Segitiga Cinta Reina

Segitiga Cinta Reina
SELINGKUHAN


__ADS_3

"Halo, Aunty!" Sambut Reina setelah mengangkat telepon dari Aunty Audrey. Acara pertunangan Reina dan Angga rencananya memang akan memakai wedding organizer milik adik ipar dari Aunty Thalita tersebut.


"Kau dimana? Aunty mau mengajakmu ke butik untuk fitting gaun pertunangan."


"Hah?" Reina meraih kalender duduk di atas meja untuk melihat sekarang hari apa.


"Ya ampun! Besok sudah Sabtu," gumam Reina yang bahkan tidak menyadari jika besok dirinya dan Angga sudah bertunangan.


Dan Reina masih belum memberitahu Diftha perihal hubungannya dengan Angga. Reina masih menggantung ungkapan cinta Diftha tempo hari.


"Reina! Kau masih di sana?"


"I-iya Aunty!" Jawab Reina tergagap.


"Jadi, kau sudah cuti-"


"Reina masih di kantor, Aunty!" Jawab Reina seraya meringis.


"Masih belum cuti? Mentang-mentang satu kantor dengan Angga, ya?"


Terdengar kekehan dari Aunty Audrey di ujung telepon.


"Lalu kapan kau bisa datang ke butik untuk fitting gaun, Rei? Acaranya besok malam."


"Iya, Aunty! Mungkin nanti setelah makan siang," jawab Reina bersamaan dengan pintu ruangannya yang diketuk dari luar. Sesaat kemudian pibtu sedikit terbuka dan Diftha sudah menampakkan wajah serta senyum manisnya.


"Kalau bisa Angga sekalian kamu ajak ke butik, ya!"


"Iya, Aunty! Nanti Reina akan mengajaknya," jawab Reina sembari memberikan kode pada Diftha agar masuk dan duduk.


"Baiklah, Aunty tunggu di butik setelah makan siang. Bye!"


"Bye, Aunty!" Pungkas Reina sembari menutup telepon. Setelah meletakkan ponselnya ke atas meja, Reina cepat-cepat membungkus rapat lagi undangan yang tadi sempat ia buka sedikit.


"Itu apa?" Tanya Diftha penasaran.


"Undangan." Jawab Reina.


"Undangan pertunangan Angga?" Tanya Diftha lagi.


"B-bukan!" Jawab Reina berdusta.


"Iya bukan," ucap Reina sekali lagi. Gadis itu segera menyimpan tumpukan undangan tadi ke bawah meja sebelum lanjut bicara pada Diftha.


"Aku membawakanmu kopi," ujar Diftha sembari menyodorkan segelas kopi dari salah satu gerai kopi ternama.


"Tumben tidak membuat sendiri di pantry?" Tanya Reina sembari menyesap kopi yang dibawakan oleh Diftha.


"Takutnya kamu bosan minum kopi buatanku setiap hari," jawab Diftha seraya terkekeh.


"Kopi buatanmu enak, Dift! Jadi aku tidak akan bosan," tukas Reina yang sudah ganti memainkan jarinya di atas penutup gelas kopi.


Reina sebenarnya ingin berkata jujur pada Diftha, soal pertunangannya dengan Angga besok. Tapi Reina masih bingung ia harus mulai dari mana.


"Ngomong-ngomong, kau kesini mau menagih-"


"Bukan!" Kilah Diftha cepat seraya bangkit dari duduknya.


"Tidak usah buru-buru kalau memang kau belum punya jawaban, Rei!" Ujar Diftha lagi yang wajahnya terlihat santai.


Reina hanya mengangguk samar dan gadis itu memaksa untuk mengulas senyum.


"Aku kesini hanya mengantar kopi dan menyampaikan salam dari Gizta," ujar Diftha lagi yang langsung membuat Reina diam sejenak. Pikiran Reina mendadak melayang ke percakapannya bersama Diftha waktu itu...


"Semoga keinginan Gizta juga lekas terwujud."


"Apa keinginan Gizta?" Tanya Reina menatap penasaran pada Diftha.


"Punya seorang kakak perempuan," jawab Diftha.


"Kakak ipar perempuan maksudnya? Kau yang harus mengusahakannya kalau begitu!" Ujar Reina seraya menepuk punggung Diftha.

__ADS_1


"Iya ini aku juga sedang berusaha," jawab Diftha lagi sembari terkekeh.


"Aku sedang berusaha mendekatinya," imbuh Diftha lagi.


Sedang berusaha mendekatinya!


Kenapa Reina bisa tudak peka denagn semua kode yang Diftha berikan di awal?


Semua perhatian dan sikap manis Diftha....


"Rei! Kenapa melamun?" Teguran Diftha langsung menyentak lamunan Reina.


"Tidak!"


"Aku tidak melamun," kilah Reina cepat.


"Jadi, apa kau ada rencana untuk menemui Gizta?" Tanya Diftha selanjutnya.


"Tapi aku sungguh tak memaksa dan aku hanya sekedar bertanya," sambung Diftha cepat agar Reina tak salah sangka.


"Ya, aku juga kangen pada Gizta. Tapi aku belum ada waktu luang," ujar Reina tak enak hati.


"Tidak apa-apa! Tidak usah memaksakan diri!" Tukas Diftha santai.


"Aku tahu kalah pekerjaanmu juga banyak," ujar Diftha lagi.


"Tapi aku pasti menemui Gizta jika nanti aku ada waktu, Dift!" Janji Reina akhirnya pada Diftha yang langsung mengangguk.


"Nanti aku sampaikan pada Gizta." Diftha sudah bangkit dari duduknya.


"Aku akan kembali ke atas sebelum bos mencariku," ujar Diftha lagi sembari terkekeh. Reina memaksa untuk ikut tertawa bersama Diftha.


"Nanti mau makan siang-"


"Aku ada janji dengan seseorang," sela Reina yang langsung menolak.


"Baiklah! Aku paham." Diftha manggut-manggut lalu pria itu meraih knop pintu ruangan Reina dan menggesernya ke samping.


"Ya! Terima kasih kopinya!" Jawab Reina sebelum gadis itu kembali menyesap kopi pemberian Diftha. Tatapan mata Reina saat itu juga tertumbuk ke ponselnya di atas meja. Segera Reina meraihnya dan menghubungi Angga.


****


"Halo. Ada apa, Rei?" Sambut Angga setelab panggilan dari Reina masuk ke ponselnya.


"Kau ada acara setelah makan siang?"


"Tidak ada!" Jawab Angga sembari memperhatikan angka yang tertera di atas pintu lift. Saat ini Angga memang hebdak turun ke bawah atau lebih tepatnya ke ruangan Reina. Tapi kekasih Angga itu malah sudah meneleponnya.


"Aunty Audrey meminta kita datang ke butik untuk fitting baju pertunangan."


"Kau atau aku?" Tanya Angga memastikan.


"Kita berdua, Angga! Baju untuk kita berdua. Yang bertunangan kita!"


"Iya, aku tahu! Aku hanya memastikan," sergah Angga karena nada bicara Reina yang mendadak terdengar meninggi.


Lift sudah tiba di lantai tempat ruangan Reina berada. Angga segera keluar dari lift dan saat baru berjalan beberapa langkah, Angga malah berpapasan dengan Diftha. Segera Angga menghentikan langkah sekretarisnya tersebut.


"Diftha, kau darimana?" Tanya Angga penuh selidik.


"Mengantar kopi, Pak!" Jawab Diftha sedikit tergagap.


"Oh! Aku mengirim file tadi ke email-mu! Segera kerjakan, ya!" Pesan Angga sebelum pria itu melanjutkan langkahnya sekaligus pembicaraannya pada Reina di telepon.


"Siap, Pak!" Jawab Diftha bersamaan dengan Angga yang sudah berlalu pergi.


"Jadi fittingnya kapan, Rei?" Tanya Angga sekali lagi pada Reina.


"Setelah makan siang, Angga!!" Suara Reina terdengar geregetan.


"Sekarang sudah jam setengah sebelas. Jadi dua jam lagi!"

__ADS_1


"Ingat itu dan jangan sibuk dengan selingkuhanmu terus!"


"Besok kita sudah bertunangan!"


"Selingkuhan?" Angga terkekeh dan pria itu sudah sampai di depan ruangan Reina sekarang.


"Laptopmu! Itu kan selingkuhanmu!"


Angga masih terkekeh, lalu pria itu membuka pelan pintu ruangan Reina. Terlihat Reina yang sedang menatap keluar jendela sembari meletakkan ponsel di telinganya.


"Kau cemburu pada laptopku?" Tanya Angga lagi yang sudah berhasil menyelinap masuk ke dalam ruang kerja Reina. Angga melangkah dengan mengendap-endap ke belakang Reina dan berniat mengejutkan kekasihnya tersebut.


"Ya! Aku cemburu pada laptopmu! Dan aku yakin kalau sekarang kau pasti sedang memandanginya-"


"Tidak! Aku sedang memandangi seorang gadis paling cantik yang sedang mengomel sekarang." Ucap Angga memotong kalimat Reina.


Reina seketika langsung terdiam. Gadis itu lalu menurunkan ponsel dari telinganya dan berbalik dengan cepat.


"Baaa!" Angga mengejutkan Reina dan langsung tergelak dengan ekspresi terkejut Reina.


"Kaget, ya?" Kekeh Angga yang kini sudah merengkuh kedua pundak Reina.


"Kapan kamu masuk?" Tanya Reina bingung.


"Kok aku bisa tidak tahu?" Cecar Reina lagi sebelum Angga sempat menjawab.


"Kau sibuk mengomel tadi!" Angga mencolek gemas hidung Reina, lalu meraup kekasihnya itu ke dalam pelukan.


"Fittingnya masih nanti setelah makan siang," tukas Reina yang masih bersembunyi di dalam dekapan Angga. Kedua tangan Reina melingkar erat di dada Angga seolah Reina sedang meyakinkan dirinya sendiri kalau ia sudah jadi milik Angga. Jadi Reina tak boleh memberikan harapan pada Diftha!


Reina harus secepatnya berkata jujur pada Diftha!


"Kenapa fittingnya tidak sekarang saja? Mumpung aku senggang," tanya Angga memberikan usulan.


"Memangnya kau ada acara setelah makan siang?" Reina sudah mengangkat kepalanya dari pelukan Angga, lalu gadis iti sedikit mendongakkan wajahnya dan menatap kedua netra Angga.


"Tidak juga!" Angga mengendikkan kedua bahunya.


"Iya atau tidak?" Reina memicing ragu.


"Tidak, Rei! Aku akan pergi ke butik bersamamu nanti untuk fitting baju pertunangan kita!"


"Tadi Mama juga sudah mengirimkan pesan padaku," jawab Angga tegas.


"Tidak selingkuh dengan laptopmu, kan?" Reina memastikan sekali lagi seraya bersedekap.


"Papa sudah mengambil alih selingkuhanku sampai besok!" Ujar Angga yang kembali merengkuh kedua pundak Reina. Pria itu juga terkekeh seolah sedang bicara hal lucu.


"Aku akan menghubungi Aunty Audrey kalau begitu. Barangkali fittingnya bisa dimajukan," Reina segera meraih ponselnya dan menghubungi Aunty Audrey. Sementara Angga memilih untuk duduk di kursi kerja Reina dan meraih gelas kopi yang tadi dibawakan Diftha.


"Kau beli kopi tadi? Kenapa aku tidak dibelikan?" Tanya Angga sedikit protes.


"Anak-anak yang membelikan," jawab Reina berdusta sebelum gadis itu fokus bicara pada Aunty Audrey.


"Berarti tidak apa-apa kalau Reina dan Angga ke butik sekarang, Aunty?" Tanya Reina memastikan lagi.


"Iya tidak apa-apa, Rei! Ini Aunty sudah di butik. Aunty akan menelepon Alice juga agar datang sekarang."


"Baiklah! Reina berangkat sekarang, Aunty! Sampai jumpa di sana!" Pungkas Reuna sembari menutup telepon. Gadis itu lalu meraih tasnya, melesakkan ponsel ke dalam tas, dan segera menarik tangan Angga agar kembali bangkit berdiri.


"Ayo fitting sekarang!" Ajak Reina penuh semangat.


"Undangan untuk karyawan sudah kau bagikan?" Tanya Angga memastikan saat pasangan kekasih itu keluar dari ruang kerja Reina.


"Sudah!" Jawab Reina cepat dan berdusta. Pasangan kekasih itu langsung menuju ke parkiran basement dan meninggalkan kantor.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2