Sekar Arumi

Sekar Arumi
hutang


__ADS_3

" jangan laporkan aku Sekar, aku janji akan mengembalikan perhiasan ibu."


" Baiklah, aku tunggu sampai besok. jika besok perhiasan itu belum juga ada, jangan salahkan aku jika harus bertindak tegas dengan melaporkanmu Mas. Dan satu lagi, sebaiknya kalian pulang, karena aku juga sudah tidak Sudi untuk mempertahankan pernikahan ini, hari ini juga aku akan mengurus perceraian kita. Pergilah."


" Bu, aku pamit berangkat kerja, kalau mereka macam macam, ibu teriak saja, minta tolong pada warga." lanjut ku pada ibu sebelum pergi. "Asalamualaikum."


Rasanya tak tega meninggalkan ibuku dirumah saat ada Mas Bima dan ibunya, tapi aku harus pergi ke kantor, dan menyelesaikan pekerjaan yang hari ini lumayan padat. Tadi saat melihat ibu marah, aku melihat ibu punya sisi yang berbeda. Sejak kecil hingga aku dewasa sekarang, baru kali ini aku melihat ibuku se marah itu, bahkan ibu mampu berucap tegas dengan tatapan matanya yang tajam. Ah ibu, Kau selalu jadi panutan untuk anakmu ini. Semoga mas Bima tidak berbuat macam macam.


 

__ADS_1


" Bu, pinjami kamu uang. kasihan ibuku nanti bisa malu kalau tidak bisa bayar uang arisan." Bima bicara seolah meminjam uang adalah hal yang lumrah. Tidak ada raut sungkan apa lagi malu dalam dirinya, padahal aku adalah mertua baginya, tapi dengan lancarnya dia meminta aku untuk meminjami uang ibunya. Perhiasan yang diambilnya saja belum dikembalikan, ini dia sudah minta untuk di pinjami uang. Dari mana Sekar mendapatkan laki laki model begini?


" Maaf, ibu tidak bisa bantu kamu Bima, ibu tidak memegang uang." jawabku asal, harus mencari alasan agar tidak terkesan pelit. Kalau saja sikap mereka baik, tidak perlu meminjam, aku pasti akan membantunya dengan suka rela saat kesulitan begini. Tapi sayangnya dari jauh hari Bima dan keluarganya sudah menunjukkan sikap dan sifat kurang baik.


" Masa sih Bu, tidak mungkin ibu tidak pegang uang, Yudha tau uang ibu itu banyak." sahut Bima dengan tidak tau malunya, seolah memaksa untuk memenuhi keinginannya. Astagfirullah semoga aku bisa tetep tenang dan sabar menghadapi menantu dan besanku ini.


" Iya, ibu tidak pegang uang. Sekarang uang Sekar yang atur, ibu sudah tua, jadi ibu mempercayakan semua pada Sekar dan Rina saja. Biarlah mereka yang mengelolanya."


" Ibu tidak punya hak lagi untuk itu, mereka yang mengelola, dan Rina sepertinya juga sudah menyerahkan semuanya pada kakaknya, Sekar." kilahku tak kalah kekeuh nya agar tidak mengeluarkan uang yang mereka mau, enak saja. siapa yang kerja keras dan siapa pula yang seenaknya ingin menikmati. Lama lama bisa pusing aku dibuatnya.

__ADS_1


" sepertinya ibu tidak mau meminjami kami uang, makanya banyak alasan ini itu, masa sama keluarga sendiri perhitungan. jangan gitulah jeng." sahut ibunya Bima dengan wajah mencebik kesal. tapi apa perduli ku, karena hatiku juga sudah terlanjur kecewa dengan sikap mereka pada putriku.


" Terserah kalian mau bilang apa tentang saya, yang pasti saya tidak akan memberikan uang itu." sahutku kesal.


" keterlaluan, tidak anak, tidak ibunya sama saja, sana sama perhitungan."


" iya, kalau sudah tau, kenapa masih disini, silahkan pergi, itu pintunya masih terbuka." tunjuk ku pada pintu yang terbuka.


" Dasar keterlaluan, aku pastikan kalian akan menyesal karena sudah memperlakukan kami seperti ini." hentak Bima yang mulai tersulut emosi. Tanpa permisi ibu dan anak itu pergi meninggalkan rumah dengan mengendari sepeda montor yang dulunya dibeli Sekar agar Bima tidak lagi pulang pergi naik bus saat kerja.

__ADS_1


Aku hanya bisa menarik nafas ini kasar, tak habis pikir, anakku menikah dengan laki laki model begitu, tidak ada hormatnya pada orang tua, bahkan sangat suka menyalahkan anakku saat keinginannya tidak dipenuhi, Bima lebih sering menumpang hidup pada Sekar. Laki laki pemalas tapi inginnya hidup enak dan terjamin. Belum lagi gaya ibu dan kakaknya yang senang sekali merecoki anakku untuk memenuhi gaya hidupnya yang sok kaya itu. Jika sekarang Sekar memutuskan untuk bercerai dari Bima, aku sangat bersyukur, agar dia bisa hidup normal lagi dan kembali menemukan kebahagiaan tanpa harus di manfaatkan oleh Bima dan keluarganya.


__ADS_2