
"Nanti saja hari Senin kita bahas."
Reina baru terjaga dari tidurnya, saat samar-samar wanita itu mendengar suara Angga yang sepertinya sedang berbicara dengan seseorang.
"Iya, hari Senin saya sudah ke kantor. Nanti sekretaris saya akan menghubungi anda."
Reina mengerjapkan kedua matanya, lalu mendongakkan wajah dan menatap pada Angga yang sedang duduk sembari bersandar pada kepala ranjang. Suami Reina itu sudah memakai kacamatanya, memangku laptop, dan meletakkan ponsel di telinganya.
Ck!
Masih Angga yang workaholic!
"Baiklah, selamat pagi!" Angga mengakhiri percakapannya di telepon lalu pria itu meletakkan ponselnya ke atas nakas dan ganti menoleh ke arah Reina yang merengut.
"Kau sudah bangun?" Sapa Angga sembari mengusap wajah Reina. Pria itu lalu fokus ke laptopnya lagi.
"Begitu saja?" Gumam Reina yang mendadak merasa kesal.
"Aku ini sebenarnya istrimu atau selingkuhanmu?" Gerutu Reina lagi yang kini sudah ganti bersedekap. Bibir wanita itu masih merengut.
"Kau istriku," jawab Angga sembari matanya tetap fokus ke layar laptop.
"Lalu kenapa kau hanya menyapaku seolah aku selingkuhanmu atau wanita simpananmu?" Protes Reina dengan nada bicara yang sudah bersungut-sungut.
Angga menghentikan aktivitasnya, lalu menoleh ke arah Reina yang cemberut.
"Baiklah, maaf!" Angga mengusap wajah Reina sekali lagi.
"Selamat pagi, Istriku!" Ujar Angga mengulangi sapaannya pada Reina. Lalu Angga menangkup wajah Reina dan mengecup kening istrinya tersebut.
"Kau sudah bangun?" Tanya Angga sekali lagi dan kali ini raut cemberut Reina langsung berubah menjadi raut sumringah.
"Ya!" Jawab Reina sembari melepaskan kacamata Angga.
"Reina, aku belum selesai." Angga dengan cepat mengambil kembali kacamatanya dari tangan Reina. Istri Angga itu lalu berdecak sekali lagi.
"Tapi kau sudah janji untuk tidak membelai selingkuhanmu itu di rumah, Angga!" Protes Reina mulai emosi.
"Hanya lima menit," sergah Angga meminta waktu. Reina langsung bersedekap dan kembali cemberut.
"Lima menit, Sayang!" Bujuk Angga sekali lagi sembari tangannya terulur untuk mengusap wajah Reina. Namun kedua mata Angga sibuk memelototi layar laptopnya.
"Terserah!" Reina menyentak kasar tangan Angga.
"Aku mau mandi-"
"Reina!" Angga menyela kalimat Reina dan menarik tangan istrinya itu agar tak beranjak dari atas tempat tidur.
"Lima menit saja, Sayang! Lalu aku akan menemanimu mandi dan kita bisa jalan-jalan," bujuk Angga sekali lagi meminta pengertian dari Reina yang tetap merengut.
"Kau mau jalan-jalan kemana?" Tanya Angga selanjutnya seraya mencolek hidung Reina.
"Terserah!" Jawab Reina malas.
Angga kemudian mengulas senyum, namun mata serta tangannya tetap fokus pada layar laptop.
"Padahal kau sangat bisa menyuruh Diftha mengerjakan itu semua! Lalu kenapa harus kau kerjakan sendiri semuanya?" Protes Reina setelah lima menit berlalu dan Angga tetap asyik dengan selingkuhannya.
Angga menghentikan sejenak aktivitasnya, lalu menatap ke arah Reina yang masih merengut di sebelahnya. Nasehat Diftha tempo hari kembali berkelebat di benak Angga.
"Menurut saya, tidak ada salahnya anda membayar dua atau tiga sekretaris dan asisten pribadi, agar pekerjaan anda juga lebih ringan dan anda punya waktu lebih untuk Reina. Karena permintaan Reina untuk selalu diperhatikan dan diprioritaskan itu bukanlah permintaan yang muluk-muluk, Pak Angga!"
Angga menghela nafas, lalu menutup laptopnya.
"Kau benar! Sebaiknya aku menyuruh Diftha saja yang mengerjakan," tukas Angga kemudian yang langsung membuat Reina menatap pada Angga dan wanita itu tak lagi merengut.
"Aku akan menelepon Diftha sebentar," ujar Angga lagi sembari meletakkannya laptopnya di atas nakas, dan ganti mengambil ponselnya. Pria itu segera menghubungi nomor Diftha, sembari memberikan kode pada Reina agar mendekat ke arahnya. Reina langsung tersenyum dan menghambur ke pelukan Angga.
"Nomor Diftha tidak aktif," gumam Angga kemudian setelah beberapa kali pria itu mencoba menghubungi sang sekretaris.
"Nanti saja aku coba menghubunginya lagi," putus Angga akhirnya. Pria itu lalu meletakkan ponselnya ke atas nakas dan mengeratkan dekapannya pada Reina.
"Ayo mandi, lalu jalan-jalan!" Ajak Angga kemudian sembari mengecup puncak kepala Reina.
"Nanti saja mandi dan jalan-jalannya," tukas Reina sembari berganti posisi dan naik ke pangkuan Angga.
"Reina-"
__ADS_1
"Apa? Aku istrimu sekarang!" Reina menatap tegas pada Angga, sebelum wanita itu menanggalkan kaus Angga.
"Kenapa juga kau sudah memakai baju?" Protes Reina kemudian.
"Aku harus ke bawah tadi mengambil makanan yang diantar sopir dari rumah Mama," jawab Angga jujur.
"Mengambil makanan dan selingkuhanmu pasti!" Tebak Reina sembari mengendikkan dagunya ke laptop Angga di atas nakas.
"Tadi malam kita tak membawa benda perusak suasana itu kemari," lanjut Reina lagi yang langsung membuat Angga terkekeh.
"Aku hanya mendadak ingat pada pekerjaanku," tukas Angga beralasan dan Reina langsung berdecak.
"Kau mau apa sebenarnya, Rei?" Tanya Angga saat Reina sudah ganti melepaskan celana Angga.
"Mau merayumu, agar kau tidak terus-terusan ingat pada pekerjaanmu!" Jawab Reina blak-blakan yang langsung membuat Angga geleng-geleng kepala.
"Pangkal pahamu tidak sakit memangnya? Tadi malam kita sudah melakukannya beberapa ronde," ujar Angga mengingatkan.
"Tidak!" Jawab Reina sembari menggenggam milik Angga.
"Ayo sarapan dulu!" Ajak Angga sebelum Reina bertindak lebih jauh lagi.
"Nanti saja sarapan-" Kalimat Reina berhenti begitu saja saat Angga mendadak sudah mel*mat bibirnya.
"Sarapan yang ini maksudku," ucap Angga yang langsung membuat Reina berdecak, dan langsung mendorong tubuh Angga hingga telentang. Reina lalu menindih tubuh Angga dan balik mel*mat bibir suaminya tersebut.
Ya, suasana di dalam kamar akhirnya kembali memanas seperti yang terjadi semalam.
****
Angga yang baru keluar dari kamar mandi, terkejut saat mendapati Reina yang sudah rapi dan mengenakan setelan baju kerja.
"Kau ke kantor juga hari ini?" Tanya Angga bingung.
"Ya! Kau sudah mulai masuk kerja jadi aku juga akan mulai kerja hari ini," ujar Reina.
"Memang kenapa? Kau tidak suka aku masuk kerja hari ini bersamamu?" Tanya Reina kemudian memicing curiga.
"Bukan begitu! Aku hanya khawatir kau masih capek, Rei!" Tukas Angga mengungkapkan alasannya.
"Tidak! Aku sudah segar bugar pagi ini," ungkap Reina bersungguh-sungguh.
"Baju kerjaku mana?" Angga hendak mengambil baju kerjanya, saat Reina sudah dengan cepat mendahului. Reina lalu memakaikan kemeja ke tubuh Angga dengan cekatan. Tak lupa, Reina juga sedikit bertingkah usil dengan mengusap dada Angga, seolah wanita itu sedang menggida suaminya.
"Reina!" Angga sedikit menggeram.
"Apa? Kau jadi bergairah hanya karena aku usap-usap begini?" Goda Reina yang kembali mengusap-usap dada Angga seraya berekspresi nakal.
"Jangan mulai!" Desis Angga memperingatkan.
"Kau mau apa memang kalau aku mulai-"
"Reina!" Angga mencekal tangan Reina yang kini malah tergelak. Sedangkan Angga menatap dengan tajam wajah Reina, seolah pria itu siap menelan Reina.
"Kau tadi merias wajah berapa lama?" Tanya Angga masih tetap dengan tatapan tajamnya pada Reina.
"Tidak lama! Hanya sekitar dua puluh menit."
"Kenapa?" Reina membalas tatapan tajam Angga.
"Hanya dua puluh menit...." Angga tiba-tiba sudah menangkup wajah Reina dengan cepat, lalu mel*mat bibir istrinya itu.
Reina yang awalnya berontak, akhirnya menikmati juga cecapan bibir Angga.
"Aaarrggghhhh!" Angga mengerang sebentar, sebelum lanjut mencecap bibir Reina. Cecapan Angga lalu turun ke leher dan tengkuk Reina.
"Angga! Itu akan berbekas!" Protes Reina saat Angga yang sepertinya memang sengaja membuat tanda kepemilikan di leher Reina.
"Sial!" Umpat Angga kemudian yang tiba-tiba berhenti. Pria itu menyandarkan kepalanya di pundak Reina dan mendengus beberapa kali.
"Kenapa berhenti? Aku tak keberatan mandi lagi," tanya Reina sembari merem*s rambut Angga.
"Aku ada meeting jam sembilan," jawab Angga seraya menatap melas pada Reina yang langsung tergelak.
"Angga yang malang!" Reina menepuk punggung Angga dengan lebay.
"Nanti kau ke ruanganku setelah aku selesai meeting, ya!" Pinta Angga kemudian, sembari lanjut memakai kemejanya sendiri.
__ADS_1
"Mmmmm, sepertinya tidak bisa!"
"Pekerjaanku banyak, Angga!" Ujar Reina beralasan.
"Rei-" Angga menggeram sekali lagi pada istrinya tersebut.
"Tidak boleh mesum di kantor!" Reina sok-sokan memperingatkan Angga.
"Reina!"
"Tidak!" Tolak Reina tetap keras kepala. Sepertinya Reina memang niat sekali membuat Angga kesal.
"Aku akan menjemput ke ruanganmu kalau begitu!" Putus Angga yang akhirnya menemukan jalan keluar.
"Mesum!" Reina memukul dada Angga, sebelum kemudian wanita itu lanjut memakaikan dasi ke leher Angga.
"Apa kau tadi sengaja?" Tanya Angga setelah menyadari warna kemejanya yang senada dengan warna blazer yang dikenakan oleh Reina.
"Suami istri harus kompak!" Ujar Reina enteng seraya menyambar jas Angga. Reina lalu memakaikannya sekalian pada Angga, dan kini suami istri itu sudah siap pergi ke kantor.
"Pakai concealer!" Bisik Angga mengingatkan sembari jarinya menunjuk ke leher Reina.
"Ck! Kau suka sekali melakukannya!" Decak Reina seraya menyambar concealer dari atas meja, lalu mengusapkannya ke leher demi menutupi jejak mesum Angga.
"Sudah?" Tanya Reina seraya menunjukkan lehernya pada Angga.
"Iya, sudah! Ayo berangkat!" Aja Angga seraya merangkul Reina. Pasangan suami istri itu lalj keluar dari kamar, dan langsung berpamitan pada Mama Sita dan juga Rossie. Papa Robert sendiri sudah berangkat duluan ke kantor.
****
"Halo, Pa!" Sambut Reina sesaat setelah mengangkat telepon Papa Robert. Reina dan Angga baru tiba di parkiran basement kantor.
"Kau ke kantor hari ini, Rei?"
"Iya, Pa! Ini Reina sudah di parkiran bersama Angga," jawab Reina sembari memberikan kode pada Angga agar membantu melepaskan sabuk pengamannya.
"Papa telepon?" Tanya Angga sedikit berbisik.
"Iya!"
"Nanti langsung ke atas saja, ya! Ke ruangan Papa! Papa mau bicara!"
"Baik, Pa!" Pungkas Reina sebelum telepon ditutup oleh Papa Robert.
"Kenapa?" Tanya Angga setelah Reina menyimpan ponselnya.
"Disuruh ke ruangan Papa. Mau bicara penting katanya," jawab Reina sembari mengendikkan kedua bahunya reina lalu membuka pintu mobil dan segera turun. Angga juga sudah ikut turun, lalu pasangan suami istri itu segera menuju ke lift dan naik ke lantai paling atas.
****
"Diftha belum datang," ucap Reina sembari mengendikkan dagunya ke meja kerja Diftha yang masih kosong dan terlihat rapi juga.
"Mungkin langsung ke ruang meeting," tukas Angga menerka-nerka. Meskipun dalam hati Angga juga bertanya-tanya karena tidak biasanya Diftha datang terlambat. Terlebih kalau ada meeting pagi!
"Baiklah! Aku langsung ke ruangan papa," ujar Reina sebelum tangannya ditahan oleh Angga.
"Sebentar!" Angga menangkup qajah Reina, lalu mel*mat bibir istrinya itu beberapa saat.
"Kau merusak riasanku!" Protes Reina seraya mendorong Angga yang malah terkekeh.
"Nanti aku telepon setelah aku selesai meeting!" Janji Angga.
"Maaf, aku sibuk!"
"Bye!" Reina melambaikan tangan pada Angga sebelum wanita itu menghilang ke dalam ruangan Papa Robert.
Angga hanya geleng-geleng kepala, lalu pria itu lanjut masuk ke ruangannya. Baru saja Angga meletakkan tas kerjanya, tatapan matanya sudah langsung tertumbuk ke amplop putih yang berada di atas meja kerja. Angga segera meraih amplop tersebut dan membukanya. Kedua netra Angga fokus membaca kata demi kata yang tertulis di atas kertas yang ia temukan di dalam amplop, hingga di ujung bawah terdapat nama serta tanda tangan orang yang menulis surat tersebut
Hormat saya, Diftha Pratama.
Angga memejamkan matanya dan benar-benar tak menyangka dengan kejutan yang pagi ini ia dapatkan. Diftha tiba-tiba resign sebagai sekretaris Angga!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.