
Setelah menutup obrolannya dengan Raihan. Sekar langsung mencari kontak Tante Ririn untuk meminta bantuannya mencari lahan yang yang dibutuhkan Raihan.
" Asalamualaikum Tan, pa kabar?" sapa Sekar ramah mengawali obrolannya dengan sang Tante.
" waalaikumsallam. Alhamdulillah sehat. Tumben nih telpon Tante, ada apa?" sahut Tante Ririn dengan suara manjanya.
" Ini Tan, ada bisnis tanah, lumayan gede. Tante ada pandangan lahan sekitar sepuluh hektar, yang di pedesaan saja, buat kandang sapi untuk program pemerintah." sambung Sekar semangat.
"Ini serius? kalau iya, akan Tante hubungi teman Tante dulu." balas Tante Ririn tak kalah semangatnya.
" serius dong Tan, ini bisnis dari raihan.'
" owh Raihan yang cari. Baiklah Tante percaya kalau dia, pebisnis muda yang sukses. yasudah tutup dulu telponnya, habis ini aku kabari lagi." balas Tante Ririn senang.
" siap tan." Sekar meletakkan ponselnya dan bersiap untuk tidur, tapi matanya tidak bisa terpejam, hatinya masih terasa nyeri dengan tuduhan yang dilontarkan Bima. ' Silahkan kamu bicara sesukamu dan terus saja menuduhku dengan pikiran picik mu itu Mas. Besok aku akan urus surat cerai kita. kita lihat siapa yang menyesal setelah ini.' Sekar bicara lirih dengan hati yang masih meletupkan emosi, baginya sikap Bima sudah tidak bisa untuk di maafkan lagi. Berpisah adalah pilihan terbaik saat ini.
Saat Sekar mau merebahkan diri, gawai miliknya kembali berdering, nama Tante Ririn terpampang di layar ponsel.
" Ya tante." sapa Sekar tanpa basa basi.
" Ini ada lahan di daerah pare, sepuluh hektar oke bahkan kalau lebih juga oke, jalannya aman, truk bisa keluar masuk dengan leluasa. kamu kabari si Raihan. Kalau dia oke, besok kita kesana untuk meninjau tempatnya." jelas Tante Ririn panjang lebar.
__ADS_1
" oke Tan, aku kasih tau Raihan dulu."
" siip, ditunggu kabar secepatnya Sekar. Duh ini rejeki nomplok namanya, bisa beli mobil kita, kalau bisa diel." teriak Tante Ririn dengan semangat empat lima.
" Bismillah ya Tante, semoga diberi kemudahan. Aamiin." balas Sekar juga ikut merasakan senang, dan berharap bisnisnya berjalan dengan lancar.
Dengan semangat empat lima, Sekar langsung memberi tahu kabar dari Tante Ririn ke Raihan. untuk meminta persetujuannya.
Meskipun jantungnya berdegup kencang, Sekar berusaha untuk memberanikan diri menghubungi laki laki tampan itu yang sebelumnya belum pernah Sekar lakukan. Demi bisnis dan keuntungan yang nanti akan di dapat membuat Sekar meng kesampingkan egonya.
" Hallo Asalamualaikum." sapa Sekar lembut.
" Iya Mas, apa Sekar mengganggu?." balas Sekar malu, wajahnya seketika memerah meskipun tak terlihat oleh Raihan.
" gak kok, aku juga belum tidur, masih ada kerjaan. Gimana?." jawab Raihan dengan suara lembutnya.
" Lahan yang tadi mas minta di carikan, insya Alloh sudah ada, letak nya di kampung, tepatnya di pare. Nanti kalau mas Raihan setuju, besok saya akan langsung turun untuk cek lokasi."
" wah hebat sekali, padahal belum ada dua jam tapi sudah dapat aja, tidak salah aku mengandalkan mu, kamu memang perempuan hebat Sekar." puji Raihan kagum dengan ke gercepan usaha Sekar.
" Mas Raihan bisa saja. Kebetulan aku ada Tante yang memang kerjanya di bidang itu, jual beli tanah."
__ADS_1
" Iya, tapi aku beneran suka dengan cara kerjamu. Kalau memang kamu bisa, besok aku tunggu infonya, Kirim Map lokasinya dan tolong di cek berkas berkasnya sekalian. Biar tidak terjadi masalah di kemudian hari."
" Baik Mas, besok aku kabari lagi. Maaf sudah mengganggu malam malam gini. Asalamualaikum."
" Waalaikumsallam, met istirahat. Semoga kita bisa ketemu di bisnis ini, aku sangat berharap." sambung Raihan di ujung sana, dan seketika Sekar langsung merasakan hangat di hatinya, ada getar getar yang tidak bisa di jabarkan.
" insya Allah Mas, semoga." sahut Sekar lirih namun masih bisa di dengar Raihan yang langsung tersenyum bahagia.
Sementara itu, Bima terus uring uringan karena tidak bisa lagi menghubungi Sekar, semua akses sudah di tutup, akun milik Bima telah terblokir semua. Bahkan Bu Patmi ibunya Bima juga ikut kelabakan, karena tidak ada lagi yang bisa di jadikan mesin ATM nya, belum lagi uang arisan untuk besok tidak ada, meminta ke Bima juga percuma, karena anaknya itu pasti tidak akan punya, gayanya aja yang selangit tapi dompetnya selalu terlilit alias kempes.
" Bim, gimana? kamu sudah bisa menghubungi istrimu itu? kalau begini bisa malu ibu, besok bayar arisan pakai apa?" oceh Bu Patmi mulai cemas. Biasanya dia yang paling sombong, selalu datang pertama kali dan memamerkan kalau dirinyalah yang selalu menjadi orang pertama yang membayar arisan kelas atas itu, tapi sekarang dia dibuat pusing dan kelabakan karena Sekar tidak lagi Sudi uangnya dimanfaatkan sama Bima dan keluarganya.
" Bima juga bingung ini Bu. Sekar malah blokir semua akun milik Bima, sepertinya dia memang ingin pisah dan benar benar akan meminta cerai."
" aaah sialan!" Bima meremas rambutnya frustasi.
Jika benar, dirinya digugat cerai sama Sekar, pasti hidupnya akan serba kekurangan seperti dulu, belum lagi gaya ibu dan kakaknya yang sok kaya, makin pusing Bima dibuatnya.
# itulah kenapa kita harus bisa mengontrol antara keinginan dan keadaan, agar tidak menyusahkan diri sendiri, apa lagi dengan gaya hidup yang serba ingin di pandang wah tapi keadaan susah, berlahan akan menjatuhkan kita dari kehidupan yang salah kaprah.
__ADS_1