Segitiga Cinta Reina

Segitiga Cinta Reina
MOVE ON


__ADS_3

Diftha menatap dari kejauhan pada Reina dan Angga yang kini tengah berdansa dengan mesra. Beberapa tamu undangan yang hadir juga sudah ikut berdansa, mengikuti aluna musik yang mendayu merdu. Diftha membuang nafas kasar sekali lagi.


Ya ya ya!


Setidaknya Reina dan Angga sudah bahagia sekarang. Jadi Diftha sebaiknya juga cepat-cepat move on.


"Ngantuk, ya?" Celetukan seorang pria langsung membuyarkan lamunan Diftha.


Diftha kemudian menoleh ke arah pria yang kini bersimpuh di samping kursi roda Gizta.


"Kau sekretarisnya Angga, kan?" Tanya pria itu sembari membuka kacamata hitamnya dan menatap pada Diftha.


Ya, Diftha sebenarnya sudah bisa mengenali abang dari Reina tersebut.


"Iya, Pak!" Jawab Diftha seraya mengangguk.


"Apa Angga punya selingkuhan?" Tanya Fairel lagi sedikit berbisik pada Diftha yang langsung garuk-garuk kepala. Random sekali pertanyaan dari abang Reina ini!


"Saya rasa tidak ada, Pak! Karena yang sering ke ruangan Pak Angga hanya Bu Reina saja," jawab Diftha jujur. Fairel langsung mengangguk-angguk.


"Bagus! Karena aku yang akan me ggajar pria itu, jika dia berani selingkuh di belakang Reina," ucap Fairel sedikit berbisik pada Diftha, sebelum pria itu kembali bersimpuh dan berpamitan pada Gizta.


"Bye, Bidadari cantik!"


"Kau benar-benar cantik, ya?" Puji Fairel seraya mengusap kepala Gizta.


"Eh!"


"Tidak apa aku mengusap kepalanya begini, kan?" Tanya Fairel pada Diftha untuk memastikan.


"Tidak apa, Pak Fairel! Gizta suka diusap-usap kepalanya," tukas Diftha sembari tersenyum ramah.

__ADS_1


"Baiklah. Bye, Bidadari cantik!" Pamit Fairel sekali lagi pada Gizta yang hanya menjawab dengan senyuman. Fairel kemudian pergi berlalu meninggalkan Diftha dan juga Gizta.


"Mau pulang sekarang?" Tanya Diftha sembari bersimpuh di depan Gizta.


"Ngan-"


"Tuk!" Jawab Gizta.


"Baiklah! Kita pulang sekarang saja. Abang juga masih harus berkemas untuk besok," tukas Diftha yang benar-benar sudah membulatkan tekadnya untuk pindah ke kantor cabang.


Papa Robert juga sudah setuju, dan sekretaris pengganti untuk Angga juga sudah ada!


"Ayo berpamitan!" Ajak Diftha kemudian seraya mendorong kursi roda Gizta ke arah Papa Robert dan Mama Sita. Tak lupa, Diftha juga pamit pada Mom Yumi dan Dad Liam, lalu pada Angga dan Reina juga.


Ya, mungkin ini akan menjadi perjumpaan Diftha yang terakhir juga pada pasangan pengantin baru tersebut. Esok Diftha sudah terbang ke kota lain dan meninggalkan kota ini!


****


Reina keluar dari kamar mandi, sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk, saat tatapan aneh Angga sudah menyambutnya.


"Rambutku lengket terkena hairspray tadi. Jadi harus secepatnya dicuci agar tak rusak," tukas Reina beralasan. Wanita itu sudah duduk di depan meja rias sekarang, lalu mengambil hairdryer dari dalam laci.


Angga yang tadi duduk di atas tempat tidur, sudah bangkit berdiri dan menghampiri Reina.


"Kau lapar tidak?" Tanya Angga sembari mengambil alih hairdryer daei tangan Reina. Angga lalu menyalakan alat pengering rambut tersebut, dan mulai mengarahkan moncongnya ke rambut Reina.


"Aku sudah makan tadi.


"Kau belum makan memangnya?" Tanya Reina sembari menatap pada Angga melalui cermin di hadapannya.


"Tadi aku hanya makan sedikit setelah acara dan sekarang aku malah lapar," ujar Angga seraya terkekeh.

__ADS_1


"Dasar!" Reina berdecak.


"Mau aku ambilkan makan, atau mau makan di bawah?" Tawar Reina kemudian.


"Mau makan di luar," jawab Angga cepat.


"Sudah lewat tengah malam!" Sergah Reina seraya menunjukkan jam di ponselnya pada Angga.


"Lalu apa masalahnya? Kan sudah sah!" Ujar Angga santai seraya mematikan hairdryer di tangannya, lalu meletakkan benda tersebut ke atas meja rias.


"Mentang-mentang!" Cibir Reina pada Angga yang sudah ganti mendekapnya dari belakang. Pria itu juga sudah menyusupkan kepalanya di ceruk leher Reina.


"Ayo keluar sebentar!"


"Pinjam motornya Abang Iel," ajak Angga sembari menciumi leher dan tengkuk Reina hingga membuat wanita itu menggeliat.


"Nanti pulang lagi?" Tanya Reina sambil terus menggeliat karena ciuman Angga yang semakin tidak terkendali.


"Pulang besok pagi," bisik Angga seraya menggigit kecil telinga Reina. Terang saja, yang dilakukan Angga tersebut sukses membuat Reina menggelinjang.


"Ayo!" Ajak Angga sekali lagi yang akhirnya melepaskan dekapannya pada Reina yang sebenarnya sudah mulai bergairah.


Dasar Angga!


Reina akhirnya hanya menarik nafas panjang, lalu wanita itu bangkit dan mengganti piyamanya dengan celana jeans serta sebuah kaus longgar. Tak lupa Reina juga menyambar hoodie dari dalam lemari, sebelum kemudian ia dan Angga keluar dari kamar, lalu pergi ke garasi untuk mengambil motor Abang Fairel yang jarang sekali dipakai.


Suara bising dari knalpot motor Abang Fairel langsung menggema dan merobek kesunyian malam. Angga dan Reina tergelak bersama, sebelum akhirnya motor melaju meninggalkan kediaman Halley.


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2