
"Tidak ada pasangan yang sempurna di dunia ini, Reina! Akan selalu ada kekurangan dari setiap pasangan. Jadi sudah menjadi tugas setiap pasangan, untuk menerima dan melengkapi kekurangan daei pasangannya, bukan malah mencari kenyamanan pada orang lain yang dia pikir lebih sempurna."
"Bukan seperti itu,"
"Jika ada satu sikap Angga yang tidak kau sukai, sudah sepantasnya kau menerima lalu membicarakannya secara baik-baik pada Angga. Mengkomunikasikannya dengan jelas juga agar tak ada kesalahpahaman."
"Jangan malah mencari kenyamanan pada pria lain."
"Itu salah!"
Angga menutup kembali pintu ruang kerjanya perlahan, setelah pria itu menguping ceramah panjang lebar Diftha untuk Reina. Tampak jelas raut bersalah serta penyesalan di wajah Reina. Apa itu artinya Reina memang sudah sempat berpaling dari Angga dan menaruh perasaan pada Diftha?
Ceklek!
Suara pintu yang dibuka dari luar, langsung nembuat Angga yang sejakntadi menatap keluar jendela,menoleh ke arah pintu.
"Maaf,aku tidak mengetuk pintu," ucao Reina pada Angga yang memang berekspresi kageta tadi. Meskipun sebenarnya Angga sudah tahu kalau Reina yang datang.
"Masuklah, Rei!" Titah Angga seraya mengulas senyum. Pria itu lalu duduk di kursinya dan meraih bingkai foto yang ada di atas meja. Angga membalik bingkai foto tersebut, seolah sedang memamerkannya pada Reina.
"Kau mengganti bingkai fotonya?" Tanya Reina berbasa-basi sembari duduk di kursi di depan meja kerja Angga. Gadis itu juga meletakkan map yang tadi ia bawa ke hadapan Angga.
"Bingkai yang tempo hari pecah karena tak sengaja tersenggol oleh lenganku," ujar Angga mulai bercerita.
"Aku tak bermaksud menyembunyikan hubungan kita di depan Diftha atah karyawan lain. Tapi bingkai fotonya memang benar-benar pecah, dan aku selalu lupa untuk menggantinya."
"Aku menyimpan foto kita di laci, sampai saat terakhir kali aku ke luar kota, aku melihat bingkai cantik ini di toko yang aku sambangi, lalu aku ingat kalau aku perlu bingkai foto baru, jadi aku membelinya," cerita Angga panjang lebar yang langsung membuat Reina tertegun.
Padahal waktu itu Reina sudah salah sangka dan mengira yang tidak-tidak pada Angga.
"Kalau ditaruh disitu memang akan rawan kesenggol dan jatuh," ucap Reina yang akhirnya buka suara. Gadis itu sudah bangkit dari duduknya, lalu mengambil bingkai fotonya bersama Angga dari meja kerja Angga, dan ganti memajangnya di meja panjang di belakang kursi kerja Angga. Bersebelahan dengan foto Angga bersama keluarganya.
"Disini lebih aman," gumam Reina kemudian.
Angga memutar kursinya, lalu mengangguk setuju. Pria itu juga menatap lekat wajah Reina yang masih berdiri tak jauh darinya. Tatapan dua sejoli itu saling bertemu.
"Ngomong-ngomong, kau sudah menjenguk Gizta, adiknya Diftha di rumah sakit?" Tanya Angga yang terlebih dahulu memecah kebisuan di antara dirinya dan Reina.
"Belum."
"Tapi kata Diftha, Gizta sudah pulang dari rumah sakit," jawab Reina memberitahu Angga.
"Oh!"
"Syukurlah kalau begitu," gumam Angga sembari bernafas lega, seolah dirinya memang baru tahu kabar terbaru tentang Gizta.
"Mau menjenguknya di rumah Diftha sore ini?" Tawar Angga lagi yang langsung membuat Reina tertegun sejenak.
"Kau boleh menjenguk Gizta di rumah."
"Bersama Pak Angga."
Kalimat syarat dari Diftha kembali terngiang di kepala Reina. Seketika, langsung terbersit pertanyaan juga di dalam pikiran Reina tentang Angga yang mungkin saja menguping pembicaraannya bersama Diftha tadi.
"Rei!" Tegur Angga lagi yang langsung membuyarkan lamunan Reina.
__ADS_1
"Kita ada foto prewedding siang ini," jawab Reina mengingatkan Angga.
"Astaga!" Angga menepuk keningnya sendiri karena lupa.
"Kau sudah mengosongkan jadwalmu, kan?" Tanya Reina memastikan.
"Ya, tentu saja!" Jawab Angga cepat. Pria itu kemudian mengangguk-angguk.
"Jadwalku kosong setelah makan siang," ujar Angga lagi seolah sedang meyakinkan Reina yang tampak khawatir. Gadis itu kemudian langsung bernafas lega.
"Lalu undangannya bagaimana? Kau yang akan membagikannya nanti?" Tanya Angga kemudian sembari tertawa kecil yang langsung membuat Reina terdiam.
Pertanyaan Angga lebih mirip sindiran untuk Reina!
"Hanya bercanda!" Tukas Angga kemudian yang masih tertawa kecil. Reina sontak langsung salah tingkah.
"Sudah ada yang mengurus dan membagikannya ke semua karyawan," ujar Angga sembari bangkit dari duduknya. Pria itu kemudian mendekat ke arah Reina yang masih berdiri menatung dan belum berpindah tempat.
"Dan untuk kali ini, tak akan ada undangan yang tersasar di bawah meja," lanjut Angga lagi yang benar-benar sedang menyindir Reina.
Reina memejamkan matanya, kemudian menarik nafas dengan berat.
"Aku minta maaf soal undangan itu, Angga!" Ucap Reina kemudian dengan nada penuh penyesalan.
"Aku paham-"
"Aku tak ada perasaan apapun pada Diftha!" Reina menyela kalimat Angga dengan cepat. Gadis itu juga sudah meraih lengan Angga dan mencengkeramnya dengan kuat.
"Aku hanya mencintaimu," ucap Reina lagi sembari menyandarkan kepalanya di pundak Angga.
"Aku pikir kau merasa nyaman bersama Diftha dan mencintainya. Jadi aku ikhlas melepasmu," sergah Angga menyela, yang langsung membuat Reina mengangkat kepalanya dari pundak Angga, lalu menatap tak percaya pada pria di hadapannya tersebut.
"Ikhlas melepasku? Maksudmu kau tak mencintaiku?"
"Aku mencintaimu, Rei!" Angga sudah menangkup wajah Reina sekarang.
"Aku sangat-sangat mencintaimu!"
"Tapi jika kau lebih mencintai dan lebih merasa nyaman bersama Diftha, aku bisa apa?" Jawab Angga yang langsung membuat Reina memukul dada tunangannya tersebut.
"Bodoh!" Gerutu Reina kesal.
"Bukankah level tertinggi dari mencintai seseorang adalah saat kita ikhlas melepaskannya bersama orang yang ia cintai-"
"Tapi aku hanya mencintaimu, Bodoh!" Sela Reina sedikit memaki Angga.
"Ya, aku bodoh!" Kekeh Angga yang langsung membuat Reina merengut. Reina memukul dada Angga sekali lagi, sebelum kemudian gadis itu menyusupkan kepalanya ke dada Angga.
"Kau tadi mengunci pintu?" Tanya Angga sembari mengusap lembut kepala Reina yang masih berada di pelukannya.
"Mau apa memangnya? Jangan mentang-mentang kita sudah bertunangan!" Reina kembali mengomeli Angga, sembari mencubit perut Angga hingga pria itu mengaduh.
"Bukankah biasanya kau yang menggodaku dan memulai," ujar Angga seolah sedang mengingatkan Reina.
"Itu karena kau selalu bersikap kaku dan tidak romantis!" Sergah Reina beralasan.
__ADS_1
"Memang yang romantis itu yang bagaimana? Yang selalu membuatkan atau membawakanmu kopi setiap pagi?" Cecar Angga lagi menyindir.
"Ck!" Reina langsung memukul dada Angga sekali lagi dan gadis itu sudah mengangkat kepalanya dari dekapan pria mengesalkan di hadapannya tersebut.
"Bercanda!" Angga menangkup wajah Reina sekali lagi.
"Kopi buatan Diftha memang enak!" Ujar Angga kemudian.
"Sudah pernah mencoba memang?" Tanya Reina menyelidik.
"Sudah!" Jawab Angga cepat.
"Dan mungkin aku akan menikahi Diftha saja andai dia perempuan, karena kau tidak bisa membuat kopi," seloroh Angga lagi yang langsung membuat Reina memutar bola matanya.
"Kedai kopi masih banyak tersebar di seantero kota. Kenapa juga aku harus repot-repot belajar membuat kopi dan memasak," gumam Reina kemudian seraya bersedekap.
"Belajar menjadi istri yang baik saja kalau begitu," bisik Angga seraya mendekap Reina dari belakang, lalu mengecup pipi tunangannya tersebut. Reina hanya mengangguk sembari tersenyum bahagia.
****
Papa Robert meraih map yang disodorkan oleh Diftha, lalu menghela nafas dengan berat.
"Pekerjaanmu disini luar biasa padahal," ujar Papa Robert seolah menyayangkan keputusan Diftha.
"Saya akan tetap akan bekerja dengan maksimal disana nanti, Pak!" Ucap Diftha bersungguh-sungguh.
"Aku tahu!" Papa Robert mengangguk percaya.
"Dan sepertinya keputusanmu sudah benar-benar bulat," gumam Papa Robert lagi dan Dhifta hanya mengulas senyum sembari mengangguk.
"Saya tetap akan bertanggung jawab dan mencarikan sekretaris baru untuk Pak Angga, Pak Robert!"
"Saya tidak akan lepas tanggung jawab," janji Diftha sekali lagi.
"Ya!"
"Angga sudah mulai mengambil cuti besok," ujar Papa Robert memberitahu Diftha.
"Kau sudah mendapat undangan pernikahan Angga?" Tanya Papa Robert lagi memastikan.
"Sudah, Pak!" Jawab Diftha cepat.
"Adikmu sudah sehat, kan? Kau harus datang nanti," ujar Papa Robert penuh harap.
"Iya, Pak!" Jawab Diftha seraya mengangguk. Meskipun dalam hati Diftha juga masih bimbang apa ia nanti akan sanggup.....
Tak bisa dipungkiri kalau perasaan cinta Diftha pada Reina belumlah sepenuhnya memudar. Mungkin hanya waktu yang akan mampu mengikisnya.
Semoga.....
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.