Segitiga Cinta Reina

Segitiga Cinta Reina
KECEWA


__ADS_3

"Selamat siang, Pak Angga!" Diftha menyapa canggung pada Angga yang hendak masuk ke dalam lift. Diftha sendiri bergegas keluar dari lift agar Angga juga bisa segera naik. Tidak tahu mengapa, raut wajah Angga terlihat dingin.


Aneh!


Angga sama sekali tak menjawab sapaan Diftha, dan pintu lift juga langsung tertutup begitu Angga masuk. Diftha akhirnya tak mau ambil pusing dan pria itu memilih untuk segera menuju ke mejanya. Tadi ponsel Diftha tertinggal di laci dan tidak Diftha bawa ke ruang meeting.


Diftha mengambil ponselnya, lalu menyalakan benda persegi tersebut. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari mbak perawat dan juga....


Reina!


Ada apa lagi Reina menghubungi Diftha?


Apa belum cukup gadis itu memberikan harapan palsu pada Diftha?


Diftha hanya mendengus dan segera menghapus riwayat panggilan Reina. Pria itu lanjut menghubungi mbak perawat karena jarang sekali perawat Gizta itu menelepon jika tak ada hal penting.


"Mas Diftha!"


"Mbak tadi menelepon? Ada apa?" Cecar Diftha setelah teleponnya diangkat oleh mbak perawat.


"Mbak Gizta, Mas!"


"Gizta kenapa?" Tanya Diftha yang langsung bangkit dari duduknya dan merasa cemas.


"Mbak Gizta saya bawa ke UGD karena tadi mendadak demam dan kejang-"


"Apa?"


"Di rumah sakit mana? Aku kesana sekarang!" Diftha cepat-cepat menutup telepon, lalu pria itu segera mengetuk ruangan Papa Robert untuk minta izin pulang lebih cepat.


****


"Pak Diftha!" Panggil seorang karyawan saat Diftha tiba di lobi bawah.


"Ada apa?" Tanya Diftha tergesa.


"Undangan untuk Pak Diftha! Tadi Pak Angga baru membagikannya," ujar karyawan tersebut sembari menyodorkan sebuah undangan berwarna gold mewah pada Diftha. Rasa sakit kembali menyusup di dalam hati Diftha.


"Aku tidak datang karena adikku sakit!" Tolak Diftha akhirnya seraya berlalu pergi. Angga langsung menuju ke tempat parkir untuk mengambil motornya, dan tak berselang lama pria itu sudah memacu motornya meninggalkan kantor Hadinata.


Hampir dua puluh menit Diftha berjibaku dengan hitamnya aspal, sebelum akhirnya pria itu tiba di sebuah rumah sakit swasta. Diftha langsung menuju ke UGD karena tadi mbak perawat memang mengatakan kalau Gizta ada di UGD.


Namun saat Diftha sampai di ruang UGD, Gizta ternyata tidak ada di sana. Lalu Gizta kemana?


Diftha baru saja akan menghubungi perawat Gizta, saat ponselnya sudah bergetar, menandakan ada pesan masuk.


[Kau sudah sampai di rumah sakit? Gizta sudah dipindahkan ke kamar perawatan di lantai 3. Kamar Anggrek nomor 1.] -Reina-


Diftha tertegun setelah membaca pesan dari Reina. Kenapa Reina bisa tahu kalau Gizta sudah dipindahkan ke kamar perawatan?


Apa maksudnya Reina sedang bersama Gizta dan mbak perawat sekarang?


Diftha tak membuang waktu dan pria itu langsung naik ke lantai tiga. Diftha ingin secepatnya mencari tahu apa benar Reina sedang bersama Gizta sekarang atau bagaimana.


Setelah keluar dari lift, Diftha segera menyusuri lorong sembari membaca satu persatu nama ruangan yang tertera di pintu sepanjang lorong.

__ADS_1


"Anggrek satu," gumam Diftha setelah mendapati ruangan yang tadi disampaikan oleh Reina. Pria itu langsung mendorong pintu di depannya.


Tepat saat pintu menjeblak terbuka, Reina dan Mbak perawat yang berada di dalam ruangan menoleh ke arah Diftha.


"Mas Diftha," sapa mbak perawat yang langsung berdiri untuk menyambut Diftha. Sementara Reina masih duduk di kursinya yang berada di samping bed perawatan Gizta. Gadis itu hanya memperhatikan Diftha yang langsung menghampiri Gizta dan memeriksa kondisi sang adik.


"Kondisi Gizta bagaimana, Mbak? Apa kata dokter?" Cecar Diftha pada mbak perawat.


"Sementara masih dilakukan tes darah, Mas! Demamnya juga sudah turun tadi." Terang mbak perawat.


"Ini demam lagi," gumam Diftha setelah meletakkan punggung tangannya di kening Gizta.


"Benarkah?" Reina dan mbak perawat bergumam bersamaan. Namun Reina-lah yang bergerak duluan untuk mengecek suhu tubuh Gizta.


Tepat saat Reina meletakkan punggung tangannya di kening Gizta, Diftha langsung mekemlar tatapan tajam pada gadis itu.


"Kau sedang apa disini, Reina Halley? Bukankah malam ini aku akan bertunangan dengan kekasihmu, Angga Hadinata?" Desis Diftha bertanya yang langsung membuat Reina membulatkan kedua matanya.


Tatapan tajam Diftha seolah menyiratkan kemarahan di hati pria itu.


"Mbak Gizta biar saya kompres, Mas! Tadi kata dokter disuruh kompres dulu kalau demam karena baru satu jam yang lalu Mbak Gizta minum obat penurun demam," ucapan dari perawat Membuat Diftha segera menyingkir dari samping bed perawatan dan memberikan ruang pada perawat Gizta tersebut.


"Kau sudah tahu?" Reina berucap lirih dan membalas tatapan tajam Diftha dengan tatapan penuh rasa bersalah.


"Pergi kau dari sini!" Usir Diftha selanjpada Reina yang langsung menggeleng.


"Aku ingin menjaga Gizta-"


"Aku yang akan menjaganya karena Gizta adalah adikku! Bukan adikmu!" Gertak Diftha galak bersamaan dengan suara lirih Gizta yang terdengar dari bed perawatan.


"Abang!"


"Abang disinu," ujar Diftha lagi dengan suara lirih.


"Mbak, biar saya yang ngompres Gizta. Mbak istirahat saja!" Reina akhirnya mengambil alih kain untuk mengompres dari tangan perawat Gizta.


Diftha kembali melempar tatapan tajam pada Reina.


"Aku sudah menyuruhmu untuk pergi-"


"Kenapa Abang menyuruh Kak Reina pergi?" Gizta memotong kalimat Diftha dengan sedikit terbata.


Diftha menghela nafas dengan berat sebelum menjawab pertanyaan sang adik.


"Kak Reina ada acara penting malam ini, Gizta! Jadi dia harus pergi," terang Diftha sembari merebut kain kompres dari tangan Reina dengan sedikit kasar.


"Acara apa, Kak?" Gizta ganti menatap pada Reina yang langsung tergagap.


"Acara...."


"Acara-"


"Kak Reina akan menikah!" Diftha yang akhirnya menjawab pertanyaan Gizta.


"Kami hanya bertunangan malam ini, Diftha!" Reina mengoreksi dengan cepat.

__ADS_1


"Lalu menikah!" Diftha menatap sinis pada Reina.


"Aku tak ada maksud untuk menggantung perasaanmu. Tadinya aku memang ingin mengatakannya," ujar Reina menatap penuh rasa bersalah pada Diftha.


"Kau sudah melakukannya. Kau sudah membuatku berharap," Diftha tertawa sinis.


"Sekarang aku seperti laki-laki brengsek yang mencintai dan merayu kekasih bosku sendiri!" Desis Diftha selanjutnya mengungkapkan kekesalannya pada Reina.


"Kau tidak seperti itu!" Sergah Reina cepat.


"Aku yang bersalah disini karena tak langsung jujur mengenai statusku," Reina menundukkan wajahnya dan suara gadus itu terdengar sedih.


"Aku hanya merasa nyaman bersamamu yang perhatian karena Angga belakangan ini berubah dingin," cicit Reina lagi seolah sedang curhat pada Diftha.


"Itu bukan sebuah alasan, Rei!"


"Bagus aku mengetahuinya sekarang sebelum aku lebih jauh lagi beeharap dan berusaha mencuri hatimu."


"Aku benar-benar kecewa dengan ketidakjujuranmu!" Ungkap Diftha yang sekali lagi hanya membuat Reina menunduk sedih.


"Boleh aku memberikan nasehat?"


"Jika memang kau merasa tak nyaman dengan hubunganmu bersama Angga, seharusnya kau menyelesaikannya dan mencari solusi! Bukannya malah mencari pelarian dan memberikan harapan pada seorang pria yang tidak tahu menahu tentang hubungan kalian berdua," Diftha kembali tertawa sumbang.


Entah pria itu sedang menertawakan Reina atau menertawakan dirinya sendiri.


"Aku benar-benar minta maaf, Diftha!" Ucap Reina sekali lagi.


"Terima kasih karena sudah membawa Gizta ke rumah sakit. Sekarang kau bisa pergi dan bersiap untuk acara pentingmu malam ini!" Tukas Diftha yang kembali mengusir Reina.


Reina hanya mengangguk samar, lalu gadis itu menghampiri Gizta yang sejak tadi hanya diam menyimak perdebatan Reina dan Diftha. Entaf gadis itu paham atau tidak.


"Gizta-"


"Selamat!" Gizta tersenyum pada Reina sembari mengucapkan satu kata yang justru membuat hati Reina mencelos.


"Semoga keinginan Gizta juga lekas terwujud."


"Apa memang keinginan Gizta?"


"Gizta ingin punya kakak perempuan yang bisa mengajaknya bercengkerama setiap saat."


Reina langsung memeluk Gizta. Sekuat tenaga Reina menahan airmatanya yang sudah mendesak agar tak jatuh.


"Gizta cepat pulih dan sehat, ya!" Ucap Reina sedikit sesenggukan.


"Kak Reina pulang dulu," pamit Reina selanjutnya pada Gizta yang masih tersenyum.


"Bye!" Ucap Reina lagi sembari mengecup kening Gizta. Reina lalu meraih tasnya dan menatap pada Diftha yang sama sekali tak membalas tatapannya. Reina tak berkata apa-apa lagi dan gadis itu segera melangkah gontai keluar dari kamar perawatan.


Seharusnya Reina jujur dan mengatakan semuanya sejak awal pada Diftha!


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2