
Sejak penangkapannya Bima, Bu Patmi sudah tidak tinggal lagi dirumahnya, dia pindah ikut anak perempuannya yang ada di Surabaya, rumahnya yang di Blitar dijual dan dibelikan rumah di Surabaya.
Bima sedang menjalani proses hukumannya di penjara sudah hampir satu tahun, keluarganya selalu menjenguk setiap sebulan sekali.
Bukannya jera dan menyesal lalu berubah jadi baik dengan memperbaiki diri, tapi justru Bima menjadi salah satu pengedar narkoba dari penjara. Bima bertemu dengan seseorang yang jadi bandar narkoba di lapas dan mereka ditempatkan dalam satu ruangan. Jadi meskipun Bima ada di penjara, rekeningnya terus bertambah nominalnya, itupun dengan nilai yang tidak sedikit. Bima bisa menjalankan misinya karena memang sudah terencana dan orang orang itu sudah sangat ahli menjalankannya.
Bu Patmi begitu kagum dengan kecerdikan anak lelakinya, meskipun dia dipenjara tapi masih bisa menghasilkan uang yang banyak. Karena setiap bulan, Bima bisa memberi uang jatah pada ibunya sebesar tiga juta. Dan sisanya ia masukkan ke dalam rekeningnya yang kini sudah mencapai puluhan juta.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan Sekar, sudah hidup bahagia dengan Raihan. Mereka sudah menikah dan sekarang Sekar sedang mengandung enam bulan.
Raihan memboyong Sekar ikut dengannya di Jawa barat, karena bisnisnya tidak bisa di tinggal begitu saja. sedangkan butik milik Sekar diserahkan sama Rina dan dikelola adiknya itu. Untuk toko tetap ibunya yang menghandle, tapi dengan mempekerjakan dua orang tetangga untuk membantunya menjaga toko.
Nyaman dan bahagia, itulah gambaran kehidupan keluarga Sekar saat ini, tanpa ada gangguan dari Bima dan keluarganya, semua berjalan seperti sedia kala. Rumah yang ditempati Bu Fatimah tetap ada penjagaan, dua scurity selalu berjaga dirumah dan toko miliknya sekar. Dan Alhamdulillah selama ini selalu kondusif dan aman.
"Sayang, kok ngelamun, ada apa?" Raihan baru pulang dari kantor, tapi mendapati istrinya yang sedang melamun duduk sendiri di teras belakang rumah, sampai suara salamnya tidak terdengar oleh istrinya.
"Mas, sudah pulang? maaf aku gak lihat mas datang!" Sekar gugup karena ketahuan sedang melamun.
"Ada apa? coba ceritakan sama aku. Barangkali bisa mengurangi beban pikiran kamu." balas Raihan lembut dan mengecup pucuk kepala istrinya.
__ADS_1
"Gak papa mas, cuma lagi rindu kampung saja, kangen ibu dan juga Rina." balas Sekar tersenyum dan membingkai wajah suaminya dengan kedua tangannya.
"Mau pulang kampung?"
"Emang boleh, mas?" sahut Sekar sumringah.
"Boleh! asal kamu dan kandungan kamu baik baik saja, sehat. Lusa kita pulang." balas Raihan serius dan mengusap pipi putih istrinya.
"Makasih ya Mas." balas Sekar senang. Sejak menikah dengan Raihan, Sekar merasa diperlakukan seperti ratu, Raihan yang selalu bersikap lembut dan penuh perhatian, melarang Sekar melakukan pekerjaan rumah, karena sudah ada pembantu. Dan selalu menyempatkan waktu untuk menyenangkan sang istri, seperti mengajaknya ke salon, berbelanja dan sekedar makan romantis diluar. Raihan selalu ingin wanita yang dia cintai bisa merasakan bahagia hidup dengan dirinya yang mungkin belum sempurna menjalankan perannya sebagai seorang suami.
"Mas mau aku buatkan kopi?" sambung Sekar pada akhirnya, setelah mereka saling bertaut berbagi nafas untuk menyalurkan kerinduan.
"Boleh! aku mandi dulu ya." balas Reihan tersenyum dan melangkah menuju kamarnya untuk membersihkan diri di kamar mandi.
Secangkir kopi hitam, teh hangat dan sepiring kudapan sudah tersaji di meja bundar yang ada di teras belakang rumah. Karena teras belakang adalah tempat favorit Sekar dan Reihan menghabiskan waktu berduaan. Cahaya lampu yang temaram, dan bunga bunga kesukaan Sekar yang ditanam di pot pot yang tertata rapi di rak besi, semakin menambah indah pemandangan dan selalu betah berada di tempat itu.
"Wah, enak ini sayang, kudapan plus kopi. Tau saja kalau aku lagi pingin makanan kudapan." sambut Reihan yang sudah ikut duduk di kursi samping istrinya.
"Kalau begitu pas ya, habisin!" sahut Sekar tersenyum melihat tingkah suaminya yang kadang suka bersikap lebay kalau sedang bersamanya.
"Habisin nya berdua, gak mau sendirian. Berat!" sahut Reihan dan pada akhirnya mereka tertawa bersama. Terkadang bahagia itu sederhana itu, menciptakan suasana intens antara suami istri tak harus dengan kemewahan dan berada di kasur. Tapi dengan saling menyempatkan waktu untuk mengobrol dan berdua dalam suasana santai, itu sudah bisa menciptakan keharmonisan dalam seni berumah tangga. Yang membuat pasangan saling merasakan nyaman dalam suasana penuh cinta.
__ADS_1
"Aku tadi sudah kasih tau ibu, kalau lusa kita akan mengunjunginya. Ibu terdengar bahagia banget. Katanya mau masakin kamu sambel Pete." Sekar membuka obrolan dengan suaminya yang sedang menikmati kudapan.
"Oh ya? Wah bisa sakit perut lagi akunya. Habisnya sambal bikinan ibu itu enak banget, jadi pingin terus nambah, tapi ya itu, perutku yang gak bisa menerima. Huh!" balas Reihan menatap istrinya penuh cinta.
"Ya, makannya jangan banyak banyak, Mas. Secukupnya, kalau kamu sakit, aku juga yang bingung." balas Sekar serius dan menatap suaminya kagum. Diusianya yang semakin dewasa, Raihan terlihat semakin tampan dan bijaksana. Bulu bulu halus di dagunya selalu membuat Sekar jatuh cinta, karena Reihan akan terlihat lebih tampan kalau sedang brewokan.
"Iya sayang, nanti gak deh. Secukupnya saja.
Kita pulang naik mobil ya, nanti bawa pak Salim buat gantiin nyetir. Kalau naik kendaraan umum kasihan kamu, nanti Dede dalam perut gak nyaman." balas Reihan dan mengusap lembut pipi istrinya yang merona.
Sekar terlihat semakin cantik semenjak hamil, tubuhnya juga terlihat lebih berisi. Reihan selalu jatuh cinta tiap kali menatap sang istri.
"Apa yang menurut kamu baik saja mas, aku ikut saja." sahut Sekar.
"Oh iya, gimana ya kabarnya Bima sekarang? Apa masih dipenjara?"
Sekar mengernyitkan wajahnya, menatap heran pada suaminya yang tiba tiba membahas tentang mantan suaminya.
"Kok, Mas. Tiba tiba bahas Bima, ada apa? hayo kangen ya sama orang aneh itu?" sahut Sekar dengan mimik menggoda suaminya yang langsung disambut kekehan oleh Reihan.
"Eeh mana ada. Gak, cuma tiba tiba ingat dia saja, ini sudah hampir satu tahun dia ada di penjara , kurang satu tahun lagi, semoga saat dia keluar dari penjara, tidak bikin ulah lagi, jadi kepikiran ibu sama Rina disana." balas Reihan dengan tatapan lurus ke depan yang di iyakan istrinya.
__ADS_1
"Kita doakan saja yang terbaik. Semoga penjara membuatnya insaf dan berubah jadi lebih baik." sahut Sekar yang membuang nafasnya kasar.
Tiba tiba pikirannya langsung tertuju pada ibunya disana, kalau kalau Bima bikin ulah lagi.