
"Apa ini benar-benar kopi buatanmu?" Tanya Reina sembari menghirup aroma khas kopi yang menguar dari cangkir yang baru saja disodorkan oleh Diftha.
Diftha tak jadi mengantar kopi buatannya ke ruangan Reina karena kepala divisi keuangan itu malah naik ke atas untuk menemui Diftha.
"Tentu saja ini buatanku, Rei!"
"Cobalah!" Titah Diftha yang langsung membuat Reina menyesap sedikit kopi buatan Diftha.
"Enak!" Puji Reina kemudian sambil manggut-manggut.
"Manisnya juga pas," komentar Reina lagi yang kembali menyesap kopi buatan Diftha.
"Belajar membuat kopi darimana?" Tanya Reina selanjutnya merasa kepo.
"Tidak darimana-mana," jawab Duduk seraya terkekeh.
"Tapi ini beneran enak, Dift!"
"Cuma masih panas saja," kekeh Reina setelah gadis itu melemparkan pujian berulang kali pada Diftha.
"Berarti mulai besok aku akan membuatkan kopi untukmu dan tak perlu membeli kopi dari luar lagi," cetus Diftha sembari meraih tisu, lalu menyeka sisa kopi yang menempel di bibir Reina.
"Aku bisa sendiri!" Reina cepat-cepat mengambil alih tisu dari tangan Diftha lalu menyeka sendiri bibirnya.
"Bagaimana?" Tanya Diftha selanjutnya meminta pendapat Reina.
"Bagaimana apanya?" Tanya Reina bingung . Sepertinya Reina kurang fokus dengan kalimat sebelumnya karena tindakan penuh perhatian dari Diftha yang tiba-tiba menyeka bibir Reina tadi.
"Bagaimana kalau aku membuatkanmu kopi setiap pagi?" Diftha mengulangi pertanyaannya sembari tertawa kecil.
"Oh."
"Tidak usah repot-repot, Dift!" Tolak Reina halus.
"Sama sekali tak repot!" Sergah Diftha cepat.
"Mau, ya!" Ujar Diftha lagi sedikit memaksa.
"Mmmmm." Reina terlihat berpikir.
"Mau!" Diftha tetap memaksa.
"Baiklah!" Putus Reina akhirnya yang langsung membuat Diftha bersorak senang.
Lah!
Dasar Diftha!
****
Angga baru saja tiba di kediaman Hadinata, saat pria itu melihat Mama Sita yang sepertinya hendak pergi. Mama kandung Angga itu sudah terlihat rapi.
"Ma! Mau kemana?" Tanya Angga seraya turun dari mobil dan langsung menuju ke teras.
"Sudah pulang? Mama pikir kau pulang sore." Bukannya menjawab pertanyaan Angga, Mama Sita malah balik bertanya pada putranya tersebut.
"Pekerjaan Angga selesai lebih cepat tadi, Ma!" Jawab Angga beralasan. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah Angga tak jadi bertemu rekan bisnisnya tadi, hingga akhirnya pria itu memutuskan untuk pulang saja ke rumah alih-alih kembali ke kantor lagi.
"Ma, jadi pergi?" Tanya Rossie yang baru keluar dari rumah dengan penampilan rapi juga. Sepertinya dua wanita Hadinata ini mau pergi belanja atau mungkin ke salon.
"Tidak jadi, Ros! Mama mau bicara pada abangmu," jawab Mama Sita.
"Abang baru pulang? Oleh-oleh untuk Rossie mana?" Tanya Rossie sembari menengadahkan tangannya ke arah Angga. Namun bukannya menjawab permintaan sang adik, Angga malah fokus memperhatikan leher Rossie.
"Ini kenapa pakai concealer tidak rata?" Angga sedikit mengusap leher Rossie saat sebuah bercak coklat kemerahan langsung nampak di leher adik Angga tersebut.
"Ini apa, Ros?" Tanya Mana Sita yang turut melihat bercak coklat tadi.
"Apa?" Rossie balik bertanya bingung.
"Mulai nakal!" Gumam Angga yang langsung paham itu bercak apa. Angga dulu kerap menyematkannya di leher Reina. Namun belakangan ini sudah sangat jarang karena Angga tak mau kebablasan.
Bukankah awalnya sekali begitu?
Kissing, necking, lalu akhirnya lanjut ke hal-hal lain yang terlarang.
"Apa sih, Ma?" Tanya Rossie masih berusaha mengelak.
__ADS_1
"Apa itu perbuatan Keano?" Tebak Angga sok tahu.
"Perbuatan apa?" Rossie tetap terlihat bingung. Tapi sepertinya hanya pura-pura.
"Benar itu, Rossie?" Mama Sita mulai geram sekarang.
"Ini digigit semut, Ma!" Ringis Rossie akhirnya.
"Semut?" Angga menahan tawa dan Mama Sita hanya menggeram sekali lagi.
"Ngomong-ngomong, Mama nggak jadi pergi, kan? Rossie akan pergi sendiri ke salon."
"Bye!" Rossie meraih tangan Mama Sita dengan cepat, menciumnya, lalu gadis itu segera melesat pergi.
"Pulang sebelum malam, Ros!" Seru Mama Sita yang entah didengar oleh Rossie entah tidak. Rossie sudah dengan cepat masuk ke dalam mobilnya.
"Papa tadi tidak terlihat di kantor, Ma. Apa sedang-"
"Papamu sedang tidak enak badan," sela Mama Sita cepat.
"Tapi malah mau mama tinggal ke salon?" Angga bertanya heran. Angga sudah merangkul Mama Sita lalu keduanya masuk ke dalam rumah.
"Tidak enak badannya tadi pagi. Sekarang kau lihat sendiri!" Mama Sita mengendikkan dagunya ke arah papa Robert yang sedang berkutat dengan laptopnya.
"Sakit tapi masih kerja, Pa!" Seru Angga sembari menghampiri Papa Robert.
"Siapa yang sakit? Papa sehat, kok!" Sergah Papa Robert cepat.
"Akhirnya ingat pulang? Papa kira mau pindah ke rumah calon mertuamu sekarang," ujar Papa Robert lagi sedikit berseloroh.
"Nanti mama langsung mengamuk kalau Angga pindah sekarang, Pa!" Bisik Angga yang ternyata didengar juga oleh Mama Sita yang langsung berdecak.
"Angga!" Geram Mama Sita sembari mendelik pada putranya tersebut.
"Iya, Ma!"
"Angga sudah pulang ini!"
"Mama tadi mau bicara apa?" Cecar Angga yang sudah kembali merangkul sang mama. Sontak langsung terdengar deheman dari papa Robert yang sepertinya cemburu. Sebelas dua belas dengan Uncle Liam ternyata!
"Ayo duduk dan bicara serius!" Ajak Mama Sita akhirnya mebengahi sebelum anak da suaminya baku hantam. Angga dan Mamam Sita akhirnya duduk di sofa bersama papa Robert yang sudah mematikan laptopnya.
"Ini tentang hubunganmu dengan Reina-"
"Hubungan kami baik-baik saja, Ma!" Sergah Angga menyela.
"Dengarkan dulu mama kamu bicara, Angga! Jangan memotong!" Nasehat papa Robert tegas yang langsung membuat Angga mengangguk patuh.
"Begini." Mama Sita menarik nafas panjang lagi.
"Beberapa hari yang lalu, saat Mama dan Rossie bertemu Reina di toko kue Beth, kamu tahu tidak Reina bicara apa?"
"Reina mengira Angga ada something dengan Beth," ujar Angga cepat nenjawab pertanyaan sang mama.
"Rossie sudah menceritakan semuanya, Ma!" Sergah Angga lagi.
"Dan Angga sudah menjelaskannya juga pada Reina. Kami sudah baikan," sambung Angga lagi meyakinkan sang mama.
"Berarti sebelumnya kalian memang bertengkar?" Tanya Papa Robert dengan raut serius.
"Itu hanya kesalahpahaman dan Reina saja yang sudah berprasangka terlalu berlebihan pada Angga, Pa!" Jawab Angga menjelaskan.
"Mama rasa bukan Reina yang berprasangka berlebihan, tapi kamu yang kurang terbuka pada gadis itu!" Pendapat Mama Sita yang langsung membuat Angga mengernyit.
"Maksudnya bagaimana, Ma? Angga selalu jujur tentang apapun pada Reina dan...."
"Dan Angga hanya mencintai Reina. Tak pernah sekalipun Angga mencintai gadis lain, Ma!" Sergah Angga yang nada bicaranya mulai meninggi.
"Lalu kenapa Reina mendadak minta pertunangan diundur, jika memang hubungan kalian sedang tidak bermasalah? Mama benar-benar tak mengerti, Angga!"
"Sikap Reina itu seolah-olah menunjukkan kalau hubungan kalian itu sedang tidak baik-baik saja!" Cecar Mama Sita panjang lebar mengungkapkan kekhawatirannya.
"Itu hanya emosi sesaat dari Reina, Ma! Tidak usah diambil pusing!" Sergah Angga menenangkan sang mama.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada hubunganmu dan Reina, Angga? Kenapa Reina sampai berpikir untuk mengundur pertunangan?" Gantian papa Robert yang mencecar Angga.
Angga tak langsung menjawab dan pria itu tampak merenung beberapa saat.
__ADS_1
"Jelaskan, Angga!" Desak mama Sita tak sabar.
"Angga hanya menjaga jarak dari Reina belakangan ini sesuai permintaan mama, makanya Reina sedikit uring-uringan," jawab Angga akhirnya berkata jujur.
"Menjaga jarak bagaimana? Kenapa mereka harus menjaga jarak, Sita? Bukankah mereka akan bertunangan?" Sekarang papa Robert ganti mencecar sang istri.
"Yang mereka lakukan mulai mengkhawatirkan, Rob! Mereka kerap berduaan di apartemen hingga larut malam!" Desis mama Sita mengungkapkan kelakuan Angga dan Reina.
"Tapi mereka sudah sama-sama dewasa!" Pendapat papa Robert.
"Lalu?" Mama Sita ganti mendelik pada sang suami.
"Mereka pasti tahu batasan. Berduaan di apartemen juga belum tentu melakukan sesuatu."
"Dan misalnya terjadi sesuatu, Angga pasti akan langsung bertanggung jawab," gumam Papa Robert dengan pendapatnya yang sontak membuat delikan mama Sita ke arahnya semakin tajam.
"Baiklah!"
"Sebaiknya kau dan Reina memang tak berduaan di apartemen, Son!" Papa Robert bangkit berdiri, lalu menepuk punggung Angga dan ganti menasehati putra sambungnya itu dengan bijak.
"Uncle Liam dan Iel bisa membunuhmu jika kau menghamili Reina sebelum kalian resmi menikah!" Desis Papa Robert lagi sebelum kemudian pria paruh baya itu berlalu pergi dan meninggalkan pembicaraan.
"Ck! Angga dan Reina belum berbuat sejauh itu, Pa!" Sergah Angga membela diri.
Kini hanya tinggal Angga dan Mama Sita di sofa depan.
"Jadi kau menjaga jarak sembari menjauhi Reina dan mengabaikannya juga, hingga gadis itu berpikir kalau kau berselingkuh di belakangnya?" Cecar Mama Sita lagi menerka-nerka dan berusaha menarik benang merah.
"Angga hanya melakukan yang mama katakan-"
"Mama mengatakan agar kau menjaga untuk tak melakukan hal yang melanggar norma bersama Reina!"
"Mama tak mengatakan kalau kau harus mengabaikan Reina juga, Angga!" Geram Mama Sita yang seoalh tak mau kadi kambing hitam atas perubahan sikap Angga pada Reina.
Baiklah!
Wanita memang selalu benar!
Pantas saja papa Robert tadi langsung kabur dan meninggalkan pembicaraan!
"Iya, Angga yang salah, Ma!" Ucap Amgga akhirnya berusaha menyudahi pembicaraan melelahkan ini.
"Tapi Angga sudah menjelaskan semuanya pada Reina dan Angga juga sudah berjanji untuk memperbaiki semuanya!" Jelas Angga lagi agar Mama Sita berhenti menyalahkannya.
"Kami sudah baikan, Ma!" Ucap Angga sekali lagi dengan nada yakin.
"Bagus! Tepati janjimu dan tetap berikan perhatian pada Reina tanpa melakukan hal yang melanggar norma!"
"Jangan pernah mengabaikan Reina lagi dan buktikan perkataanmu tadi kalau kau benar-benar mencintai Reina!" Ujar Mama Sita panjang lebar yang langsung membuat Angga mengangguk patuh.
"Ngomong-ngomong, kau sudah mengantar Reina pulang ke rumahnya tadi?" Tanya Mama Sita seraya melihat arloji di tangannya.
"Reina masih di kantor tadi dan Angga pulang duluan karena Angga tadi ada pertemuan dengan kolega di luar," jelas Angga yang langsung membuat Mama Sita mengernyit.
"Lalu kenapa kau tidak bergegas menjemput Reina sekarang dan mengantarnya pulang, kalau memang gadis itu masih di kantor?"
"Ini sudah jam pulang kantor, Angga!" Mama Sita menunjukkan arlojinya dengan geram pada Angga.
"Reina pulang bersama teman-temannya sore ini karena katanya ada acara, Ma! Tadi Angga juga sudah menawarkan untuk mengirimkan sopir, tapi Reina menolak," jelas Angga lagi bersamaan dengan ponsel pria itu yang berdering nyaring.
Angga segera meminta izin pada Mama Reina untuk mengangkat telepon sejenak.
"Oh, sekarang bisa? Baiklah, aku kesana sekarang karena aku juga sedang luang!" Ucap Angga pada seseorang di telepon sebelum pria itu mematikan ponselnya dan menghampiri Mama Sita lagi.
"Mau kemana lagi?" Tanya mama Sita menyelidik.
"Tadi Angga belum jadi bertemu kolega Angga, Ma! Dan sekarang Angga baru mau bertemu dengannya," jelas Angga sembari meraih tas kerjanya yang tadi ia letakkan di sofa.
"Reina bagaimana? Kau tidak meneleponnya dulu dan bertanya barangkali dia mau kau temani ke acara atau kau jemput saat pulang?" Cecar Mama Sita memastikan.
"Iya, nanti Angga akan menelepon Reina dan menanyakan apa dia mau Angga jemput atau tidak," janji Angga seraya meraih tangan Mama Sita lalu mengecupnya. Tak lupa Angga juga mencium pipi mama kandungnya tersebut.
"Angga pergi dulu, Ma!" Pamit Angga seraya berlalu keluar dari rumah, meninggalkan Mama Sita yang hanya geleng-geleng kepala.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.