Sekar Arumi

Sekar Arumi
dapat arisan


__ADS_3

" Aamiin, Bima juga mau balik ke Surabaya lagi Bu, mau lamar pekerjaan di tempatnya Agus, katanya ada lowongan disana. Tidak mungkin Bima gini terus, apa lagi Sekar sepertinya benar benar ingin bercerai dari Bima."


" Wah bagus itu, tumben kamu waras gini pikirannya, gitu dong biar hidup kita bisa berubah enak. Dan kamu harus bisa buktikan pada Sekar dan keluarganya kalau kamu itu bisa lebih sukses dari mereka, buat mereka tidak menghina kita lagi.


" Iya Bu. Akan kubuat mereka menyesal sudah merendahkan kita hari ini." Bima mengepalkan tangannya. Merasa harga dirinya di injak oleh penghinaan yang dilontarkan Sekar. Padahal harusnya dia berbenah dan intropeksi dengan semua yang sudah dilakukan.


" Sekarang kamu istirahat saja dulu, doain ibu hari ini dapat arisan, lumayan tujuh juta, bisa buat jalan jalan ke Surabaya. Ibu sudah kangen sama mbakmu dan anak anaknya." Bu Patmi berlalu untuk bersiap ke arisan, senyumnya merekah dan terus berdoa, berharap hari ini dia yang dapat arisan. Bima merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu dan langsung tertidur dengan pulasnya.


"Asalamualaikum, maaf ya saya hari ini telat datangnya, maklum habis dari rumah besan." Sapa Bu Patmi dengan sikap yang ramah tapi terkesan pamer, perhiasan imitasi menempel di jari dan lehernya. Gayanya yang wah justru mengundang orang lain terlihat risih bahkan tidak jarang jadi bahan ghibah ibu ibu tetangganya.


" Ini jeng uang arisan saya, satu juta kan?" Bu Patmi menyodorkan uang lembaran seratus ribuan sebanyak sepuluh lembar pada Bu Septi yang menjadi ketua arisan. Tidak banyak yang ikut, karena ini memang arisan yang diadakan untuk kalangan menengah ke atas, sebulan sebenarnya hanya lima ratus ribu dan Bu Patmi ikut dua, jadi harus bayar satu juta setiap bulannya. Semenjak jadi anggota ibu ibu yang tergolong kaya, sifat sombong Bu Patmi semakin menjadi, bahkan sudah tidak mau lagi bergaul dengan ibu ibu yang menurutnya miskin. Dan semua itu membuat Bu Patmi tidak disukai tetangga dekatnya. Bahkan mereka enggan untuk sekedar menyapa lantaran kata kata pedas yang sering terlontar dari bibirnya Bu Patmi yang suka bicara seenaknya tanpa memikirkan perasaan orang lain.


" Wah jeng Patmi baru lagi nih kayaknya tuh kalung, bener bener dapat menantu kaya ya, beruntung banget jadi njenengan Bu." Sapa Bu indah yang sengaja memulai obrolan dengan membahas kalung baru yang di pakai Bu Patmi. Sebenarnya Bu indah pernah memergoki Bu Patmi membeli perhiasan imitasi di pasar, tapi Bu indah memilih diam saja, dan bersikap cuek tapi juga geli dengan ulah tetangganya yang sok kaya itu.


" Iya nih jeng, Alhamdulillah baru di kasih Sekar istrinya Bima." sahut Bu Patmi bangga, padahal kalung yang dikenakan adalah kalung imitasi yang baru saja dia beli di pasar beberapa waktu lalu. Sengaja membeli emas imitasi agar bisa gonta ganti dan terlihat kaya karena mempunyai perhiasan banyak. Sedangkan perhiasan yang kemarin milik Bu Fatimah masih disimpan oleh Bu Patmi di lemari dan tidak ada niat ingin mengembalikan sekalipun sudah diperingatkan Sekar. Justru Bu Patmi punya niatan untuk memberikan perhiasan tersebut pada anak perempuannya yang ada di Surabaya.


"Semua sudah lengkap ya Bu ibu, sudah bayar semua dan sekarang waktunya untuk di kocok." Suara Bu Septi seketika membuat ibu ibu beralih fokus padanya setelah rame membahas kalung Bu Patmi. Dengan menggunakan botol bening Bu Septi mulai mengocok dan ada satu nama yang keluar, yaitu nama Bu Patmi. Seketika Bu Patmi langsung tersenyum lebar karena harapan nya terwujud, doa nya terkabul.

__ADS_1


" Wah Alhamdulillah, akhirnya namaku keluar juga. Padahal tadi aku berdoa semoga aku yang dapat arisan untuk jalan jalan ke Surabaya, kangen anak dan cucu disana." cerocos Bu Patmi sumringah.


" Bim, Bima!


Bangun, kita akan berangkat ke Surabaya. Ibu dapat arisan Bim." Bu Patmi langsung bersorak bahagia karena apa yang di inginkan tercapai. Dan Bima langsung terbangun dengan kepala sedikit pusing karena dibangunkan tiba tiba sama ibunya.


" Iya Bu, tapi jangan teriak teriak gitu. Bima kaget Bu, jadi pusing kan." sungut Bima kesal.


" Iya, iya. Ibu minta maaf. Ibu seneng saja. Gak nyangka kalau ibu beneran dapat arisan."


 


Sekar sedikit tak tenang karena dari pagi pikirannya sudah kacau akibat ulah suami dan ibu mertuanya. Namun Sekar masih bisa menyelesaikan semua tugasnya dengan baik. Bahkan Sekar juga sudah mendaftarkan gugatan cerai nya ke pengadilan agama. Sekarang Sekar sedang meninjau lahan yang akan dijadikan projek kandang sapi.


Saat di lokasi, Sekar dan Tante Ririn memastikan kelengkapan surat suratnya dan segala sesuatunya. Tiba tiba ponsel Sekar berdering, panggilan dari Raihan membuat senyumnya terbit.


" Tan, sebentar ya, Sekar angkat telpon dulu dari Raihan." pamit Sekar pada Tante Ririn sopan.

__ADS_1


" Asalamualaikum, ya Mas." sapa Sekar membuka obrolan.


" Waalaikumsallam, gimana sudah di lokasi?" balas Raihan dengan suaranya yang tenang dan terdengar lembut. Bikin jantung Sekar pun terasa berdetak tak beraturan.


" Sudah Mas, dan ini lagi cek surat suratnya. Jadi dikirim Map lokasinya ini ke mas Raihan?"


" iya kirim saja, biar nanti di cek sama tim audit."


" oke, Sekar kirim ya."


"Sekar, makasih ya, sudah bantuin kerjaan mas." balas Raihan tersenyum dengan indahnya di ujung sana, dan seketika membuat rona merah di pipi Sekar yang tak terlihat oleh mata elang Raihan.


" Iya Mas, sama sama. Sekar senang bisa bantu dan bisa buat pengalaman juga."


" Terimakasih sekali lagi, nanti mas akan kabari setelah ada laporan dari tim untuk selanjutnya, semoga lolos ya, biar kita cepet ketemu."


Sekar terdiam, hatinya mendadak dingin seperti tersiram air es, sejuk. Mungkin ini salah, tapi itulah rasa, meskipun bertahun tahun dipendam, bertahun tahun di tutup, tetap saja rasa yang lahir dari sebuah ketulusan yang terdalam akan selalu menemukan jalannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2