Segitiga Cinta Reina

Segitiga Cinta Reina
SEBENARNYA


__ADS_3

[Undangannya sudah diantar, Rei! Kau dan Angga bisa mulai membagikannya pada teman-teman kalian besok] -Mom Yumi-


Reina membuang nafas dengan kasar setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh Mom Yumi bersama foto setumpuk undangan pertunangannya bersama Angga. Reina mendadak merasa bingung harus mengundang siapa ke acaranya nanti.


Tok tok!


"Reina!" Panggil Diftha bersamaan dengan pintu ruangan Reina yang sedikit terbuka.


"Hai! Masuklah!" Titah Reina pada Diftha yang langsung masuk seraya membawa secangkir kopi yang tadi Reina tanyakan.


"Maaf terlambat!" Ucap Diftha seraya meletakkan cangkir kopi ke atas meja Reina.


"Terima kasih, Diftha!"


"Padahal aku tak serius soal menagih kopi tadi. Tapi kau malah repot-repot begini," ujar Reina tak enak hati.


"Tapi aku sudah janji pagi tadi, Rei! Jadi aku hanya menepati janji," tukas Diftha seraya mengendikkan bahu dan Reina sontak tertawa kecil. Gadis itu lalu menyesap kopi buatan Diftha.


"Enak!" Puji Reina yang lanjut mengeluarkan roti yang tadi pagi dibawakan oleh Diftha, lalu memakannya bersama roti.


"Kau sepertinya memang berniat membuatku gendut karena memberikan roti sebanyak ini," ucap Reina lagi dengan mulut yang penuh roti.


"Telan dulu makanannya baru bicara, Rei! Nanti tersedak!" Diftha buru-buru meraih tisu untuk menyeka sisa kopi di sudut bibir Reina.


"Terima kasih!" Ucap Reina tulus atas sikap manis Diftha tersebut.


"Ngomong-ngomong, kau tidak kembali ke atas?" Tanya Reina selanjutnya.


"Pak Angga pergi hingga sore. Jadi aku sedikit bebas dan bisa pulang cepat juga nanti."


"Kau juga katanya sudah izin untuk pergi reuni bersamaku?" Diftha balik bertanya dan memastikan.


"Ya!"


"Angga kan juga sudah tahu kalau kita berdua pernah satu sekolah." Jelas Reina yang langsung membuat Diftha mengangguk. Sejenak keduanya saling diam.


"Sudah jam makan siang," ucap Diftha yang akhirnya menecah keheningan.


"Benarkah? Aku sudah kenyang makan roti dan minum kopi," jawab Reina sambil kembali menyesap kopi buatan Diftha.


"Bagaimana kalau makanannya aku bungkus saja lalu kita makan di kantor? Pak Robert kebetulan juga tidak datang hari ini jadi kita bisa makan siang di lantai atas nanti," usul Diftha yang langsung membuat Reina menimbang beberapa saat.


"Baiklah! Tapi kau yang beli makanannya, aku tunggu disini," putus Reina akhirnya seraya menyodorkan lembaran uang pada Diftha.


"Tidak usah! Aku yang traktir!" Tolak Diftha sembari berlalu pergi meninggalkan Reina yang hanya berdecak.


Dasar Diftha!


****


"Jam tiga!" Diftha menunjukkan arlojinya pada Reina yang masih berkutat sengan laptopnya. Tadi setelah makan siang di lantai atas, Reina memang tak turin lagi dan memilih mengerjakan pekerjaannya di meja Diftha sembari mengobrol.


"Sebentar! Pekerjaanku sedikit lagi selesai," tukas Reina yang tetap fokus pada layar laptopnya.


Sementara Diftha yang sudah menyelesaikan pekerjaannya sejak tadi memilih untuk segera membereskan meja dan peralatan kerjanya.


"Huh! Akhirnya!" Sorak Reina lega setelah gadis itu menyelesaikan laporannya yang terakhir. Reina langsung mematikan laptopnya dan menutup benda persegi tersebut. Gadis itu lalu merentangkan kedua tangannya ke atas dan sedikit meregangkan otot-ototnya yang sedikit kaku. Diftha hanya tertawa kecil, melihat apa yang dilakukan oleh Reina tersebut.

__ADS_1


"Capek, ya?" Tanya Diftha masih sambil mengulas senyum.


"Sedikit." Reina ganti menegangkan otot-otot lehernya. Sementara Diftha tiba-tiba sudah bangkit dari duduknya, lalu bergerak ke belakang punggung Reina.


"Maaf, permisi," ucao Diftha sembari tangannya memijit lembut kedua pundak Reina.


"Ya ampun! Ini enak sekali, Dift!" Gumam Reina sembari memejamkan kedua matanya dan menikmati pijatan lembut tangan Diftha.


"Sepertinya kamu berbakat jadi tukang pijit," gumam Reina lagi yang malah membuat Diftha terkekeh.


"Tukang pijit khusus buat kamu saja boleh tidak?" Ujar Diftha yang langsung membuat Reina tergelak.


"Sudah cukup!" Ujar Reina akhirnya setelah hampir sepuluh menit gadis itu terlena dengan pijitan Diftha.


Bisa-bisa Reina tak mau berhenti nanti karena keenakan!


"Aku akan ke toilet dulu sebelum berangkat," ujar Reina lagi seraya bangkit dari duduknya lalu menuju ke ruang kerja Angga.


"Rei!" Panggil Diftha saat Reina baru meraih knop pintu ruangan Angga.


"Ya?"


"Disana kamar mandinya," ujar Diftha seraya menunjuk ke arah pantry yang memang bersebelahan dengan toilet yang biasa ia gunakan.


"Di dalam juga ada," tukas Reina memberitahu Diftha.


"Tapi-"


"Angga tidak akan marah! Aku sudah biasa memakai toilet yang di dalam ruangannya," ujar Reina cepat menenangkan Diftha.


Diftha akhirnya hanya mengangguk dan membiarkan Reina masuk ke ruangan Angga untuk memakai toilet yang ada di dalam sana. Sementara Diftha juga langsung pergi ke toilet di dekat pantry untuk sekedar cuci muka agar wajahnya sedikit fresh.


Reina yang penasaran langsung menghampiri meja kerja Angga dan memeriksa bingkai foto tersebut. Senyuman sontak tersungging di wajah Reina setelah tahu kalau itu adalah fotonya bersama Angga yang tempo hari hilang dari atas meja. Sekarang sudah Angga pajang lagi dengan bingkai yang baru.


"Manis!" Gumam Reina bersamaan dengan pintu ruangan Angga yang dibuka dari luar.


"Rei! Sudah selesai?" Tanya Diftha memastikan.


"Ya!" Jawab Reina sembari meletakkan lagi bingkai foto tadi ke atas meja dengan posisi membelakangi pintu masuk.


"Foto siapa itu? Pak Angga baru memasangnya tadi," tanya Diftha penasaran masih sambil berdiri di ambang pintu.


"Angga dan calon tunangannya," jawab Reina sembari menghampiri Diftha.


"Pak Angga akan bertunangan?" tanya Diftha kaget.


"Heem! Nanti aku kirimkan undangannya agar kau bisa datang!" Tukas Reina seraya menepuk punggung Diftha dan keluar dari ruang kerja Angga. Diftha lalu menutup pintu dan menyusul Reina yang sudah mengambil tas serta laptopnya.


"Kita berangkat naik apa, Dift? Motor kamu?" Tanya Reina seraya melangkah menuju ke arah lift. Diftha bergegas menyusul langkah Reina sebelum pria itu menjawab pertanyaan Reina.


"Sebenarnya motorku sedang di bengkel karena mogok tadi pagi," jawab Diftha sembari meringis.


"Aku tadi ke kantor naik ojek," lanjut Diftha lagi.


"Yaudah! Kita ke tempat reuni naik taksi saja kalau begitu!" Ujar Reina memberikan solusi yang langsung membuat Diftha mengangguk.


"Setuju!"

__ADS_1


****


"Jadi, sekarang kalian berdua jadian begitu?" Tanya salah seorang teman pada Reina dan Diftha yang tadi datang bersama.


"Belum!" Jawab Diftha to the point sementara Reina hanya geleng-geleng kepala dan gadis itu memilih untuk pergi ke meja minuman saja karena tenggorokannya begitu kering.


"Ada-ada saja!" Gumam Diftha yang rupanya sudah menyusul Reina ke meja minuman. Sementara suasana di dalam kafe yang sore ini menjadi tempat reuni sudah semakin riuh. Ada yang sekedar duduk-duduk menikmati makanan, ada juga yang menyanyi sambil berjoget bersama di panggung kecil yang ada di dalam kafe.


"Mereka semua masih saja heboh padahal sudah banyak yang berubah status," ujar Reina sembari menatap ke teman-teman lamanya yang berada di dalam kafe.


"Maksudnya berubah status?" Tanya Diftha mengernyit.


"Sudah banyak yang menikah! Jadi istri, jadi suami, jadi orang tua juga!" Reina mengendikkan dagunya ke beberapa alumni yang datang bersama pasangan serta anak mereka.


"Sepertinya cuma kamu yang masih single, Dift!" Ujar Reina lagi sembari menyenggol bahu Diftha dan tertawa kecil.


"Kenapa kamu tidak cari pacar atau calon istri, gitu?" Cecar Reina lagi sembari menatap Diftha dengan penasaran.


"Ini sedang usaha," jawab Diftha sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Sedang usaha? Berarti kamu sedang naksir seseorang, begitu? Siapa, Dift?" Cecar Reina penuh antusias sekaligus penasaran.


"Teman satu kantor, ya?" Tebak Reina lagi.


"Iya," jawab Diftha malu-malu.


"Wow! Siapa, siapa? Aku penasaran!" Reina sudah sangat antusias.


"Dari divisi keuangan." Diftha memberikan clue dan kedua mata Reina sontak melebar.


"Wah, anak divisi keuangan? Siapa, sih?" Reina berpikir keras dan mencoba menerka-nerka.


"Siapa, Dift? Beritahu aku!" Paksa Reina akhirnya yang benar-benar tak bisa menebak.


"Kau!" Jawab Diftha akhirnya to the point yang seketika langsung membuat rasa penasaran sekaligus antusiasme Reina menguap pergi.


"Aku?" Reina bergumam kaget mendengar jawaban Diftha yang begitu mengejutkan.


"Ya!" Diftha tersenyum sendiri.


"Sebenarnya, sudah sejak lama..."


"Atau lebih tepatnya sejak kita jadi teman satu bangku pas kelas sebelas. Aku itu sudah suka sama kamu, Rei!" Ucap Diftha lagi yang tiba-tiba tangannya sudah menggenggam kedua tangan Reina.


"Dan meskipun kita sudah lama tidak bertemu, perasaan aku ke kamu itu masih sama, Rei!"


"Aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu."


"Kamu mau tidak jadi pacar aku, Faranisa Reina?" Ungkap Diftha panjang lebar yang mendadak membuat isi kepala Reina menjadi blank.


Apa Diftha sedang menyatakan cinta pada Reina sekarang?


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2