Sekar Arumi

Sekar Arumi
menjadi pembantu untuk anaknya sendiri


__ADS_3

'mulai hari ini, Sekar akan membantu budhe, budhe tinggal bilang saja, Sekar harus melakukan apa, insya Alloh Sekar juga sudah sedikit bisa memasak, karena ibu selalu meminta Sekar untuk membantunya memasak, agar Sekar terbiasa dengan pekerjaan rumah, terutama dapur".


budhe menoleh dan menatapku lekat, meskipun di usianya yang tak lagi muda, garis kecantikan masih terukhir sempurna di wajah budhe, pantas, ibu selalu cerita, jika budhe jadi primadona, banyak yang mengejarnya untuk dijadikan pacar, dan tak sedikit yang datang langsung melamar, dan kebanyakan dari mereka, adalah laki laki yang memiliki pekerjaan tetap dan mapan, tapi budhe tak berhak memilih cintanya, karena kakek yang memutuskan siapa laki laki yang pantas jadi suami budhe, pernikahan budhe dengan pakdhe adalah hasil dari perjodohan orang tua, dan melahirkan tiga orang anak, dua laki laki dan satu perempuan, mbak Irma anak pertama budhe, mas Bayu dan setelah itu mas akhir.


mas Bayu sudah meninggal karena kecelakaan kerja, padahal usianya masih sangatlah muda, sedangkan mas Akhir, bekerja menjadi salah satu dosen di salah satu unervesitas di Surabaya dan masih belum menikah, mas Akhir menetap di Surabaya dan juga sudah memiliki hunian sendiri, mas Akhir biasanya akan sambang pulang tiap dua Minggu sekali, itulah cerita yang sempat aku dengar dari ibukku.


nasib ibu dan budhe sangat bertolak belakang, budhe hidup dengan nyaman tanpa kurang materi, sedang ibu, harus memeras tenaga demi sesuap nasi, jika di lihat, wajah ibu, tak beda dengan budhe, bahkan memiliki garis wajah yang hampir sama, cuma yang membedakan warna kulit mereka, budhe memiliki kulit yang putih bersih, sedang ibu berkulit sawo matang.


"trimakasih ya nduk, kamu memang mirip dengan ibumu, ulet, sabar, dan baik, semoga nanti kamu dapat jodoh orang baik dan bisa membawa kebahagiaan untukmu dan juga ibumu, aamiin.

__ADS_1


budhe sengaja meminta Huda untuk menjemputmu, selain untuk meneruskan sekolahmu, agar budhe ada teman ngobrol dan membersihkan rumah, kamu nggak keberatan kan Sekar?" tanya budhe dengan mimik sendu, terlihat jelas begitu banyak beban dalam sorot matanya.


"insya Alloh, Sekar senang dan justru Sekar ingin berterimakasih, karena berkat bantuan budhe sekeluarga, Sekar bisa melanjutkan sekolah lagi, Sekar janji, akan berusaha untuk tidak mengecewakan".


"iya nduk, budhe percaya, kamu anak cerdas dan Insya Alloh Sholehah, nanti kalau sudah semua berangkat, budhe ingin ngobrol banyak sama kamu, tapi sekarang, kita harus siapin sarapan dulu".


"ambil tempe dan telor di kulkas, kita buat menu sederhana saja, goreng tempe dan dadar telor, lalu bikin sambel teri, untuk sayurnya bikin oseng kangkung saja".


"nggih budhe" dan akupun langsung melakukan apa yang di bilang oleh budhe.

__ADS_1


tak butuh waktu lama, untuk menyiapkan masakan sederhana itu, setelah menatanya di atas meja, aku mulai membuatkan kopi dan teh hangat yang harus juga tersedia di atas meja, setelah selesai semuanya, aku membersihkan semua peralatan masak yang kotor, mencucinya dengan bersih dan kembali menatanya dengan rapi, budhe menemaniku dengan duduk manis di bangku kayu yang tersedia di dapur.


saat aku sedang asik ngobrol dengan budhe, nampak mbak Irma baru bangun dari tidurnya, padahal ini sudah hampir pukul enam pagi, apakah setiap hari dia terbiasa seperti ini, kasian sekali budhe, menjadi pembantu untuk anaknya sendiri, astagfirullah, aku bergidik sendiri, satu lagi kenyataan yang aku temukan dari wanita berwajah kalem itu.


setelah semua, berangkat, dan yang tersisa dirumah hanyalah aku dan budhe, budhe mengajakku untuk ngobrol sambil makan rujak, banyak yang diceritakannya, mulai dari perselingkuhan sang suami, kisah anak anaknya dan perannya dirumah ini, hatiku berdenyut nyeri, sekali lagi aku tekankan dalam hati ini, apa yang nampak oleh mata, tak semua adalah kebenaran, yang tersirat belum tentu tersurat, kisah budhe membuatku semakin paham, pentingnya membangun dan menanamkan moral dan membentuk akhlaq sesuai dengan ajaran agama, agar tidak salah dalam memilih jalan dan mampu menimbang dalam bertindak dan berucap.


materi berlimpah, ternyata tak membuat budhe bahagia, justru setiap detik hatinya selalu menangis perih, meskipun wajahnya terus melukis senyuman, dalamnya hati siapa yang mampu menjangkau.


inilah kehidupan dunia yang penuh tipu daya.

__ADS_1


__ADS_2