Segitiga Cinta Reina

Segitiga Cinta Reina
SEHARUSNYA


__ADS_3

Reina keluar dari lift yang mengantarnya ke lantai delapan belas, dimana ruang kerja Angga berada.


Ya, tadi mendadak calon suami Reina itu menelepon dan meminta Reina untuk naik ke atas mengantar laporan yang sebenarnya sangat bisa Reina kirim via email.


Modus lama!


Reina mengedarkan pandangannya ke seluruh lantai, sampai akhirnya tatapan netra gadis itu tertuju ke meja kerja Diftha yang berada di depan ruang kerja Angga. Diftha terlihat fokus pada pekerjaannya dan seperti tak menyadari kehadiran Reina.


Atau pria itu hanya pura-pura abai saja?


Reina sedikit memelankan langkahnya saat mendekati meja kerja Diftha. Reina hanya ingin minta maaf, lalu menanyakan kabar Gizta, dan sudah itu saja!


Iya, sudah!


Memang Reina mau apa lagi?


Mencari perhatian Diftha dan membuat pria itu marah lagi?


"Pagi, Diftha," sapa Reina berbasa-basi.


Diftha hanya menatap sekilas pada Reina, sebelum kembali fokus ke layar monitor di hadapannya.


"Pagi," jawab Diftha datar.


"Ngomong-ngomong, kondisi Gizta bagaimana? Apa sudah pulang dari rumah sakit?" Cecar Reina lagi berusaha membuat Diftha bicara lebih banyak.


"Ya. Kemarin sore Gizta sudah pulang," jawab Diftha lagi tetap dengan ekspresi datar.


"Aku boleh menjengukmya ke rumah-" Reina tak melanjutkan kalimatnya karena Diftha mendadak melempar tatapan tak senang ke arah Reina.


"Maaf," gumam Reina kemudian sembari menundukkan wajahnya.


"Aku sudah memaafkanmu, Rei," ucap Diftha kemudian yang langsung membuat Reina mengangkat wajahnya, lalu menatap pria itu dengan berbinar.


"Tapi sebaiknya kita memang menjaga jarak-"


"Tapi bukankah kita adalah teman?" Sela Reina memotong. Tatapan Diftha pada Reina langsung menajam.


"Kau sendiri yang mengatakannya waktu itu, kalau kita tetap bisa berteman meskipun aku menolakmu," ujar Reina lagi dengan nada lirih.

__ADS_1


"Kau tidak pernah menolakku dan kau juga tak jujur tentang statusmu. Itulah kesalahanmu!" Sergah Diftha cepat seolah sedang mengingatkan Reina.


"Aku tahu dan aku minta maaf!"


"Tapi aku mohon jangan memusuhiku, Diftha!" Ucap Reina memohon.


"Aku tidak memusuhimu!" Tegas Diftha menyangkal.


"Aku hanya mengatakan kalau kita harus menjaga jarak, karena kau adalah tunangan Pak Angga, yang jelas-jelas adalah atasanku!"


"Kau juga adalah calon istri Pak Angga! Jadi sudah seharusnya kau tidak bermudah-mudahan dekat dengan pria lain-"


"Tapi Angga tak pernah mengekangku!" Sergah Reina kembali menyela.


"Angga tak pernah melarangku untuk dekat atau berteman dengan pria lain! Dia juga tak pernah merasa cemburu," Sergah Reina seolah sedang mencari alasan dan pembenaran. Diftha sontak berdecih.


"Hanya karena Angga tidak mengekangmu, bukan berarti kau bisa seenak hatimu dekat-dekat dengan pria lain sampai memberikan harapan pada mereka semua agar menaruh perasaan padamu!"


"Setidaknya, hargai perasaan Angga sebagai tunangan sekaligus calon suamimu! Jaga perasaannya!"


"Karena tak semua pria suka menunjukkan rasa cemburunya di depan wanita mereka!"


"Angga diam bukan berarti dia tak cemburu atau tak peka! Seharusnya, sebagai kekasih Angga kau bisa memahami itu semua! Jangan hanya monta dipahami saja tapi kau sendiri tak pernah memahami pasanganmu!" Ujar Diftha lagi panjang lebar yang benar-benar membuat Reina kehilangan kata-kata.


"Sakit karena rindu?"


"Ya! Aku memang pria workaholic yang selalu sibuk dan jarang ada waktu untukmu. Sangat berbeda dengan Diftha yang selalu memberikanmu perhatian kecil."


"Jika memang kau merasa nyaman bersama Diftha yang perhatian, tidak masalah jika kau ingin berpaling, Rei!"


Reina memejamkan matanya untuk beberapa saat, sembari menghela nafas berulang kali.


"Karena tak semua pria suka menunjukkan rasa cemburunya di depan wanita mereka!"


Kalimat Diftha kembali terngiang di benak Reina.


Ya, kalimat sindiran serta sikap ketus dari Angga tempo hari sedikit banyak sudah menunjukkan kemarahan serta rasa cemburu Angga atas sikap Reina yang mungkin sudah keterlaluan.


"Tidak ada pasangan yang sempurna di dunia ini, Reina! Akan selalu ada kekurangan dari setiap pasangan. Jadi sudah menjadi tugas setiap pasangan, untuk menerima dan melengkapi kekurangan daei pasangannya, bukan malah mencari kenyamanan pada orang lain yang dia pikir lebih sempurna."

__ADS_1


"Bukan seperti itu," ucap Diftha lagi dengan nada bijak.


"Ya." Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari bibir Reina.


"Jika ada satu sikap Angga yang tidak kau sukai, sudah sepantasnya kau menerima lalu membicarakannya secara baik-baik pada Angga. Mengkomunikasikannya dengan jelas juga agar tak ada kesalahpahaman."


"Jangan malah mencari kenyamanan pada pria lain," nasehat Diftha lagi.


"Itu salah!" Imbuh Diftha lagi dengan nada tegas.


Reina hanya mengangguk-angguk dan menyadari tentang kesalahannya yang selama ini hanya memberikan kode pada Angga tanpa mau bicara terus terang tentang perasaannya. Kadang Reina memang merasa gengsi jika harus selalu bicara terus terang, padahal Angga memanglah tipe pria yang kurang peka dengan kode-kode yang diberikan oleh Reina.


Sejak awal Reina sudah paham akan hal itu, tapi Reina terlalu egois dan seolah terus memaksa Angga agar memahaminya dan berubah menjadi pria yang peka.


Hhhhh!


"Terima kasih atas semua nasehat bijakmu, Diftha!" Ucap Reina akhirnya menatap tulus pada Diftha yang hanya mengangguk.


Reina tak berbasa-basi lagi, dan gadus itu lanjut pergi ke ruangan Angga.


"Reina!" Panggil Diftha saat Reina hebdak membuka pintu ruangan Angga.


"Ya!" Reina menghentikan langkahnya dan menoleh pada Diftha.


"Kau boleh menjenguk Gizta ke rumah." Diftha menjeda sejenak kalimatnya.


"Bersama Angga," sambung Diftha lagi dengan nada tegas.


Reina mengangguk.


"Aku akan meluangkan waktu nanti," janji Reina sebelum gadus itu membuka pintu ruangan Angga dan langsung menghilang ke dalam ruangan calon suaminya tersebut.


Sedangkan Diftha sudah kembali duduk di kursi kerjanya dan pria itu mengusap wajahnya berulang kalim


"Semoga kau bahagia bersama Angga, Reina!" Gumam Diftha sebelum pria itu kembali fokus pada pekerjaannya.


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2