Segitiga Cinta Reina

Segitiga Cinta Reina
KAU PUNYA PACAR?


__ADS_3

Tok tok tok!


Reina mengangkat wajahnya, saat mendengar pintu ruangannya diketuk dari luar.


Apa itu Angga yang akhirnya menyadari kesalahannya?


Tapi sepertinya mustahil, karena Angga belum pernah menyambangi Reina ke ruangannya selama Reina bekerja di perusahaan ini. Biasanya Angga hanya akan menelepon jika ia ingin mengajak Reina keluar, atau lebih sering Reina-lah yang menyambangi Angga ke ruangannya.


Angga seolah menutupi hubungannya bersama Reina dari para karyawan. Dan hingga detik inipun hanya beberapa petinggi di perusahaan saja yang tahu mengenai hubungan Angga dan Reina. Mayoritas karyawan tidak ada yang tahu kalau Reina sebenarnya adalah pacar Angga.


Bahkan kadang para karyawan perempuan juga blak-blakan mengungkapkan kekaguman mereka pada Angga di hadapan Reina. Tapi Reina tak pernah ambil pusing dengan semua hal itu.


Mungkin Angga sengaja merahasiakan hubungan mereka demi profesionalitas!


Atasan dan bawahan yang menjalin hubungan di tempat kerja kadang memang bisa mempengaruhi reputasi perusahaan itu sendiri. Belum lagi para karyawan yang mungkin akan merasa iri dan mengira kalau Reina bisa mendapatkan jabatannya yang sekarang karena ia adalah pacar dari Angga. Meskipun itu tidak sepenuhnya benar, namun statusnya sebagai kekasih Angga sedikit banyak juga memberikan pengaruh.


Tok tok tok!


Kembali terdengar ketukan di pintu yang membuyarkan lamunan Reina.


"Masuk!" Ucap Reina akhirnya bersamaan dengan pintu yang hanya digeser sedikit, lalu muncullah sesosok kepala.


Ya ampun!


"Apa aku mengganggumu?" Tanya Diftha seraya menyunggingkan senyum manis.


"Masuklah, Dift! Kenapa hanya menampakkan kepalamu seperti hantu terjepit begitu?" Titah Reina sambil sedikit berkelakar. Diftha sontak tertawa dan pria itu akhirnya membuka pintu sedikit lebar agar bisa masuk ke ruangan Reina yang tak terlalu besar.


Reina memang hanya kepala divisi dan bukan nona direktur sejenis Zeline!


"Tidak istirahat makan siang?" Tanya Diftha berbasa-basi yang langsung membuat Reina melihat arloji di tangannya.


"Ya ampun!" Gumam Reina seraya menepuk keningnya sendiri.


"Lupa atau memang sedang diet?" Goda Diftha yang langsung membuat Reina berdecak.


"Lupa!" Cicit Reina akhirnya.


"Baiklah, bagaimana kalau kita makan siang bersama? Sekalian kau bisa menunjukkan padaku tempat makan yang enak di sekitar sini," ujar Diftha mencetuskan ide.


"Modus ternyata!" Cibir Reina yang langsung membuat Diftha terkekeh.


"Aku yang traktir, deh!" Diftha merayu Reina lagi.


"Hmmmm, baiklah!" Reina langsung bangkit dari kursi, bersamaan dengan ponsel gadis itu yang berbunyi menandakan ada pesan masuk.


Reina segera membuka pesan di ponselnya.


[Nanti sore ada acara, Rei? Aunty masak makanan kesukaanmu, nanti pulang ke rumah bersama Angga, ya!] -Aunty Sita-


Reina terdiam beberapa saat, setelah membaca pesan dari Aunty Sita. Jarang-jarang mama dari Angga itu mengirimi Reina pesan begini.

__ADS_1


"Rei! Jadi makan siang tidak?" Teguran Diftha langsung membuyarkan lamunan Reina.


"Eh, iya!" Jawab Reina tergagap. Gadis itu langsung mengetikkan balasan pesan untuk Aunty Sita.


[Iya, Aunty! Nanti Reina mampir] -Reina-


Pesan terkirim!


Reina segera melesakkan pobselnya ke dalam tas lalu mengajak Diftha berangkat.


"Ayo ke Rainer's Resto saja! Hanya beberapa blok dari sini!" Ajak Reina yang langsung diiyakan oleh Diftha.


****


"Disini?" Tanya Diftha setelah ia berjalan ke Rainer's Resto yang memang hanya beberapa blok dari kantor.


"Ya! Makanan disini enak dan harganya terjangkau," jawab Reina seraya meraih buku menu.


"Lebih terjangkau lagi makanan di warteg yang kita lalui tadi," kekeh Diftha yang langsung membuat Reina terdiam beberapa saat.


"Tapi tak apa! Pilihanmu disini, jadi pasti menu-menu disini memang enak," ujar Diftha lagi seraya membuka buku menu.


Reina memperhatikan raut wajah Diftha yang sedikit berubah, saat pria itu melihat satu persatu menu yang ada di daftar. Sesekali Diftha juga akan menggaruk kepalanya sendiri.


Reina seolah bisa menangkap kecemasan dari raut wajah Diftha.


"Kau mau pesan yang mana, Rei?" Tanya Diftha selanjutnya seraya menatap wajah Reina. Pria itu memang mengulas senyum, tapi Reina tetal bisa menangkap kecemasan di wajah Diftha.


"Mmmm, bagaimana kalau kita makan di warteg yang kau maksud tadi saja?" Usul Reina seraya menutup buku menu.


"Tidak apa-apa, Rei! Kau bisa pesan makanan disini-"


"Tidak usah! Aku bosan dengan makanan disini!" Reina sudah bangkit dari duduknya, saat seorang waitress menghampiri meja Reina dan Diftha.


"Nona Reina. Mau-"


Reina sudah mengangkat satu tangannya dan memberikan isyarat kalau ia hebdak pergi dan tak jadi memesan.


"Baik, Nona!" Waitress tadi langsung pergi meninggalkan Reina dan Diftha.


"Re-"


"Sudah, ayo!" Reina menggeret tangan Diftha dan segera mengajak pria itu keluar dari resto.


"Mana warteg yang kau maksud tadi?" Tanya Reina setelah mereka berdua keluar dari Rainer's Resto.


"Di sana!" Diftha menunjuk dengan sedikit tergagap.


"Baiklah! Ayo!" Reina mengulas senyum, lalu kembali berjalan menyusuri trotoar beriringan dengan Diftha.


"Ngomong-ngomong, waitress tadi sepertinya mengenalimu." Diftha mulai membuka obrolan.

__ADS_1


"Iya karena hampir setiap hari aku makan di sana." Jawab Reina seraya mengendikkan bahu.


"Tapi dia tahu namamu juga dan memanggilmu Nona. Kau kenal dengan pemilik resto itu?" Tanya Diftha penuh selidik yang malah membuat Reina terkekeh.


"Kau tidak lihat ini!" Reina menunjukkan kartu tanda pengenal yang tergantung di lehernya pada Diftha.


"Dia tahu namaku dari sini, Diftha! Jangan berlebihan begitu!" Reina sedikit memukul bahu Diftha yang langsung garuk-garuk kepala.


Tanpa terasa, mereka berdua akhirnya sampai di warteg yang dimaksud Diftha tadi.


"Langsung pesan atau bagaimana?" Tanya Reina bingung saat Diftha mengajaknya masuk ke dalam.


"Kau mau pakai lauk yang mana? Biar aku pesankan," ujar Diftha yang langsung membuat Reina memindai satu per satu makanan yang sudah tersaji di etalase. Semuanya terliha menggugah selera.


Reina menunjuk beberapa lauk, sebelum gadis itu lanjut duduk dan menunggu Diftha yang membawakan nasi pesanannya.


"Silahkan!" Ucap Diftha seraya meletakkan sepiring nasi ke hadapan Reina.


"Wow! Sepertinya enak," ujar Reina penuh antusias. Gadis itu langsung menikmati makanannya dan sesekali akan manggut-manggut dan memuji makanan yang ia santap.


"Ngomong-ngomong, ada yang marah tidak jika aku mengajakmu makan di luar begini?" Tanya Diftha yang kembali membuka obrolan.


"Marah?" Reina mengernyit tak mengerti.


"Pacarmu barangkali! Kau dulu kan punya pacar anak kuliahan pas kita kekas sebelas. Inisial A yang tak pernah kau sebut namanya," kekeh Diftha seraya menggigit tempe goreng tepung.


"Yang itu...." Reina mengaduk-aduk nasi di piringnya.


Ingatan Reina mendadak tertuju ke foto dirinya bersama Angga yang terpajang di meja kerja Angga.


Bukankah Diftha asisten Angga?


Jadi seharusnya Diftha sudah melihat foto itu di atas meja Angga.


Lalu kenapa Diftha bersikap seolah dia tak tahu dan malah bertanya apa Reina sudah punya pacar?


Atau jangan-jangan....


"Sssttt! Kok melamun!" Diftha mengibaskan tangannya di depan wajah Reina yang sontak membuat Reina sesikit salah tingkah.


"Kau sudah punya pacar, Rei?" Diftha mengulangi pertanyaannya.


"Entahlah!" Reina hanya mengendikkan kedua bahunya dan enggan menjawab pertanyaan Diftha. Status hubungan Reina saat ini sedang dalam mode menggantung. Jadi Reina tak bisa menjawab.


"Habiskan makanannmu cepat, Diftha! Kita harus segera kembali ke kantor!" Ujar Reina akhirnya yang langsung membuat Diftha mengangguk. Dua teman lama itupun menghabiskan makan siang mereka dakam diam.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2