Segitiga Cinta Reina

Segitiga Cinta Reina
KOPI DAN ROTI


__ADS_3

"Pakai sabuk pengaman!" Perintah Fairel sembari menatap tegas pada Reina yang pagi ini kembali menumpang mobilnya untuk pergi ke kantor. Padahal sopir ada dan Reina sangat bisa mengemudi sendiri serta punya SIM lengkap. Tapi entah mengapa, Reina lebih suka menumpang Fairel jika Angga tak datang menjemput.


"Iya! Ini juga baru mau pakai!" Jawab Reina yang langsung membalas delikan sang abang.


Fairel hanya berdecak, lalu segera menyalakan mesin mobil, saat pintu gerbang sudah terbuka dan mobil Angga terlihat memasuki halaman kediaman Halley.


"Huh! Akhirnya tak perlu putar balik!" Sorak Fairel senang saat melihat mobil Angga. Sementara Reina masih diam di kursinya dan tak sedikitpun melakukan pergerakan untuk sekedar membuka sabuk pengaman, lalu langsung turun.


"Sssttt! Kenapa malah mematung begitu?" Tegur Fairel pada Reina yang langsung mendengus.


"Itu pacarmu datang! Turun cepat!" Usir Fairel selanjutnya yang lagi-lagi hanya membuat Reina mendengus tapi masih tanpa melakukan pergerakan untuk turun dari mobil sang abang.


"Reina!" Bentak Fairel mulai kesal bersamaan dengan Angga yang sudah turun dari mobilnya, lalu menghampiri mobil Fairel dan mengetuk kaca dimana Reina duduk.


"Rei!" Panggil Angga lembut.


Meskipun kesal, Reina tetap membuka kaca mobil namun gadis itu tak menatap pada Angga.


"Ayo berangkat bareng!" Ajak Angga masih dengan nada lembut.


"Aku pergi bersama Abang Iel!" Jawab Reina yang sudah ganti bersedekap.


"Hhhhh! Kenapa merepotkan? Jelas-jelas kau dan Angga satu kantor dan Angga sudah menjemputmu!"


"Turun sana!" Usir Fairel sembari menggerutu tak karuan. Fairel bahkan sudah membantu melepaskan sabuk pengaman Reina.


"Abang, apa sih?" Reina memasang lagi sabuk pengamannya dan Fairel melepasnya lagi.


"Reina mau ke kantor bareng Abang!" Reina mendelik ke arah Fairel yang malah ganti menyalak pada Reina.


"Aku tidak mau berputar untuk mengantarmu! Buang-buang waktu saja!"


"Abang!"


"Turun sana, cepat!" Usir Fairel tegas yang langsung membuat Reina mengerucutkan bibirnya.


"Ayo, Rei!" Ujar Angga lagi sembari membukakan pintu mobil untuk Reina.


"Sana! Sana!" Usir Fairel sekali lagi bersamaan dengan Reina yang akhirnya turun dari mobil.


Dan Fairel langsung tancap gas begitu Reina sudah turun. Dasar!


"Sepertinya Fairel sedang buru-buru," gumam Angga seraya geleng-geleng kepala dan Reina hanya mendengus saja. Lagipula, kenapa Angga malah memperhatikan Fairel dan tak sedikitpun berbasa-basi pada Reina. Bertanya apa Reina sudah sarapan misalnya!


"Ayo!" Ajak Angga selanjutnya seraya merangkul pundak Reina. Masih tanpa basa-basi atau bertanya soal semalam. Sedikit menyebalkan!


Tak berselang lama, mobil Angga sudah meninggalkan kediaman Halley dan langsung bergerak menuju ke perusahaan Hadinata, tempat Reina dan Angga bekerja.


"Kau mau kopi?" Tawar Angga sembari membelokkan mobilnya ke sebuah gerai kopi yang mereka lewati.


Reina tak langsung menjawab,karena mendadak gadis itu ingat pada celetukan Diftha kemarin...


"Bagaimana kalau aku membuatkanmu kopi setiap pagi?"


"Reina! Kau mau kopi?" Tawar Angga sekali lagi pada Reina yang malah melamun.


"Enggak!" Jawab Reina cepat.


"Baiklah! Kau tunggu sebentar, ya!" Pesan Angga sebelum pria itu turun dari mobil dan meninggalkan Reina yang langsung membuka ponselnya. Reina mencari-cari chat Diftha, namun tak ada. Reina lalu ganti melihat story Diftha yang menampilkan foto secangkir kopi di atas meja. Segera Reina mengetikkan pesan untuk menanggapi story Diftha tersebut.


[Apa itu kopiku?] -Reina-


Pesan terkirim!


Reina tersenyum sendiri setelah pesan terkirim dan menunggu kira-kira jawaban Diftha apa. Dan apa pria itu ingat pada janjinya kemarin untuk membuatkan Reina kopi setiap pagi.


Ting!

__ADS_1


Sebuah pesan masuk ke ponsel Reina tak berselang lama. Dan seperti dugaan Reina kalau itu adalah pesan Diftha yang memang selalu gercep membalas pesan dari Reina.


[Aku ke ruanganmu tadi dan kau belum datang. Jadi itu kopiku] -Diftha-


Pesan dari Diftha masuk lagi.


[Tapi nanti aku akan tetap membuatkan kau kopi seperti yang kemarin] -Diftha-


Senyuman lebar langsung tersungging di bibir Reina setelah gadis itu membaca pesan Diftha


[Baiklah! Aku tiba di kantor sepuluh menit lagi] -Reina-


Balasan pesan Diftha masuk tak berselang lama.


[Ke kantor naik apa? Aku tadi sebenarnya ingin menjemputmu, tapi aku lupa rumahmu di sebelah mana] -Diftha-


[Lupa atau tidak tahu?] -Reina-


[Kau lupa memberitahuku maksudnya. Jadi aku tidak tahu] -Diftha-


Reina lagi-lagi harus tertawa kecil membaca pesan balasan konyol dari Diftha. Reina baru saja akan mengetikkan pesan balasan, saat ternyata Angga sydah kembali sembari membawa segelas kopi serta sebuah kantung kertas yang sepertinya berisi roti. Ada aroma butter yang menguar.


"Rotinya untukku?" Tanya Reina seraya menunjuk ke roti di tangan Angga.


"Kau tadi tidak mengatakan kalau mau. Aku jadi hanya beli satu" jawab Angga yang langsung membuat Reina sedikit cemberut.


"Baiklah, tidak usah!" Gumam Reina akhirnya seraya bersedekap dan membuang wajahnya.


"Jangan marah, Rei!" Angga segera menyodorkan kantung roti tadi ke hadapan Reina.


"Ini untukmu," ujar Angga lagi.


"Tidak usah!" Tolak Reina masih cemberut.


"Benar tidak mau?" Tanya Angga memastikan dan Reina langsung menghela nafas.


Kenapa Angga tak peka, sih?


"Baiklah aku makan kalau kau tak mau," ujar Angga yang langsung menggigit roti yang tadi ia tawarkan pada Reina.


Lah!


Reina juga mau roti itu padahal!


Menyebalkan!


Reina akhirnya hanya menggerutu dalam hati bersamaan dengan mobil Angga yang sudah melaju meninggalkan gerai kopi.


****


"Pagi, Bu Reina!"


"Pagi!" Jawab Reina sembari memaksa untuk tersenyum pada beberapa karyawan yang menyapanya. Meskipun hati Reina masih dongkol sebenarnya dengan sikap Angga di mobil tadi perihal roti. Dan sekarang bayangan roti butter khas kedai kopi menari-nari di benak Reina.


Astaga!


Angga resek!


Reina menggeser pintu ruangannya hingga terbuka, saat aroma kopi bercampur aroma mentega langsung menyergap indera penciumannya.


Hah!


Tatapan netra Reina langsung tertumbuk ke atas meja, dimana ada secangkir kopi panas yang sudah tersaji serta dua buah roti mentega di atas piring di samping kopi.


Apa ini perbuatan Diftha?


Tapi bagaimana pria itu tahu kalau Reina sedang ingin makan roti mentega?

__ADS_1


"Ya ampun!" Gumam Reina yang langsung tersenyum senang sembari menghirup arima kopi dan roti mentega du atas mejanya. Seketika rasa dongkol di hati Reina langsung menguap pergi.


Ting!


Sebuah pesan masuk ke ponsel Reina.


[Kapan kau sampai di kantor? Kopimu keburu dingin!] -Diftha-


Reina bergegas mengambil gambar kopi dan roti di atas meja kerjanya, lalu mengirimkan foto tersebut pada Diftha sebagai pesan balasan.


[Aku sudah sampai! Terima kasih untuk roti dan kopinya! Tahu saja aku sedang ingin roti mentega] -Reina-


Pesan dan foto Reina terkirim!


[Hanya roti tiga ribuan yang beli di pinggir jalan tadi. Tapi rasanya lumayan, lho] -Diftha-


Reina mengernyit dengan pesan balasan Diftha dan gadis itu segera mencicipi roti di atas mejanya. Tak selembut roti yang biasa ada di kedai kopi memang. Tapi rasa dan aromanya lumayan juga.


[Kau benar! Rasanya memang enak. Belikan lagi besok, ya!] -Reina-


[Siap! Aku kerja dulu] -Diftha-


Reina mengulas senyum dan tak membalas pesan Diftha lagi. Gadis itu segera menyalakan laptopnya karena ia baru ingat kalau pagi ini dirinya harus meeting bersama Angga dan staf lain.


Ya ampun!


Untung semuanya sudah Reina siapkan kemarin!


****


Angga keluar dari ruang kerjanya dan memperhatikan Diftha yang bekerja sembari senyum-senyum sendiri. Sepertinya sekretaris Angga itu tengah membaca sesuatu di ponselnya yang membuat ia jadi senyum-senyum sendiri.


"Ehem!" Angga berdehem sedikit keras dan Diftha sontak terlonjak. Pria itu bergegas menyimpan ponselnya, lalu menyapa Angga dengan sopan.


"Pagi, Pak Angga!" .


"Pagi!" Jawab Angga sembari menyodorkan sebuah map pada Diftha.


"Selesaikan sebelum malan siang! Aku ada meeting dengan divisi keuangan lina belas menit lagi," ujar Angga selanjutnya yang langsung membuat Diftha mengangguk paham.


"Siap, Pak!"


Angga tak berkata apa-apa lagi dan pria itu langsung menuju ke lift, untuk turun ke ruang meeting. Tepat di lantai divisi keuangan, pintu lift terbuka dan ada Reina yang juga akan pergi ke ruang meeting. Kekasih Angga tersebut langsung masuk ke dalam lift semabri memeluk laptopnya dan beberapa map. Kini hanya ada Angga dan Reina di dalam lift.


Angga mengamati sejenak wajah Reina sebelum akhirnya pria itu buka suara.


"Kau bawa tisu?" Tanya Angga yang langsung membuat Reina sedikit mendongak dan menatap tak mengerti pada Angga.


"Ada bekas remah roti dan..."


"Kopi!" Ujar Reina cepat menyambung kalimat Angga. Reina memang lupa menyeka bibirnya tadi karena buru-buru ke ruang meeting.


"Aku kira kau tadi tidak mau kopi," gumam Angga sembari menyodorkan sapu tangan dari sakunya pada Reina untuk menyeka sisa remah roti dan kopi di atas bibir gadis itu.


Kenapa Angga tak ada inisiatif untuk menyeka dan malah menyuruh Reina melakukannya sendiri.


Dasar tidak romantis!


"Tadi ada karyawan yang membuatkan aku kopi. Jadi aku minum agar dia tudak kecewa," ujar Reina menjawab pertanyaan Angga tadi.


Eh, tadi Angga bertanya memang?


Angga hanya mengangguk, bersamaan dengan pintu lift yang sudah terbuka. Reina dan Angga turun bersamaan dan keduanya langsung menuju ke ruang meeting.


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2