
"Mas." sapaku sedikit dengan suara bergetar menahan perasaan yang dari tadi sudah campur aduk. Mas Raihan nampak mendekat dan menganggukkan kepala, tanda dia paham dan menunjukkan kalau siap jadi pelindung.
"Mau kemana?" tanyanya tegas dengan menatapku iba.
"Ke tempat pak RT untuk melihat cctv sebelum meneruskan laporan pada pihak berwajib." jawabku singkat. "Baiklah, aku akan temani kamu, kita hadapi sama sama, aku janji tidak akan biarkan pencurinya lolos." seulas senyum menenangkan terukir di wajah laki laki penuh kharisma yang selalu memandangku dengan binar cinta. Akupun mengangguk, dan kami melangkah bersama menuju ke kediaman pak RT. Semoga dari rekaman cctv kita mendapatkan bukti hingga bisa segera menangkap pelaku pencurian.
☘️☘️☘️☘️☘️
'Terlihat jelas dari rekaman Cctv, tiga lelaki berpakaian serba hitam dan menutup wajahnya dengan kain penutup sedang melakukan aksinya, mereka terlihat begitu lihai saat membobol pintu, Dengan cekatan para pencuri itu memasukkan semua barang barang yang dicurinya ke dalam mobil, yang ternyata plat nomornya sudah ditutup dengan kayu triplek, sehingga akan sedikit kesulitan dalam melacaknya. Tapi tunggu dulu, sepertinya mata ini gak asing dengan salah satu pelakunya, dari gestur tubuhnya dan cara berjalan serta matanya, aku seperti mengenalnya, tapi siapa?' aku hanya bisa bergumam sendiri di dalam hati, menebak dan terus mengingat sosok laki laki yang aku rasa tak asing di pandangan ini, apakah jangan jangan itu mas Bima? Ya Tuhan, jika benar itu Bima, jahat sekali dia.
__ADS_1
"Kamu kenapa Sekar? kamu baik baik saja kan?" Mas Raihan menatapku lekat, mungkin dia merasa kalau sikapku aneh, karena aku terlihat sedang tidak fokus. "Gak papa mas, hanya saja aku sedang memikirkan sesuatu, salah satu laki laki itu seolah tidak asing bagiku, tapi aku takut kalau prasangka ini salah dan justru akan menjadi fitnah." sahutku serius dan spontan semua pandangan mengarah padaku.
"Apa mbak Sekar tahu sesuatu atau merasa mengenal salah satu diantara mereka?" sahut pak RT penasaran. "Iya, Pak! salah satu diantara mereka seperti tak asing di mata ini, tapi saya takut kalau dugaan saya salah." jawabku ragu dan pikiran ini mulai tak tenang. "Gak papa mbak, sampaikan saja, biar nanti di selidiki dulu, siapa tau, dengan keterangan dari mbak Sekar, bisa memudahkan penyelidikan nantinya." sahut Babinsa yang memberi arahan agar aku mengatakan kecurigaan ku.
"Saya merasa ini perbuatan Mas Bima, mantan suami saya. Karena jika dilihat dari gestur tubuh dan caranya berjalan juga matanya, semua mengarah padanya, apa lagi dia memiliki dendam pada saya dan keluarga." Mas Raihan langsung mengalihkan pandangannya padaku, sorot matanya terlihat meredup, entah apa yang dia pikirkan, aku tidak sanggup menerkanya.
"Baiklah, lebih baik kita segera melaporkan kejadian ini pada pihak berwajib, biar segera ditangani dan penjahatnya segera tertangkap, orang orang seperti mereka harus diberi pelajaran agar tidak mengulangi perbuatannya yang merugikan orang banyak." Pak RW memberikan pendapatnya dan langsung di iyakan oleh semua orang. "Kita tunggu saja, mungkin sebentar lagi ada pihak kepolisian yang datang kemari, karena saya sudah melaporkan masalah ini sebelum saya datang kemari." sahut mas Raihan tegas dan penuh wibawa, dan benar saja, selang beberapa menit kemudian ada segerombol polisi yang datang meninjau tempat kejadian perkara.
"Saya sudah mencari orang untuk segera merenovasi rumah ini, agar keamanannya lebih terjaga, dan untuk bagian keamanan, saya sudah mendapatkan dua orang yang cukup terlatih di bidangnya. Insyaallah, mulai besok akan ada pekerja yang mulai bekerja membenahi bagian depan." jelas mas Raihan panjang lebar, setelah semua sudah kembali ke rumahnya masing-masing, dan tinggal menyisakan aku, ibu, Rina dan mas Raihan yang membicarakan pembangunan toko dan rumah bagian depan.
__ADS_1
"Terimakasih nak Raihan, terimakasih sudah Sudi membantu kami, maklum dirumah ini semua perempuan, jadi ya itu, tidak begitu faham masalah beginian." balas ibu ramah dengan senyuman tipis dibibir nya. "Gak papa Bu, itu sudah jadi kewajiban saya. Mulai saat ini, ibu gak perlu sungkan, karena saya akan melakukan yang terbaik untuk keluarga saya." balas mas Raihan serius.
"Sekar, kalau benar dugaan kamu, pencurian ini atas rencana Bima, kita harus lebih hati hati, karena tak menutup kemungkinan dia akan melakukan perbuatan yang lebih nekad lagi, kamu harus hati hati." mas Raihan mengingatkan aku untuk tetap berhati hati. Entahlah, sejak tadi memang perasaan ini terasa mengganjal, ada firasat buruk yang terus membayangi, tapi aku sendiri tidak tau itu apa. "Iya, Mas." balasku singkat.
"Saya akan pulang dulu, ada pekerjaan yang harus di urus lagi, dan untuk kamu Sekar, lebih baik tetap dirumah saja, karena saya punya firasat buruk yang akan terjadi, tapi entahlah apa itu, saya belum mengerti, untuk berjaga jaga, lebih baik kamu tetap dirumah dan jangan sembarangan menerima tamu, sekiranya tidak kenal tidak usah dibukakan pintu." Mas Raihan terlihat tampak cemas dan memberi perintah agar aku tidak keluar rumah, tapi aku harus bekerja, karena tidak bisa seenaknya sendiri meminta cuti.
"Tapi aku harus kerja, Mas!" balasku lirih.
"Mulai sekarang, kamu tidak perlu lagi bekerja. Sudah dirumah saja, sampai keadaan kembali membaik, percayalah padaku Sekar, semua demi kebaikan kamu. Saya akan mencukupi semua kebutuhan kamu, ibu juga Rina." Mas Raihan begitu serius dan tegas, hingga aku tak lagi bisa membantah, pandangan kami saling mengunci, terlihat gurat kecemasan dari sorot matanya yang tajam. "Baiklah, aku akan patuh sama kamu, mas. Semoga ini segera berakhir, aku yakin ini ada hubungannya dengan Bima." balasku lirih dan entahlah kalau aku sangat yakin dengan apa yang aku pikirkan tentang mas Bima, karena laki-laki itu begitu licik dan kejam, dia akan melakukan apa saja asal keinginannya tercapai, tak perduli dengan derita orang lain, hati ini begitu semakin membencinya.
__ADS_1
"Sudahlah, kamu tetap hati hati saja, jaga ibu dan adikmu, tetap dirumah dan kunci pintunya. Nanti sore saya akan kesini lagi, mengantarkan orang yang akan berjaga dirumah ini." sambung Mas Raihan tegas, dan setelah berpamitan, mas Raihan pergi dengan mobilnya, menghilang dari pandangan ini.
"Rin, kunci pagar dan pintunya. Lebih baik kita tetap di dalam rumah saja, sambil menunggu kabar dari kepolisian, semoga saja pelakunya cepat tertangkap." Rina mengangguk dan melakukan apa yang aku suruh tanpa banyak bicara. Terlihat ada kesedihan dari sorot matanya yang memerah, pasti adikku itu sedang memikirkan kerugian toko yang dia kelola, kasihan kamu Rin.