
"Senyummu terlihat tidak ikhlas!" Komentar Fairel setelah pria itu memeriksa satu persatu foto prewedding Angga dan Reina.
Reina serta merta langsung merebut kamera di tangan Fairel untuk melihat satu persatu fotonya bersama Angga. Saat ini Reina dan Angga memang masih berada di kantor Halley Development, karena baru beberapa saat yang lalu mereka selesai melakukan sesi pemotretan prewedding.
"Sudah diulang beberapa kali tapi senyum Reina selalu begitu. Aku pikir sudah bawaan," ujar fotografer yang juga ikut duduk bersama Reina dan Fairel. Sementara Angga sudah kembali "berselingkuh" dengan ponselnya di sudut ruangan.
Yeah!
Sekalipun Angga mengatakan kalau esok ia sudah mengambil cuti namun sepertinya pria itu memang tak akan benar-benar mengambil cuti. Mungkin cuti yang dimaksud Angga disini adalah tidak pergi ke kantor, namun tetap melakukan meeting jarak jauh dan berkomunikasi dengan semua rekan kerjanya.
"Jika ada satu sikap Angga yang tidak kau sukai, sudah sepantasnya kau menerima lalu membicarakannya secara baik-baik pada Angga. Mengkomunikasikannya dengan jelas juga agar tak ada kesalahpahaman."
Kalimat nasehat dari Diftha kembali berputar-putar di kepala Reina.
"Terima saja, Reina!"
"Angga adalah pria pilihanmu sejak awal dan sifat workaholic-nya memang seperti sudah mendarah daging! Terima saja!" Reina bergumam pada dirinya sendiri sembari memejamkan mata. Dan saat gadis itu membuka matanya, tatapan aneh Fairel langsung tertumbuk ke arahnya.
"Kau sedang apa? Baca mantra?" Tanya Fairel heran yang hanya membuat Reina berdecak. Reina lalu memberikan kamera di tangannya pada fotografer.
"Bagaimana jika memakai foto lamaku bersama Angga saja dan tak perlu memakai foto yang itu?" Usul Reina yang langsung membuat Fairel dan fotografer tercengang.
"Kau mau mengedit foto lamamu menjadi foto prewedding, begitu? Lalu apa gunanya kau tadi berpose di depan kamrea selama hampir enam jam?
"Apa gunanya?" Cecar Fairel emosi.
"Kenapa kau marah-marah, Iel?" Tanya Angga heran yang akhirnya sudah selesai menelepon. Pria itu sudah kembali bergabung bersama Reina, Fairel, dan fotografer.
"Abang Iel!" Sergah Reina mengoreksi panggilan Angga pada Fairel. Pria itu selalu saja lupa!
"Kenapa kau marah-marah, Abang Iel?" Angga mengulangi pertanyaannya.
"Tanya saja pada Reina!" Jawab Fairel malas menjelaskan.
"Ada apa?" Angga ganti bertanya pada Reina.
"Posemu kurang natural kata Abang Iel dan senyummu terlihat tidak ikhlas!" Ujar Reina menjelaskan pada Angga.
"Coba lihat!" Angga meraih kamera yang tergeletak di atas meja, lalu memeriksa satu persatu foto prewedding-nya bersama Reina.
"Pose dan senyum Angga sudah natural! Kau itu yang kaku, Rei!" Sergah Fairel mengoreksi jawaban Reina pada Angga tadi.
Reina sontak berdecak, dan Angga sudah meletakkan lagi kamera ke atas meja.
"Fotonya bisa sedikit diedit, kan?" Tanya Angga pada fotografer untuk memastikan.
"Bisa! Tidak usah khawatir!" Jawab fotografer menenangkan Angga dan Reina yang masih berdecak.
"Foto bisa diedit! Sudah tidak usah diributkan lagi," ujar Angga seraya mengusap punggung Reina.
Kali ini ganti Fairel yang berdecak. Abang kandung Reina itu lalu bangkit dari duduknya.
"Terserah saja! Aku mau pulang!" Tukas Fairel dengan nada sinis.
"Bukan aku yang meributkan foto itu tadi! Tapi Abang Iel-"
"Aku tidak meributkan! Aku hanya menyampaikan pendapatku!" Sergah Fairel memotong kalimat Reina.
"Lagipula, apa salahnya berpendapat! Toh aku juga yakin kalau pendapatku pastilah mewakili pendapat orang banyak!" Sergah Fairel lagi panjang kali lebar.
"Aku benar-benar tidak mengerti, kenapa semua orang berubah menyebalkan belakangan ini!" Gerutu Fairel lagi yang entah sedang kesal pada siapa.
Satu hal yang pasti, sejak malam pertunangan Reina dan Angga waktu itu, Fairel memang kerap uring-uringan. Aneh sekali!
"Abang saja yang mengesal-"
__ADS_1
"Reina, sudah!" Angga masih mengusap-usap punggung Reina dan menegur tunangan tersebut agar tak menanggapi gerutuan Abang Fairel.
"Ck!" Reina berdecak lalu sedikit menyentak lengan Angga.
"Sudah beres semua. Aku langsung pamit, ya! Fotonya akan aku kirim H-1," ujar fotografer menyela perdebatan Angga dan Reina.
"Ya!" Jawab Reina dan Angga bersamaan.
Fotografer langsung bangkit dari duduknya, lalu keluar dari ruangan, menyusul Fairel yang tadi sudah keluar terlebih dahulu dan tak terlihat lagi. Sekarang hanya tersisa Angga dan Reina.
"Mau menjenguk Gizta?" Tawar Angga memecah kebisuan. Reina langsung menggeleng.
"Sudah malam. Tidak baik bertamu malam-malam," ujar Reina beralasan.
"Kau benar!" Angga melirik arlojinya, lalu kembali diam. Pun dengan Reina yang juga masih diam.
"Besok kau sudah cuti, kan?" Tanya Angga yang akhirnya kembali memecah kebisuan.
"Ya!"
"Bukankah surat cutiku yang menandatangani adalah kau!" Sergah Reina yang langsung membuat Angga terkekeh. Pria itu lalu mengulurkan tangannya dan merangkul pundak Reina.
"Hanya memastikan, barangkali kau lupa," tukas Angga masih terkekeh. Sementara Reina sama sekali tak tertawa dan gadis itu hanya berdecak kecil.
"Sudah sepi," gumam Angga lagi seraya mengeratkan dekapannya pada Reina.
"Sudah malam..." Reina sedikit menggeliat, seolah risih dengan rangkulan Angga.
"Dan jarang ada karyawan yang lembur disini," ujar Reina lagi melanjutkan kalimatnya.
"Kita yang lembur," Angga sedikit menarik tubuh Reina agar semakin mendekat dan merapat ke arahnya. Reina hanya tersenyum tipis, lalu gadis itu menyandarkan kepalanya di dada Angga sembari memejamkan mata.
"Kamu mau tidak jadi pacar aku, Faranisa Reina?"
"Kita harus menjaga jarak, karena kau adalah tunangan Pak Angga, yang jelas-jelas adalah atasanku!"
"Kau juga adalah calon istri Pak Angga! Jadi sudah seharusnya kau tidak bermudah-mudahan dekat dengan pria lain."
Kalimat Diftha mendadak kembali berputar-putar di kepala Reina.
Tidak!
Kenapa Reina terus saja memikirkan Diftha?
Ini salah, Reina!
Ini salah!
"Sebenarnya, sudah sejak lama aku suka dan sayang sama kamu, Rei!"
"Rei, kau tidur?" Pertanyaan Angga langsung menyentak lamunan Reina yang terus saja memikirkan tentang Diftha.
Tentang bagaimana perasaan Diftha sekarang?
Apa pria itu baik-baik saja?
"Rei!" Angga mengusap wajah Reina yang akhirnya membuka mata.
"Kau tidur?" Tanya Angga lagi memastikan.
Reina tak menjawab dan gadis itu hanya menggeleng.
"Ayo aku antar pulang!" Ajak Angga selanjutnya seraya merapikan rambut Reina.
Reina ganti mengangguk, dan gadis itu segera bangkit berdiri lalu meraih tasnya.
__ADS_1
"Pulang ke apartemen," Bisik Angga saat dua sejoli itu keluar dari ruangan.
"Ke apartemen?" Reina langsung menatap linglung pada Angga.
"Hanya bercanda!" Kekeh Angga sebelum pria itu ganti merangkul pundak Reina, lalu mereka berdua masuk ke dalam lift dan segera turun ke lantai paling bawah.
****
"Abang...." panggil Gizta terbata, saat Diftha membenarkan selimut adiknya tersebut.
"Kenapa bangun lagi?" Tanya Diftha yang tadinya mengira kalau Gizta sudah terlelap.
Gizta hanya mengulas senyum. Gadis itu lalu susah payah mengeluarkan sesuatu dari balik selimutnya.
"Kak Reina-"
"Nikah?" Tanya Gizta selanjutnya tetap dengan suara terbata. Benda yang tDi disembunyikan Gizta di bawah selimut, rupanya adalah undangan pernikahan Reina dan Angga.
"Iya," jawab Diftha seraya mengangguk tegar.
"Kak Reina akan menikah dengan Abang Angga yang tempo hari menjenguk Gizta di rumah sakit," ujar Diftha lagi memberitahu sang adik. Susah payah Diftha menepis sesak yang menghimpit dadanya.
Tapi Diftha bisa apa memangnya selain menerima dengan lapang dada?
Reina dan Angga saling mencintai dan Diftha terlambat mengungkapkan perasaan cintanya pada Reina!
Ya, andai delapan tahun lalu Diftha punya keberanian dan tidak jadi pria pengecut yang hanya memendam perasaannya!
"Kita-"
"Datang?" Tanya Gizta lagi terbata.
Diftha langsung diam untuk beberapa saat dan tak langsung menjawab pertanyaan sang adik.
"Gizta mau datang memangnya?" Diftha akhirnya balik bertanya padasang adik yang langsung mengangguk.
"Iya!"
"Baiklah!" Diftha mengusap lembut kepala Gizta.
"Nanti kita datang, ya!" Ujar Diftha lagi.
Gizta langsung mengulas senyum dan mencengkeram lengan Diftha.
"Abang-"
"Kuat!" Bisik Gizta yang seolah paham dengan perasaan Diftha saat ini.
Ya, Diftha memang harus kuat sekarang!
Kuat dan bangkit serta melupasemua perasaannya pada Reina.
"Iya! Abang kuat!" Jawab Diftha seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.
"Sekarang Gizta tidur!" Ucap Diftha yang kembali membenarkan selimut Gizta. Setelah mengucapkan selamat malam, Diftha lalu beranjak dan keluar dari kamar Gizta.
Diftha menatap sejenak pada tumpukan kardus di sudut ruang depan, sebelum pria itu masuk ke kamarnya. Diftha akan mengirim semua kardus berisi barang-barangnya dan barang Gizta tersebut ke ekspedisi esok hari.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1