
"Angga! Kau sedang dimana?" Tanya Fairel to the point setelah teleponnya diangkat oleh Angga.
Reina yang masih berada di dekat Fairel berusaha memasang pendengaran baik-baik demi mencari tahu siapa itu Beth.
Atau jangan-jangan Beth yang sudah membuat Angga berubah.
"Di luar kota? Lalu kenapa Reina tadi baru pulang? Dia darimana memangnya? Aku pikir kalian berdua baru selesai kencan." Fairel langsung melempar tatapan penuh selidik ke arah Reina yang hanya bersedekap sekaligus berdecak.
"Mungkin Reina hang out bersama teman-temannya, Iel!"
Reina bisa mendengar dengan jelas suara Angga, karena sepertinya Fairel sengaja menyalakan loudspeaker.
"Hmmmm. Kau tidak curiga pacarmu kelayapan sendiri sampai jam segini, Angga?" Tanya Fairel memancing.
"Bukankah ada kau yang sigap menjaganya?"
"Kau pikir aku babysitter Reina? Aku juga punya banyak urusan dan kepentingan!" Sungut Fairel yang langsung membuat Reina mencibir.
"Urusan mendekati Rossie tapi sama sekali tak ada kemajuan!" Cibir Reina pada sang Abang.
"Diam kau!" Gertak Fairel galak yang hanya membuat Reina berdecak.
"Kau menyuruhku diam?"
"Bukan! Bukan kau!"
"Aku sedang menyuruh Reina menyebalkan ini yang diam! Dia sedang meledekku habis-habisan! Bukankah itu menyebalkan!" Cerita Fairel yang langsung membuat Reina menahan tawa.
"Oh!"
"Jadi, kau tadi menelepon ada urusan apa?"
"Aku ingin bertanya padamu informasi mengenai Beth!" Jawab Fairel yang kembali membuat Reina memasang pendengarannya baik-baik.
"Beth? Beth siapa?"
"Beth! Si tukang kue!" Jawab Fairel seraya menunjuk ke box kue tart di atas meja.
Memangnya Fairel pikir Angga bisa melihat box kue itu?
"Beth?"
"Iya Beth! Yang perawakannya kecil dan wajahnya sedikit manis. Yang punya toko kue di Jalan Seroja!" Jelas Fairel akhirnya lebih mendetail.
"Oh! Bethany!"
"Bethany? Tapi di box kue namanya Beth saja!" Fairel garuk-garuk kepala dan kembali membolak-balik box kue di tangannya.
"Iya, nama panjangnya Bethany. Panggilannya Beth! Adiknya Timmy, kan?"
__ADS_1
"Timmy siapa lagi?" Tanya Fairel bingung.
"Abangnya Beth!"
"Entahlah aku bingung!" Fairel kembali garuk-garuk kepala.
"Jadi, Beth kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa! Aku hanya butuh nomor pribadi Beth barangkali kau tahu. Seingatku, kau berteman baik dengan Beth!"
"Iya, aku memang berteman dengan Beth dan Timmy. Tapi kenapa kau minta nomor pribadi seorang gadis malam-malam begini, Iel? Mencurigakan sekali!"
"Hei! Hei! Hei! Singkirkan pikiran negatifmu itu, Bung!"
"Aku hanya ingin menghubungi Beth dan minta dia membuka tokonya malam ini agar aku bisa membeli kue lagi untuk surprize ulang tahun Rossie!"
"Sebenarnya aku tadi sudah membeli kue, tapi Reina menyebalkan malah memakan kue untuk surprize Rossie! Bukankah itu menyebalkan?" Cerita Fairel seraya melirik pada Reina yang masih bersedekap sembari berdecak.
Bisa Reina dengar kekehan Angga dari ujung telepon saat mendengarkan cerita serta curhatan Fairel.
"Lalu kenapa tidak mencari kue di toko lain saja! Ini hampir tengah malam dan kau akan menyuruh seorang gadis membuka toko kuenya tengah malam hanya demi-"
"Aku akan membayar dua kali lipat!" Sergah Fairel memotong kalimat Angga.
"Atau tiga kali lipat kalau perlu!" Ujar Fairel lagi.
"Tidak! Aku tetap ingin kue dari toko Beth! Cepat berikan nomor Beth padaku!" Perintah Fairel tegas.
"Aku tak akan memberikannya. Ini sudah tengah malam!"
"Angga! Kau mau aku pecat sebagai calon adik iparku, hah?" Ancam Fairel bersungut-sungut.
"Konyol sekali ancamanmu, Iel!"
"Cepat berikan! Kirimkan setelah aku menutup telepon!"
"Bye!" Fairel menutup teleponnya pada Angga. Dan tak berselang lama, ponsel Fairel sudah berbunyi menandakan ada oesan masuk.
"Yess!" Fairel langsung bersorak senang, sebelum kemudian pria itu keluar dari dapur dan berlari ke pintu depan. Sepertinya Angga langsung mengirimkan nomor Beth pada Fairel setelah mendapat ancaman konyol tadi.
Tapi Reina masih bertanya-tanya tentang Beth Bethany itu. Apa benar dia sekedar teman dekat Angga atau jangan-jangan mereka punya something.
****
"Halo, Rei!"
"Akhirnya!" Reina langsung tersenyum setelah Angga menjawab panggilan video call-nya..
"Kenapa lama?" Tanya Reina sembari menatap wajah Angga di layar ponselnya.
__ADS_1
"Aku sedang di kamar mandi tadi. Panggilan alam," jawab Angga beralasan.
"Kenapa kau belum membaca pesanku sedari sore tadi? Eh, begitu Abang Iel telepon malah langsung dijawab!" Cecar Reina dengan raut wajah kesal.
"Aku baru sampai di kamar hotel saat Iel telepon tadi. Jadi aku belum sempat membaca pesanmu," ujar Angga beralasan.
Meskipun sedikit merasa kecewa, namun akhirnya Reina hanya mampu memaklumi.
"Dan sekarang aku harus-"
"Mau pergi lagi?" Reina sudah menyela sebelum kalimat Angga selesai.
"Tidak, Rei!"
"Aku mau mandi lagi sebelum tidur. Badanku rasanya tidak enak!"
"Lagipula, ini sudah tengah malam! Tidak mungkin aku menemui klien tengah malam," kekeh Angga lagi yang hanya membuat Reina mendengus.
"Tidak bisakah kita mengobrol sebentar?" Pinta Reina.
"Mau mengobrol apa memang? Semua hal tentang pertunangan kita sudah diurus oleh Mama dan Aunty Yumi," tukas Angga yang sekali lagi hanya membuat Reina menghela nafas.
"Aku akan mandi sebentar. Nanti aku telepon lagi," ujar Angga lagi mencoba meminta pengertian dari Reina.
Lagi!
"Baiklah! Silahkan mandi, tapi pakai air hangat, Angga! Ini sudah malam," pesan Reina yang langsung dijawab Angga dengan senyuman.
"Ya!"
"Nanti jangan lupa telepon lagi agar kita bisa mengobrol sebentar sebelum aku tidur!" Pesan Reina sekali lagi.
"Iya!"
"I love-"
"Bye!"
Reina belum selesai mengucapkan i love you saat Angga sudah buru-buru mengakhiri telepon.
Terserah!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1