Segitiga Cinta Reina

Segitiga Cinta Reina
KECEWA


__ADS_3

"Hai! Kita bertemu lagi!" Sapa Diftha saat lagi-lagi Reina naik ke lantai delapan belas untuk menyambangi ruangan Angga. Reina baru ingat tentang pesan Aunty Sita siang tadi agar Reina pulang bersama Angga. Sebenarnya Reina sudah mencoba menelepon Angga untuk membahasnya. Namun peia itu malah tak mengangkat telepon Reina dan sepertinya sok sibuk.


Sekalian Reina mau memastikan masalah foto yang bisa-bisanya tak dilihat oleh Diftha. Apa Angga sudah membuangnya juga?


"Harus mengantar laporan lagi," ujar Reina beralasan sembari menunjukkan map yang ia bawa.


Padahal itu hanya map kosong!


"Pak Angga sedang ada tamu. Mau aku sampaikan saja mapnya? Ketimbang kau harus menunggu," tawar Angga bersamaan dengan pintu ruangan Angga yang sudah dibuka dari dalam. Angga keluar bersama seorang pria yang sepertinya adalah tamu yang tadi dimaksud Diftha. Pria itu juga terlihat kaget saat mendapati Reina yang sudah berada di depan ruangannya.


"Diftha! Tolong kau antar Pak Tjan!" Titah Angga pada Diftha yang langsung sigap bergerak.


"Baik, Pak!" Diftha segera melaksanakan perintah Angga, lalu mengantar Pak Tjan ke arah lift.


"Aku ingin bicara," ucap Reina to the point sembari berjalan ke ruangan Angga, mendahului sang empunya ruangan.


Tatapan mata Reina langsung terarah ke meja kerja Angga, mencari-cari satu benda yang kemarin masoh terpajang di sana....


Tidak ada!


Benar saja! Angga memang sudah menyingkirkannya, atau mungkin membuangnya.


Reina akhirnya hanya tersenyum kecut.


Sepertinya Angga memang totalitas sekali menjaga jarak dari Reina. Atau mungkin pria itu memang berniat mengakhiri hubungan mereka sekarang?


Baiklah!


Reina akan mempersiapkan hati.


"Tadi aku melihatmu pergi makan siang bersama Diftha. Kalian makan siang dimana?" Pertanyaan Angga membuyarkan lamunan Reina dengan cepat.


"Di warteg." Jawab Reina singkat yang hanya membuat Angga mengangguk.


"Kau tidak cemburu aku makan siang bersama Diftha?" Reina ganti bertanya pada Angga dengan penuh selidik.


Ah, tapi kenapa Reina malah melontarkan pertanyaan konyol begitu!


Reina seolah berharap kalau Angga cemburu atau mungkin akan langsung marah. Lalu ia mengatakan kalau Reina tak boleh kemana-mana selain bersamanya.


Hahahaha!


Khayalan Reina sepertinya terlalu berlebihan!


Angga memang bukan tipe pria posesif seperti kebanyakan pria di novel atau drama-drama yang kerap Reina tonton itu!

__ADS_1


Angga hanya cowok datar yang jarang romantis dan lebih banyak tidak peka!


"Kenapa aku harus cemburu? Bukankah kau dan Diftha adalah teman lama?" Raut wajah Angga tetap terlihat santai saat pria itu menjawab pertanyaan Reina.


Ya, ya, ya!


Angga yang selalu berprasangka baik!


"Iya! Kami teman lama, dan kami senang karena akhirnya punya waktu untuk ngobrol banyak hari ini," tukas Reina yang sebenarnya di dalam hati sedang kesal sekarang!


Kesal pada Angga yang sama sekali tak cemburu melihat Reina bersama pria lain!


"Jadi, kau tadi mau bicara apa?" Tanya Angga selanjutnya menanyakan tujuan Reina tadi.


"Aku dapat pesan dari mama kamu!" Reina mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan pesan dari Aunty Sita pada Angga.


"Hari ini anniversary pernikahan Mama dan Papa!"


"Sebaiknya kita membawa hadiah," tukas Angga yang ternyata ingat sekali dengan tanggal pernikahan Uncle Robert dan Aunty Sita.


Apa kabar Reina yang selalu lupa pada anniversary pernikahan Mom dan Dad?


Beruntung ada teknologi bernama alarm pengingat yang selalu menyelamatkan Reina dari potensi menjadi anak durhaka karena lupa ulang tahun pernikahan Mom dan Dad!


"Kau berencana memberikan hadiah apa?" Tanya Reina sedikit berbasa-basi.


Sudah Reina duga!


"Baiklah, akan kupikirkan di ruanganku saja!" Putus Reina seraya berlalu menuju ke pintu keluar. Reina tak berucap apa-apa lagi dan gadis itu keluar begitu saja tanpa basa-basi.


****


"Hai lagi!" Sapa Diftha saat Reina baru keluar dari ruang kerjanya.


Ya ampun!


Kenapa juga asisten Angga ini gercep sekali!


"Hai!"


"Kau keluar cepat?" Reina berbasa-basi sembari membenarkan letak tas di pundaknya.


"Iya, Pak Angga ada urusan di luar katanya. Jadi pekerjaanku juga selesai lebih cepat," cerita Diftha dan Reina habya mengangguk.


"Ngomong-ngomong, kau pulang naik apa?" Tanya Diftha penasaran.

__ADS_1


"Mobil," jawab Reina singkat.


Maksudnya mobil Angga. Itupun kakau pria itu ingat menunggu Reina dan tak tiba-tiba meninggalkan Reina seperti beberapa hari lalu!


"Oh! Aku kira kau tidak bawa kendaraan. Jadi mau aku antar begitu!"


"Sekalian mau tahu rumahmu," ucap Diftha blak-blakan yang hanya membuat Reina mengulas senyum tipis.


"Kau memangnya belum tahu?" Tanya Reina yang juga lupa-lupa ingat apa dia pernah memberikan alamat rumahnya pada Diftha jaman sekolah dulu. Sepertinya Diftha dulu sedikit culun dan pemalu juga saat sekolah. Jadi mereka berdua jarang ngobrol meskipun jadi teman satu bangku satu tahun lamanya.


"Aku tidak akan penasaran kalau memang sudah tahu, Rei!" Jawab Diftha seraya tergelak. Reina ikut terkekeh juga.


"Sudah sore! Sebaiknya aku segera pulang!" Tukas Diftha selanjutnya setelah pria itu melihat jam di arlojinya.


"Hati-hati, Dift!"


"Salam untuk mama dan papamu!" Ujar Reina seraya melambaikan tangan pada Diftha yang raut wajahnya mendadak berubah.


Apa Reina baru saja salah bicara?


Bukankah dulu Diftha begitu dekat dengan papa mamanya, dan Reina ingat betul saat Diftha bercerita mengenai perjuangan orang tuanya demi menyekolahkan Diftha dan sang adik.


"Papa dan Mama sudah bahagia di surga, Rei!" Ucap Diftha lirih sembari tersenyum yang tentu saja langsung membuat Reina tertegun. Lidah Reina juga mendadak terasa kelu saat hendak mengucapkan kalimat belasungkawa.


"Aku pulang dulu, ya!"


"Bye!" Pamit Diftha sebelum Reina sempat berkata-kata. Reina hanya menatap punggung Diftha yang akhirnya menghilang di ujung lorong sembari bergumam pelan,


"Aku turut berduka, Diftha!"


Ping!


Getaran dari ponsel yang ada di genggaman Reina, membuat gadis itu sedikit terlonjak. Reina membuka pesan yang rupanya dari Angga.


[Kau dimana? Bukankah kita harus mencari hadiah?] -Angga-


Reina mengetikkan balasan pesan sembari menggerutu dalam hati.


[Iya! Aku ke basement sekarang] -Reina-


Reina berjalan cepat ke arahloft, lalu langsung turun ke basement gedung untuk menemui Angga yang mungkin sudah lumutan menunggu Reina!


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2