Sekar Arumi

Sekar Arumi
pingsan


__ADS_3

"Wah, Alhamdulillah ya, akhirnya anakmu jadi orang sukses, kamu harus syukuran itu, biar berkah dan awet." sahut Mak Pik ikut berkomentar.


"Emang harus ya, kalau iya, nanti bantuin aku masak ya, Mak!" sahut Bu Patmi antusias, karena ini kesempatan untuknya bisa menunjukkan kalau dia tidak pelit dan sombong seperti yang mereka katakan selama ini.


"Boleh, nanti juga biar dibantu ibu ibu yang lain, kapan kamu masaknya?" balas Mak Pik yang di iyakan ibu ibu yang lainnya. "Besok saja gimana, karena aku belum belanja untuk itu, besok mbak April ikut temani belanja ke pasar ya, beli bahan bahan yang dibutuhkan." sahut Bu Patmi sumringah, dalam hatinya berkata, kalau syukuran tidak akan menghabiskan uangnya, paling hanya menghabiskan lima ratus sampai enam ratus ribu saja, tidak perlu banyak banyak cukup membuat tiga puluh kotak nasi saja.


πŸŒΈπŸŒΈπŸŒΈπŸŒΈπŸŒΈπŸ’“πŸŒΈπŸŒΈπŸŒΈ


Dilain tempat, Sekar, Rina dan ibunya hanya berdiam dirumah, ketiga wanita itu lebih memilih berada dirumah saja, selama pencuri itu belum ditangkap, karena Sekar sangat yakin, dalang dibalik pencurian itu Bima, mantan suaminya.


Dan Bima pasti akan melakukan hal yang lebih lagi untuk membawakan dendamnya. Sekar tau bahkan sangat menyadari jika Bima tidak terima kalau Sekar menolak pembagian harta gono-gini, dan itu membuat Bima memilih jalan pintas untuk melancarkan keinginannya.


"Bu, jangan dipikirin ya, ibu cukup diam saja, dan istirahat, biar ini jadi urusan Sekar. Karena Sekar tidak ingin ibu sakit, dan masalah toko, nanti dibuka kalau sudah selesai direnovasi, dan Sekar akan berikan lagi modalnya, jadi ibu sama Rina jangan terlalu memikirkan nasib toko kita." Sekar bicara panjang lebar untuk menguatkan hati ibu dan adiknya, karena Sekar melihat adiknya banyak diam dan melamun, pun dengan ibunya.


"Owalah nduk, gak dipikir gimana, jelas jelas semua barang di toko ludes, dan pencurinya juga belum tertangkap, ibu itu geram dengan orang yang sudah tega mengambil hak orang lain seenaknya. Kalau memang benar, orang dibalik ini semua benar Bima, ibu tidak akan memaafkannya dan akan ibu kasih pelajaran dia, biar tidak berbuat seenak udelnya sendiri." Sekar tersenyum melihat kemarahan ibunya, karena ibu adalah orang yang hampir gak pernah bisa marah, mungkin karena mas Bima selama ini sudah begitu mengecewakan nya, hingga ibu memendam perasaan bencinya.


"Sudah, Bu. Sudah ya!


gak ada habisnya kalau kita ngomongin mas Bima, jadi biarkan saja, biar Alloh yang membalas semua perbuatannya." Sekar mengusap lembut bahu sang ibu.

__ADS_1


"Owh iya Rin, tolong kamu bikinin kopi buat para tukang ya, dan sekalian kamu kasih cemilan, apa aja yang ada." lanjut Sekar bicara sana adiknya.


"Iya, mbak. Di dapur ada pisang goreng juga tahu, tadi ibu yang bikin, tapi justru kita gak sempat makan, sibuk dengan masalah di toko." sahut Rina yang mengambil nafas dalam, masih tersisa gurat kesedihan di wajahnya.


"Semoga segera tertangkap pelakunya, dan habis ini kita makan siang bareng ya, biar aku panasi dulu sayurnya." balas Sekar menimpali ucapan adiknya.


Sekar langsung menuju dapur untuk memanasi sayur yang tadi pagi sudah dimasak ibunya, tapi belum sempat dimakan karena sudah bingung dengan pencurian di toko, sehingga lupa mengisi perut sangking paniknya.


Saat Sekar mau mengangkat sayur untuk di taruh di atas kompor, tiba tiba kepalanya terasa berputar, pusing dan juga matanya berkunang kunang, hingga Sekar terjatuh dan tak sadarkan diri. Mendengar benda jatuh, Rina yang baru saja kembali menaruh kopi ke para tukang yang ada di depan, langsung berlari ke dapur dan kaget mendapati tubuh kakaknya sudah tergeletak di lantai tak sadarkan diri, dan bahkan nampak sayur yang tercecer tak jauh dari tubuh Sekar.


"Ya Alloh mbak Sekar, astagfirullahaladzim. Ibu! Bu! mbak Sekar Bu!"


Rina langsung panik melihat kakaknya tak sadarkan diri, berteriak memanggil ibunya untuk meminta bantuan.


"Itu, Bu! mbak Sekar pingsan, kita angkat mbak Sekar ke kamar BU." Rina menangis melihat keadaan kakaknya yang tidak biasanya, kalau memang Sekar sakit, pasti dari tadi sudah terasa, tapi dari tadi Sekar kelihatan sehat dan baik-baik saja.


"Kita gak akan kuat mengangkat tubuhnya mbak mu, nduk! Sebentar ibu akan meminta tolong kepada salah satu tukang di depan, kamu jaga kakakmu disini." Bu Fatimah langsung berjalan tergopoh ke arah depan, berniat meminta tolong orang yang kerja merenovasi toko di depan rumahnya.


Tapi sebelum Bu Fatimah menyampaikan niatnya, tiba tiba mobilnya Raihan memasuki halaman. Bu Fatimah nampak cemas dan menunggu Raihan keluar dari mobil.

__ADS_1


"Nak Raihan, kebetulan kamu datang, nak! tolong Sekar, dia tidak sadarkan diri di dapur. Ibu bingung."


Mendengar penuturan ibunya Sekar, tanpa menunggu lagi, Raihan langsung berlari ke arah dapur melihat keadaan Sekar, Raihan tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


"Mas Raihan! Tolong mbak Sekar, mas! Tolong bantu saya mengangkat mbak Sekar ke kamarnya." sambut Rina saat melihat kedatangan Raihan yang terburu buru.


"Biar saya yang angkat, Rin. Tolong kamu bukakan pintu kamarnya." sahut Raihan dengan wajah tegang, tak bisa dipungkiri hatinya sangat cemas melihat keadaan Sekar yang terlihat pucat dan dingin tubuhnya.


Dengan tergesa Rina langsung membuka pintu kamar Sekar, dan Raihan langsung membawa tubuh Sekar ke kamar dan merebahkannya secara berlahan.


"Rin, apa yang terjadi, kenapa Sekar bisa sampai seperti ini?" tanya Raihan dengan sorot mata sayu menatap tubuh Sekar yang tak sadarkan diri. Bahkan wajahnya sudah memucat dan teras dingin.


"Gak tau, Mas. Mbak Sekar terlihat baik baik saja kok dari tadi, bahkan mbak Sekar berniat mau memanasi sayur buat kita makan siang, tapi tiba ada suara benda jatuh, dan ternyata mbak Sekar yang jatuh, saat aku datang, mbak Sekar sudah tak sadarkan diri."


Raihan mengusap wajahnya kasar, dan langsung mengeluarkan ponselnya, berniat menelpon dokter agar datang memeriksa Sekar.


"Aku akan menelpon dokter Haris, biar Sekar segera ditangani." sahut Raihan dengan wajah datarnya.


"Rin, oleskan minyak kayu putih ke tubuh Mbak mu, nduk. Sekalian bajunya di ganti, itu sudah basah terkena tumpahan sayur." Bu Fatimah masuk ke kamar membawa minyak kayu putih dan air hangat di baskom buat menyeka tubuh Sekar yang terkena tumpahan sayur.

__ADS_1


"Kalau begitu saya tunggu diluar saja, sambil menunggu kedatangan dokter Haris." tanpa disuruh, Raihan sudah tau apa yang harus dilakukan. Dengan langkah berat Rayhan meninggalkan kamar, menunggu tubuhnya dibersihkan oleh ibunya.


"Iya, Nak Raihan! Terimakasih banyak ya, nanti kalau sudah selesai, nak Raihan silahkan masuk lagi. Doakan semoga Sekar lekas sadar dan tidak terjadi apa apa." sahut Bu Fatimah sendu.


__ADS_2