
"Abang Iel jadi pulang hari ini, Mom?" Tanya Reina pada Mom Yumi yang sedang mengawasi pemasangan dekorasi untuk acara nanti malam. Reina sendiri yang meminta agar acaranya digelar di rumah saja alih-alih di gedung atau di Resto milik keluarganya.
Ya, Reina ingin bertunangan dan menikah di rumah kedua orang tuanya saja karena disinilah Reina menghabiskan dua puluh lima tahun hidupnya sejak lahir hingga detik ini. Banyak momen dan kenangan indah Reina di rumah besar ini.
"Iya jadi. Tapi mungkin siang atau sore. Ponselnya tidak bisa dihubungi," ujar Mom Yumi.
"Angga semalam pulang atau-" Pertanyaan Mom Yumi belum selesai saat wanita paruh baya itu melihat Angga yang sudah turun dari lantai dua dan berpenampilan rapi, seperti hendak pergi.
Kini pertanyaan Mom Yumi sudah menemukan jawaban.
"Angga tidur di kamar Abang Iel, Mom!" Ujar Reina meyakinkan sang Mom yang sudah menatapnya penuh curiga. Meskipun yang sebenarnya terjadi, Angga baru masuk ke kamar Iel lewat tengah malam tadi malam.
"Kau harus tahu batasanmu, Rei!" Nasehat Mom Yumi serius.
"Iya, Reina tahu, Mom! Kami belum melakukannya hingga detik ini. Kami masih berpacaran dalam tahap wajar!" Sergah Reina mencari pembenaran.
"Ini wajar?" Mom Yumi menunjuk ke dada Reina yang terdapat bekas coklat kemerahan. Segera Reina meringis sembari membenarkan kerah blouse-nya agar tanda yang disematkan Angga semalam itu tak terlihat.
"Mom curiga-"
"Reina dan Angga belum berbuat sejauh itu, Mom!" Sergah Reina cepat memotong kalimat Mom Yumi. Wanita paruh baya itu terlihat menghela nafas dan mengingat bagaimana kelakuannya dulu bersama Dad Liam di kost. Sebelas dua belas dengan kelakuan Reina dan Angga saat ini.
Apa memang buah selalu jatuh tak jauh dari pohonnya?
"Semoga pernikahanmu dan Angga bisa dipercepat saja nanti, ketimbang kalian malah kebablasan!" Tukas Mom Yumi sebelum akhirnya mom kandung Reina itu berlalu pergi. Reina hanya meringis, lalu gadis itu segera menghampiri Angga yang sepertinya hendak pergi.
Tapi bukankah Angga sudah janji kalau ia tidak ke kantor hari ini?
"Angga!"
"Mau kemana?" Tanya Reina to the point.
Angga tak langsung menjawab dan pria itu malah sibuk mengamati kerah blouse Reina, lalu membenarkannya sedikit.
"Kenapa tidak pakai concealer?" Tanya Angga setelah memastikan bekas perbuatannya semalam tidak terlihat lagi.
"Kan sudah tertutup kerah," jawab Reina beralasan.
"Ck!" Angga berdecak kecil.
"Jadi, kau mau kemana?" Reina mengulangi pertanyaannya.
"Ke kantor sebentar," jawab Angga sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal karena raut wajah Reina yang kini sudah berubah.
"Angga, kau sudah janji-"
"Hanya sebentar, Rei! Aku hanya mengambil file yang tertinggal," sergah Angga cepat beralasan.
"Minta saja pada supir untuk mengambilkan!" Reina memberikan solusi.
"File-nya ada di dalam laptop dan aku juga belum memberikannya pada Diftha." Angga seolah tak kehabisan alasan.
"Aku janji hanya mengambil file, lalu aku akan kembali kesini lagi," ujar Angga lagi yang langsung membuat Reina bersedekap.
"Paling lama hanya satu jam," janji Angga sekali lagi.
"Kau tidak pulang ke rumah mama?" Tanya Reina bersamaan dengan ponsel Angga yang berdering.
"Panjang umur!" Gumam Angga sembari menunjukkan layar ponselnya pada Reina. Ada nama Mama Sita di layar ponsel tersebut.
"Halo, Ma!" Sambut Angga sembari menyalakan loudspeaker agar Reina bisa ikut mendengar obrolannya bersama Mama Sita.
"Kau masih di apartemen? Kapan pulang?"
Reina refleks menatap penuh tanya pada Angga karena Mama Sita menyebut apartemen.
__ADS_1
Maksudnya, Angga izin pada Mama sita kalau semalam ia menginap di apartemen dan bukan di rumah Reina? Dasar Angga!
"Ssttt!" Angga menberikan kode pada Reina agar tak lapor pada Mama Sita. Reina hanya mencubit kecil pinggang Angga.
"Nanti agak siang Angga pulang, Ma! Angga mau ke kantor dulu," ujar Angga menjawab pertanyaan sang mama.
"Ke kantor lagi? Bukankah papa sudah mengambil alih semuanya, Angga? Papa saja ke kantor pagi-pagi tadi!"
"Angga hanya ingin mengambil file yang ketinggalan, Ma! Lalu Angga akan pulang!'
"Angga janji!" Jelas Angga mencoba memberikan pengertian pada sang mama.
"Baiklah! Tapi cepat pulang dan jangan lama-lama di kantor! Ada hal penting yang ingin mama jelaskan padamu!"
"Iya, Ma! Nanti Angga akan cepat pulang," janji Angga sebelum pria itu mengakhiri teleponnya pada Mama Sita.
"Mama menyuruhku pulang," ucap Angga selanjutnya seraya merapikan rambut Reina
"Yasudah, pulang sana!"
"Toh nanti malam kau juga kesini lagi," ujar Reina sembari bersedekap dan memunggungi Angga.
"Ngomong-ngomong, kenapa nanti malam kita tidak langsung menikah saja?" Bisik Angga yang sudah merangkul dan mendekap Reina.
"Abang Iel tidak mau dilangkahi. Apa kau masih harus bertanya?" Jawab Reina dengan nada suara yang meninggi.
"Iya!"
"Semoga Abang Iel segera bertemu jodohnya agar kita juga segera bisa menikah," ujar Angga penuh harap.
"Rossie bagaimana? Kau tahu progress hubungan Abang Iel dan Rossie?" Tanya Reina yang ganti menyelidik.
Karena yang Reina tahu Abang Iel hanya tergila-gila pada Rossie, jadi sepertinya mustahil abang Iel akan mencari jodoh selain Rossie. Semoga Keano mau sedikit pengertian dan mengalah pada Abang Iel!
"Rossie tidak pernah cerita tentang hubungannya bersama Iel ataupun Keano," jawab Angga seraya mengendikkan bahu.
"Kami jarang bertemu belakangan ini," ujar Angga beralasan.
"Tentu saja!"
"Kau super sibuk! Meeting-lah, bertemu klien, mengurus proyek-"
"Membujuk kau yang sedang ngambek," Angga memotong dan melanjutkan kalimat Reina. Gadis di depan Angga itu langsung merengut.
"Tadi katanya mau pergi," tukas Reina mengingatkan Angga.
"Iya! Kau ngambek kalau aku pergi?" Tanya Angga memastikan.
"Tidak!" Jawab Reina cepat dan sedikit menyalak.
"Aku tidak ngambek karena aku juga mau pergi," ujar Reina lagi sembari berbalik dan hendak meninggalkan Angga.
"Mau kemana?" Tanya Angga pada Reina yang terus bergerak menjauhinya.
"Belum aku pikirkan!" Reina mengendikkan kedua bahunya, sebelum gadis itu menuju ke arah tangga, lalu naik dengan cepat dan meninggalkan Angga yang hanya tertawa kecil.
Angga lalu berpamitan pada Mom Yumi dan pergi dari kediaman Halley.
****
"Terima kasih, Pak!" Ucap Diftha pada kurir yang mengantar kopi pesanannya. Diftha menyusuri koridor kantor sembari tersenyum dan membayangkan wajah Reina saat nanti gadis itu menerima kopi yang ia belikan.
Diftha masih senyum-senyum sendiri saat dirinya berada di lift yang akan mengantarnya ke lantai tempat ruangan Reina berada. Diftha benar-benar tak sabar untuk segera bertemu dengan Reina.
"Jadi kemarin itu si Linda, anak divisi pemasaran, tidak sengaja melihat undangan pertunangan Pak Angga yang berada di atas meja pak kepala."
__ADS_1
Diftha menghentikan langkahnya sejenak saat obrolan dari segerombolan karyawan yang lagi-lagi membahas tentang pertunangan Angga, mampir di telinganya.
"Lalu Linda membuka undangan itu?" Tebak salah seorang karyawan.
"Tidak! Linda katanya hanya melihat undangan itu dan membaca nama calon tunangan Pak Angga!" Jelas karyawan yang lain.
"Dan kata Linda, calon tunangan Pak Angga itu adalah Bu Reina!"
"Serius?" Semua karyawan kompak berteriak. Pun dengan Diftha yang tentu saja langsung kaget dengan ucapan salah satu karyawan tadi.
"Iya!"
"Kata Linda, selain nama Angga dan Reina yang tercetak jelas di undangan, ada foto mesra Pak Angga dan Bu Reina juga yang ala-ala prewedding begitu."
"Duh! Beruntungnya Bu Reina bisa menjadi tunangan dan calon istri Pak Angga!" Celetuk seorang karyawan dengan mimik muka yang lebay.
"Pantas saja Pak Angga bolak-balik ke ruangan Bu Reina seminggu kemarin. Ternyata..."
"Tapi kabarnya Bu Reina itu cucu dari pemilik Halley Development, ya! Jadi mungkin itu juga alasan Pak Angga dan Bu Reina bertunangan. Mereka berdua sama-sama dari keluarga konglomerat!"
Kalimat demi kalimat yang Diftha dengar dari para karyawan yang sibuk membicarakan Angga dan Reina, mendadak terasa seperti tikaman belati di hati Diftha.
"Faranisa Reina H."
"Kau selalu menyingkat nama belakangmu," tanya Diftha penasaran karena Reina yang tak pernah menuliskan nama belakangnya dengan lengkap.
"Itu hanya nama keluarga jadi tak perlu di tulis lengkap!" Jawab Reina enteng.
"Uncle Robert papanya Angga."
"Dan kau memanggilnya Uncle?"
"Uncle Robert adalah sahabat Dad! Jadi aku terbiasa memanggilnya Uncle,"
"Angga tidak akan marah! Aku sudah biasa memakai toilet yang di dalam ruangannya."
"Jadi fittingnya kapan, Rei?"
Ingatan Diftha melayang ke semua kalimat yang pernah dilontarkan oleh Reina perihal Angga. Dan terakhir saat Diftha tak sengaja mendengar pertanyaan Angga pada seseorang di telepon perihal fitting baju. Diftha kala itu mengira kalau ia salah dengar saat Angga memanggil Rei.
Diftha tak membuang waktu dan pria itu langsung bergegas menuju ke lantai atas. Ruangan Angga adalah tujuan Diftha sekarang, lalu bingkai foto di meja Angga.....
Ting!
Diftha mengerjap beberapa kali sebelum pria itu melesat keluar dari lift, meletakkan kopi di tangannya dengan asal ke atas meja, lalu bergegas masuk ke ruang kerja Angga.
Diftha sedikit memperlambat langkahnya, saat kedua netranya menatap ke bingkai foto yang masih di posisi membelakangi pintu masuk. Tangan Diftha sedikit gemetar saat ia meraih bingkai foto tersebut.
"Itu foto siapa? Pak Angga baru memasangnya tadi pagi."
"Foto Angga dan tunangannya!"
"Nanti aku kirim undangan untukmu agar kau bisa datang."
Diftha memejamkan matanya saat mengingat kalimat demi kalimat Reina sebelum mereka pergi reuni dan sebelum Diftha mengungkapkan perasaannya pada gadis itu. Diftha menghela nafas sejenak lalu tangannya bergerak untuk membalik bingkai foto yang tadi ia ambil dari atas meja kerja Angga.
Diftha sejenak tertegun saat kedua matanya melihat dua wajah familiar yang sedang berpose mesra di dalam foto.
Ya, itu adalah foto Angga bersama Reina!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.