Segitiga Cinta Reina

Segitiga Cinta Reina
GARA-GARA KAMU!


__ADS_3

Reina membenarkan selimut Gizta, lalu melihat jam di arloji yang melingkar di tangannya. Sudah pukul delapan malam.


"Selamat malam, Gizta!"


"Mimpi indah!" Ucap Reina lirih seraya mengecup kening Gizta. Reina lalu turun perlahan dari atas tempat tidur dan keluar dari kamar adik Diftha tersebut.


"Gizta sudah tidur?" Tanya Diftha yang rupanya sudah menunggu Reina di depan kamar Gizta.


"Sudah!"


"Aku akan pulang," ucap Reina selanjutnya.


"Aku antar!" Tawar Diftha cepat.


"Gizta bagaimana? Tidak ada yang menjaga! Aku akan naik taksi saja!" Tolak Reina yang ternyata mengkhawatirkan Gizta.


"Aku antar sampai depan gang kalau begitu. Tidak ada taksi di sini," ujar Diftha akhirnya.


"Baiklah! Dasar pemaksa!" Reina meninju pundak Diftha sembari tertawa kecil.


"Ngomong-ngomong, anak-anak mau mengadakan reuni. Kau ikut?" Tanya Diftha sembari menunjukkan chat di ponselnya.


"Itu grup apa, kenapa aku tidak tahu?" Reina dengan cepat mengambil alih ponsel Diftha, lalu sesekali mengusap layar ponsel pria tersebut karena ada beberapa garis yang mengganggu.


"Ini layarnya retak?" Tanya Reina kembali mengusap-usap layar ponsel Diftha.


"Iya, kemarin jatuh dan belum sempat aku ganti," jawab Diftha seraya meringis.


"Lalu kenapa aku tidak kamu masukin ke grup alumni kelas? Jahat sekali, sih?" Gerutu Reina selanjutnya setelah gadis itu men-scroll riwayat chat di ponsel Diftha.


"Sudah ada nomor kamu. Tapi tudak pernah aktif." Diftha mengambil alih lagi ponselnya, lalu menunjukkan nomor yang bernama Faranissa Reina pada Reina.


"Ini nomor siapa yang kamu masukin, Dift?" Tanya Reina terheran-heran.


"Bukan aku yang masukin! Nomor kamu saja aku tidak tahu!" Kilah Diftha cepat.


"Masa tidak tahu?" Reina mengernyit tak percaya.


"Payah! Kenapa juga tidak bertanya sejak kemarin!" Gerutu Reina sembari memasukkan nomornya ke ponsel Diftha dan mengganti nomor di kontak bernama Faranisa Reina tadi. Reina lalu mengembalikan ponsel Diftha dan ganti mengambil ponselnya sendiri. Gadis itu langsung mengirimkan beberapa chat ke grup alumni.


"Tadi kamu bilang mau ada reuni?" Reina kembali berbicara pada Diftha yang sejak tadi hanya diam memperhatikan Reina yang asyik berbalas chat di grup alumni.


"Iya! Minggu depan tepatnya."


"Kau datang?" Diftha balik bertanya pada Reina.


"Kau sendiri bagaimana? Datang atau tidak?" Reina balik bertanya juga.


"Sepertinya tidak! Acaranya sore dan tidak ada yang menjaga Gizta di rumah," jawab Diftha seraya mengendikkan bahu.


"Kenapa tidak mencari perawat untuk Gizta yang menginap saja? Agar kau juga bisa tenang jika sewaktu-waktu harus meninggalkan Gizta?" Tanya Reina memberikan saran.


"Ini aku juga sedang mencari, Rei! Hanya belum ketemu saja."


"Barangkali kau punya kenalan?" Tanya Diftha berharap.

__ADS_1


"Mmmmm tidak ada!" Jawab Reina cepat.


"Eh, tapi aku punya sepupu yang mengajar di sekolah anak-anak berkebutuhan khusus. Barangkali dia punya kenalan perawat yang mau merawat Gizta. Nanti aku tanyakan!" Janji Reina akhirnya yang langsung membuat Diftha mengangguk dan tersenyum.


"Terima kasih, Rei!" Ucap Diftha tulus.


"Dengan senang hati!" Reina sedikit membenarkan letak tas di pundaknya.


"Ngomong-ngomong, kau jadi mengantarku ke depan gang untuk mencari taksi?" Tanya Reina selanjutnya mengingatkan Diftha.


"Ya ampun!" Diftha menepuk keningnya sendiri lalu tertawa kecil.


"Ayo aku antar!" Ajak Diftha akhir seraya menyambar jaketnya dan berangkat untuk mengantar Reina ke depan gang untuk mencari taksi.


****


"Terima kasih, Pak!" Ucap Reina sebelum turun dari taksi. Reina kembali membuka ponselnya yang tak berhenti berbunyi sejak tadi karena ternyata grup alumni SMA cukup ramai juga dan banyak anggotanya yang saling berbalas chat, termasuk Reina.


Tak lupa Reina juga mengecek pesannya pada Angga sore tadi, dan sepertAngga memang ketiduran atau pria itu sibuk tertimbun berkas dan grafik hingga tak ada waktu untuk sekedar membaca apalagi membalas chat Reina.


Benar-benar menguji kesabaran!


Reina membuka pelan pintu depan memakai kunci cadangan yang memang dimiliki oleh semua anggota keluarga Halley. Gadis itu langsung masuk ke rumah yang timben suasananya gelap.


Apa Mom dan Dad ada acara di luar?


Entahlah!


Reina yang sudah merasa kehausan segera pergi ke dapur untuk mengambil air dingin dari kulkas. Sepertinya Reina akan menghabiskan satu botol penuh air dingin demi membasahi tenggorokannya yang terasa kering kerontang.


"Enak!" Gumam Reina seraya manggut-manggut.


"Ambil sepotong boleh sepertinya," gumam Reina lagi yang langsung memotong kue memakai tangannya.


"Astaga! Mom pasti marah," kikik Reina sembari menutup pintu kulkas memakai kaki.


"Tapi siapa peduli! Mom juga tidak di rumah sekarang!"


"Ada kue enak ya jangan disia-siakan!" Reina bermonolog sendiri sebelum gadis itu melahap potongan kue di tangannya.


"Nyaammm! Enak sekali kuenya!"


"Beli dimana, ya? Sepertinya aku harus membelikan untuk Gizta juga!" Reina kembali membuka kulkas setelah kue di tangannya habis dan hanya menyisakan krim yang belepotan. Gadis itu menunduk dan memotong satu bagian kue lagi memakai tangannya.


Tepat saat Reina sekesai mengambil kue dan hendak menutup pintu kulkas, Fairel tiba-tiba sydah berdiri di nelakang pintu kulkas dan membuat jantung Reina nyaris melompat keluar.


"Kau sedang a-" Fairel tak melanjutkan pertanyaannya dan kini abang kandung Reina itu malah menganga dengan mulut tebuka lebar yang sangat memungkinkan untuk menjadi celah masuknya lalat, nyamuk atau serangga lain ke dalam.


"Reina!" Pekik Fairel lebay sebelum kemudian pria itu merem*s rambutnya sendiri dengan frustasi atau mungkin Fairel sedang geregetan sekarang.


Tapi apa masalahnya?


"Ada apa?" Tanya Reina seraya berekspresi tanpa dosa.


"Kenapa kau makan kue ulang tahun!"

__ADS_1


"Aaarrrgggh!! Reina! Reina!" Fairel menatap Reina yang malah dengan santainya memakan kue tart tadi dengan geregetan.


"Itu kue-"


"Kue abang? Enak kuenya, Bang! Beli dimana?" Cerocos Reina masih tanpa dosa.


"Hhhhhh! Itu kue untuk surprize ulang tahun Rossie malam ini!"


"Kenapa kamu makan?" Tanya Fairel yang sekarang sudah amat sangat geregetan pada Reina.


"Oh, iya! Rossie besok ulang tahun, ya?" Ucap Reina yang ternyata baru ingat.


Tapi kenapa Angga malah pergi ke luar kota dan baru kembali lusa?


Dasar Abang tak pengertian!


"Sekarang bagaimana aku akan memberikan surprize untuk Rossie jika kuenya kamu makan dan kamu krawuk-krawuk begini?" Marah Fairel seraya mendelik-delik pada Reina.


"Iya Reina minta maaf, Bang! Namanya juga lupa dan tidak tahu!"


"Abang pesan lagi saja kuenya!" Ujar Reina memberikan saran.


"Pesan lagi?"


"Ada nomornya, kan?" Reina memastikan dan Fairel langsung mengambil box kue tadi. Abang kandung Reina itu lalu mencoba menghubungi nomor yang tertera di box kue.


"Tidak diangkat!" Gumam Fairel sambil kembali mencoba menelepon lagi.


"Mungkin sudah tutup, Bang! Itu nomor toko atau nomor owner-nya?" Cerocos Reina sembari meraih box kue untuk memastikan.


"By Beth!" Reina mengernyit setelah membaca nama toko kue tempat Fairel membeli tart cantik tadi.


"Aku mana punya nomor ownernya?"


"Mana udah hampir tengah malam!" Fairel menggerutu kesal.


"Awas nanti keduluan Keano! Nggak jadi jadian deh sama Rossie!" Ledek Reina pada sang Abang.


"Ck! Ini semua gara-gara kamu!" Fairel menuding kesal pada Reina.


"Eh, tapi Beth dan Angga kan berteman baik. Jadi seharusnya Angga punya nomor pribadi Beth!" Gumam Fairel tiba-tiba yang langsung membuat Reina mengernyit.


Beth?


Teman baik Angga?


Beth siapa?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2