Segitiga Cinta Reina

Segitiga Cinta Reina
CEMBURU


__ADS_3

"Ayo turun!" Ajak Angga yang langsung membuka pintu mobil dan turun duluan. Tadinya Reina pikir, pria itu akan membukakan pintu mobil untuk Reina juga, namun ternyata salah!


Angga malah langsung melenggang masuk ke kediaman Hadinata, dan meninggalkan Reina yang kini hanya mampu menggerutu kesal.


"Dulu jarang romantis!"


"Sekarang malah tidak romantis sama sekali!" Gerutu Reina kesal.


Reina akhirnya turun sendiri dan menyusul Angga yang sudah tak nampak batang hidungnya, kalau saja ini bukan permintaan Aunty Sita, tak akan Reina datang ke sini bersama Angga!


"Baru tadi sampai?"


Reina baru masuk ke rumah saat wanita itu sydah mebdebgar suara Angga yang sepertinya sedang bertanya pada seseorang.


"Iya! Baru sekitar tiga puluh menit lalu," ujar seseorang yang suaranya seperti suara seorang gadis.


Siapa itu?


Selingkuhan Angga?


Reina bergegas masuk ke dalam saat kemudian pandangannya langsung tertumbuk pada Angga yang sedang memeluk hangat seorang gadis.


Atau seorang wanita!


Ya, itu seorang wanita, dewasa, seusia Reina!


"Angga!" Tegur Reina keras yang merasa cemburu melohat Angga memeluk gadis lain.


Angga langsung melepaskan pelukannya pada gadis yang entah siapa itu dan menoleh pada Reina dengan raut tanpa dosa.


"Ini Kath! Anaknya Om Dyrtha!" Ujar Angga memperkenalkan gadis yang koni masih ia rangkul tersebut pada Reina yang langsung salah tingkah.


"Om Dyrtha?" Reina bergumam dan sedikit mengingat-ingat.


Sepertinya itu adalah Om-nya Angga yang tinggal di luar negeri yang juga merupakan adik dari Aunty Sita.


Ya ampun!


Reina cemburu buta sekali!


"Hai! Kau pacarnya Angga, ya!" Kath sidah melepaskan rangkulan Angga dan kini ganti menghampiri Reina yang sedikit salah tingkah.


"Siapa nama-"


"Reina!" Jawab Reina cepat menutupi salah tingkahnya tadi.


"Oh, iya!" Kath langsung memeluk Reina dengan hangat.


"Sendirian saja? On Dyrtha dan Tante...."


Ya ampun!


Reina tidak ingat nama istrimya Om Dyrtha!


"Tante Mizty," ujar Angga cepat mengingatkan Reina yang langsung meringis.

__ADS_1


"Iya, itu! Om Dyrtha dan Tante Mizty tidak ikut pulang?" Reina mengulangi pertanyaannya pada Kath.


"Papi masih sibuk, jadi mereka titip salam saja untuk semua keluarga disini," terang Kath yang hanya membuat Reina mengangguk.


"Reina! Sudah datang!" Sapa Aunty Sita yang rupanya juga baru tiba di rumah bersama Rossie. Wanita paruh baya itu langsung memeluk Reina dengan hangat.


"Kau sudah sampai juga, Kath? Aunty kira baru kesini nanti malam." Aunty Sita ganti menyapa Kath yang langsung meringis.


"Kath bukannya baru sampai dari bandara, Ma?" Tanya Angga bingung.


"Apanya dari bandara! Sudah dari dinihari tadi Kath sampai. Tapi mampir dulu ke suatu tempat-"


"Ssstttt!!" Kath buru-buru membungkam mulut Rossie yang blak-blakan. Sementara Angga hanya geleng-geleng kepala, pub dengan Reina yang memilih untuk tak berkomentar apa-apa.


"Sudah, sudah! Ayo kita ke ruang makan!" Ajak Aunty Sita selanjutnya seraya merangkul Reina.


"Oh ya, Aunty! Tadi Reina bawain sesuatu untuk Aunty!" Ujar Reina yang baru ingat dengan hadiah yang tadi diletakkan Angga di sofa depan. Reina bergegas mengambilnya, lalu memberikan hadiah tersebut pada Aunty Sita.


"Happy anniversary, Aunty!" Ucap Reina seraya mengulas senyum.


"Terima kasih, Rei!"


"Tapi ngomong-ngomong Uncle Robert mana?" Reina ganti celingukan mencari papa dari Angga dan Rossie tersebut.


"Papa sedang ada urusan di luar, Kak!"


"Nggak jelas memang! Sudah tahu ada acara penting, malah sibuk mengurusi pekerjaan!" Cerocos Rossie lagi bersamaan dengan seorang pria paruh baya yang sudah merengkuh kedua pundak Rossie dari belakang hingga membuat gadis itu menjerit kaget.


"Astaga! Siapa ini?" Pekik Rossie lebay.


"Hantu! Vampir!" Jawab Uncle Robert sedikit berseloroh yang sontak membuat semuanya tergelak.


"Sudah! Nanti Mama kamu cemburu!" Ucap Uncle Robert seraya mengacak rambut Rossie yang sontak membuat Aunty Sita berdecak.


"Mana ada!" Kilah Aunty Sita seraya merangkul Reina lagi dan mengajaknya ke meja makan. Sementara Kath sudah duluan sampai di meja makan dan sedang melahap apel sembari memainkan ponsel. Sedangkan Angga, entahlah!


Pria itu sepertinya memang gemar menghilang!


"Angga mana, Kath?" Tanya Aunty Sita pada sang keponakan.


"Ke kamar, Aunty! Katanya mau mandi tadi," jawab Kath santai.


"Kau juga mau mandi dulu, Rei?" Tawar Aunty Sita yang langsung dijawab Reina dengan gelengan kepala.


"Maksudnya Reina disuruh mandi bersama Angga, Aunty?" Tanya Kath to the point yang langsung membuat Rossie menepuk keningnya sendiri.


"Tentu saja tidak, Kath! Mereka belum menikah!" Jelas Aunty Sita yang hanya membuat Kath membulatkan bibirnya.


"Memangnya kamu, Kath! Belum menikah tapi sudah main menginap di apartemen pacar kamu!" Sahut Rossie yangbseolah sedang menguliti tingkah Kath.


"Kan sudah sama-sama dewasa!" Jawab Kath beralasan.


"Tetap saja! Hal itu tidak dibenarkan!" Sahut Uncle Robert seraya mengambil ponsel dari tangan Kath.


"Uncle!" Rengek Kath sembari mencebik.

__ADS_1


"Kita akan makan malam, jadi tidak ada yang boleh bermain ponsel di meja makan!" Ucap Uncle Robert tegas yang sekali lagi hanya membuat Kath merengut dan Rossie yang malah menertawakan sepupunya tersebut.


Tak berselang lama,Angga sudah turun dari lantai dua dan bergabung bersama anggota keluarga yang lain di meja makan. Pria itu kini terlihat santai mengenakan celana pendek selutut dan juga kaus polos berwarna putih. Angga yang memilih tempat duduk di samping Kath membuat hati Reina sedikit gerah.


Ya, meskipun mereka sepupu, tapi bukankah seharusnya Angga sedikit menjaga perasaan Reina dan bisa duduk di samping Reina sebentar saja!


"Ayo dimakan, Rei! Kok malah melamun?" Tegur Aunty Sita seraya menyendokkan lauk kesukaan Reina ke atas piring Reina.


"Iya, Aunty!" Reina memaksa untuk mengulas senyum, lalu melahap makanan di piringnya dan berusaha menikmati suasana hangat malam ini di kediaman Hadinata.


****


"Aunty sudah bicara pada Mommy kamu kemarin, Rei! Dan kami sepakat kalau kau dan Angga akan bertunangan terlebih dahulu sembari menunggu Fairel memberikan restu untuk hubungan kalian."


"Meskipun kata Mommy kamu tidak perlu memikirkan tentang keberatan Fairel, tapi Aunty merasa ini tidak benar."


"Bukankah seharusnya pernikahan dilakukan setelah semua pihak merasa legowo dan tidak ada yang merasa keberatan! Dan restu Fairel Aunty anggap sangat penting, mengingat Fairel adalah Abang kesayangaan kamu."


"Nanti pertunanganmu dan Angga akan dilaksanakan dua minggu lagi."


Reina memejamkan kedua matanya dan membuang pandangannya keluar jendela mobil, saat kalimat demi kalimat yang tadi diucapkan Aunty Sita kembali berkelebat di benaknya.


Bertunangan dengan Angga?


Seharusnya ini menjadi kabar yang menggembirakan untuk Reina! Namun jika menilik sikap Angga belakangan ini pada Reina, mendadak Reina jadi enggan bertunangan dengan pria yang kini sedang duduk di sebelahnya sembari mengemudikan mobil.


Bahkan sejak mobil meninggalkan kediaman Hadinata, Angga masih belum bicara sepatah katapun pada Reina. Dan sejak tadi yang terdengar hanyalah cerocosan dari penyiar radio yang sengaja Reina nyalakan agar suasana di dalam mobil tak sesepi kuburan!


"Tidur saja kalau mengantuk, Rei! Nanti aku bangunkan kalau sudah sampai!" Ucap Angga yang akhirnya mau bicara juga.


Reina pikir, pria di sebelahnya ini sudah lupa bahasa manusia!


"Ya!" Jawab Reina singkat, seraya menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Gadis itu lalu mencoba untuk memejamkan kedua matanya. Jalanan yang macet benar-benar membuat Reina jenuh menunggu.


Tak berselang lama, Reina sudah langsung terlelap. Angga yang masih berkonsentrasi menembus kemacetan, sesekali akan menoleh pada Reina yang kini sydah bernafas dengan teratur. Ada sebongkah rasa bersalah di dalam hati Angga atas sikap acuh tak acuhnya pada Reina belakangan ini.


Reina terlihat kesal, marah, dan mungkin gadis itu juga sudah benci pada Angga sekarang!


"Maaf!" Ucap Angga seraya mengusap lembut wajah Reina yang tetap terlelap. Angga kembali menginjak pedal gas, saat simpul kemacetan di depannya perlahan mulai terurai.


Angga terus mengemudikan mobil menuju ke kediaman Halley. Hingga akhirnya tepat pukul sebelas malam, mobil Angga sydah masuk ke halaman rumah keluarga Halley. Reina masih terlelap dalam tidurnya dan gadis itu sepertinya begitu kelelahan.


Angga membuka sabuk pengamannya dan juga sabuk pengaman Reina. Baru saja tangan Angga terulur hendak membangunkan Reina, namun kemudian Angga mengurungkan niatnya dengan cepat.


Angga keluar dari mobil, lalu pergi ke teras untuk menekan bel pintu depan. Tak butuh waktu lama, dan pintu sudah dibuka oleh Dad Liam.


"Reina mana?" Tanya Dad Liam to the point.


"Ketiduran di mobil, Uncle!"


"Angga akan menggendongnya ke kamar," jawab Angga seraya kembali berlari ke arah mobil, lalu membuka pintu di sisi Reina duduk. Pria itu dengan cekatan menggendong Reina ala bridal, lalu membawanya masuk ke kediaman Halley.


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2