Segitiga Cinta Reina

Segitiga Cinta Reina
EXTRA PART


__ADS_3

Diftha masih mondar-mandir di teras rumah sambil beberapa kali melihat ke arloji yang melingkar di tangannya. Pria itu seperti sedang menunggu seseorang.


"Pak Diftha belum berangkat?" Tanya Bik Ida yang merupakan perawat baru Gizta. Tak seperti perawat Gizta yang sebelum-sebelumnya, Bik Ida ini memang tinggal bersama Diftha dan Gizta. Hanya saat akhir pekan saja Bik Ida pulang ke rumahnya.


"Masih menunggu terapis yang katanya mau datang hari ini, Mbak," jawab Diftha sambil kembali menoleh ke arah pagar. Belum ada tanda-tanda kedatangan dari terapis yang Diftha maksud barusan.


"Oh, sekarang terapisnya Mbak Gizta yang datang ke rumah, Pak?" Tanya Bik Ida lagi.


"Iya, Bik!"


"Biar Bik Ida tidak terlalu repot juga karena harus mengantar Gizta ke tempat terapi."


"Kalau di rumah kan nanti Bik Ida tinggal mengawasi saja," jelas Diftha yang langsung membuat Bik Ida mengangguk.


"Selamat pagi!" Sapa seorang wanita dari luar pagar, yang langsung membuat Diftha bergegas membuka pagar depan rumahnya.


"Pa-" Diftha diam sejenak dan langsung memindai wanita di hadapannya. Diftha seperti tak asing dengan wajah wanita tersebut.


"Sebentar...."


"Sepertinya kita pernah bertemu," ucap Diftha mencoba mengingat-ingat.


"Pak Diftha, kan?" Tanya wanita itu kemudian memastikan.


"Iya! Kau?" Diftha masih mencoba mengingat-ingat.


"Saya Shara, Pak!"


"Waktu itu di kota N saya pernah menggantikan perawat Gizta yang tidak masuk karena sakit," terang wanita yang mengaku bernama Shara tersebut.


"Ah iya!"


"Kau perawat yang waktu itu!" Tukas Diftha yang akhirnya ingat.


"Pak Diftha dan Gizta pindah ke kota ini?" Tanya Shara kemudian.


"Iya, baru sekitar satu bulan." Jawab Diftha.


"Oh!" Shara membulatkan bibirnya lalu mengulas senyum.


"Kau sendiri?" Diftha balik bertanya pada Shara.


"Saya memang tinggal di kota ini, Pak! Kemarin pas di kota N itu saya hanya ikut pelatihan saja sebenarnya," terang Shara sedikit tersipu.


"Oh, begitu!"

__ADS_1


"Lalu kau tahu alamat ini darimana?" Tanya Diftha lagi.


"Oh, saya dapat alamatnya dari klinik fisioterapi tempat saya bekerja," Shara menunjukkan kartu tanda pengenalnya pada Diftha.


"Jadi kau seorang fisioterapis?" Diftha berdecak tak percaya.


"Iya, Pak!"


"Saya yang akan membantu terapi pada Gizta nantinya," terang Shara memperkenalkan dirinya.


"Semoga Gizta masih ingat pada saya," imbuh Shara lagi.


"Pasti Gizta ingat."


"Ayo masuk!" Ajak Diftha kemudian seraya membimbing Shara agar masuk ke rumah. Diftha juga langsung meminta Bik Ida untuk membawa Gizta bertemu fisioterapisnya yang baru.


"Hai, Gizta!" Sapa Shara setelah Gizta dibawa keluar dan bertemu dengannya.


"Kak-"


"Chara?" Gizta berucap dengan terbata.


"Kak Shara," ujar Shara mengoreksi.


"Masih ingat, ya?" Shara mengusap-usap punggung tangan Gizta.


"Benarkah?"


"Saya waktu otu memabg langsung pulang ke kota ini, Pak Diftha-"


"Panggil Diftha saja! Sepertinya kita seumuran, Shara!" Sela Diftha meminta pada Shara yang langsung terlihat salting.


"Lebih tua Pak Diftha-"


"Baiklah, Diftha," ucap Shara akhirnya meskipun sedikit kaku.


"Diftha, Diftha," Shara mengulangi beberapa kali sambil tertawa kecil.


"Iya, begitu!" Diftha manggut-manggut.


"Jadi bagaimana tadi? Kau langsung pulang kesini setelah menjaga Gizta?" Duftha kembali membahas cerita Shara yang belum selesai tadi.


"Iya!"


"Dan aku tidak sempat pamitan pada Gizta," ujar Shara lagi mearsa bersalah.

__ADS_1


"Maaf, ya, Gizta!" Shara lalu meminta maaf pada Gizta sembari mencium punggung tangan gadis itu hingga membuat Gizta tertawa.


"Tapi sekarang, Kak Shara akan sering datang dan nanti kita main bersama," ujar Shara kemudian yang sudah ganti mengusap kepala Gizta.


Dering ponsel Diftha menyela keakraban antara Shara dan Gizta.


"Aku angkat telepon dulu, Shara!" Pamit Diftha yang langsung dijawab Shara dengan anggukan kepala.


Tak berselang lama, Diftha sudah kembali menghampiri Shara dan Gizta.


"Aku boleh minta nomor ponselmu, Shara? Aku harus ke kantor sekarang karena sudah ditunggu. Nanti soal terapinya Gizta aku akan membahas lewat telepon," ujar Diftha seraya menyodorkan ponselnya pada Shara.


"Oh, ya! Tentu saja!" Shara segera menerima ponsel Diftha, lalu mengetikkan nomor ponselnya.


"Sudah." Shara mengembalikan ponsel Diftha lagi.


"Terima kasih. Nanti aku hubungi," janji Diftha.


"Hari ini aku akan tahap perkenalan dulu bersama Gizta," ujar Shara memberitahu Diftha.


"Ya! Kau yang lebih tahu tahapannya. Jadi silahkan lakukan sesuai tahapan saja. Nanti kalau perlu sesuatu, bilang saja pada Bik Ida," tukas Diftha sembari memperkenalkan Bik Ida pada Shara.


"Baiklah!" Shara mengangguk sekali lagi.


"Aku ke kantor sekarang," pamit Diftha kemudian seraya mencium kening Gizta. Shara hanya tersenyum menyaksikan kedekatan kakak beradik tersebut.


Setelah sedikit berbasa-basi pada Shara dan Bik Ida, Diftha akhirnya pergi menuju ke kantornya.


.


.


.


.


Nanti cerita mereka lanjut di judul yang baru "Asmara .... ........."


Iya, judulnya dirahasiakan dulu biar nggak ada yang nikung 🤣🤣


Othornya kepedean sekali, ya!


Padahal cuma remukan emping melinjo, sapa juga yang mau nikung 🤣🤣


Terima kasih sekali lagi untuk semua reader yang sudah membaca cerita Reina dan Angga sampai tamat.

__ADS_1


Bye 💜💜


__ADS_2