Segitiga Cinta Reina

Segitiga Cinta Reina
BERLEBIHAN


__ADS_3

"Kalian sedang apa, hah?" Gertak Fairel yang sekarang sudah berkacak pinggang di ambang pintu kamar Reina.


Angga yang tadinya seeang menangkup wajah Reina, buru-buru melepaskan tangannya, lalu pria itu segera bangun dan duduk di samping Reina yang masih berbaring.


"Apa, sih, Bang! Lebay!" Gumam Reina sembari berdecak kesal.


"Kau!" Fairel ganti mendelik dan menuding pada Angga.


"Aku hanya bicara pada Reina!" Sergah Angga mencari alasan.


"Hanya bicara tapi sampai masuk ke dalam selimut, lalu berpelukan seperti pengantin di malam pertama!" Cerocos Fairel yang entah benar-benar marah atau hanya sekedar cemburu karena cintanya yang tak kunjung mendapat titik terang dari Rossie. Sekalipun Fairel sudah jungkir balik mengejar adik Angga itu.


"Kami masih berpakaian lengkap, oke!" Ujar Angga lagi sembari menyibak selimut lalu menunjukkan pakaiannya yang memang masih lengkap dan rapi pada Fairel. Pria itu kemudian beranjak dari atas ranjang agar Fairel tak semakin murka.


"Abang lebay! Mengganggu pembicaraan orang saja!" Sungut Reina sekali lagi pada Fairel.


"Aku baru saja menyelamatkanmu dari tingkah mesum pria ini, Rei!" Fairel menunjuk ke Angga lagi yang kini sudah menghampirinya.


"Tapi kami sudah sama-sama dewasa, Bang!" Sergah Reina yang masih tak terima momen mesranya bersama Angga diganggu oleh Fairel yang jomblo tak kelar-kelar.


"Sama-sama dewasa! Lalu apa tidur bersama sebelum menikah juga dibenarkan meskipun kalian sudah sama-sama dewasa?"


"Aku laporkan nanti pada Mom dan Dad!" Ancam Fairel lagi lebay.


"Laporkan saja!" Tantang Reina tak takut.


"Aku sudah izin Aunty dan Uncle tadi sebelum masuk ke kamar Reina," ujar Angga kembali mencari pembenaran.


"Izin masuk ke kamar saja, kan? Bukan izin tidur bersama!" Sergah Fairel bersungut-sungut dan Angga hanya meringis.


"Pulang sana! Sudah malam!" Usir Fairel selanjutnya pada Angga.


"Kami belum selesai bicara, Bang!" Reina sudah bangkit dari atas tempat tidur, lalu menarik tangan Angga yang hendak dipaksa keluar oleh Fairel.


"Ngobrol di bawah kalau begitu dan jangan berduaan di kamar!" Ujar Fairel dengan nada tegas.


"Ck! Nanti abang pasti nguping!" Cibir Reina yang seolah sudah paham dengan tabiat sang abang yang hobi menguping pembicaraan orang lalu sedikit ember juga.


Sebelas dua belas sebenarnya dengan Keano!


Tapi kenapa mereka jadi musuh bebuyutan, ya?


"Abang sana yang keluar!" Reina sudah ganti mendorong Fairel sekarang.


"Eh, eh, eh! Kenapa malah mengusirku?" Protes Fairel tak terima.


"Abang Iel berisik!"

__ADS_1


"Hush! Hush! Pergi!" Usir Reina galak.


"Tidak mau!" Tolak Fairel tegas.


"Angga! Bantuin!" Reina meminta bantuan Angga yang malah mengul*m senyum melohat perdebatan Reina dan Fairel.


"Kita ngobrol di bawah saja!" Putus Angva akhirnya mengambil keputusan bijak sembari meraih tangan Reina yang langsung cemberut.


"Nah begitu! Jangan modus bicara berdua di kamar, tapi ujung-ujungnya praktek membuat anak!" Ceplos Fairel yang langsung membuat Angga dan reina berdecak bersamaan. Pasangan kekasih itupun akhirnya keluar dari kamar sembari bergandengan tangan dan meninggalkan Fairel begitu saja.


"Hei! Kenapa aku jadi ditinggal?" Protes Fairel yang langsung menyusul Angga dan Reina ke lantai bawah.


****


Reina menatap ke jalanan padat di depannya sambil sesekali gadis itu menoleh ke arah Angga yang duduk di belakang kemudi dan sedang mengoceh sendiri.


Sekilas memang pria itu terlihat mengoceh sendiri, namun handsfree earphone yang terpasang di telinganya, jelas menunjukkan kalau Angga tengah berbicara dengan seseorang di ujung telepon.


Ya, ya, ya!


Mungkin ini maksud dari memperbaiki semuanya versi Angga!


Pekerjaan tetap yang nomor satu dan Reina hanyalah yang nomor sekian.


Meskipun semalaman Angga menginap di kediaman Halley, atau di kamar Abang Fairel lebih tepatnya. Lalu pagi ini Angga juga berangkat ke kantor bersama Reina, namun tetap saja Angga sudah sibuk menelepon koleganya pagi-pagi begini.


Seperti tak ada waktu lain saja!


"Diftha!" Gumam Reina yang begitu hafal dengan motor tua Diftha yang warnanya sudah pudar tersebut.


"Apa, Rei?" Tanya Angga ya g sepertinya mendengat gumaman Reina barusan.


"Sekretarismu!" Jawab Reina sembari mengendikkan dagunya ke arah motor Diftha.


"Itu Diftha, ya?" Tanya Angga sedikit ragu.


"Sepertinya Diftha perlu motor baru," ujar Angga lagi berpendapat.


"Kau kan bosnya! Jadi ambil tindakan," sahut Reina yang langsung membuat Angga tertawa kecil sekaligus manggut-manggut.


Tak berselang lama, lampu lalu lintas sudah berubah hijau. Motor tua Diftha langsung melesat menembus kemacetan, sementara mobil Angga masih harus berjibaku bersama kuda besi lain yang memenuhi setiap ruas dari jalanan di kota metropolitan ini.


"Sepertinya lebih enak naik motor seperti Diftha tadi. Jadi kita tak perlu terjebak macet begini," seloroh Reina memecah kebisuan di dalam mobil.


"Ide bagus! Kebetulan motorku sudah lama menganggur juga di garasi," timpal Angga sedikit terkekeh.


"Kau bisa menjemputku naik motor besok pagi kalau begitu," cetus Reina memberikan ide cemerlang pada Angga yang hanya mengangguk samar.

__ADS_1


Baiklah!


Kemungkinannya hanya satu persen Angga akan benar-benar menjemput Reina naik motor besok pagi.


Lupakan saja!


Suasana di dalam mobil kembali hening. Angga tak lagi bicara sepatah katapun dan pria itu terlihat fokus mengemudikan mobilnya. Sementara Reina juga merasa enggan untuk kembali memulai obrolan. Lebih baik Reina diam saja dan menikmati kemacetan yang lumayan ini.


"Ck! Tidak biasanya macet begini!" Angga akhirnya buka suara namun pria itu terlihat kesal. Beberapa kali Angga juga melihat arloji di tangannya.


"Kau ada janji dengan seseorang?" Tanya Reina penuh selidik.


"Ya! Ada meeting jam sembilan." Angga kembali melihat arlojinya.


"Sekarang masih jam delapan lebih lima belas menit, Angga! Jadi santai saja!" Sergah Reina menenangkan Angga. Namun sepertinya sia-sia belaka karena kini Angga malah ganti memukul-mukul stir di depannya.


"Diftha pasti juga sudah sampai di kantor dan menyiapkan semua keperluan rapatmu!" Ujar Reina lagi masih berusaha.


Berusaha menenangkan Angga yang terlihat begitu galau.


Bukan galau karena cinta tapi galau karena takut terlambat datang ke tempat rapat.


Padahal Angga juga direkturnya. Kenapa harus risau misalnya terlambat sedikit?


"Tetap saja aku tak suka jika datang terlambat, Rei!" Ujar Angga sedikit geram dan Reina hanya mampu mengangguk-angguk.


"Ya! Aku paham!" Reina masih mengangguk-angguk.


"Mungkin besok kau bisa usul ke Uncle Robert agar membeli helikopter untuk transportasimu ke kantor. Jadi kau tak perlu terlambat!" Gumam Reina ikut-ikutan geram juga.


Geram dan juga geregetan! pada Angga!


"Sikapku berlebihan, ya?" Tanya Angga yang tiba-tiba tangannya sudah menggenggam tangan Reina.


"Tidak! Sama sekali tidak!"


"Aku memakluminya!" Jawab Reina seraya tersenyum pada Angga. Meskipun itu senyum terpaksa.


Tapi Angga mana paham?


"Lihat! Kau sudah bisa bergerak maju!" Ujar Reina selanjutnya sembari menunjuk ke antrian mobil yang mulai bergerak. Sepertinya simpul kemacetan memang sudah mulai terurai.


.


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2