
"Reina! Kau tidak ke kantor hari ini?"
Suara Mom Yumi dari luar kamar berusaha diabaikan oleh Reina. Gadis itu menarik selimut hingga menutupi wajah dan kepalanya. Semalaman Reina tidak bisa tidur karena memikirkan ungkapan cinta Diftha kemarin, lalu memikirkan pertunangannya dengan Angga.
Entahlah!
Pikiran Reina rasanya seperti benang ruwet sekarang!
"Reina!"
Pintu kamar akhirnya dibuka oleh Mom Yumi karena Reina yang tak kunjung menyahut.
"Kau sakit?" Tanya Mom Yumi yang bergegas menghampiri tempat tidur Reina, lalu menyibak selimut yang menutupi tubuh Reina.
"Mom!" Rengek Reina sambil kembali menarik selimut yang disibak oleh Mom Yumi.
"Kau sakit?" Mom Yumi menyibak selimut Reina sekali lagi.
"Hemmmm!" Jawab Reina malas sambil berbalik membelakangi Mom Yumi.
"Sakit apa lagi?" Mom Yumi ganti meletakkan punggung tangannya di kening Reina.
"Tidak demam," gumam Mom Yumi.
"Reina sakit kepala, Mom!" ujar Reina beralasan.
"Mom akan membawakanmu sarapan dan obat kalau begitu," tukas Mom Yumi akhirnya sembari bangkit berdiri, lalu keluar dari kamar Reina. Sementara Reina segera meraih ponselnya yang sejak tadi bergetar. Rupanya ada beberapa pesan masuk dari Diftha.
[Rei, mau roti mentega lagi?] -Diftha-
Reina membuang nafas kasar dan memilih untuk tidak membuka deretan pesan dari Diftha tersebut. Reina hanya sekilas membacanya dari pemberitahuan di layar.
Tok tok tok!
Suara pintu kamar yang diketuk dari luar, membuat Reina segera meletakkan lagi ponselnya ke atas nakas. Reina segera berbalik dan gadis itu sedikit kaget saat mendapati Angga yang sudah berada di kamarnya sembari membawa sarapan untuknya.
Kapan Angga datang?
"Sakit lagi?" Tanya Angga sembari meletakkan sarapan Reina ke atas nakas. Angga lalu duduk di tepi tempat tidur dan mengulurkan tangannya untuk mengusap wajah Reina.
"Tadi malam pulang reuni jam berapa?" Tanya Angga lagi.
Reina tak menjawab dan gadis itu hanya merengut. Reina kemudian berbalik dan memunggungi Angga.
"Rei," panggil Angga lembut sembari mengusap punggung Reina.
"Rei, kau tidak ke kantor hari ini. Apa kau sakit?"
__ADS_1
"Iya, aku sedikit tidak enak badan."
"Sudah ke dokter? Minum obat?"
"Hanya kecapekan, Dift! Jadi aku istirahat saja dan tidak usah ke dokter."
"Begitu, ya! Ngomong-ngomong, aku boleh menjengukmu saat istirahat nanti?"
"Ish!" Reina berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya karena mendadak cecaran pertanyaan yang oenuh perhatian dari Diftha saat Reina izin sakit tempo hari kembali terngiang-ngiang di kepala Reina.
"Rei, apa kau marah padaku?" Tanya Angga yang rupanya masih mengusap-usap punggung Reina. Kenapa Reina baru sadar?
"Aku hanya sakit kepala!" Jawab Reina tanpa mengubah posisinya.
"Mau aku antar ke dokter?" Tawar Angga selanjutnya. Disaat bersamaan dering nyaring ponsel Angga seolah membuat telinga Reina menjadi pekak. Pasti itu pekerjaannya yang memanggil!
"Kau jadwalkan ulang saja meetingnya, Dift! Aku sedikit terlambat ke kantor," ucap Angga pada seseorang di telepon. Sepertinya Diftha dari cara Angga memanggilnya tadi.
"Reina, kau mau aku antar ke dokter?" Tawar Angga sekali lagi sembari bangkit berdiri, lalu mengitari ranjang Reina dan sekarang Angga bersimpuh di depan Reina yang tadi memunggunginya.
"Mau aku antar ke dokter?" Tanya Angga yang sekarang sudah ganti mengusap lembut wajah Reina.
Reina memejamkan kedua matanya dan entah mengapa, mata Reina mendadak jadi memanas lalu butir-butir bening itu jatuh begitu saja tanpa permisi.
"Rei, kamu kenapa?" Tanya Angga bingung karena Reina yang malah menangis tiba-tiba tanpa sebab.
Bingung pada perasaannya sendiri!
"Ada apa?" Tanya Angga sembari membantu menyeka airmata yang memenuhi wajah Reina. Angga sudah duduk di samping Reina dan meraup kekasihnya itu ke dalam pelukan.
"Kepalamu masih sakit?" Tanya Angga lagi.
"Sedikit," cicit Reina sembari menyamankan dirinya di dalam pelukan Angga.
Ya!
Reina mencintai Angga!
Dering nyaring ponsel Angga kembali terdengar, dan Reina yang tadinya sudah bahagia berada di dalam pelukan Angga, kembali harus mendengus tatkala Angga melepaskan sejenak pelukannya demi mengangkat telepon.
Ck!
Tidak bisakah Angga mengabaikan pekerjaannya itu sebentar saja?
"Sebentar aku angkat telepon dulu," ujar Angga sembari bangkit berdiri dan meninggalkan Reina begitu saja. Angga sudah beralih ke sudut ruangan lalu larut dalam pembicaraan yang entah dengan siapa di telepon.
Reina yang merasa kesal sekaligus lapar akhirnya mengambil sarapannya sendiri dari atas nakas yang tadi dibawakan oleh Angga. Ada nasi goreng dan ayam panggang di atas nampan yang mendadak mengingatkan Reina pada kalomat Diftha,
__ADS_1
"Kau pesan makanan seperti biasa, kan? Pakai tumis buncis, orek tempe dan ayam panggang!"
Reina terdiam sejenak, lalu gadis itu menatap pada Angga yang masih sibuk bicara di telepon dan sepertinya serius sekali. Angga yang sudah menjadi pacar Reina bertahun-tahun saja selalu lupa dengan menu favorit Reina saat mereka makan di luar. Tapi Diftha....
Pria itu begitu tulus dan perhatian. Bahkan hal kecil seperti menyeka makanan yang belepotan di bibir Reina atau sekedar menarik kursi saat Reina hendak duduk. Semuanya selalu Diftha lakukan.
Reina memejamkan mata, lalu menghela nafas berulang kali. Reina mendadak jadi tak berselera dengan nasi goreng buatan Mom Yumi. Reina ingin makan nasi dari warteg langganannya bersama Diftha. Atau nasi padang yang biasa Diftha belikan untuk Reina.
"Kenapa tidak dimakan?" Pertanyaan dari Angga menyentak lamunan Reina.
"Tidak selera," jawab Reina sembari meletakkan lagi nampan makanan ke atas nakas.
"Kau mau makan yang lain?" Tawar Angga pada Reina.
"Kau mau membelikannya?" Tanya Reina berharap.
"Aku akan menyuruh maid atau supir karena aku harus pergi," Angga menjeda kalimatnya sejenak karena raut wajah Reina sudah berubah sekarang. Reina kini sudah merengut dan menatap tak senang pada Angga.
"Rei, aku janji ini hanya sebentar," bujuk Angga mencoba meminta pengertian dari Reina.
"Pergilah sana!" Usir Reina sembari mendorong dada Angga dengan kesal. Reina lalu membenamkan kepalanya ke dalam bantal.
"Reina!" Angga segera mendekap tubuh Reina dan mencoba membujuk kekasihnya itu sekali lagi.
"Aku akan pergi sebentar, lalu nanti setelah urusanku selesai aku akan kesini lagi untuk menemanimu. Kalau perlu aku akan menginap malam ini-"
"Terserah! Aku tidak peduli!" Marah Reina yang terus menyentak dekapan Angga.
"Aku janji, Rei!" Ucap Angga sekali lagi meminta pengertian dari Reina.
"Aku tidak peduli!"
"Pergi sana!"
"Pergi sana!" Reina terus menyentak dekapan Angga dan mengusir pria itu.
"Aku janji hanya sebentar!" Angga mencium puncak kepala Reina sebelum akhirnya pria itu bangkit berdiri, lalu keluar dari kamar Reina.
"Menyebalkan!" Teriak Reina kesal sembari melempar bantal ke arah pintu kamarnya yang sudah tertutup.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1