
Angga keluar dari lift, lalu segera menuju ke nurse station di lantai enpat rumah sakit untuk menanyakan kamar adik Diftha.
"Gizta Adelina di kamar Anggrek nomor satu," ujar perawat yang langsung membuat Angga mengangguk.
"Terima kasih, Suster!" Ucap Angga sembari berlalu dan segera menuju ke kamarnya Anggrek nomor satu. Angga kembali melihat arloji di tangannya, untuk memastikan kalau ini memanglah masih jam membesuk pasien.
Tok tok tok!
Angga mengetuk pintu kamar Anggrek nomor satu. Tak berselang lama, pintu sudah dibuka dari dalam oleh Diftha.
"Pak Angga," sapa Diftha yang terlihat kaget. Mungkin pria itu tak menyangka kalau Angga akan datang menjenguk adiknya.
"Aku kesini ingin menjenguk adikmu," ucap Angga to the point menyampaikan tujuannya.
"Silahkan masuk!" Ucap Diftha akhirnya mempersilahkan Angga. Tak ada siapapun di dalam.kamar perawatan dan sepertinya hanya Diftha seorang yang menjaga Gizta.
"Siapa yang menjaga adikmu saat kau ke kantor seperti pagi tadi?" Tanya Angga berbasa-basi. Angga tentu saja juga tahu tentang Diftha dan sang adik yang tak lagi mempunyai orang tua.
"Ada perawatnya Gizta yang menjaga sampai saya pulang kerja, Pak!" Jawab Diftha.
"Panggil saja Angga," tukas Angga mencoba akrab. Angga lalu menghampiri bed perawatan Gizta, dimana adik Diftha itu terlihat terlelap.
"Gizta baru saja minum obat, jadi dia langsung tidur," jelas Diftha lagi yang sudah menyusul langkah Angga.
"Jadinya, Gizta sakit apa?" Tanya Angga sembari membenarkan selimut Gizta. Angga menatap wajah polos adik kandung Diftha itu untuk beberapa saat, sebelum ganti menatap pada Diftha.
"Ada infeksi di dalam darah yang membuat demamnya naik turun," jelas Diftha.
Angga mengangguk.
"Ngomong-ngomong, kau tadi sudah makan? Aku membawakan kau dan Gizta kue." Angga ganti mengendikkan dagunya ke totebag yang tadi ia bawa.
"Terima kasih, Pak-"
"Angga saja," sela Angga cepat.
"Terima kasih, Pak Angga," ucap Diftha tak menurut. Angga sontak berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Padahal selisih usia kita juga hanya tiga tahun," gumam Angga seraya tertawa kecil.
"Tetap saja anda adalah atasan saya, Pak! Jadi tidak sopan jika saya memanggil nama saja," tukas Diftha beralasan.
Angga hanya mengangguk sambil sedikit membenarkan kacamatanya.
"Ngomong-ngomong soal Reina...." Angga kembali buka suara dan pria itu sudah menatap penuh makna pada Diftha yang sedikit tersentak.
Masih lekat di ingatan Diftha tentang gelas kopi yang sempat Diftha tinggalkan di atas mejanya kala itu. Gelas yang bertuliskan puisi untuk Reina sudah berpindah ke tempat sampah, saat Diftha kembali dari ruang meeting. Lalu juga sikap Angga waktu itu yang mendadak dingin pada Diftha saat di lift....
Semuanya sukses membuat Diftha menarik kesimpulan kalau Angga pastilah tak sengaja melihat gelas kopi untuk Reina waktu itu, lalu mungkin pria itu juga yang membuang gelasnya ke dalam tempat sampah.
Ya, sepertinya Angga memang sudah tahu semuanya!
"Maaf jika kemarin saya lancang mendekati Reina, Pak Angga!"
"Saya benar-benar tidak tahu kalau Reina adalah calon tunangan anda," ucap Diftha jujur.
"Kau sudah lama suka pada Reina?" Tanya Angga tiba-tiba yang langsung membuat Diftha diam sejenak, sebelum kemudian pria itu menggeleng.
"Itu hanya cinta monyet." Diftha tertawa sumbang.
"Tidak ada yang salah dengan cinta monyet, Diftha! Banyak yang berawal dari cinta monyet dan berakhir di pelaminan," ujar Angga menatap serius pada Diftha.
"Saya tidak akan selancang itu, Pak Angga!"
"Bagaimanapun juga, Reina sudah jadi tunangan anda, jadi saya cukup tahu diri dan saya juga sudah membuang jauh perasaan saya pada gadis itu," tutur Diftha bersungguh-sungguh.
"Hanya bertunangan dan belum tentu juga akan menikah," gumam Angga yang kembali membenarkan kacamatanya.
"Tapi bukankah pernikahan anda dan Reina akan digelar minggu depan?" Tanya Diftha memastikan karena tadi saat di kantor, di sepanjang lorong dan hampir di semua divisi sedang ramai membahas pernikahan Angga dan Reina minggu depan. Para karyawan sibuk membajas baju yang akan mereka kenakan minggu depan, serta beberapa juga membahas perihal patah hati karena mereka yang tak menduga jika Angga Hadinata ternyata sudah lama berpacaran dengan Reina Halley.
Ya, ternyata yang tidak tahu perihal hubungan dua anak konglomerat itu bukan hanya Diftha seorang. Tapi hampir sebagian besar karyawan di kantor.
Apa hubungan Angga dan Reina memang sengaja dirahasiakan?
"Minggu depan masih beberapa hari lagi dan masih ada waktu untuk membatalkan atau mengganti mempelai prianya." Angga kembali menatap penuh arti pada Diftha.
"Reina mencintaimu, Dift!" Ucap Angga selanjutnya dengan suara lirih yang langsung membuat Diftha menggeleng.
"Anda hanya salah paham, Pak Angga!"
__ADS_1
"Tapi Reina merasa nyaman bersama kau yang perhatian." Angga tersenyum kecut.
"Reina juga sedang sakit sekarang, dan aku pikir itu mungkin karena dia sedang merindukanmu," pendapat Angga lagi tetap tersenyum kecut.
"Merasa nyaman bukan berarti mencintai, Pak Angga!" Tukas Diftha berteori.
"Dan bisa saja sakitnya Reina karena ia kelelahan setelah acara pertunangan kemarin," ujar Diftha lagi.
"Saya yakin, kalau Reina hanya mencintai anda," ucap Diftha bersungguh-sungguh.
Gantian Angga yang menggeleng masih sambil tersenyum kecut. Pria itu lalu melepaskan kacamatanya.
"Hubungan kami sudah kacau belakangan ini," curhat Angga sembari mendaratkan bokongnya di atas sofa. Pria itu lalu mengusap wajahnya beberapa kali sebelum kemudian memakai kacamatanya kembali.
"Dan aku rasa, perasaan diantara kami juga mungkin sudah mulai pudar," tukas Angga lagi sembari menatap ke arah Diftha yang masih berdiri di dekat bed perawatan Gizta.
"Kami lebih banyak bertengkar juga," Angga kembali tersenyum kecut.
"Bukankah pertengkaran di dalam sebuah hubungan itu adalah hal yang wajar?" pendapat Diftha.
"Tinggal bagaimana anda dan Reina menyelesaikan pertengkaran tersebut dengan komunikasi yang baik serta bicara dari hati ke hati," sambung Diftha lagi memberikan masukan pada Angga.
"Itulah masalahnya! Komunikasiku dengan Reina memburuk belakangan ini karena-"
"Karena anda sibuk dengan pekerjaan?" Potong Diftha menebak.
"Aku bukan pria yang ideal untuk Reina. Aku bukan pria yang romantis, yang selalu membawakannya kopi setiap pagi atau mengirimkan pesan basa-basi untuk sekedar bertanya apa Reina sudah makan atau belum," tutur Angga lagi seolah sedang mengungkapkan keburukannya sendiri.
"Padahal Reina adalah tipe wanita yang suka diperhatikan dan suka dengan hal-hal romantis." Angga tertawa kecil sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jadi aku rasa, memang tak ada lagi alasan untuk aku tetap mempertahankan hubunganku bersama Reina," ujar Angga lagi yang suaranya mulai terdengar lirih. Pria itu sudah tertunduk seolah sedang menutupi sesuatu.
"Sebenarnya bukan hanya Reina yang suka dengan perhatian serta hal-hal romantis dari kekasihnya, Pak Angga!"
"Tapi hampir semua wanita di dunia ini," tukas Diftha yang langsung membuat Angga mengangkat wajahnya.
"Kau sepertinya begitu memahami kaum hawa," gumam Angga entah sedang memuji atau entah sedang menyindir Diftha.
"Anda juga memahami mereka," tukas Diftha lagi yang kali ini mrmbuat Angga ganti menatap tak mengerti ke arahnya.
"Tadi anda mengatakan kalau Reina adalah tipe wanita yang suka dengan hal-hal romantis."
"Ya! Tapi aku tak bisa memenuhi semua keinginan Reina tersebut dan aku kerap membuat Reina marah, kecewa, merajuk...." Angga terlihat frustasi sekarang.
"Tidak bisa atau memang anda tidak mau mencobanya, Pak Angga?" Tanya Diftha serius. Angga sontak tersentak dengan pertanyaan penuh sindiran dari Diftha.
"Apa maksudmu?" Angga menatap tajam pada Diftha.
"Maaf jika saya lancang, Pak Angga!"
"Tapi menurut saya, hubungan anda dan Reina sebenarnya baik-baik saja dan hanya kurang komunikasi saja."
"Tidak!" bantah Angga cepat.
"Reina sudah berpaling dan dia mencintaimu-"
"Apa Reina mengatakannya secara gamblang pada anda kalau dia mencintai saya?" Sergah Diftha memotong kalimat Angga yang kini menuding kepadanya.
"Sikap Reina yang menunjukkannya!"
"Reina menyembunyikan undangan pertunangan kami berdua dan tak membagikannya padamu dan pada karyawan lain demi menjaga perasaanmu!"
"Bukankah itu sudah menunjukkan kalau sebenarnya Reina memang punya something padamu?" Beber Angga panjang lebar dengan nada suara yang mulai meninggi.
"Anda terlalu cepat mengambil kesimpulan, Pak Angga!" Decih Diftha sembari tertawa kecil.
Apa Diftha sedang mengejek Angga sekarang?
"Reina tidak pernah berpaling, berselingkuh ataupun mengkhianati anda, Pak Angga."
"Perasaan nyaman sesaat yang Reina rasakan terhadap semua perhatian saya itu bukanlah sebuah cinta."
"Itu hanya pengalihan dari rasa kecewa Reina pada anda," tutur Diftha panjang lebar yang hanya membuat Angga terdiam.
"Maaf jika saya lancang atau terkesan menggurui. Tapi menurut saya, tidak ada salahnya anda membayar dua atau tiga sekretaris dan asisten pribadi, agar pekerjaan anda juga lebih ringan dan anda punya waktu lebih untuk Reina."
"Menurut saya, permintaan Reina untuk selalu diperhatikan dan diprioritaskan itu bukanlah permintaan yang muluk-muluk, Pak Angga!"
"Karena Reina adalah tunangan anda!" Ujar Diftha lagi panjang lebar mengungkapkan pendapatnya.
__ADS_1
"Kemarin saya mengungkapkan perasaan konyol saya pada Reina, di waktu hubungan kalian sedang renggang, jadi itulah alasan Reina menjadi bimbang dan tak langsung mengatakan secara jujur tentang statusnya yang merupakan calon tunangan anda."
"Atau mungkin Reina hanya iba pada saya yang sudah menjomblo bertahun-tahun tapi ingin mewujudkan keinginan Gizta yang ingin punya kakak perempuan," Diftha kembali tertawa sumbang seolah pria itu sedang menertawakan dirinya sendiri.
"Mungkin jika sebelum saya menembak Reina itu, saya tidak terlebih dahulu curhat tentang keinginan Gizta. Sudah barang tentu Reina akan langsung menolak dan mengatakan secara jujur kalau sebenarnya ia adalah tunangan anda."
"Dan semua kesalahpahaman ini tak akan menjadi serumit sekarang," tutur Diftha lagi berpendapat.
"Saya yakin kalau Reina hanya mencintai anda, Pak Angga!"
"Karena mustahil Reina masih bertahan dengan sikap workaholic anda itu hingga sekarang, jika gadis itu tak sungguh-sungguh mencintai anda."
"Jadi sekarang, bagaimana anda menyikapi dengan bijak dan membagi waktu antara pekerjaan dan perhatian untuk Reina, agar Reina tak lagi kecewa, tak lagi marah dan merajuk," tutur Diftha bijak.
"Saya tahu anda sangat-sangat mencintai Reina-"
"Sok tahu!" Gumam Angga menyela sembari berdecak.
"Bukan sok tahu, tapi sorot mata anda yang sudah mengatakannya," tukas Diftha begitu yakin.
"Aku memang mencintai Reina sejak dulu hingga sekarang."
"Tapi jika memang Reina merasa nyaman bersama pria lain yang lebih bisa membuatnya bahagia, maka aku ikhlas melepaskannya," ungkap Angga berusaha tegar.
"Menurut saya, itu sebuah sikap yang bodoh."
"Maaf!" Ucap Diftha cepat karena menyebut sikap Angga bodoh.
"Jika anda memang mencintai Reina, seharusnya anda berjuang untuk tetap mempertahankan Reina dan bukannya malah membiarkannya berpaling begitu pada pria lain." Pendapat Diftha lagi.
"Kecuali jika anda sudah berjuang sampai titik darah terakhir, namun ternyata Reina sudah tidak mencintai anda, barulah anda boleh menyerah, Pak Angga," imbuh Diftha lagi.
"Tapi saya rasa, Reina tak akan mungkin menyematkan cincin itu di jari anda, jika memang gadis itu tak lagi mencintai anda," ujar Diftha lagi seraya mengendikkan dagunya ke jari manis Angga.
Angga lalu memperhatikan cincin di jarinya tersebut, sembari mengingat momen ketika Reina menyematkannya, hingga tangan gadis itu gemetar.
"Reina hanya ingin perhatian dan waktu lebih banyak dari anda, Pak Angga!" Ujar Diftha lagi memberikan nasehatnya untuk Angga yang langsung manggut-manggut.
"Jadi, kau tidak mau menggantikanku menjadi mempelai pria akhir pekan nanti?" Tanya Angga selanjutnya sembari bangkit dari duduknya.
"Terima kasih tawarannya, Pak Angga!"
"Tapi saya tidak akan menjadi pria perusak hubungan dari dua sejoli yang sudah terjalin selama bertahun-tahun." Ujar Diftha seraya tertawa renyah. Angga ikut tertawa kecil, sebelum kemudian pria itu memeluk Diftha dengan erat.
"Terima kasih atas semua nasehat dan saran bijakmu, Diftha!" Ucap Angga tulus masih sambil memeluk dan menepuk punggung Diftha.
"Selamat berjuang, Pak Angga! Semoga kesalahpahaman diantara anda dan Reina akan secepatnya selesai," ucap Diftha sembari menelan gumpalan pahit di dalam tenggorokannya.
Angga kemudian berpamitan pada Diftha karena jam besuk yang juga hampir habis.
"Abang," panggil Gizta lirih setelah Angga keluar dari kamar perawatan.
"Hai, kau sudah bangun?" Diftha buru-buru menghampiri sang adik.
"Abang-"
"Sabar-" ucap Gizta terbata-bata.
"Abang-"
"Kuat."
Diftha tertegun setelah mendengar ucaoan Gizta yang terbata-bata. Diftha lalu paham kalau Gizta sebenarnya sudah bangun sejak tadi dan mendengar semua pembicaraannya dengan Angga.
"Ada-"
"Gizta," ucap Gizta lagi lirih, seolah turut merasakan perasaan sakit yang kini dirasakan oleh Diftha.
"Iya!"
"Iya, Gizta!" Ucap Diftha yang langsung memeluk sang adik dengan erat.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1