Segitiga Cinta Reina

Segitiga Cinta Reina
SELAMAT!


__ADS_3

"Saya terima nikahnya Faranisa Reina...."


Diftha baru tiba di halaman rumah keluarga Halley, saat sudah terdengar suara lantang Angga yang sedang mengucapkan janji pernikahan. Diftha memilih untuk menghentikan langkahnya sejenak, dan menunggu saja di luar sampai Angga selesai mengucapkan janji suci pernikahan.


Padahal sejak dari rumah Diftha sudah menguatkan hati untuk datang ke tempat ini, demi mewujudkan keinginan Gizta juga. Lalu kenapa sekarang hati Diftha terasa remuk redam?


"Sah!" Seruan dari para tamu undangan seolah menyadarkan Diftha dari lamunannya. Diftha mengeratkan genggamannya pada pegangan kursi roda Gizta, lalu pria itu menarik nafas panjang berulang kali sebelum melanjutkan langkahnya.


Diftha berusaha menguatkan lagi hatinya sembari mengulas senyum pada beberapa karyawan yang menyapanya. Pria itu terus mendorong kursi roda Gizta dan masuk ke dalam kediaman Halley yang sudah dipenuhi oleh beberapa tamu undangan.


Rupanya Reina tidak berada di samping Angga, saat acara ikrar janji pernikahan tadi. Diftha langsung mengambil posisi di sudut ruangan, sembari memperhatikan beberapa tamu undangan yang sekarang sedang mengarahkan pandangan mereka ke arah tangga.


Ya, baru beberapa detik yang lalu pembawa acara menyampaikan pada para tamu undangan untuk menyambut mempelai wanita yang akan turun tak lama lagi.


Diftha ikut menatap ke arah tangga, dan benar saja. Tak berselang lama, Reina yang mengenakan gaun pengantin semi kebaya dengan hiasan veil panjang di kepala, terlihat menuruni tangga sembari didampingi oleh dua wanita paruh baya. Diftha tentu tahu siapa dua wanita paruh baya tersebut. Satu adalah Mommy dari Reina dan satu lagi adalah istri dari Pak Robert yang artinya adalah mama kandung Pak Angga.


Diftha menatap lekat wajah Reina yang terlihat begitu ayu meskipun polesan make up di wajah wanita itu tak terlalu tebal. Sementara Reina tampak mengedarkan pandangannya pada semua tamu undangan yang hadir, sampai akhirnya tatapan wanita itu terhenti pada Diftha. Reina bahkan sempat menghentikan langkahnya beberapa detik, saat tatapannya bertemu dengan tatapan Diftha.


Namun kemudian Diftha cukup tahu diri dan memilih untuk memalingkan tatapannya dengan cepat. Pria itu mengeratkan sekali lagi cengkeramannya pada pegangan kursi roda Gizta, hingga buku-buku jarinya terlihat dengan jelas.


"Kak Reina-"


"Cantik-" ucap Gizta terbata-bata yang langsung membuat Diftha meraih tangan adiknya tersebut dan menggenggamnya dengan erat.


"Berikan tepuk tangan untuk pasangan pengantin kita hari ini!" Suara menggelegar dari pembawa acara, disusul dengan tepuk tangan meriah dari semua tamu undangan, terasa seperti belati yang menghujam dada Diftha berulang kali. Namun pria itu mencoba untuk tegar dan ikit bertepuk tangan sembari menatap ke arah Reina yang kini sudah bersanding bersama Angga.


Ya, mereka adalah pasangan yang serasi dan saling mencintai!


Dan hari ini, mereka juga sudah sah menjadi pasangan suami istri.


Jadi apalagi yang Diftha harapkan sekarang?


Tidak ada!


****


"Senyum, Reina!" Bisik Mom Yumi pada Reina yang sedang menjalani sesi pemotretan setelah wanita itu sah menjadi istri dari Angga Hadinata. Sejak awal pemotretan, wajah Reina memang terlihat galau dan cenderung tertekan. Wanita itu seolah tak bahagia di hari pernikahannya bersama Angga yang notabene sudah menjadi kekasih Reina hampir sepuluh tahun lamanya.


"Kau sakit?" Tanya Angga khawatir, saat pria itu sudah ganti mendekap Reina dari belakang, sesuai arahan fotografer.


"Tidak!" Jawab Reina pelan.


"Hanya sedikit sakit kepala," ujar Reina lagi beralasan. Reina kembali mengedarkan pandangannya, demi mencari sosok Diftha dan Gizta yang tadi Reina lihat.


Oh, kakak beradik itu masih berada di sudut ruangan, dan Diftha tampak berbincang bersama Papa Robert.


"Diftha datang bersama adiknya, Dizta-"


"Gizta!" Reina memotong sekaligus mengoreksi Angga yang salah menyebut nama Gizta.

__ADS_1


"Iya, itu maksudku," ucap Angga lagi sembari mengikuti arah pandangan Reina yang masih tertuju ke arah Diftha dan Gizta.


"Kau sepertinya dekat sekali dengan Gizta, hingga memandanginya terus semenjak tadi," bisik Angga seraya tertawa kecil. Sebelum kemudian pria itu melepaskan dekapannya pada Reina karena sesi pemotretan sudah selesai.


"Aku hanya memastikan saja kalau Gizta benar-benar sudah sehat karena beberapa hari yang lalu dia sempat dirawat di rumah sakit," ujar Reina menyampaikan alasannya,kenapa sejak tadi ia terus memandangi Gizta. Atau lebih tepatnya, Reina sedang memandangi Diftha!


"Diftha tak akan mungkin membawa adiknya datang ke acara hari ini, jika memang kondisi Gizta masih mengkhawatirkan."


"Atau kau mau menanyakannya secara langsung?" tawar Angga yang tiba-tiba sudah mencekal lengan Reina, lalu sedikit memaksa wanita itu agar mengikutinya menghampiri Diftha dan Gizta.


"Angga," Reina berusaha menyentak tangannya yang dicekal dengan kuat oleh Angga, namun hanya sia-sia belaka.


Angga terus menarik tangan Reina ke arah Diftha yang masih berbincang serius bersama Papa Robert.


"Angga!" Ucap Reina lagi yang mulai merasa janggal dengan sikap Angga.


"Angga-"


"Kak-"


"Reina." Ucapan Gizta langsung membuat Diftha dan Papa Robert menyudahi obrolan mereka, lalu keduanya meboleh ke arah Reina dan Angha yang sudah berdiri di samping kursi roda Gizta.


"Hai, Gizta! Kau sudah sehat?" Angga langsung menyapa Gizta dengan hangat dan juga memeluk gadis remaja tersebut. Sementara Diftha cepat-cepat bangkit dari duduknya dan bersiap.memberikan ucapan selamat pada Angga dan juga Reina.


"Gizta sudah pulih dan sehat, Pak Angga! Dan dia bersemangat sekali datang ke acara hari ini karena ingin memberikan ucapan selamat pada Pak Angga dan Bu Reina," ujar Diftha seolah sedang membantu menyampaikan apa yang hendak disampaikan oleh Gizta.


"Se-lamat!" Ucap Gizta seraya menatap penuh binar pada Angga dan juga Reina. Angga sontak memeluk adik Diftha itu sekali lagi.


Reina lalu ikut memeluk Gizta, setelah Angga melepaskan pelukannya pada gadis itu.


"Se-lamat-"


"Kak-"


"Reina," ucap Gizta terbata-bata. Reina mengangguk-angguk, lalu mengusap lembut wajah Gizta.


"Terima kasih karena sudah datang hari ini," ucap Reina tulus.


"Kak Reina-"


"Cantik," puji Gizta kemudian.


"Gizta juga cantik!" Reina balas memuji Gizta dan memeluk gadis itu sekali lagi.


"Terima kasih karena sudah menyempatkan untuk hadir sore ini, Diftha!" Ucap Angga pada Diftha yang langsung mengulas senyum.


"Saya turut berbahagia, Pak Angga!"


"Dan, Bu Reina!" Diftha ganti menyalami Reina yang sudah melepaskan pelukannya pada Gizta.

__ADS_1


"Selamat sekali lagi. Semoga kalian berdua bahagia," ucap Diftha tulus namun dengan suara yang lirih, saat pria itu menyalami tangan Reina. Tatapan Diftha dan Reina saling bertumbukan seolah keduanya sedang berbicara melalui tatapan mata.


"Terima kasih, Diftha!"


"Semoga kau juga secepatnya dipertemukan dengan jodohmu, agar keinginan Gizta untuk punya seorang kakak perempuan lekas terwujud," balas Reina masih sambil menatap lekat wajah Diftha.


"Aamiin," gumam Diftha yang langsung mengaminkan doa baik dari Reina. Pria itu lalu bergegas melepaskan jabat tangannya pada Reina yang langsung salah tingkah. Reina cepat-cepat menggamit lengan Angga yang sejak tadi hanya diam.


"Aku akan mengajak Gizta keluar dulu. Sepertinya Gizta juga sudah haus," pamit Diftha akhirnya mengakhiri kecanggungan diantara dirinya, Reina, dan juga Angga. Papa Robert sendiri langsung undur diri tadi saat Reina dan Angga datang menghampiri Diftha.


"Iya. Silahkan, Diftha!" Ucao Angga sembari memberikan jalan pada Diftha yang langsung mendorong kursi roda Gizta menuju ke halaman depan.


"Sayang sekali kau tidak bisa mewujudkan keinginan Gizta, hah?" Ucap Angga tiba-tiba seraya menoleh pada Reina yang masih menggamit lengannya.


"Tapi aku yakin kalau sebenarnya kau sangat ingin mewujudkan keinginan gadis itu-".


"Sama sekali tidak!" Sela Reina cepat.


"Bisakah kau berhenti berprasangka? Aku istri sahmu sekarang, Angga!" Desis Reina lagi seolah sedang mengingatkan Angga tentang status mereka berdua saat ini.


"Aku akan terus berprasangka jika sikapmu pada Diftha saja menunjukkan kalau sebenarnya kau memang ada perasaan pada pria itu, Reina!" Angga balik mendesis pada Reina yang langsung tertawa sinis.


"Aku tidak ada perasaan apa-apa pada Diftha, Angga! Berapa kali aku harus menjelaskannya padamu-"


"Reina!" Teguran Mom Yumi menyela perdebatan sengit Angga dan Reina


"Iya, Mom. Ada apa?" Jawab Reina berusaha meredam emosinya yang tadi hampir meledak.


Semua gara-gara Angga yang malah mengajak Reina berdebat di waktu dan tempat yang tidak tepat!


"Mom ingin bicara sebentar."


"Angga, apa Mom boleh-"


"Silahkan saja, Mom!" Jawab Angga cepat sebelum Mom Yumi menyelesaikan kalimatnya. Angga jiga sudah melepaskan gamitan lengan Reina di tangannya.


"Angga juga ingin menyapa tamu lain," tukas Angga sebelum pria itu pamit dari hadapan Reina dan Mom Yumi.


"Ada apa, Mom?" Tanya Reina to the point setelah Angga pergi.


"Ada hubungan apa sebenarnya antara kau dan pria bernama Diftha tadi? Apa kau diam-diam menaruh perasaan pada Diftha di belakang Angga?" Tanya Mom Yumi sembari berbisik pada Reina yang langsung terdiam.


Apa itu artinya Mom Yumi memperhatikan gelagat Reina sejak tadi?


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2