Rupanya itu adalah suara Angga yang sepertinya baru tiba.
"Angga!" Sapa Mom Yumi yang hendak memeluk Angga tapi langsung cepat dicegah oleh Dad Liam.
Kebiasaan!
"Tidak usah peluk-peluk! Angga calon menantumu dan bukan pacarmu!" Desus Dad Liam seraya mendelik pada Mom Yumi yang hanya berdecak. Sementara Angga malah menahan tawa.
"Tidak ada yang lucu, Angga! Jadi tidak usah tertawa!" Dad Liam ganti menggertak Angga.
"Kamar Reina di lantai atas! Sana!" Usir Dad Liam selanjutnya pada Angga.
Angga mengetuk dua kali pintu kamar, Reina sebelum mendorongnya hingga terbuka.
"Mom, Reina mau istirahat!" Terdengar suara Reina yang lebih mirip rengekan. Namun gadis itu rupanya masih menyembunyikan wajahnya di bawah selimut.
Angga menutup pelan pintu kamar, lalu berjalan sedikit mengendap menuju ke ranjang Reina, dimana gadis itu sedang berbaring.
Awalnya Angga duduk di tepi ranjang, sembari mengamati tubuh Reina yang masih terbungkus selimut, saat kemudian kembali terdengar decakan protes dari Reina.
"Mom! Reina mau istirahat!" Dengkus Reina sembari berbalik dan menyingkap selimutnya. Gadis itu terdiam sejenak saat tahu bahwa orang yang kini duduk di tepi ranjangnya bukanlah Mom Yumi, melainkan Angga.
"Sedang apa disini?" Sungut Reina sambil kembali berbalik dan menarik selimut hingga ujung kepalanya lagi.
"Aku dengar kau sakit," ujar Angga yang langsung naik ke atas ranjang, lalu mendekap Reina dari belakang. Reina sedikit meronta, namun Angga dengan cepat mengeratkan dekapannya.
"Marah?" Tanya Angga sembari menyibak perlahan selimut Reina, agar wajah kekasihnya itu terlihat. Tak lupa Angga juga merapikan rambut Reina yang berserak kesana kemari.
"Enggak!" Jawab Reina ketus.
"Lalu kau sakit apa?" Tanya Angga lagi yang langsung berhadiah sikutan di perut dari Reina.
"Lepas!" Sungut Reina sembari tak berhenti menyikut-nyikut perut Angga.
"Pergi sana bersama Beth!"
"Aku tidak peduli!" Reina semakin kuat menyikut Angga, seolah gadis itu sedang meluapkan kekesalannya.
"Kenapa membawa-bawa Beth?" Tanya Angga tak mengerti.
"Karena dia kekasihmu!"
__ADS_1
"Atau selingkuhanmu mungkin!" Sergah Reina penuh emosi.
"Kekasihku hanya kamu, Rei!" Angga mengeratkan dekapannya pada Reina.
"Jangan marah lagi, ya! Aku tidak ada hubungan apapun dengan Beth atau dengan gadis manapun-".
"Tapi kau masih berselingkuh di belakangku!" Sergah Reina menyela.
"Selingkuh dengan siapa?" Tanya Angga tak paham.
"Dengan pekerjaanmu!" Jawab Reina marah.
"Aku minta maaf soal itu."
"Kemarin malam aku ketiduran setelah sampai di hotel. Jadi aku tak sempat meneleponmu," ujar Angga lagi mengakui kesalahannya.
"Tak sempat membalas pesanku juga? Atau sekedar minta maaf keesokan paginya," sungut Reina kesal.
"Aku minta maaf, Reina!" Ucap Angga akhirnya penuh penyesalan.
Reina sudah berhenti menyikut-nyikut Angga, dan sekarang gadis itu hanya diam sambil sedikit menyamankan tubuhnya di dalam dekapan Angga.
Sudah lama sekali Reina dan Angga tak saling mendekap begini. Padahal dulu mereka kerap melakukannya di apartemen, saat pulang dari kantor.
"Kenapa pekerjaanmu seperti tak ada habisnya dan kau seperti berubah jadi workaholic belakangan ini," ujar Reina menyampaikan keluhannya.
"Karena itu semua tanggung jawabku." Angga menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan penjelasannya.
"Dulu Opa yang mengajariku langsung bagaimana mengelola sebuah perusahaan. Lalu Opa juga yang memberikan aku tanggung jawab untuk memimpin perusahaannya."
"Padahal anak Opa adalah Uncle Robert dan bukan kau!" Reina lagi-lagi menyela cerita Angga.
"Aku cucu kesayangan Opa!" Klaim Angga meskipun kenyataannya tak seperti itu.
Namun misalnya Angga mengungkit asal-usulnya di depan sang Opa, sudah pasti pria ini akan mendapat murka dari Opa.
"Aku merasa punya tanggung jawab yang besar untuk membuat perusahaan berkembang dan membuat Opa bangga."
"Lalu belakangan ini banyak proyek bagus juga dari para investor. Jadi-"
"Jadi kau mengabaikanku agar kau bisa fokus pada proyek-proyek besarmu itu?"
"Teruskan saja!"
"Kau juga bisa bertunangan atau menikah dengan proyekmu itu kalau perlu!" Cerocos Reina dengan nada kesal yang langsung membuat Angga menghela nafas.
"Rei, mengertilah-"
"Memangnya kapan aku tidak mengerti dan memahamimu?" Sergah Reina emosi.
"Kau itu yang egois!" Sergah Reina lagi masih kesal.
"Baiklah, aku minta maaf," ucap Angga sekali lagi kembali dengan raut menyesal.
"Aku janji, kalau aku akan memperbaiki semuanya, Rei!" Sambung Angga lagi. Pria itu lalu mengecup puncak kepala Reina dan semakin mengeratkan dekapannya. Angga juga menggenggam erat tangan Reina, lalu membalik perlahan posisi Reina agar ganti menghadap ke arahnya.
Bisa Angga lihat, sia-sisa airmata yang membasahi pipi Reina. Segera Angga menyekanya dengan lembut.
"Maaf," ucap Angga sekali lagi dan Reina hanya mengangguk. Tepat saat tangan Angga sedang menangkup wajah Reina, pintu kamar tiba-tiba sudah menjeblak terbuka dan ada Fairel yang berdiri sembari berkacak pinggang di ambang pintu.
"Kalian sedang apa, hah?"
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.