
"Ayo, Rei!" Ajak Angga seraya membuka pintu mobil dan sedikit tergesa. Reina yang masih duduk diam di dalam mobil mengira, kalau angga akan membukakan sabuk pengamannya, lalu membukakan pintu mobil juga untuk Reina.
Oh, tapi ternyata Reina salah!
Angga malah langsung melenggang begitu saja ke arah lift sembari meletakkan ponselnya di telinga. Sudah seperti soulmate!
"Reina!" Panggil Angga sembari berhenti sejenak namun tetap dengan ponsel yang melekat di telinganya.
"Ya!" Jawab Reina kesal yang akhirnya melepas sendiri sabuk pengamannya, lalu membuka sendiri juga pintu mobil. Sementara Angga sudah kembali melenggang dan meninggalkan Reina.
"Ish!" Reina kembali harus berdecak karena sepatunya yang terlepas. Sementara Angga sudah duluan masuk ke lift dan meninggalkan Reina.
Sudah biasa!
Biarkan saja!
Setelah membenarkan sepatunya, Reina lanjut berjalan sendiri ke arah lift dan naik ke atas.
Ting!
Setelah menunggu beberapa saat, pintu lift akhirnya terbuka dan rupanya Angga masih berada di dalam lift sembari menatap penuh tanya ke arah Reina.
"Kau yang meninggalkanku!" Gerutu Reina seraya melangkah masuk ke dalam lift. Reina berdiri di depan Angga yang akhirnya berhenti menelepon.
"Maaf!" Bisik Angga sembari merengkuh kedua pundak Reina dari belakang. Reina hanya mengangguk samar sembari menghela nafas panjang.
****
"Bu Reina! Ada titipan kopi," ucap seorang karyawan saat Reina baru tiba di lantai tempat divisi keuangan berada
"Dari siapa?" Tanya Reina sembari menyesap kopi yang baru saja ia terima. Kebetulan Reina juga sedang haus.
"Pak Diftha!" Jawab karyawan perempuan tersebut sembari tertawa kecil.
"Ada apa? Kenapa tertawa?" Tanya Reina tak paham.
"Sepertinya Pak Diftha naksir Bu Reina!" Ucap karyawan tersebut blak-blakan yang sontak langsung membuat Reina mengernyit.
"Ck! Sok tahu kamu!" Decak Reina akhirnya sambil kembali menyesap kopinya.
"Enak!" Gumam Reina sebelum gadis itu masuk ke ruang kerjanya.
Reina baru saja akan mendaratkan bokongnya ke atas kursi, saat sebuah pesan masuk le ponselnya.
[Sudah sampai di kantor? Hari ini jadi masuk, kan?] -Diftha-
Reina tersenyum sejenak sebelum lanjut mengetikkan balasan pesan untuk Diftha.
[Ya! Aku sudah di ruanganku. Terima kasih kopinya] -Reina-
Balasan pesan dari Diftha masuk tak berselang lama.
[Kau suka?] -Diftha-
[Apa kau masih harus bertanya?] -Reina-
Reina masih geleng-geleng kepala dengan pertanyaan konyol Diftha,saat balasan pesan dari Diftha masuk lagi ke ponselnya.
[Nanti makan siang bareng, ya!] -Diftha-
[Tapi bayar masing-masing dan tak ada traktir mentraktir] -Reina-
[Setuju!] -Diftha-
Reina kembali geleng-geleng kepala lalu menyimpan ponselnya. Reina menyesap kopi dari Diftha lagi sebelum memulai pekerjaannya.
****
__ADS_1
"Diftha!" Tegur Angga pada Diftha yang sejak masuk ke dalam lift tadi senyum-senyum sendiri sembari menatap ke layar ponselnya. Sepertinya Diftha sedang bertukar pesan dengan seseorang yang istimewa!
"Iya, Pak!" Diftha cepat-cepat menyimpan ponselnya.
"Semua yang diperlukan untuk rapat sudah kau siapkan dan kau bawa, kan?" Tanya Angga memastikan.
"Sudah, Pak! Semuanya sudah lengkap," jawab Diftha mantap.
"Bagus!" Gumam Angga memuji.
Dua pria itu lalu diam sejenak dan keduanya sama-sama menatap ke layar monitor kecil di atas pintu lift yang kini menunjukkan angka lantai tujuan mereka. Lift berhenti dan tak berselang lama, pintu terbuka. Angga dan Diftha melangkah keluar bersamaan dan bergeags menuju ke ruang meeting.
"Ngomong-ngomong, tadi aku melihat kau dan motor tuamu di lampu merah." Angga kembali memulai pembicaraan.
"Maaf, aku tak bermaksud menghina-"
"Tidak apa-apa, Pak Angga! Motor itu memang motor tua," sergah Diftha ceoat sembari tertawa kecil.
"Kenapa tidak membeli motor baru untuk mobilitas?" Tanya Angga selanjutnya yang lagi-lagi malah membuat Diftha mengulas senyum.
"Saya rasa, saya belum terlalu membutuhkannya, Pak!" Jawab Diftha.
"Masih ada kebutuhan lain yang menjadi prioritas saya saat ini," lanjut Diftha lagi dan Angga langsung mengangguk-angguk. Dua pria itu akhirnya tiba di ruang meeting, dimana beberapa stafcsudah menunggu mereka.
****
"Yah, antri!" Gumam Reina saat ia dan Diftha sampai di warteg langganan keduanya.
"Kau duduk saja dulu. Nanti aku yang pesankan," ujar Diftha sembari mengedarkan pandangannya ke dalam warteg untuk mencari kursi kosong untuk Reina.
"Itu ada kursi kosong!" Diftha begegas menarik tangan Reina ke arah kursi yang ia maksud.
"Awas!" Cegah Diftha tiba-tiba saat Reina hendak duduk di kursi.
"Ada apa?" Tanya Reina bingung.
"Kursinya basah! Nanti rok kamu basah juga." Diftha dengan cekatan meraih beberapa lembar tisu, lalu mengeringkan kursi Reina.
"Terima kasih, Dift!" Ucap Reina tulus.
"Ya."
"Kau pesan makanan seperti biasa, kan? Pakai tumis buncis, orek tempe dan-"
"Ayam panggang!" Reina melanjutkan kalimat Diftha yang sepertinya sudah sangat hafal dengan menu yang biasa Reina pesan.
Padahal baru beberapa kali mereka makan bersama disini.
"Iya itu! Aku pesankan dulu!" Diftha sedikit mengacak rambut Reina sebelum pergi berlalu dan mengantre untuk membuat pesanan.
"Ish! Dasar Diftha!" Gerutu Reina setelah Diftha mengacak rambutnya tadi. Reina akhirnya sedikit merapikan rambutnya, lalu gadis itu merogoh ke dalam dompet untuk mencari keberadaan ponselnya.
"Kok nggak ada?" Reina terus mengacak-acak isi dari dompetnya demi mencari ponselnya yang mendadak tudak ada. Perasaan tadi sudah Reina bawa dan Reina masukkan ke dalam dompet. Kok sekarang tidak ada?
"Pesanan kamu, Rei!" Ucap Diftha seraya meletakkan sepiring makanan di hadapan Reina yang masih mencari-cari ponselnya.
"Sedang mencari apa, Rei?" Tanya Diftha yang melihat kepanikan di wajah Reina.
"Ponsel aku tidak ada di dompet!" Jawab Reina sambil tetap memeriksa isi dari dompetnya.
"Coba kamu telepon!" Diftha menyodorkan ponselnya pada Reina yang langsung terdiam. Namun kemudian Reina menerima ponsel Diftha, lalu menghubungi ponselnya sendiri.
"Bagaimana?" Tanya Diftha menunggu.
"Tersambung," jawab Reina yang masih terus menempelkan ponsel Diftha di telinganya.
"Tapi kok nggak terdengar deringnya?" Gumam Reina bertanya-tanya.
__ADS_1
"Mungkin tertinggal di meja kamu di kantor," ujar Diftha menerka-nerka.
"Coba diingat-ingat lagi!" Ucap Diftha lagi dan Reina langsung diam sejenak mencoba mengingat-ingat apa tadi dirinya benar-benar sudah memasukkan ponsel ke dalam dompet.
"Oh iya! Masih di laci!" Cetus Reina tiba-tiba yang langsung membuat Diftha tertawa kecil sekaligus menggeleng-gelengkan kepala.
"Lupa!" Ringis Reina lagi sedikit malu pada Diftha. Gadis itu lalu mengembalikan ponsel Diftha dan keduanya lanjut menyantap makan siang mereka.
****
Angga keluar dari lift, lalu masuk ke ruang divisi keuangan yang sedikit sepi. Hanya ada beberapa karyawan saja yang amsoh tinggal di ruangan tersebut karena ini memang sudah jam makan siang.
"Siang, Pak Angga! Sedang mencari siapa?" Sapa seorang karyawan saat Angga terlihat celingukan mencari Reina.
"Reina masih di ruangannya?" Tanya Angga to the point.
"Bu Reina sudah pergi makan siang, Pak!" Jawab karyawan tersebut yang langsung membuat Angga mengangguk. Angga lalu mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Reina. Barangkali gadis itu masih mau Angga temani makan siang di luar.
"Tidak diangkat," gumam Angga setelah beberapa kali menghubungi Reina namun tak kunjung diangkat.
"Tidak biasanya," gumam Angga lagi yang akhirnya kekuar dari ruang divisi keuangan. Pria itu hendak masuk ke lift dan kembali kelantai atas, saat mendadak ponselnya berdering.
Mama Sita menelepon!
"Halo, Ma!" Sambut Angga sembari masuk ke dalam lift yang juga sepi. Hanya ada Angga seorang diri di dalam lift.
"Angga, kau masih lama di luar kota? Minggu depan kau bertunangan dengan Reina!"
"Angga sudah pulang semalam, Ma!" Jawab Angga seraya meringis.
Angga memang langsung ke rumah Reina setelah dari bandara semalam dan ia sama sekali belum menghubungi Mama Sita.
Bukannya Angga lupa, tapi Angga memang belum sempat.
"Pulang kemana? Mama di rumah dari semalam dan belum melihat kau pulang! Jangan mengarang!"
"Angga pulang ke rumah Reina, Ma! Karena kata Rossie, Reina sakit jadi Angga langsung menjenguk Reina." Jelas Angga pada sang mama.
"Lalu menginap juga di rumah Reina? Bukankah Mama-"
"Angga tidur di kamar Iel semalam, Ma! Angga bersumpah kalau Angga belum melakukan appaun pada Reina!"
"Mama bisa bertanya pada Iel kalau tidak percaya," sergah Angga cepat memotong tuduhan serta prasangka buruk Mama Sita.
Mama kandung Angga itu memang parnoan dan kerap negatif thinking.
"Lalu sekarang kau dimana? Masih di rumah Reina? Apa Reina masih sakit?"
"Reina sudah sehat, Ma! Sudah ke kantor juga hari ini," jelas Angga bersamaan dengan lift yang stdah tuba di lantai tujuan. Angga segera keluar dari lift, setelah pintu terbuka.
"Dan Angga juga sedang di kantor sekarang," ujar Angga lagi menjawab cecaran pertanyaan Mama Sita tadi.
"Mama sebenarnya ingin bicara hal penting padamu, Angga! Kau bisa pulang sekarang?"
"Angga masih ada pekerjaan, Ma!" Jawab Angga cepat.
"Lalu kapan kau ada waktu?"
"Sore ini mungkin. Nanti Angga akan pulang setelah mengantar Reina," janji Angga pada sang mama.
"Baiklah, mama tunggu dan jangan pulang malam apalagi membawa Reina ke apartemen lagi!"
"Iya, Ma! Iya!" Jawab Angga patuh.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.