Segitiga Cinta Reina

Segitiga Cinta Reina
PERHATIAN DIFTHA


__ADS_3

Angga membaringkan tubuh Reina dengan hati-hati ke atas tempat tidur, lalu pria itu meraih ujung selimut dan hendak menariknya ke atas. Namun alangkah terkejutnya Angga, saat ia mendapati Reina yang sudah membuka matanya.


Jadi, apa gadis ini tadi hanya pura-pura tidur?


"Terima kasih karena sudah menggendongku," ucap Reina seraya tersenyum pada Angga yang hanya mengangguk.


"Aku pikir kau tadi sudah tidur-" Angga tak melanjutkan kalimatnya, saat tiba-tiba ciuman Reina sudah mendarat di pipinya.


"Kalimatmu kemarin soal menjaga jarak hanya gurauan, kan?" Ujar Reina seolah sedang memastikan.


"Kita sebaiknya memang menjaga jarak, Rei!" Jawab Angga tegas yang langsung membuat raut wajah Reina berubah.


"Tapi kita akan bertunangan dua minggu lagi!" Sergah Reina mengingatkan Angga yang tampak terkejut.


"Apa?" Angga bergumam tak terlalu jelas.


"Kita akan bertunangan dua minggu lagi! Memang Aunty Sita belum memberitahumu?" Tanya Reina heran dan tatapan mata Angga malah seperti orang linglung sekarang.


Aneh!


"Mama tidak memberitahuku," jawab Angga yang tetap terdengar seperti gumaman.


"Tapi bukankah Iel-"


"Hanya bertunangan dan kita belum menikah!" Sela Reina cepat.


"Kau terlihat kaget dan tidak senang," ujar Reina lagi menerka-nerka.


"Bukan seperti itu! Tentu saja aku senang, Rei!" Kilah Angga seraya menatap lekat pada Reina yang langsung menggelengkan kepala.


"Ekspresi wajahmu mengatakan sebaliknya!"


"Reina-"


"Mungkin sebaiknya kita memang tidak usah bertunangan atau menikah!" Reina sudah kembali berbaring, namun wanita itu memunggungi Angga dan menarik selimut hingga ke wajahnya.


Angga baru saja mengulurkan tangan dan hendak mengusap punggung Reina, saat sudah terdengat deheman dari Dad Liam.


"Eheeeeem!"


"Angga, kau tadi mengatakan, kalau kau hanya akan membaringkan Reina dan tidak macam-macam!"


"Lalu kenapa kau di kamar Reina hampir dua puluh menit lamanya? Mau cosplay jadi security?" Omel Dad Liam panjang lebar yang langsung membuat Angga meringis. Angga tak jadi mengusap punggung Reina dan pria itu akhirnya berbalik, lalu keluar dari kamar Reina.

__ADS_1


"Uncle tahu kalian akan bertunangan dua minggu lagi. Tapi itu bukan alasan kau bisa menginap disini malam ini," desis Dad Liam pada Angga yang langsung mengangguk patuh.


"Pulang sana!" Usir Dad Liam selanjutnya.


"Iya, Uncle! Angga pulang dulu!"


"Selamat malam!" Pamit Angga seraya mencium punggung tangan Liam. Tak lupa Angga juga berpamitan pada Mom Yumi yang berdiri di dekat tangga.


"Pulang sana! Jangan menginap di rumah anak gadis!" Cibir Mom Yumi tiba-tiba pada Dad Liam setelah Angga tak terlihat lagi.


"Angga sudah pergi. Kenapa kau baru mengatakannya?" Tanya Dad Liam heran.


"Apa kau amnesia?" Mom Yumi meletakkan punggung tangannya di kening Dad Liam.


"Apa maksudmu? Aku tidak habis jatuh, terbentur, terantuk, dan sebagainya."


"Aku masih ingat namaku Liam Halley!" Cerocos Dad Liam panjang lebar yang langsung membuat Mom Yumi berdecak dan bersedekap.


"Ada apa, sih?" Dad Liam masih merasa bingung.


"Bukan apa-apa! Hanya saja, saat kau tadi menyuruh Angga pulang, aku mendadak ingat pada seorang tuan model yang gemar menginap di kost-an gadis polos dan selalu merasa tak tahu diri setiap kali diusir!" Ujar Mom Yumi yang sontak membuat Dad Liam tergelak.


"Siapa itu si tuan model tak tahu diri? Aku jadi penasaran. Kenalkan aku padanya!" Cecar Dad Liam seraya mengunci posisi Mom Yumi ke dinding.


"Liam, jangan macam-macam!" Gertak Mom Yumi seraya melotot pada sang suami.


"Liam!" Desis Mom Yumi geregetan karena Dad Liam yang terus menghimpitnya.


"Ayo kita ulangi tingkah mesum kita dulu di kost!" Cetus Dad Liam dengan nada merayu.


"Kau itu yang mesum!!" Mom Yumi yang kesal memukul dada sang suami.


"Eheem!"


"Mom, Dad!" Teguran Reina seketika langsung membuat Dad Liam dan Mom Yumi kaget bersamaan.


"Kenapa belum tidur, Rei?" Tanya Dad Liam sembari melotot pada sang putri.


"Reina haus! Mau minum!" Jawab Reina beralasan. Gadis itu lalu berjalan ke arah dapur. Namun baru beberapa langkah, Reina kembali berhenti dan menoleh lagi ke arah kedua orangtuanya.


"Mom dan Dad punya kamar, kan? Kenapa tidak masuk kamar saja jika mau itu?" Reina memberi isyarat dengan kedua telunjuknya dan Dad Liam sontak berdecak.


"Iya ini baru mau ke kamar!" Gerutu Dad Liam sembari menarik tangan Mom Yumi ke arah kamar.

__ADS_1


"Hati-hati, Dad! Jangan keseleo lagi seperti kemarin!" Seloroh Reina sembari terkekeh. Kedua orangtua Reina itu akhirnya masuk ke kamar meninggalkan Reina yang sudah lanjut pergi ke dapur.


****


Reina baru membuka pintu ruang kerjanya, saat ia sudah mendapati segelas kopi di atas meja. Siapa yang menaruh kopi di meja kerja Reina pagi-pagi begini?


Reina meraih gelas kopi yang masih terasa hangat tersebut, lalu membaca tulisan yang tertera.


"Have a nice day!"


Reina lanjut memutar-mutar gelas kopi di tangannya, berharap ia bisa menemukan inisial dari seseorang yang menaruh kopi ini di atas mejanya. Namun tak ada!


"Kenapa belum diminum kopinya?" Suara Diftha dari arah pintu membuat Reina terkejut.


"Kau tidak suka kopi, ya?" Tanya Diftha lagi yang langsung membuat Reina paham, kalau kopi ini pasti dari Diftha.


"Suka!" Jawab Reina seraya meminum sedikit kopi yang masih hangat tersebut.


"Kau yang membelikannya?" Tanya Reina selanjutnya seraya menghampiri Diftha.


"Ya!" Jawab Diftha sembari menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak terasa gatal.


"Terima kasih!"


"Kopinya enak!" Puji Reina sembari menyeruput lagi kopi di tangannya. Namun Reina sedikit ceroboh saat melakukannya, hingga cairan kopi tumpah sedikit di baju Reina.


"Ya ampun!"


Diftha bergerak cepat untuk meraih tisu dari atas meja, lalu membantu membersihkan blazer Reina dari noda kopi.


"Aku bisa sendiri!" Reina mengambil alih tisu dari tangan Diftha, lalu lanjut membersihkan sendiri blazer-nya.


Disaat bersamaan terdengar dering ponsel Diftha yang lumayan nyaring.


"Pak bos sudah memanggil," ujar Diftha seraya menunjukkan layar ponselnya pada Reina yang langsung mengangguk dan tersenyum tipis.


"Aku ke atas dulu!" Pamit Diftha selanjutnya.


"Ya! Terima kasih sekali lagi untuk kopinya, Dift!" Ucap Reina tulus, sebelum Diftha berlalu pergi meninggalkan ruang kerja Reina.


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2