Segitiga Cinta Reina

Segitiga Cinta Reina
CERITA DIFTHA


__ADS_3

"Laporan lagi?" Tanya Diftha yang langsung membuat Reina yang baru keluar dari ruang kerja Angga menjadi terlonjak.


"Hah?" Reina yang masih belum connect, langsung mengernyit pada Diftha.


"Kau! Baru sekesai laporan pada Pak Angga?" Diftha mengulangi sekaligus memperjelas pertanyaannya.


"Oh!" Reina sontak menepuk keningnya sendiri.


"Iya! Ada banyak hal yang perlu dilaporkan," ujar Reina akhirnya menjawab pertanyaan Diftha. Gadis itu lalu menghampiri meja kerja Diftha dan menumpukan kedua tangannya di atas layar monitor seperti biasa.


"Ngomong-ngomong, aku baru ingat sesuatu," ujar Reina lagi seraya menatap serius pada Diftha.


"Ingat apa?" Sekarang gantian Diftha yang mengernyit.


"Mmmmm, soal kedua orang tuamu."


"Aku turut berduka," ucap Reina dengan raut wajah prihatin. Diftha langsung mengangguk seraya mengulas senyum tipis di bibirnya.


"Itu sudah lima tahun yang lalu," cerita Diftha berusaha tegar.


"Apa yang terja-" Reina tak jadi melanjutkan pertanyaan lancangnya.


"Maaf, jika aku lancang bertanya," tukas Reina cepat merasa tak enak hati pada Diftha yang tetap mengulas senyum.


"Tidak apa!" Diftha masih terlihat tegar.


"Orang tuaku meninggal karena sebuah kecelakaan," ujar Diftha lagi sedikit bercerita pada Reina.


"Aku turut berduka, Dift!" Ucap Vaia yang sudah dengan cepat menggenggam tangan Diftha demi menyalurkan kekuatan untuk teman lamanya tersebut.


"Terima kasih," jawab Diftha tulus.


"Lalu sekarang kau tinggal sendiri?" Tanya Vaia lagi.


"Aku tinggal bersama adikku," jawab Diftha.


"Ah, iya! Adik perempuanmu yang dulu pernah kau ceritakan itu, ya!" Reina sedikit mengingat-ingat.


"Iya, itu!" Jawab Diftha cepat.


"Dia pasti sudah kuliah sekarang! Semester berapa?" Tanya Reina lagi.


"Mmmmmm, dia tidak kuliah!" Jawab Diftha yang raut wajahnya sesaat terlihat berbeda.


"Tidak kuliah? Kenapa? Apa terkendala biaya?" Cecar Reina penasaran.


"Bukan seperti itu! Hanya saja...." Diftha meringis dan terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


"Hanya apa?" Desak Reina merasa penasaran.


"Ada satu hal, yang membuat Gizta tak bisa melanjutkan kuliahnya," jelas Diftha akhirnya berusaha menjelaskan pada Reina.


"Satu hal apa? Bisakah kau jelaskan dengan detail, Dift? Jika ini tentang biaya kuliah Gizta, aku tak keberatan-"


"Bukan!" Sergah Diftha cepat.

__ADS_1


"Ini tak ada hubungannya dengan biaya kuliah Gizta," ujar Diftha lagi.


"Karena aku pasti juga akan mengusahakan biaya kuliah untuk Gizta andai kondisinya memungkinkan untuk melanjutkan kuliah," Diftha membuang nafas dengan kasar dan wajah pria itu terlihat sedih.


"Gizta sebenarnya kenapa, Dift?" Tanya Reina sedikit melembutkan suaranya, berharap Diftha mau sedikit berbagi cerita.


"Gizta mengalami cedera kepala yang lumayan parah saat kecelakaan lima tahun lalu, jadi dia tidak bisa tumbuh layaknya gadis remaja normal pada umumnya," cerita Diftha yang langsung membuat Reina tertegun.


"Ya!"


"Gizta tak lagi bisa berjalan atau melakukan aktivitas layaknya remaja seusianya." Diftha tersenyum kecut dan Reina refleks menggenggam tangan pria itu lagi.


"Hingga detik ini aku hanya bisa mengupayakan terapi-terapi agar bisa sedikit memberikan kemajuan untuk kondisi Gizta," sambung Diftha lagi dengan wajah penuh ketegaran.


"Apa aku boleh bertemu Gizta?" Tanya Reina sedikit memohon pada Diftha.


"Ya!" Jawab Diftha setelah menimbang beberapa saat.


Reina mengangguk, lalu gadis itu segera berlalu ke arah lift karena pekerjaan Reina di bawah juga masih banyak.


****


"Jangan lupa pesan-pesanku tadi dan besok jangan terlambat meeting pagi!" Pesan Angga pada Diftha yang masih mengekorinya, meskipun ini sudah jam pulang kantor. Angga sedikit buru-buru karena ia harus mengejar penerbangan.


"Iya, Pak! Semuanya sudah saya catat." Jawab Diftha sigap.


"Bagus! Aku pergi-" Angga menghentikan sejenak kalimatnya, saat ia melihat Reina yang baru keluar dari lift bersama beberapa karyawan dari divisi keuangan.


Pria itu menatap cukup lama ke arah Reina, hingga calon tunangannya itu balik menatapnya.


Angga sedikit mengangkat ponselnya, untuk memberikan isyarat pada Reina agar meneleponnya. Atau Angga yang seharusnya menelepon Reina nanti.


"Pak! Bukankah anda harus mengejar penerbangan?" Teguran dari Diftha langsung membuyarkan lamunan Angga. Reina tadi juga sydah mengangguk samar atas isyarat yang diberikan oleh Angga. Dan kini gadis itu sudah kembali mengobrol bersama teman-temannya.


"Iya, kau benar!" Ujar Angga menjawab teguran Diftha seraya terkekeh.


"Jangan lupa pesan-pesanku tadi, Diftha! Aku pergi dulu!" Pamit Angga akhirnya seraya berjalan ke depan lobi. Diftha turut mengantar atasannya tersebut.


"Safe flight, Pak Angga!" Ucap Diftha, sesaat sebelum Angga masuk ke dalam mobil. Diftha menunggu hingga mobil Angga melaju meninggalkan gedung kantor, sebelum pria itu kembali masuk ke lobi untuk menemui Reina.


"Hai! Sudah mau pulang?" Diftha berbasa-basi pada Reina yang duduk sendiri di lobi kantor. Sepertinya teman-teman Reina tadi sudah pulang duluan.


"Kita jadi ke rumahmu, kan? Aku ingin bertemu Gizta!" Ucap Reina to the point tanpa membalas basa-basi Diftha.


"Ya!"


"Tapi apa tak sebaiknya kau menghubungi orangtuamu dulu, Rei! Jangan sampai mereka nanti khawatir-"


"Aku sudah biasa hang out atau pergi keluar setelah pulang dari kantor. Jadi Mom dan Dad sudah tahu dan tak akan khawatir," ujar Reina santai, menyela usulan dari Diftha.


"Meskipun begitu, kau tetap harus izin pada orang tuamu, Rei!" Nasehat Diftha bijak.


"Iya, iya!"


"Ayo pergi!" Ajak Reina seraya menyampirkan tas di pundak. Gadis itu lalu meraih tangan Diftha dan mengajaknya pergi ke parkiran.

__ADS_1


"Mobil kamu yang mana?" Tanya Reina sambil sedikit celingukan.


"Aku tidak punya mobil!" Jawab Diftha jujur, sembari menarik tangan Reina ke parkiran sepeda motor.


"Oh! tidak masalah naik motor!" Ujar Reina santai.


"Meskipun butut motornya?" Sahut Diftha sembari melesakkan kunci motor ke sebuah motor matic warna hitam yang warnanya sudah mulai memudar.


"Penting tidak mogok di jalan, kan?" Ujar Reina memastikan yang sontak membuat Diftha terkekeh.


"Tidak! Tenang saja!"


"Nanti kalau mogok, kan kamu tinggal dorong!" Seloroh Diftha lagi sembari mengacak rambut Reina yang langsung merengut.


"Aku yang naik kamu yang dorong kalau nanti mogok!" Ujar Reina mengajukan ide lain.


"Tidak masalah!" Jawab Diftha sembari menyalakan mesin motornya secara manual. Suara yang keluar dari knalpot lumayan juga.


"Ayo!" Ajak Diftha selanjutnya yang sudah naik ke atas motor. Reina segera menyusul naik, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Diftha.


Persis saat dulu Angga mengajak Reina naik motor keliling kota.


Tapi itu dulu!


Iya, dulu, sebelum Angga sibuk berkubang dengan berkas-berkas di kantor.


Sudahlah!


"Ini peganganannya begini nggak ada yang marah?" Tanya Diftha yang sesaat langsung membuat Reina tersadar dan buru-buru melepaskan lingkaran lengannya di pinggang Diftha.


"Ada yang marah, ya? Aku kira masih jones," kekeh Diftha dengan nada sedikit kecewa.


"Loh! Aku kira pacar kamu yang marah!" Sergah Reina tak mengerti.


"Pacar? Aku masih jomblo!" Jawab Diftha pamer.


"Masa? Kenapa tidak cari pacar, Dift?" Reina sudah meletakkan dagunya di bahu Diftha, lalu tangan Reina berpegangan sedikit pada pinggang Diftha. Motor perlahan mulai melaju meninggalkan kantor.


"Hmmmm, nggak ada yang mau kayaknya. Cewek jaman now kan sukanya cowok yang naik mobil," jawab Diftha sekenanya. Diftha harus sedikit berteriak saat mebjawab pertanyaan konyol Reina agar suaranya tak kalah oleh suara angin yang berhembus.


"Tidak semua cewek matre, Dift!" Sergah Reina membantah teori dari Diftha. Motor terus melaju membelah jalanan kota yang lumayan padat karena ini memang jam pulang kantor. Beruntung Diftha begitu lihai mengendalikan motornya, hingga bisa selip sana selip sini dan mereka berdua tak perlu berlama-lama terjebak kemacetan.


"Masih jauh?" Tanya Reina saat motor Diftha masuk ke sebuah gang.


"Sedikit lagi sampai," jawab Diftha yang mulai mengurangi kecepatan motornya. Ada beberapa polisi tidur yang membuat motor sedikit berguncang saat melewatinya. Reina sampaii harus mengeratkan pegangannya pada pinggang Diftha agar tak jatuh.


Setelah masuk lumayan jauh ke dalam gang, motor Diftha akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sederhana berpagar hitam.


"Ini rumah kamu?" Tanya Reina memastikan.


"Ya!"


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2