
Reina memeriksa ponselnya sekali lagi untuk memastikan barangkali ada pesan dari Angga yang terselip. Tapi tetap tidak ada!
Angga sama sekali belum menghubungi Reina lagi, setelah terakhir kali pria itu menelepon Reina siang tadi dan mengatakan akan bertemu koleganya, lalu pulang ke rumah orangtuanya. Atau mungkin Angga sudah ada di rumah Reina sekarang dan sengaja tak menghubungi Reina karena dia ingin memberikan Reina kejutan?
Bisa saja, kan?
Reina tersenyum sendiri saat membayangkan Angga yang tiba-tiba sudah menyambutnya di rumah saat ia pulang nanti, meskipun pria itu tadi mengatakan kalau ia tak akan ke rumah malam ini.
Tapi bisa saja Angga berubah pikiran!
Siapa yang tahu?
Semalam saja pria itu tiba-tiba sudah muncul di rumah dan memeluk Reina padahal sebelumnya ia mengatakan kalau akan di luar kota beberapa hari!
Ah, Reina jadi tak sabar untuk segera sampai di rumah.
"Sudah sampai, Non!" Ucapan sopir taksi yang mengantar Reina pulang dari rumah Diftha seketika langsung membuyarkan lamunan Reina.
Astaga!
Tak terasa ternyata!
"Iya, Pak!" Reina memberikan ongkos dengan riang pada supir taksi yang sudah mengantarnya tersebut. Reina masih membayangkan kalau Angga sedang menunggunya di dalam kediaman Halley sekarang.
"Terima kasih, ya, Pak!" Ucap Reina sekali lagi sebelun gadis itu turun dari taksi, lalu masuk ke dalam kediaman Halley. Tak lupa Reina juga menyapa security di depan, lalu berjalan cepat ke arah rumah kedua orang tuanya.
"Mobil Angga tidak ada," gumam Reina saat ia melewati tempat dimana Angga biasa memarkirkan mobilnya saat datang berkunjung.
"Ah, mungkin Angga diantar sopir," gumam Reina lagi meyakinkan dirinya sendiri meskipun rasa kecewa sudah menyusup dalam dan hati Reina juga sudah yakin kalau Angga benar-benar tak datang ke rumah malam ini. Tapi Reina masih mencoba menepisnya.
Reina lanjut masuk ke teras dan baru saja akan membuka pintu depan, saat ternyata pintu sudah dibuka oleh seseorang dari dalam.
"Angga!" Reina hampir saja memeluk pria yang berdiri di belakang pintu sebelum akhirnya gadis itu menyadari kalau pria itu bukanlah Angga.
Yeah!
Itu adalah Fairel!
"Ck!" Reina akhirnya hanya mampu berdecak kesal.
"Kenapa memanggilku Angga? Amnesia?" Cecar Fairel yang stdah menjulurkan tangannya dan hendak meletakkannya di kening Reina, saat Reina sudah dengan cepat menampik.
"Apa, sih, Bang!" Sungut Reina pada sang abang. Reina lalu hendak masuk, namun Fairel dengan cepat mencegat dan seolah tak membiarkan Reina masuk ke dalam rumah.
Dasar Abang yang menyebalkan!
"Kau dari mana, hah?" Tanya Fairel selanjutnya menginterogasi Reina.
"Dari rumah teman!" Jawab Reina malas.
"Rumah teman atau apartemen Angga?" Fairel sudah memicing curiga sekarang.
"Kalau Reina dari apartemen Angga, pasti pulangnya lebih malam lagi dan yang mengantar juga adalah Angga! Bukan supir taksi!" Jawab Reina blak-blakan sebelum kemudian gadis itu membungkam mulutnya sendiri.
__ADS_1
Itu tadi keceplosan dan bukan blak-blakan!
Sial!
"Nah, kan!"
"Ketahuan!" Fairel sudah mendelik lebay pada Reina.
"Di apartemen sampai malam, berduaan, berbuat apa, coba?" Cecar Fairel lagi yang sudah seperti detektif saja!
"Pacaran lah!" Jawab Reina yang akhir mengaku.
"Iya pacaran model apa sampai larut malam?" Cecar Fairel lagi yang sepertinya kepo sekali.
"Iya pokoknya pacaran!"
"Makanya Abang cari pacar sana biar tahu!" Jawab Reina yang malah mencibir sang abang.
"Jangan cuma sibuk mengejar Rossie terus tapi tidak ada hasil!" Lanjut Reina lagi tetap mencibir.
"Siapa bilang tidak ada hasil? Ini sudah hampir berhasil!" Sergah Fairel pamer.
"Hmmmm, benarkah?" Reina memicing ragu.
"Benar!" Jawab Fairel yang langsung nenyalak pada Reina.
"Yaudah! Semoga benar-benar berhasil, Abangku Sayang!" Reina menepuk punggung Fairel sembari menyelinap masuk mumpung Fairel yang tadi mencegatnya sedang lengah.
"Reina ke kamar dulu, bye!" Seru Reina kemudian seraya berlari meninggalkan Fairel yang langsung menggerutu tak karuan.
****
Reina baru saja melempar tasnya ke atas tempat tidur, saat terdengar dering nyaring dari ponsel miliknya.
"Angga!" Gumam Reina yang serta merta langsung meraih tasnya lagi dan mengambil ponselnya. Namun kemudian Reina harus mendes*h kecewa saat tak mendapati nama Angga di layar telepon, melainkan malah Diftha.
Hhhhh!
"Halo, Dift!" Sambut Reina akhirnya yang masih berusaha menepis dan membuang jauh kekecewaannya pada Angga yang katanya mau memperbaiki semuanya. Tapi nyatanya apa, pria itu masih abai pada Reina dan enggan mengirimi Reina pesan basa-basi yang berisi sedikit perhatian. Memperbaiki apanya?
"Rei, kau sudah sampai di rumah?"
"Iya, sudah."
"Baru saja sampai dan ini baru mau ganti baju," jelas Reina sembari mendaratkan bokongnya ke atas kasur. Reina meraih foto Angga di atas nakas, memandanginya sejenak lalu memasukkan foto itu ke dalam laci.
Reina mendadak kesal pada Angga!
"Syukurlah kalau begitu. Aku sedikit khawatir tadi karena hari sudah malam dan kau naik taksi sendiri."
"Aku bukan anak kecil, Dift! Dan ini belum terlalu malam," ujar Reina menenangkan Diftha yang entah mengapa malah perhatian sekali pada Reina dan kerap mengkhawatirkan Reina juga.
Padahal Angga yang jelas-jelas adalah kekasih dan calon tunangan Reina saja tidak seperti itu!
__ADS_1
"Tetap saja aku khawatir, Rei! Karena kau kan perempuan."
"Maaf karena tak mengantarmu pulang-"
"Tidak apa, Dift! Tidak usah minta maaf!"
"Kau kan harus menjaga Gizta. Aku memakluminya, kok!" Sergah Reina cepat memotong permintaan maaf Diftha. Pria itu seperti merasa bersalah sekali hanya karena tidak bisa mengantar Reina pulang.
Astaga!
Perhatian Diftha memang luar biasa!
"Iya, kau benar."
"Ngomong-ngomong, kau tadi katanya mau ganti baju?"
"Belum jadi karena kau terus saja mengoceh!" Seloroh Reina yang langsung membuat Diftha tertawa di ujung telepon.
"Maaf,maaf!"
"Aku tadi hanya khawatir, tapi sekarang aku sudah lega karena kau sudah sampai di rumah."
"Jadi, aku sudah boleh menutup telepon sekarang agar aku bisa ganti baju?" Tanya Reina seraya tertawa kecil.
"Ya! Maaf mengganggu!"
"Sampai jumpa besok di kantor, Rei!"
"Ya!" Jawab Reina lagi sembari tersenyum.
"Bye!"
"Bye, Diftha!" Pungkas Reina bersamaan dengan telepon yang sudah terputus. Reina menghela nafas, lalu memeriksa ponselnya sekali lagi untuk memastikan barangkali Angga mengirim pesan saat Reina bicara pada Diftha tadi.
Tapi tidak ada!
Yeah, memangnya apa yang Reina harapkan?
Angga mungkin masih sibuk bersama koleganya sekarang, atau bersama laptopnya, atau bersama tumpukan kertas berisi laporan dan grafik, hingga pria itu lupa pada Reina.
Lagipula, kenapa Diftha yang sama sekali bukan pacar Reina justru malah yang selalu peduli dan perhatian pada Reina. Sementara Angga yang jelas-jelas adalah kekasih Reina malah selalu abai pada Reina. Apa Reina harus ganti berpacaran dengan Diftha saja yang selalu perhatian?
Konyol!
Sudahlah!
Sebaiknya Reina mandi saja agar kepalanya yang mendadak memanas tadi sedikit mendingin.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.