
"Itu tadi sekretarisnya Angga di kantor kan, Rob?" Tanya Mama Sita pada Papa Robert yang turut didengar oleh Mom Yumi juga yang berdiri tak jauh dari kedua orang tua Angga tersebut.
"Iya!" Jawab Papa Robert.
"Namanya Diftha dan yang duduk di kursi roda itu adalah adiknya Diftha. Namanya Gizta," jelas Papa Robert pada sang istri.
"Kemarin saat acara pertunangan Reina dan Angga, Diftha memang tak bisa hadir karena Gizta sedang dirawat di rumah sakit," ujar Papa Robert lagi.
Mom Yumi yang masih menyimak obrolan antara Papa Robert dan Mama Sita, mendadak ingat pada kejadian di dapur saat Reina menyuruh maid di rumah menyiapkan beberapa makanan.
"Mau kirim makanan untuk siapa memang?"
"Untuk Gizta."
"Gizta siapa?"
"Adiknya Diftha, Mom!"
"Diftha?"
"Teman sebangku Reina saat SMA dulu. Sekarang Diftha bekerja sebagai sekretaris Angga, jadi ya begitulah!"
"Kebetulan adik Diftha ini sedang sakit akibat kecelakaan, Mom. Jadi butuh perhatian lumayan ekstra serta asupan makanan yang bergizi."
"Yang Reina lakukan ini tidak berlebihan, kan, Mom?"
"Gizta adik Diftha...." Mom Yumi bergumam pada dirinya sendiri.
"Tadi pergi bersama Angga?" Tanya Mom Yumi saat Reina pulang terlambat.
"Angga sedang di luar kota, Mom! Tadi Reina ke rumah Gizta."
Mom Yumi langsung melempar pandangannya ke arah Reina yang sedang berbincang bersama Diftha, Gizta, dan ada Angga juga di sana. Sekarang Reina dan Diftha sedang berjabat tangan sambil bertukar pandang.
Atau lebih tepatnya saling menatap dalam waktu yang cukup lama.
Apa itu maksudnya?
Reina seharusnya tak melakukan hal itu karena gadis itu sudah berstatus sebagai istri sah Angga sekarang!
Tidak bisa dibiarkan!
Mom Yumi baru saja akan menghampiri Reina, saat mendadak tangannya digeret oleh seseorang.
"Yum! Ada tamu penting!" Ucap Dad Liam seraya memaksa Mom Yumi untuk menemaninya menemui salah satu tamu yang katanya penting tersebut. Mom Yumi tak bisa mengelak, dan wanita paruh baya itu terpaksa mengikuti sang suami terlebih dahulu. Namun matanya tetap awas mengawasi Reina dan Diftha dari kejauhan. Nanti Mom Yumi akan bicara empatmata pada Reina!
****
"Jawab, Reina!" Desak Mom Yumi yang sudah mengguncang kedua pundak Reina yang sejak tadi hanya membisu dan tak kunjung menjawab pertanyaan dari sang Mom.
"Menjawab apa?" Reina akhirnya buka suara.
"Reina istri Angga sekarang dan Reina tak pernah menyimpan perasaan pada Diftha atau pria manapun, Mom!"
"Perasaan cinta Reina hanya untuk Angga!" Jawab Reina tanpa sedikitpun menatap pada Mom Yumi. Reina hanya menundukkan wajahnya saat menjawab pertanyaan dari Mom Yumi.
"Benarkah itu? Lalu kenapa kau tak berani menatap wajah Mom, jika memang kau hanya mencintai Angga dan tak berkhianat di belakang Angga?" Cecar Mom Yumi yang langsung membuat Reina mengangkat wajahnya, kemudian menatap ke wajah sang Mom.
"Kau mencintai Diftha?" Tanya Mom Yumi sekali lagi.
"Tidak!" Jawab Reina seraya menatap tegas ke dalam netra Mom Yumi.
"Reina hanya menganggap Diftha sebagai teman, tidak lebih," jawab Reina lagi bersungguh-sungguh.
"Lalu kenapa kau seolah begitu galau dan bimbang, saat berada di dekat Diftha? Gesture tubuhmu juga seolah menunjukkan kalau kau ada something pada Diftha-"
"Reina hanya merasa bersalah! Itu saja!" Sergah Reina cepat.
__ADS_1
"Merasa bersalah kenapa?" Tanya Mom Yumi tak paham.
Reina menghela nafas panjang terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan dari Mom Yumi.
"Sebenarnya, beberapa minggu yang lalu Diftha pernah mengungkapkan perasaannya pada Reina, Mom!" Reina memulai ceritanya.
Ya, daripada memendamnya, lalu malah membuat Reina galau berlarut-larit, mungkin ada baiknya jika Reina menceritakannya pada Mom Yumi. Barangkali Mom Yumi punya solusi untuk mengakhiri rasa galau di hati Reina.
"Apa Diftha tidak tahu tentang statusmu yang sudah punya pacar?" Tanya Mom Yumi menyela.
"Diftha tidak tahu, karena Angga menyembunyikan foto kami berdua di laci." Reina menjeda sejenak kalimatnya karena merasa ada yang salah dalam penyampaian.
"Maksud Reina bukan menyembunyikan, tapi menyimpannya karena bingkai fotonya pecah." Reina mengoreksi ceritanya tadi.
"Jadi Diftha tidak tahu kalau kau sebenarnya adalah kekasih Angga dan pria itu lalu mengungkapkan perasaannya?"
"Apa kau memberikan peluang pada Diftha sebelumnya?" Cecar Mom Yumi menginterogasi.
"Peluang?" Reina bergumam, sebelum kemudian lanjut menggeleng.
"Kata Diftha, dia memang sudah suka pada Reina sejak SMA," tukas Reina lagi menyampaikan sebuah fakta
"Tapi kau juga perhatian sekali pada Gizta!" Sergah Mom Yumi mengingatkan.
"Itu karena Reina iba pada Gizta, Mom! Bukankah kata Mom waktu itu sikap Reina tidak berlebihan dan Mom juga mendukung?" Ujar Reina beralasan sekaligus mencari pembenaran.
"Iya! Mom tidak berpikir jauh waktu itu dan mengira kau dan Diftha memang hanya berteman biasa," tukas Mom Yumi.
"Reina tadinya juga berpikir begitu, Mom! Reina hanya menganggap Diftha sebagai teman-"
"Tapi kemudian saat Diftha tiba-tiba mengungkapkan perasaannya, kau berubah galau dan menerka-nerka apa jangan-jangan kau juga punya perasaan yang sama pada Diftha," sergah Mom Yumi menebak dengan tepat sasaran, hingga membuat Reina bungkam seketika.
"Iya, begitu? Makanya kau jadi galau bahkan sampai di hari H pernikahanmu!" Cecar Mom Yumi lagi seolah sedang menguak semua yang dirasakan oleh Reina.
"Lalu kau beralasan merasa bersalah karena sudah membuat Diftha patah hati dengan tak membalas cintanya," tukas Mom Yumi lagi.
"Dan sekarang, perasaan bersalah Reina pada Diftha seolah terus menghantui..." suara Reina tercekat di tenggorokan.
"Lalu kau mau bagaimana sekarang? Mau membalas perasaan Diftha padamu agar pria itu tak jadi kecewa dan patah hati?" Cecar Mom Yumi yang langsung membuat Reina menggeleng dengan kuat.
"Reina adalah istri Angga sekarang, Mom!".
"Itu kamu tahu! Kamu sadar! Lalu kenapa kamu masih sibuk memikirkan tentang perasaan pria lain saat kamu baru saja sah menjadi istri dari Angga, Reina!" Mom Yumi sudah merengkuh kedua pundak sang putri.
"Sekarang begini, jika Diftha saja berani datang kesini, memberikan ucapan selamat pada kau dan juga Angga, itu artinya Diftha sudah membuang jauh perasaannya padamu, Reina!"
"Jadi tidak seharusnya kau malah mengkhawatirkan tentang perasaan Diftha. Mengkhawatirkan apa pria itu sakit hati, apa pria itu galau juga!" Mom Yumi menggeleng-geleng dan sepertinya tak habis pikir.
"Itu benar-benar tidak perlu, Reina!"
"Kau adalah istri Angga, jadi fokus saja pada hubunganmu bersama Angga!"
"Pikirkan saja bagaimana perasaan Angga,misalkan dia tahu kau masih memikirkan pria lain, saat kau sudah berstatus ssbagai istri sah Angga!"
"Pikirkan itu, Reina!" Mom Yumi mengulang-ulang kalimatnya, seolah sedang menyadarkan Reina yang dilanda kegalauan luar biasa.
"Angga pasti sakit hati, Mom," ucap Reina yang akhirnya buka suara.
"Itu kamu tahu!"
"Mau membuat Angga sakit hati dan terus-terusan curiga padamu?" Tanya Mom Yumi yang langsung membuat Reina menggeleng.
"Mau menjalani rumah tangga yang dipenuhi dengan pertengkaran dan rasa curiga?" Cecar Mom Yumi lagi dan Reina kembali menggeleng.
"Fokus pada rumah tanggamu bersama Angga kalau begitu!"
"Minta maaf pada Angga kalau perlu karena sikapmu yang mengecewakan sepanjang acara tadi!" Nasehat Mom Yumi panjang lebar masih sambil merengkuh kedua pundak sang putri.
__ADS_1
"Kau mendengar Mom, Reina?"
"Iya, Mom!" Jawab Reina cepat sembari mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Mom Yumi.
"Mom tahu, kalau kau sedikit kecewa pada sikap workaholic Angga, Reina!" Ujar Mom Yumi lagi yang langsung membuat Reina menggeleng.
"Reina sudah memakluminya, Mom!"
"Toh, menikah dengan Angga adalah pilihan hati Reina," cicit Reina seraya menatap bersungguh-sungguh pada Mom Yumi.
"Tak pernah ada paksaan dari Mom, Dad, atau dari keluarga Angga."
"Reina menikah dengan Angga adalah pilihan Reina sendiri karena Reina memang mencintai Angga, Mom!"
"Jadi Reina harus menerima apapun kekurangan Angga," tutur Reina panjang lebar dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Mom Yumi langsung menatap bangga pada putrinya tersebut.
"Mom senang jika akhirnya kau bisa bersikap sebijak ini, Rei!" Ujar Mom Yumi seraya meraup Reina ke dalam pelukannya .
"Semoga kau dan Angga senantiasa diberikan kebahagiaan ke depannya, ya!" Ucap Mom Yumi lagi yang sekarang sudah ganti menyeka butir bening di sudut mata Reina.
"Iya, Mom!"
"Aamiin!" Reina kembali menghambur ke pelukan Mom Yumi, sembari melepaskan segala beban yang sejak kemarin mengganjal di dadanya.
Beban tentang bagaimana perasaan Diftha, yang seharusnya tak Reina pikirkan....
"Ehem!" Deheman dari Angga langsung membuat Reina cepat-cepat menyeka air matanya yang kembali menggenang.
"Masih lama yang manja-manjaan pada Mom?" Tanya Angga yang langsung membuat Mom Yumi terkekeh dan melepaskan pelukannya pada sang putri.
"Sudah selesai, Angga!"
"Reina sudah siap berdansa bersamamu," tukas Mom Yumi seraya menyatukan tangan Reina dan Angga. Wanita paruh baya itu lalu beringsut mundur dan membiarkan Angga membawa Reina ke tengah-tengah ruangan untuk memulai dansa pertama mereka sebagai pasangan suami istri.
"Kau akan mengajakku berdebat lagi?" Tanya Reina saat Angga sudah melingkarkan satu tangannya di pinggang Reina. Sedangkan tangan Angga yang satunya, menggenggam erat tangan Reina.
"Sebenarnya, aku sudah menguping curhatanmu pada Mom tadi," jawab Angga membuat pengakuan. Reina sontak tertegun dan wanita itu langsung menatap penuh bersalah pada Angga.
"Angga, aku berjanji kalau aku akan membuang jauh kekhawatiranku tadi," ucap Reina bersungguh-sungguh.
"Ya, memang sudah seharusnya begitu, karena kau adalah istriku, Reina!"
"Kau hanya boleh memikirkan aku dan semua hal tentang diriku-"
"Ck!" Reina langsung berdecak dan memukul kecil dada Angga, sebelum kemudian wanita itu kembali melingkarkan kedua lengannya di leher Angga.
"Kau juga hanya boleh memikirkan aku kalau begitu dan berhentilah selingkuh bersama laptopmu!" Ujar Reina kemudian menuntut Angga yang sontak tergelak.
"Nanti kalau aku tak selingkuh bersama laptopku, pekerjaanku akan berantakan, lalu aku tak akan punya uang untuk membelikanmu makanan, pakaian, bedak, lipstik...." Angga mencolek hidung Reina dengan gemas. Wajah Reina langsung bersemu merah.
"Jadi, kau akan tetap selingkuh dengan laptop jelekmu itu?" Tanya Reina memastikan.
"Hanya saat di kantor."
"Aku janji," jawab Angga bersungguh-sungguh.
"Karena nanti saat di rumah, ada yang lebih menggiurkan...." Angga mendekatkan wajahnya ke wajah Reina, lalu sedikit memiringkan kepalanya, sebelum kemudian pria itu menyatukan bibirnya dengan bibir Reina.
"I love you!" Bisik Angga mesra.
"I love you too, Suamiku!"
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.