Segitiga Cinta Reina

Segitiga Cinta Reina
SAKIT?


__ADS_3

Reina keluar dari kamar, sembari sedikit merapikan blazer baby pink-nya. Gadis itu lalu membawa tasnya dengan anggun dan lanjut melangkah ke arah tangga. Namun saat baru sampai di pertengahan tangga, Reina menghentikan langkahnya karena ia samar-samar mendengar suara Aunty Sita dan Rossie di bawah.


Hah?


Mustahil Aunty Sita dan Rossie datang ke rumah pagi-pagi, kan?


"Reina memang mengatakan kalau ia semalam sedang tak enak badan, Sita!" Suara nyaring Mom Yumi semakin memperjelas kalau Aunty Sita dan Rossie memang datang ke rumah.


Gawat!


Reina tak jadi turun dan gadis itu kembali naik tangga lagi, lalu masuk ke kamarnya dengan cepat. Reina membuka lemari dengan tergesa, lalu mengambil satu piyama secara acak, dan dengan kecepatan jet, gadis itu segera mengganti blazer kerjanya dengan piyama berwarna hitam yang tadi ia ambil. Tak lupa Reina juga langsung menyumpalkan blazer baby pink-nya tadi ke dalam lemari demi menutupi jejak.


Dan tepat saat pintu kamar diketuk dari luar, Reina sydah berbaring di atas tempat tidur sembari menutupi tubuhnya dengan selimut hingga sebatas leher.


"Rei!" Panggil Mom Yumi bersamaan dengan pintu kamar yang sudah dibuka dari luar. Reina cepat-cepat memejamkan mata dan pura-pura tidur.


"Reina!" Mom Yumi menghampiri sang putri, lalu meletakkan punggung tangannya di kening Reina.


"Reina demam, Yum?" Tanya Aunty Sita khawatir.


"Tidak! Suhunya normal," jawab Mom Yumi yang kembali memastikan dan meletakkan sekali lagi punggung tangannya di kening Reina.


"Rei, bangun!" Mom Yumi mengguncang lembut tubuh Reina, sembari menepuk pipi putrinya itu dengan lembut juga.


"Hmmmm." Reina pura-pura menggeliat, lalu gadis itu membuka matanya dengan perlahan.


"Reina." Aunty Sita sudah duduk di tepi ranjang, lalu mengusap lembut kepala Reina.


"Kau sakit?" Tanya Aunty Sita lembut. Reina hanya mengangguk samar dan berakting layaknya orang sakit.


Oh, tentu saja Reina sudah fasih melakukannya!


Reina dulu sering melakukannya saat ia malas pergi ke sekolah.


"Mungkin memang sudah kangen berat dengan Bang Angga, Ma! Biar Rossie telponkan," ujar Rossie sembari mengeluarkan ponsel dari tasnya.


"Angga sibuk, Rossie! Jangan diganggu!" Ucap Reina lirih sembari menarik selimut lebih rapat lagi. Sementara Rossie masih berusaha menghubungi Angga yang sepertinya tak kunjung bisa dihubungi.


Ya ya ya!


Angga sedang pingsan tertimbun pekerjaannya sekarang!


"Bisa, Rossie?" Tanya Aunty Sita memastikan dan Rossie langsung menggeleng


"Teleponnya masuk, tapi tidak diangkat, Ma!" Jawab Rossie menjelaskan.


"Angga!!!" Aunty Sita menggeram pelan dan sepertinya geregetan juga dengan sikap sang putra.


"Reina." Aunty Sita kembali mengusap lembut kepala Reina.


"Reina baik-baik saja, Aunty! Terima kasih sudah menjenguk Reina," ucap Reina berusaha mengulas senyum sebelum kemudian gadis itu berbalik dan memunggungi Aunty Sita.


Tidak sopan memang!

__ADS_1


Tapi entahlah, Reina mendadak merasa kesal saat ingat keakraban Aunty Sita dan Bethany kemarin di toko kue.


"Reina-"


"Sudah tidak apa-apa, Yumi! Mungkin Reina memang ingin istirahat," sergah Aunty Sita memotong geraman Mom Yumi yang menegur sikap tak sopan Reina.


"Tapi ngomong-ngomong, pertunangan Abang Angga dan Reina tetap lanjut kan, Ma?" Tanya Reina tiba-tiba yang sontak membuat Mom Yumi kaget.


"Memangnya siapa yang berniat membatalkan, Rossie?" Tanya Mom Yumi tak mengerti.


"Rossie! Tentu saja pertunangannya jadi dan akan digelar minggu depan!" Desis Aunty Sita sedikit geregetan pada sang putri yang asal ceplos.


"Ayo kita keluar dan biarkan Reina beristirahat!" Ajak Aunty Sita selanjutnya pada Rossie dan Mom Yumi.


Rossie langsung mengangguk dan krluar terlebih dahulu disusul oleh Aunty Sita. Sementara Mom Yumi memilih untuk menghampiri Reina lagi dan mengecek suhu badan putrinya tersebut.


"Mom!" Rengek Reina sembari merapatkan selimutnya.


"Kau tadi belum sarapan, kan? Mungkin kau tidak enak badan karena lapar," pendapat Mom Yumi menerka-nerka.


"Reina sedang tak berselera makan!" Ujar Reina sedikit bergumam yang hanya membuat Mom Yumi menghela nafas.


"Makan disuapi Angga mau?" Tanya Mom Yumi selanjutnya sedikit menggoda Reina. Namun bukannya menjawab, Reina malah merengut dan langsung menutupi wajahnya dengan selimut.


"Angga sedang sibuk dengan pekerjaannya!" Gumam Reina daei dalam selimut yang langsung membuat Mom Yumi tertawa kecil.


"Hmmmm. Berarti benar kata Rossie. sakitnya kamu itu karena rindu pada Angga," ujar Mom Yumi yang langsung dibantah oleh Reina.


"Enggak, kok!"


"Siapa juga yang rindu pada Angga menyebalkan!" Gerutu Reina setelah Mom Yumi pergi.


****


Angga menyesap kopi di cangkirnya, lalu pria itu sedikit mengendurkan dasi yang melingkar di lehernya. Angga membuang nafas dengan kasar beberapa kali, sebelum pria itu mengambil ponselnya dari dalam saku, lalu menyalakan benda persegi tersebut. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Rossie yang langsung membuat Angga mengernyit.


Bukankah Angga sudah menelepon adik kesayangannya itu tadi malam dan minta maaf karena tidak bisa datang di acara ulang tahun Rossie?


Lalu kenapa Rossie sudah menelepon Angga lagi pagi ini, seolah ada hal penting yang hendak disampaikan?


Angga melirik sejenak jam di arlojinya, sebelum pria itu memutuskan untuk menelepon Rossie. Barangkali memang ada hal penting yang ingin Rossie sampaikan.


"Halo, Bang!"


Langsung terdengar suara Rossie di ujung telepon, begitu Angga menghubungi adiknya tersebut.


"Kau tadi menelepon ada apa?" Tanya Angga to the point.


"Abang tadi kemana? Kenapa tidak mengangkat telepon?"


"Reina sakit, Bang!"


"Gara-gara Abang!"

__ADS_1


Cerocosan Rossie dari ujung telepon sontak membuat Angga terkejut.


"Reina sakit? Sakit apa?" Tanya Angga cemas. Angga memang belum sempat menelepon kekasihnya itu sejak kemarin. Padahal Angga sudah janji akan menelepon Reina jika sudah senggang.


"Sakit rindu!"


"Rindu sama Abang yang tidak pulang-pulang!"


"Abang disini kerja, Ross!" Sergah Angga mencari pembenaran.


"Memang seberapa banyak pekerjaan Abang sampai tidak ada waktu untuk Reina?"


"Belum lagi, kemarin itu kan pas aku dan Mama ke toko kue Beth, ada Reina juga disana. Abang tahu nggak, Reina ngomong apa?"


"Reina ngomong apa memang?" Tanya Angga penasaran.


"Masa iya Reina bertanya begini ke Mama, 'Apa aunty tak ada wacana menjodohkan Angga dan Beth, kalau memang mereka dekat sejak dulu?'"


"Begitu, Bang!"


Angga diam sejenak mendengar pengaduan Rossie.


"Memangnya Abang pernah melakukan sesuatu bersama Beth yang membuat Reina cemburu? Abang tidak berselingkuh bersama Beth di belakang Reina, kan?"


"Sembarangan!" Sergah Angga ceoat membantah tuduhan ngawur sang adik.


"Abang saja belum bertemu Beth beberapa bulan belakangan. Bagaimana ceritanya Abang selingkuh dengan Beth?" Cerocos Angga lagi merasa bingung dengan sikap aneh Reina yang bisa-bisanya cemburu berlebihan pada Beth.


"Mana Rossie tahu!"


"Makanya Abang pulang, gih! Teus jelasin ke Reina kalau memang Abang nggak selingkuh sama Beth!"


"Sekalian Abang manjain Reina dan berikan perhatian, biar Reina nggak merasa diabaikan begitu!"


"Iya! Nanti abang akan pulang kalau pekerjaan disini sudah selesai!" Janji Angga yang malah membuat Rossie berdecak di ujung telepon.


"Pekerjaan lagi! Ternyata Abang selingkuhnya sama pekerjaan!"


Tuut tuut!


Telepon terputus begitu saja dan Rossie sama sekali tak berpamitan.


Ck! Dasar Rossie!


Angga akhirnya ganti menelepon nomor Reina. Cukup lama Angga menunggu, dan teleponnya sama sekali tak diangkat oleh Reina.


Baiklah!


Apa Reina benar-benar marah pada Angga sekarang?


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2