
"Pak Diftha dapat undangan pertunangan Pak Angga tidak?" Tanya seorang karyawan, saat Diftha baru kembali ke kantor setelah istirahat makan siang.
"Undangan pertunangan?" Diftha balik bertanya dan mengernyit.
"Iya, Pak!"
"Dengar-dengar Pak Angga akan bertunangan besok. Tapi katanya yang dapat undangan hanya para petinggi perusahaan karena acaranya privat."
"Tapi Pak Diftha kan sekretarisnya Pak Angga. Masa iya Pak Diftha tidak dapat undangan?" Cerocos karyawan yang bergerombol tersebut.
Diftha langsung menggeleng sembari mengulas senyum.
"Mungkin karena aku masih baru juga," tukas Diftha merendah.
"Bisa jadi, Pak Diftha!"
"Tapi nanti saat acara pernikahan Pak Angga semoga Pak Diftha atau kalau perlu kita semua diundang, ya!" Seloroh salah seorang karyawan yang langsung diaminkan oleh karyawan yang lain. Sementara Diftha hanya geleng-geleng kepala dan hendak melanjutkan langkahnya ke lift. Namun kemudian, celetukan seirang karyawan membuat Diftha kembali harus menghentikan langkahnya.
"Tapi kabarnya calon tunangan Pak Angga karyawan di kantor ini juga."
"Hah, serius? Siapa?" Para karyawan langsung bersahut-sahutan denga riub sembari menerka-nerka siapa yang sekiranya menjadi tunangan dari bis mereka.
"Jangan-jangan aku!" Celetuk seorang karyawan yang langsung ditimpali dengan sorakan dari karyawan lain.
"Huuuuu! Mana mau Pak Angga sama kamu!"
Diftha kembali harus geleng-geleng kepala sembari mengul*m senyum. Pria itu kemudian ingat pada ucapan Reina tempo hari.
"Foto siapa itu? Pak Angga baru memasangnya tadi."
"Angga dan calon tunangannya."
Ah, iya! Ada foto calon tunangan Pak Angga di meja kerja atasan Diftha tersebut. Ketimbang sibuk menerka-nerka seperti karyawan lain, kenapa Diftha tak mencari tahu saja dan melihatnya langsung di pigura yang berada di meja kerja Pak Angga?
Baiklah!
Diftha bergegas masuk ke dalam lift, lalu langsung menuju ke lantai tempat ruangan Angga berada. Tadi Angga memang sudah mengatakan pada Diftha kalau ia tak akan kembali ke kantor setelah makan siang karena katanya ada urusan penting. Mungkin urusan yang berkaitan dengan acara pertunangan besok.
Rasanya tak masalah jika Diftha masuk sebentar ke ruangan Angga, lalu melihat foto tunangan Angga, dan setelahnya Diftha akan langsung keluar. Diftha hanya penasaran tebtang siapa gadis beruntung yang akan menjadi tunangan Angga. Apa benar gadis itu adalah karyawan di kantor ini?
Ting!
Suara lift yang menandakan kalau Diftha sudah sampai di lantai tujuan, segera mententak lamuna pria tersebut. Diftha bergegas jeluar dan tanpa ragu melangkah ke ujung lorong dimana ruangan Angga berada. Teoat saat Diftha sudah memegang knop pintu ruangan Angga. Mendadak rasa ragu menyergap hati pria dua puluh lima tahun tersebut.
"Pak Angga sedang tidak ada di ruangannya. Apa sopan jika aku masuk ke dalam?" Batin Diftha bertanya pada dirinya sendiri. Diftha kembali menimbang samoai akhirnya ia meyakinkan dirinya sendiri kalau hal ini tak akan jadi masalah. Toh Diftha hanya akan melihat foto di atas meja Pak Angga dan tak mengambio apapun dari ruangan atasannya tersebut.
"Baiklah!" Diftha sudah membuka knop pintu sambil sedikit mendorong agar pintu terbuka. Dan tepat di saat bersamaan, terdengar panggipan dari Papa Robert yang baru keluar dari ruangannya.
"Diftha! Apa Angga belum jadi pergi?" Tanya Papa Robert yang langsung membuat Diftha tergagap. Cepat-cepat pria itu menutup kembali pintu ruangan Angga.
__ADS_1
"Iya, Pak!" Diftha sudah berbalik dan segera menghampiri Papa Robert.
"Angga belum pergi?" Papa Robert mengulangi pertanyaannya.
"Sudah, Pak!" Jawab Diftha cepat.
"Tadi sebelum makan siang, Pak Angga sudah meninggalkan ruangannya," ujar Diftha lagi menambahkan.
"Kau sudah makan siang?" Tanya Papa Robert selanjutnya.
"Sudah, Pak!"
"Kau ikut aku sekarang. Ada urusan di luar," titah Papa Robert selanjutnya yang langsung membuat Diftha mengangguk patuh.
"Baik, Pak!" Jawab Diftha seraya mengikuti Papa Robert untuk masuk ke dalam lift.
****
Reina menghela nafas dan menatap sedikit kesal pada Angga yang terus saja mengoceh di depannya. Tapi Angga tak sedang mengoceh pada Reina, melainkan pada seseirang di ujung telepon.
Ya!
Angga dan Reina memang tadi ke butik, lalu lanjut makan siang di luar berdua. Namun tetap saja, Angga masih mengurusi pekerjaannya dan sibuk sendiri.
"Besok? Sepertinya tidak bisa." Angga masih berbicara di telepon sembari menatap Reina yang kini merengut.
"Bagaimana kalau hari Senin saja? Nanti aku kabari lagi," pungkas Angga yang akhirnya menyadari kekesalan Reina. Pria itu lalu menutup telepon dan segera menyimpan ponselnya ke dalam saku.
"Sudah sejak tadi!" Jawab Reina ketus.
Angga menghela nafas, lalu segera meraih tangan Reina di atas meja. Meskipun Reina hebdak menghindar, namun sepertinya gerakan Reina kalah cepat dengan gerakan Angga. Sekarang angga sudah menggenggam tangan Reina.
"Kau mau jalan-jalan setelah ini?" Tawar Angga lembut.
"Tidak usah! Nanti kau malah sibuk dengan ponselmu lagi seperti tadi," tolak Reina dengan nada kesal. Dan angga justru malah teryawa mebdengar jawaban Reina.
Dasar!
"Aku antar pulang kalau begitu, agar kau bisa istirahat. Aku masih harus-"
"Bertemu klien!" Potong Reina seolah sedang melanjutkan kalimat Angga.
"Besok aku tidak ke kantor atau bertemu klien lagi, Rei! Aku akan di rumah seharian," janji Angga pada Reina.
"Di rumahmu-"
"Di rumahmu!" Koreksi Angga cepat.
"Acara pertunangannya di rumahmu. Jadi aku akan di rumahmu saja seharian besok," tukas Angga sekali lagi.
__ADS_1
Reina menghela nafas saat kembali terdengar dering nyaring dari ponsel Angga.
Astaga!
"Lima menit!" Izin Angga pada Reina yang langsung mendengus. Reina sudah bangkit berdiri dan menyambar tasnya, sementara Angga kembali sibuk mengoceh di telepon entah bersama siapa.
"Aku akan ke mobil duluan!" Ujar Reina menahan emosinya yang kini membuncah. Gadis itu langsung meninggalkan Angga begitu saja dan pergi ke parkiran resto.
Selang sepuluh menit setelah Reina masuk ke mobil dan menunggu Angga, barulah calon tunangan Reina itu datang menyusul.
"Tadi Keano yang telepon," cerita Angga setelah pria itu duduk di belakang kemudi dan memakai sabuk pengaman.
"Kami ada bisnis-"
"Kesibukanmu di kantor saja sudah menyita waktumu dan kau masih memikirkan bisnis bersama Keano!" Sergah Reina memotong cerita Angga dengan kesal.
Angga sejenak terdiam. Pria itu lalu menatap ke arah Reina yang kini membuang wajahnya keluar jendela.
"Aku minta maaf jika aku selalu sibuk, Rei!"
"Aku janji akan membagi waktu dengan bijak dan meluangkan lebih banyak waktu lagi untukmu," Angga sudah meraih tangan Reina lalu menggenggamnya dengan erat.
"Kau selalu berjanji tapi ujung-ujungnya kau tak pernah memperbaiki appaun, Angga! Aku juga punya batas kesabaran!" Reina akhirnya balas mebatap Angga dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Besok kita sudah bertunangan dan kau seperti tak berubah-"
"Aku sudah berusaha, Rei!" Sergah Angga mencari pembenaran.
"Hari ini aku sudah meluangkan waktu bersamamu-"
"Tapi pikiranmu berada di tempat lain dan kau terus saja mengabaikanku karen aku sibuk sendiri dengan ponselmu." Potong Reina yang langsung membuat Angga terdiam.
"Maaf," ucap Angga lirih.
"Kau selalu minta maaf, tapi kau tak pernah memperbaiki apapun, Angga!"
"Mungkin setelah bertunangan nanti sebaiknya kita instropeksi diri masing-masing serta kembali mempertimbangkan apakah kita akan lanjut ke jenjang pernikahan atau-"
"Rei, aku akan memperbaiki semuanya!" Angga sudah menggenggam erat tangan Reina dan menatap penuh kesungguhan ke dalam wajah kekasihnya tersebut. Angga seolah takut jika Reina meninggalkan dirinya.
"Aku akan memperbaiki semuanya," ulang Angga lagi memohon.
"Aku mencintaimu, Reina! Aku sungguh-sungguh mencintaimu!" Angga sudah ganti menangkup wajah Reina, lalu jarinya menyeka sisa bulir bening yang menggenang di sudut mata Reina.
"Aku juga mencintaimu," ucap Reina lirih, sembari menggenggam tangan Angga yang masih berada di wajahnya.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah mampir.