Segitiga Cinta Reina

Segitiga Cinta Reina
MENDADAK


__ADS_3

"Tadi kau sudah membagikan undangan pada semua karyawan?" Tanya Angga pada seorang karyawannya yang tadi siang ia berikan tugas untuk membagikan undangan yang sempat disembunyikan oleh Reina.


"Sudah, Pak!" Jawab karyawan tersebut.


"Pada Diftha juga?" Tanya Angga memastikan. Angga masih berharap Diftha akan datang malam ini meskipun kemungkinannya kecil.


"Pak Diftha tidak menerima undangannya, Pak!"


"Tadi kata Pak Diftha, beliau tidak bisa datang karena adiknya sakit, Pak," jelas karyawan tersebut yang langsung membuat Angga terdiam.


"Mencari siapa?" Tanya Papa Robert yang sepertinya turut mendengar obrolan Angga bersama karyawan tadi.


"Diftha, Pa. Angga pikir-"


"Adik Diftha sedang dirawat di rumah sakit." Ujar Papa Robert cepat yang langsung membuat Angga menatap ke arah papa sambungnya tersebut.


"Tadi Diftha izin pulang lebih cepat dan mengatakan kalau adiknya mendadak harus dilarikan ke UGD karena drop."


"Jadi kemungkinan Diftha juga tidak datang malam ini," tukas Papa Robert panjang lebar.


"Sempatkan waktu untuk menjenguk adik Diftha nanti!" Pesan Papa Robert sebelum pria paruh baya itu berlalu pergi. Disaat bersamaan, Reina sudah memasuki tempat acara dan gadis itu terlihat anggun mengenakan gaun berwarna broken white yang kemarin sempat membuat Angga terpesona saat mereka fitting di butik.


Ya, kemarin Angga dan Reina masih baik-baik saja!


Namun malam ini....


Bahkan wajah Reina juga terlihat murung dan seolah menanggung beban. Sepertinya pertunangan ini memang salah!


"Kenapa malah bengong, Bang!" Rossie menyentak lengan Angga yang melamun. Rupanya pembawa acara sudah menyebutkan mama Angga dan meminta Angga untuk maju ke depan, menyusul Reina yang sudah terlebih dulu berada di depan.


"Angga! Kenapa hanya diam?" Mama Sita memberikan kode pada sang putra yang masih diam di tempatnya.


"Sana maju!" Ujar Rossie sambil sedikit mendorong Angga agar segera maju ke depan.


"Kak Reina cantik sekali, sampai membuat Abang Angga bengong dan terperangah," seloroh Rossie lagi saat Angga bergerak maju, menuju ke arah Reina yang sedang menunggunya. Jelas terlihat kalau Reina sekarang sedang memaksa untuk mengulas senyum pasa semua tamu yang hadir malam ini.


"Berikan tepuk tangan untuk Angga dan Reina!" Seru pembawa acara bersamaan dengan Angga yang akhirnya berdiri tepat di sebelah Reina. Suara tepuk tangan seketika menggema di seluruh halaman kediaman Halley.


Tak berselang lama, Rossie maju ke depan untuk membawajan cincin pertunangan Reina dan Angga. Senyum bahagia justru malah ditunjukkan oleh Rossie serta para tamu undangan. Sangat berbanding terbalik dengan Angga dan Reina yang sama-sama tersenyum terpaksa.


"Silahkan, Kak!" Bisik Rossie pada Reina, seolah memberikan kode agar Reina mengambil cincin dari baki yang dibawa oleh Rossie, lalu menyematkannya di jari Angga.


Tangan Reina sedikit gemetar saat gadis itu mengambil cincin dari baki. Sementara Angga sudah menyodorkan tangan kirinya pada Reina.


"Tangan kanan, Angga!" Bisik Mama Sita yang segera membuat Angga menurunkan tangan kirinya dan ganti menyodorkan tangan kanannya pada Reina.


"Sepertinya sudah kebelet mau menikah," celetuk Fairel mengomentari Angga yang salah mengangkat tangan tadi.


Setelah Reina selesai menyematkan cincin di jari manis Angga, sekarang gantian Angga yang menyematkan cincin ke jari manis Reina.


"Auw!" Reina sedikit meringis saat pinggiran cincin menggores jarinya.


"Tanganmu kenapa pucat?" Tanya Angga khawatir.

__ADS_1


"Aku tadi berendam terlalu lama," jawab Reina cepat. Angga tiba-tiba sudah menggenggam kedua tangan Reina lalu meniupnya pelan seolah sedang menghangatkan. Terang saja tingkah Angga tersebut mengundang tawa dari para tamu undangan.


"Kenapa Abang malah meniup tangan Kak Reina?" Kikik Rossie sebelum gadis itu berlalu meninggalkan Angga dan Reina yang langsung salah tingkah.


"Memang seharusnya aku bagaimana?" Bisik Angga pada Reina. Otak Angga mendadak blank.


"Cium saja keningku," jawab Reina balik berbisik.


Angga mengangguk dan segera mencium kening Reina. Cukup lams hingga terdengar tepuk tangan riuh dari para taku undangan.


"Bertunangan belum tentu menikah," bisik Angga sembari menyudahi ciumannya di kening Reina. Terang saja, kalimat Angga tersebut sukses membuat Reina mematung.


Bertunangan belum tentu menikah?


Apa maksud Angga?


"Tes!"


"Maaf menyela."


Terdengar suara Fairel yang rupanya sudah mengambil alih mikrofone dan abang kandung Reina itu sepertinya hendak menyampaikan pengumuman penting.


Pengumuman apa kira-kira?


Abang Fairel akhirnya jadian dengan Rossie?


"Pertama, saya sebagai abang dari Reina Faranisa Halley-"


"Faranisa Reina Halley!" Desis Reina mengoreksi namanya yang sepertinya sengaja dibalik oleh sang abang.


"Sama saja, kan?" Ujar Fairel enteng sembari mencibir ke arah Reina.


"Eheem!" Terdengar deheman dari Dad Liam yang langsung membuat Fairel kembali fokus ke mikrofonnya.


"Baiklah, saya lanjutkan!"


"Pertama, saya ingin memberikan selamat untuk pasangan Reina dan Angga!" Fairel menatap ke arah Reina yang sedikit menjaga jarak dari Angga.


"Kenapa kalian berdua berjauhan begitu?" Komentar Fairel selanjutnya yang langsung membuat Angga dan Reina buru-buru mendekat lalu berpegangan tangan.


"Bagus!"


"Karena aku mau menyampaikan sebuah kabar gembira untuk semuanya!" Ucap Fairel lagi melanjutkan pidatonya.


"Jadi, setelah malam ini Angga dan Reina bertunangan, mereka selanjutnya akan menikah minggu depan!"


"Tepat di hari Minggu, dan di lokasi yang sama juga. Di kediaman Halley sesuai impian Reina!" Ujar Fairel dengan nada lantang yang langsung disambut tepuk tangan meriah dari semua tamu undangan.


"Minggu depan?" Gumam Reina yang sepertinya begitu shock dengan pengumuman yang disampaikan oleh Fairel tadi.


Fairel bahkan tak mengajak Reina berdiskusi dan Abang kandung Reina itu mendadak menagtakan kalau Reina dan Angga akan menikah minggu depan. Apa ini sebuah lelucon?


"Kau yang menyuruh Fairel menyampaikan pengumuman itu?" Tuduh Angga seraya berbisik pada Reina.

__ADS_1


"Tidak!" Kilah Reina cepat sembari menatap tajam pada Angga.


"Aku bahkan tidak tahu menahu tentang rencana itu dan...."


"Dan Abang Fairel juga baru pulang dari luar kota siang tadi," tukas Reina panjang lebar yang sama bingungnya dengan Angga.


"Iel! Kenapa mendadak kau menyampaikan pengumuman tadi?" Cecaran pertanyaan dari Dad Liam pada Fairel, tak sengaja didengar oleh Reina dan Angga. Pasangan yangvbaru bertunangan itu segera mendekat ke arah Fairel yang kinj sedang dikerumuni oleh Dax Liam, Mom Yumi, Mama Sita, dan Papa Robert yang sepertinya juga sedang minta penjelasan.


Apa itu artinya, penentuan hari pernikahan Reina dan Angga tadi adalah keputusan sepihak dari Abang Fairel?


Tapi kenapa?


"Kau bahkan belum berdiskusi dengan kami, Iel!" Mom Yumi ikut-ikutan mencecar sang putra.


"Iel hanya mewujudkan impian mereka berdua, Mom, Dad!" Jawab Fairel seraya menunjuk ke arah Reina dan Angga.


"Impian apa?" Tanya Angga dan Reina serempak.


"Impian kalian yang sudah kebelet dan ingin cepat menikah!" Jawab Fairel cepat.


"Tapi bukankah Abang Fairel sendiri yang menyuruh kami menunda pernikahan karena abang tidak mau dilangkahi?" Tanya Reina beralasan.


"Aku berubah pikiran!" Jawab Fairel yang seolah sedang menutupi sesuatu.


Apa ini ada kaitannya dengan hubungan Fairel dan Rossie?


"Lagipula, kata Mom kelakuan kalian berdua saat sedang berduaan juga sudah sangat mengkhawatirkan. Jadi ketimbang nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, bukankah lebih baik kalau pernikahan kalian dipercepat saja?" Tukas Fairel panjang lebar membeberkan alasannya membuat keputusan sepihak.


Angga dan Reina seketika langsung diam, seolah membenarkan apa yang baru saja dikatakan oleh Fairel.


"Tapi apa ini tidak terlalu mendadak, Yum?" Tanya Mama Sita yanga akhirnya buka suara.


"Tenang saja, Aunty! Dad dan Mom adalah pakar dari acara pernikahan yang mendadak karena mereka sudah punya pengalaman pribadi," ujar Fairel cepat menenangkan Mama Sita. Langsung terdengar decakan dari Dad Liam.


"Nanti Iel akan minta bantuan Omi dan Opi juga, jika memang Dad merasa tak sanggup," bisik Fairel selanjutnya pada Dad Liam yang langsung memelototinya dengan horor.


"Dad, Aunty Anne, Aunty Thalita, Aunty Thalia, semuanya menikah dadakan juga, kan! Jadi Omi dan Opi adalah pakar dari segala pakar," seloroh Fairel lagi tetap sambil bisik-bisik.


"Sok tahu kamu!" Geram Dad Liam yang langsung menoyor kepala sang putra.


"Liam, Iel, sudah!" Desis Mom Yumi yang buru-buru menghentikan tingkah kekanakan sang anak dan juga sang suami. Sebelas dua belas memang anak dan bapak itu!


Fairel lalu menghampiri Angga dan Reina yang sejak tadi hanya diam.


"Selamat, Calon pengantin! Besok kalian sudah bisa memuali foto prewed!" Ucap Fairel, sebelum kemudian pria itu berlalu pergi. Fairel tampak tergesa, hingga pria itu nyaris menabrak seseorang.


"Sepertinya ada yang tidak beres dengan Abang Iel," gumam Reina yang terus memperhatikan langkah Fairel yang akhirnya terhenti di meja minuman.


Ada apa sebenarnya dengan abang kandung Reina tersebut?


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2