Segitiga Cinta Reina

Segitiga Cinta Reina
HAMBAR?


__ADS_3

Angga baru tiba di kediaman Halley saat pria itu melihat Mom Yumi yang sepertinya sedang menerima pesanan makanan dari seorang kurir.


"Siang, Aunty!" Sapa Angga pada Mom Yumi yang langsung tersenyum ramah.


"Siang!"


"Sudah pulang lagi?" Tanya Mom Yumi berbasa-basi.


"Iya, tadi sudah janji pada Reina untuk pulang cepat dan menemaninya."


"Angga juga masih harus menulis nama-nama tamu undangan untuk acara hari Sabtu, Aunty," jelas Angga panjang lebar yang langsung membuat Mom Yumi mengangguk.


"Aunty baru mau mengingatkan. Semua undangannya juga kebetulan sudah ada di kamar Reina, Angga!"


"Jadi nanti kalian berdua bisa menulis nama-nama tamunya sekalian. Agar undangan juga bisa langsung diantar," ujar Mom Yumi.


"Siap, Aunty!"


"Oh, ya! Ngomong-ngomong, kau mau ke kamar Reina, kan?"


"Sekalian kau bawakan makanan Reina, ya! Dia pesan nasi padang barusan." Mom Yumi mengangsurkan bungkusan makanan yang tadi dibawa kurir pada Angga.


"Reina sudah sehat, Aunty?" Tanya Angga masih berbasa-basi.


"Sudah mendingan sepertinya. Tadi ada teman kantornya yang datang menjenguk juga dan Reina sudah bisa menemui di bawah," cerita Mom Yumi dan Angga hanya manggut-manggut.


"Ya ampun!" Angga tiba-tiba menepuk keningnya karena ia melupakan sesuatu.


"Ada apa?" Tanya Mom Yumi bingung.


"Angga mau mengambil sesuatu dulu di mobil, Aunty! Permisi!" Izin Angga yang segera kembali ke mobilnya untuk mengambil bunga yang tadi sengaja ia beli untuk sekedar meredakan kemarahan Reina.


Semoga Reina sudah tak marah lagi.


"Loh! Bukannya tadi kau sudah memberikan bunga untuk Reina? Tadi maid membawa bunga ke kamar Reina," tanya Mom Yumi bingung.


"Angga belum mengirimkan bunga untuk Reina, Aunty! Ini tadi Angga baru dari florist," jawab Angga ikut bingung.


"Lalu bunga yang tadi dari siapa? Warnanya putih juga," gumam Mom Yumi bertanya-tanya.


"Mungkin dari teman Reina yang yadi datang menjenguk. Bukankah kata Aunty ada teman Reina yang datang tadi," tukas Angga menerka-nerka.


"Oh, iya!"


"Mungkin juga." Mom Yumi langsung terkekeh dan Angga ikut terkekeh juga.


"Angga ke atas dulu, Aunty!" Pamit Angga selanjutnya pada Mom Yumi yang hanya mengangguk. Angga-pun bergegas naik tangga dan menuju ke kamar Reina.


****


Reina masih duduk di sofa sembari menatap keluar jendela. Sesekali gadis itu juga akan menghirup aroma khas yang menguar dari bunga segar yang tadi dibawakan oleh Diftha.

__ADS_1


Reina bahkan sudah lupa kapan terakhir kali Angga memberikannya bunga seperti ini.


Tok tok!


Suara ketukan dibarengi dengan pintu kamar yang sudah menjeblak terbuka, membuat Reina menoleh. Ada monster bunga....


Hah?


"Rei, aku sudah pulang!" Angga akhirnya menampakkan wajahnya dari balik buket bunga mawar yang lumayan besar yang ada di tangannya.


Baru saja Reina memikirkan tentang bunga dari Angga dan sekarang pria itu sudah membawakan buket bunga besar untuk Reina.


"Kau sudah sehat?" Tanya Angga sembari memberikan bunga yang tadi ia bawa pada Reina.


"Ya! Aku sudah baikan," jawab Reina yang langsung mengendus aroma harum dari bunga Angga. Namun kemudian ada aroma lain yang menguar dari tangan Angga yang lain.


"Itu apa?" Tanya Reina menunjuk ke bungkusan yang juga dibawa oleh Angga.


"Nasi padang. Kata Aunty Yumi kau memesannya." Angga baru menyelesaikan kalimatnya, saat Reina sudah dengan cepat mengambil bungkusan tersebut. Reina lalu membukanya dengan mata berbinar. Gadis itu lalu segera menikmati nasi padang yang tadi dipesankan oleh Diftha.


"Kau belum makan tadi?" Tanya Angga yang sudah duduk di sofa dan terus menperhatikan Reina yang makan begitu lahap.


"Hmmm," jawab Reina yang hanya bergunam.


Angga akhirnya tak bertanya lagi dan pria itu ganti mengambil tumpukan undangan yang ada di meja di samping sofa.


"Bagaimana kalau kita mengundang seluruh karyawan di kantor? Besok aku akan menyuruh Diftha untuk-"


"Jangan menyuruh Diftha," imbuh Reina lagi yang memang berniat menyembunyikan pertunangan ini dari Diftha.


Ya!


Diftha akan langsung patah hati kalau pria itu tahu.


Tapi....


"Kenapa memang?" Tanya Angga sedikit heran dengan gelagat Reina yang tak biasa.


"Mmmmm...." Reina berpikir sejenak agar menemukan alasan yang tepat.


"Begini, Diftha sepertinya sudah banyak pekerjaan. Jadi besok biar aku saja yang membagikan undangan untuk para karyawan."


"Nanti aku akan meminta bantuan beberapa karyawan di divisi keuangan juga untuk membagikannya," jelas Reina yang akhirnya menemukan alasan yang tepat.


Terdengar masuk akal dan semoga Angga tak curiga!


"Baiklah, kalau kau maunya begitu," tukas Angga akhirnya yang langsung membuat Reina menarik nafas lega. Gadis itu juga sudah selesai menikmati nasi padangnya.


Reina segera merapikan lagi tumpukan undangan di atas meja. Sudah tersusun rapi di kepala Reina kalau besok ia tak akan membagikan undangan ini pada para karyawan. Reina hanya akan memberikan undangan pada petinggi di perusahaan saja yang memang sudah tahu tentang hubungan Reina dan Angga.


Ya!

__ADS_1


Hanya itu satu-satunya cara agar Diftha juga tak tahu perihal pertunangan ini.


Namun bukan berarti Reina tidak mau jujur dan memberikan Diftha harapan. Reina tetap akan memberitahu Diftha satu hari nanti tentang hubungannya bersama Angga dan tentang pertunangan ini.


Tapi nanti, saat waktunya tepat.


Toh pernikahan Reina dan Angga kemungkinan juga masih lama meskipun mereka sudah bertunangan nantinya. Karena Abang Fairel yang masih enggan untuk dilangkahi.


"Kau benar sudah sehat?" Tanya Angga yang tiba-tiba sudah mendekap Reina dari belakang dan membuat gadis itu berjenggit kaget.


Padahal biasanya Reina sangat suka saat Angga melakukan hal ini!


Entahlah!


Perasaan Reina mendadak jadi kacau balau sejak Diftha mengungkapkan perasaannya.


"I-iya!"


"Aku sudah sehat," jawab Reina sedikit tergagap.


"Kau tidak ke kantor lagi? Atau bertemu kolega. Meeting?" Cecar Reina selanjutnya menyebutkan segala kesibukan Angga.


Angga tak langsung menjawab dan pria itu malah membalik tubuh Reina agar menghadap ke arahnya.


"Lalu nanti kau akan marah jika aku pergi." Angga tertawa kecil seolah ada hal yang lucu.


"Tidak!" Kelit Reina cepat.


"Karena aku juga mau istirahat," ujar Reina lagi seraya berlalu ke arah ranjangnya. Gadis itu lalu duduk di tepi ranjang dan meraih ponselnya di atas nakas. Ada deretan pesan dari Diftha yang masuk ke ponsel Reina.


"Aku akan menemanimu saja hari ini,", putus Angga yang sudah ikut duduk di samping Reina.


"Oh, ya. Ngomong-ngomong, kau jadi mengundang teman-teman alumni sekolahmu?" Tanya Angga memastikan.


"Emmmmm, iya aku sudah memberitahu mereka semua," jawab Reina berdusta.


"Tapi sebagian dari mereka mengatakan tak bisa datang karena ada acara juga," ujar Reina lagi mengarang indah. Sementara Angga hanya manggut-manggut dan sepertinya pria itu percaya saja dengan karangan indah Reina.


"Jadi mungkin nanti yang datang juga hanya beberapa saja," lanjut Reina lagi.


"Tidak apa-apa! Yang penting kita sudah mengundang mereka semua," hibur Angga sembari merangkul pundak Reina. Rangkulan yang mendadak terasa hambar karena pikiran Reina yang sekarang malah tertuju pada Diftha, Diftha, dan Diftha.


Ada apa denganmu, Reina?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2