
Diftha menelan gumpalan pahit di tenggorokannya, setelah pria itu mendapati kenyataan bahwa ternyata Reina memanglah calon tunangan Angga. Mungkin sudah sejak lama juga Angga dan Reina menjadi pasangan kekasih.
Lalu kenapa Reina tak langsung mengatakannya secara jujur pada Diftha tempo hari kalau memang ia adalah kekasih Angga dan mereka hendak bertunangan?
"Diftha!"
Diftha sedikit terkejut saat mendapati Papa Robert yang sudah berada di depan ruang kerja Angga.
"Angga tidak ke kantor hari ini," ujar Papa Robert lagi seolah sedang memberitahu Diftha.
"Iya, Pak! Saya dengar Pak Angga akan bertunangan hari ini," jawab Diftha berusaha menepis perasaan perih dan sakit di dalam hatinya.
Kenapa Reina tak jujur dan seolah memberikan harapan pada Diftha?
"Malam ini lebih tepatnya. Kau sudah dapat undangannya?" Tanya Papa Robert memastikan.
"Un-undangan?" Diftha tergagap.
Tapi misalnya Diftha mendapat undangan, Diftha mungkin juga tak akan datang. Rasanya terlalu menyakitkan.
"Kata Angga, dia mengundang semua karyawan," tukas Papa Robert lagi yang membuat Diftha semakin bingung.
"Kau belum menerima undangannya, Diftha?" Tanya Papa Robert sekali lagi.
"Belum, Pak! Mungkin Pak Angga menitipkannya pada karyawan lain," jawab Diftha beralasan. Dan disaat bersamaan, pintu lift terbuka lalu Angga tampak keluar dari lift.
Diftha hanya menatap sekilas pada kekasih
Reina tersebut sebelum ia kembali menundukkan wajahnya.
Bukankah tadi kata Pak Robert Angga tidak ke kantor hari ini. Lalu kenapa pria itu malah ada di sini sekarang?
"Angga, kenapa ke kantor lagi? Mamamu akan mengomel-"
"Angga hanya ingin mengambil file yang ketinggalan, Pa! Lima belas menit," jawab Angga cepat sebelum papa Robert menyelesaikan pertanyaannya. Angga juga langsung menghilang ke dalam ruangannya tanpa menyapa Diftha yang hanya tertunduk.
"Diftha, file yang kemarin sudah siap kan?" Pertanyaan Papa Robert menyentak lamunan Diftha.
"Sudah, Pak!"
"Ayo ke ruang meeting!" Titah Papa Robert selanjutnya dan Diftha hanya mengangguk. Diftha langsung menyambar beberapa map dari atas meja kerjanya, lalu mengikuti langkah Papa Robert ke dalam lift.
****
Reina baru turun dari taksi yang mengantarnya ke rumah Diftha, saat gadis itu mendapati mbak perawat yang menggendong Gizta keluar dari pagar dan wajahnya juga terlihat panik. Ada sebuah taksi juga yang berhenti di depan rumah Diftha.
Gizta kenapa?
"Mbak! Gizta kenapa?" Tanya Reina yang sudah menghampiri Mbak perawat dan memeriksa kondisi Gizta.
"Gizta demam, Mbak Reina! Dan tadi sempat kejang juga. Inj maj saya bawa ke rumah sakit," ujar Mbak perawat.
__ADS_1
"Diftha kemana?" Tanya Reina yang langsung masuk ke dalam taksi dan mengambil Gizta dari gendongan mbak perawat, lalu memangku kepala adik Diftha tersebut.
"Mas Diftha di kantor. Sudah coba saya telepon tadi tapi tidak diangkat. Mungkin sibuk," terang mbak perawat yang hanya membuat Reina mengangguk. Setelah mengunci pagar rumah, mbak perawat menyusul masuk ke taksi, lalu dua wanita itu langsung membawa Gizta ke rumah sakit.
"Bang..." rintih Gizta dengan bibir yang bergetar seperti orang sedang menggigil.
"Abang Diftha masih di kantor, Gizta! Kita ke rumah sakit dulu, ya!" Ucao Reina sembari mengusap-usap kepala Gizta. Bisa Reina rasakan suhu tubuh Gizta yang kembali naik, sementara tajsi malah terjebak kemacetan.
"Pak, cepat sedikit!" Pinta Reina pada supir taksi.
Reina membuka botol minum yang tadi diberikan mbak perawat, lalu membantu Gizta untuk minum agar gadis itu tak dehidrasi.
"Ya ampun!" Gumam Reina lagi karena lalu lintas yang hanya merangkak. Mungkin karena akhir pekan.
"Sabar, ya, Sayang!" Reina kembali mengusap kepala Gizta. Hadus itu lalu mengambil ponselnya di dalam tas dan mencoba menghubungi nomor Diftha.
Benar kata Mbak perawat, telepon tak diangkat. Apa Diftha sedang sibuk?
Taksi akhirnya kembali berjalan dengan lancar setelah berhasil menerobos kemacetan. Reina segera bernafas lega karena tak lama lagi mereka akan segera tiba di rumah sakit.
****
Angga yang sudah menyelesaikan urusannya, keluar daei ruang kerja. Pria itu berhenti sejenak di meja Diftha untuk meletakkan sebuah pesan tertulis. Namun kemudian netra Angga malah fokus pada dua gelas kopi yang Diftha letakkan di atas mejanya. Angga sedikit mengernyit, saat pria itu mendapati sebuah gambar hati warna merah di salah satu gelas kopi. Karena penasaran, Angga mengangkat gelas kopi tersebut dan sedikit memutarnya.
"Untuk Reina"
Lalu ada tanda love di belakang gelas.
Angga diam sejenak dan berusaha mencerna maksud dari Diftha menuliskan sebuah puisi atau lebih tepatnya sebuah gombalan untuk Reina.
Ya, untuk Reina karena jelas-jelas di atas tertulis nama Reina dengan tanda love di belakangnya.
Apa Diftha sedang mencoba untuk merayu Reina?
"Aku kira kau tadi tidak mau kopi."
"Tadi ada karyawan yang membuatkan aku kopi. Jadi aku minum agar dia tidak kecewa."
"Diftha, kau darimana?"
"Mengantar kopi, Pak!"
"Kau beli kopi tadi? Kenapa aku tidak dibelikan?"
"Anak-anak yang membelikan."
Angga tertegun sejenak setelah mengingat-ingat jejadian beberapa hari belakangan. Diftha yang kerap membawa kopi ke lantai bawah. Lalu kopi yang juga selalu tersedia di meja Reina.
Jadi.....
"Angga, kau belum pulang?" Teguran Papa Robert menyentak lamunan Angga. Pria itu langsung mencari keberadaan Diftha yang sepertinya tadi pergi bersama Papa Robert. Tidak ada!
__ADS_1
"Diftha mana, Pa?" Tanya Angga sembari menenggak kopi yang bertuliskan nama Reina tadi hingga tandas, lalu meremas gelasnya dan membuang gelas tersebut ke tempat sampah.
"Tadi masih di ruang meeting," jawab Papa Robert seraya mengendikkan bahu.
"Oh, ya! Ngomong-ngomong kau jadi mengundang seluruh karyawan ke acara pertunanganmu malam ini?" Papa Robert mengajukan pertanyaan lain.
"Ya!" Jawab Angga datar. Kedua netra Angga masih menatap kd arah lift seolah menunggu Diftha keluar dari sana.
"Lalu kenapa kau tak membagikan undangan pada mereka semua?" Tanya Papa Robert heran. Angga sontak mengernyit dengan pertanyaan sang papa.
"Tadi papa bertanya pada Diftha dan beberapa karyawan. Dan mereka semua kompak menjawab belum mendapat undangan," ucap papa Robert tegas yang langsung membuat pikiran Angga tertuju pada Reina.
Bukankah kemarin Reina yang meminta untuk membagikan undangan...
"Undangan untuk karyawan sudah kau bagikan?"
"Sudah!"
"Reina!" Gumam Angga sedikit geram sebelum pria itu berlalu meninggalkan papa Robert dan menuju ke lift.
"Angga, kau belum menjawab pertanyaan Papa!" Seru papa Robert saat Angga menunggu pintu lift terbuka.
Tak butuh waktu lama!
Namun tepat saat pintu lift tebuka, ada Diftha di dalam lift.
"Siang, Pak Angga!" Sapa Diftha canggung seraya keluar dari lift. Angga tak menjawab sapaan Diftha dan pria itu hanya menatap Diftha dengan tajam. Angga lalu masuk ke dalm lift, dan tak berselang lama pintu lift sudah tertutup.
Lift terus bergerak turun ke lantai tempat divisi keuangan berada. Angga turun dengan emosi yang membuncah di dalam dadanya. Bahkan sapaan beberapa karyawan hanya diabaikan oleh Angga. Pria itu langsung menuju ke ruang kerja Reina. Angga membuka semua laci yang berada di ruang kerja Reina. Hingga akhirnya s
Di laci besar di bawah meha, barulah Angga menemukan setumpuk undangan pertunangannya bersama Reina yang masih utuh.
Ya, Reina tak pernah membagikan undangan itu pada Diftha dan karyawan lain!
Kenapa Reina berbohong dan seolah tidak mau menyebarkan berita pertunangannya?
"Kau tidak cemburu aku pergi bersama Diftha?"
"Dulu aku dan Diftha duduk satu bangku saat di kelas sebelas!"
Angga memejamkan matanya saat kalimat demi kalimat yang pernah diucapkan Reina berkelebat di benaknya.
Apa itu berarti, Reina juga ada rasa pada Diftha?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1