
Reina masih mengamati Angga yang kini berkutat dengan laptop di hadapannya. Meeting sudah selesai dan beberapa staff yang tadi ikut meeting juga sudah meninggalkan ruangan. Hanya tersisa Reina dan Angga saja sekarang.
"Ehem!" Reina berdehem kecil untuk sekedar memberitahu Angga kalau dirinya masih berada di ruangan tersebut dan belum keluar.
Ya, kali saja Angga tidak sadar karena pria itu terlalu asyik dan fokus pada laptopnya. Reina seolah ingin menjelma jadi laptop atau ponselnya Angga saja agar bisa dibawa kemana-mana dan dipegang-pegang setiap saat.
Hhhh!
Pemikiran yang konyol!
"Kau tidak kembali ke ruanganmu, Rei?" Angga akhirnya mengangkat wajahnya dan buka suara.
"Tidak ada pekerjaan dan jam makan siang hanya tinggal tiga puluh menit lagi," jawab Reina seraya menunjukkan arlojinya pada Angga.
"Oh, ya!"
"Aku baru ingat," gumam Angga yang langsung mengangkat ponselnya dan menghubungi seseorang.
Ya ampun!
Reina kira, Angga ingat untuk mengajak Reina makan siang!
"Diftha! Laporan yang tadi sudah selesai?" Tanya Angga yang rupanya sedang menghubungi Diftha.
Reina hanya mendwngus dan gadis itu memainkan jemarinya sambil menunggu Angga selesai menelepon.
"Letakkan saja di ruanganku, lalu kau bisa istirahat makan siang," tukas Angga selanjutnya memberikan perintah pada Diftha di ujung telepon. Lalu setelahnya, Angga menyudahi teleponnya.
"Mau makan siang sekarang?" Tanya Reina akhirnya merasa tak tahan lagi menunggu basa-basi dari Angga.
"Jam makan siang masih tiga puluh menit lagi," jawab Angga santai sambil kembali berkutat dengan ponselnya.
Reina mendengus, lalu gadis itu bangkit berdiri dan menghampiri Angga. Reina bahkan tak segan merangkulkan lengannya ke pundak Angga.
"Reina, kita sedang-"
Kalimat Angga langsung terhenti saat Reina mendadak sudah membungkam bibir Angga dengan bibirnya. Kedua mata Angga sontak membelalak namun tetap saja Angga tak kuasa untuk tak membalas ciuman dari Reina.
Sepertinya tak apa sebentar saja!
Setelah berpagutan selama hampir dua menit, Reina akhirnya melepaskan bibirnya dari bibir Angga.
"Maksudnya apa?" Tanya Angga meminta penjelasan.
"Hanya latihan untuk malam pertunangan kita nanti!" Jawab Reina sembari mengikat rambutnya ke belakang, lalu berlalu meninggalkan Angga.
Angga mendadak tertawa kecil entah karena jawaban Reina tadi atau entah karena apa. Satu hal yang pasti, ekspresi Angga sedikit terlambat.
"Kata mama undangannya sudah selesai dicetak dan besok diantar," ujar Angga yang akhirnya mematikan laptopnya, dan menyingkirkan benda persegi itu dari hadapannya.
"Ngomong-ngomong soal besok, aku ada reuni SMA dan aku berencana datang," Reina kembali menatap Angga.
"Datang saja!" Jawab Angga santai.
"Kau akan menemaniku?" Tanya Reina penuh harap.
"Kapan acaranya?" Angga balik bertanya. Pasti untuk mencocokkan jadwal!
"Besok sore," jawab Reina.
Angga langsung menggeleng dan persis seperti dugaan Reina.
Ya, ya, ya!
Sebaiknya Reina memang tak terlalu berharap pada kekasihnya ini!
__ADS_1
"Aku minta maaf, Rei! Aku ada acara pertunangan besok sore," ungkap Angga dengan raut penuh rasa bersalah.
"Ya!" Reina memaksa untuk mengulas senyum.
"Aku akan datang bersama Diftha saja!" Lanjut Reina lagi berharap Angga akan sedikit cemburu. Tapi sepertinya tidak berefek apapun karena ekspresi wajah Angga tetap santai dan datar.
"Iya, aku ingat! Kau dan Diftha teman SMA, kan?" Ujar Angga tanpa raut cemburu sama sekali.
"Iya! Kami bahkan duduk satu bangku dulu," cerita Reina sedikit memanasi Angga. Namun nyatanya kekasih Reina itu malah hanya manggut-manggut.
"Diftha pria yang cerdas dan pekerja keras. Pekerjaannya selalu memuaskan," ungkap Angga yang malah membahas dan memuji-muji Diftha.
Astaga!
Cemburulah sedikit, Angga!
Ada apa denganmu?
"Jadi, kau mengizinkan aku pergi bersama Diftha besok sore?" Tanya Reina sekali lagi memastikan.
"Tentu saja!"
"Pergilah dan Diftha akan menjagamu! Aku yakin itu," jawab Angga santai tanpa sedikitpun raut cemburu. Pria itu juga sudah bangkit dari duduknya.
"Ayo makan siang ke Rainer's Resto!" Ajak Angga selanjutnya sembari menenteng laptopnya.
"Ya!" Jawab Reina yang sebenarnya sedikit malas. Malas karena nanti Angga pasti akan selingkuh dengan pacar perseginya yang kini sedang ia tenteng tersebut di Rainer's Resto.
Sudahlah!
****
[Hai, kau sudah makan siang duluan, ya?] -Diftha-
[Iya, Dift! Maaf aku tadi lupa mengabari] -Reina-
Pesan balasan dari Diftha lalu masuk tak berselang lama.
[Tidak apa! Santai saja! Aku hanya memastikan tadi] -Diftha-
"Re! Makanannmu dingin!" Teguran Angga membuat Reina urung mengetikkan pesan balasan pada Diftha.
"Ya!" Jawab Reina singkat sambil kembali melahap menu makan siangnya. Sementara Angga yang sudah menyelesaikan makan siangnya, sudah kembali berkutat dengan laptopnya lagi.
Ya, ya, ya!
Reina kan sudah bilang kalau benda persegi itu adalah selingkuhan Angga!
****
Hari beranjak sore.
Reina keluar dari lift yang mengantarnya ke lantai tempat ruangan Angga berada. Gadis itu langsung menyapa Diftha yang sudah bersiap untuk pulang.
"Hai!" Sapa Diftha yang langsung tersenyum sumringah melihat kedatangan Reina.
"Sudah mau pulang?" Tanya Reina berbasa-basi.
"Ya!"
"Kau sendiri?" Diftha balik berbasa-basi pada Reina.
"Mau bertemu bos dulu sebelum pulang," jawab Reina sembari mengendikkan dagunya ke pintu ruangan Angga.
"Oh! Laporan? Kenapa mepet-mepet sebelum pulang?" Cecar Diftha sembari terkekeh. Reina sontak ikut terkekeh.
__ADS_1
"Tadi ngerjainnya males-malesan soalnya," jawab Reina beralasan.
Diftha manggut-manggut.
"Nanti mau pulang bareng? Aku tunggu di bawah kalau iya," tawar Diftha selanjutnya dan Reina langsung menggeleng.
"Aku mungkin lama laporannya. Jadi kau pulang duluan saja dan tak usah menungguku!" Reina meninju kecil pundak Diftha.
"Besok baru kita pulang bareng," sambung Reina lagi sedikit mengingatkan Diftha tentang acara reuni besok.
"Iya, aku ingat! Besok reuni, kan?" Tukas Diftha yang langsung membuat Reina mengangguk.
"Jadi datang, kan?" Reina memastikan sekali lagi.
"Jadi, dong!" Jawab Diftha mantap.
"Baiklah! Hati-hati di jalan dan titip salam untuk Gizta!" Pungkas Reina selanjutnya sembari menepuk pundak Diftha.
"Oke!"
"Bye!" Diftha melambaikan tangan pada Reina, lalu pria itu menyambar tas ranselnya sebelum lanjut pergi ke lift untuk turun ke lantai bawah. Reina masih memperhatikan Diftha yang mendadak bertingkah konyol sebelum akhirnya pria itu menghilang ke dalam lift.
Diftha! Diftha!
Sejak dulu tingkahnya memang ada-ada saja!
Setelah Diftha tak terlihat lagi, Reina segera berbalik dan hendak masuk ke ruangan Angga. Namun alangkah terkejutnya gadis itu saat mendapati Angga yang rupanya sudah berdiri di balik punggungnya.
Hah?
"Kenapa naik kesini dan tidak langsung ke parkiran saja?" Tanya Angga sembari menyelipkan rambut Reina yang lolos dari ikatan ke belakang telinga.
"Aku menjemputmu!"
"Kan sudah lama juga aku tak ke ruanganmu," jawab Reina yang malab menarik tangan Angga dan mengajak pria itu untuk kembali masuk ke ruangannya.
"Reina, kita harus pulang!" Sergah Angga mengingatkan Reina.
"Satu jam saja, Angga!" Ujar Reina keras kepala yang terus menarik tangan Angga. Reina lalu menutup pintu ruangan Angga setelah mereka berdua masuk ke dalam ruang kerja Angga.
"Mau apa memangnya satu jam?" Tanya Angga tak paham.
Entah benar-benar tak paham atau entah hanya pura-pura. Satu hal yang pasti, Angga bukanlah pria polos. Pria itu hanya banyak abai dan tidak romantis saja. Tapi kalau sedikit dipancing, biasanya akan beda cerita!
"Tidak usah pura-pura tidak tahu!" Reina sudah melepaskan blazer-nya, sebelum kemudian gadis itu melompat ke punggung Angga.
"Reina!" Angga sedikit terhuyung, namun pria itu busa dengan cepat menjaga keseimbangan dan menahan tubuh Reina yang kini bergelayut di punggungnya.
"Kau mau membawaku kemana?" Tanya Reina menggoda, sembari mencerukkan wajahnya di pundak Angga.
"Ke sofa," jawab Angga seraya tertawa kecil. Angga lalu menjatuhkan Reina ke sofa pelan-pelan. Namun saat Angga hendak beranjak, Reina tiba-tiba sudah menariknya. Angga yang tak siap santai tersungkur dan langsung menindih Reina.
"Hai, Calon tunangan," panggil Reina dengan nada menggoda sebelum kemudian kedua tangan Reina menangkup wajah Angga, lalu bibirnya meraup binir Angga yang jaraknya begitu dekat.
Yeah!
Sepertinya Angga juga tak kuasa untuk menolak!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1