
sejak saat itu, Rina adikku sudah tidak lagi mau berangkat ke sekolah, mungkin karena batin dan jiwanya begitu sangat terluka, aku maklum dengan keadaannya, hati siapa yang tak menangis dan terluka, jika terus menerus menerima Bulian dari cacian serta hinaan, yang seharusnya rangkulan dan dukungan, tapi justru sebaliknya yang ia dapatkan.
sejak Rina tidak lagi sekolah, ia banyak mengurung diri dirumah, bahkan sering aku melihatnya menangis sendirian dikamar, sakit rasanya, melihat saudara yang kita sayangi begitu terpuruk, yang bisa aku lakukan hanyalah selalu memberinya semangat dan cinta, agar keadaannya tak semakin terpuruk.
meskipun begitu, Rina masih selalu mau membantu ibu, dia membantu pekerjaan ibu di dapur, membuat lontong dan botok, dan saat magrib menjelang, biasanya rina, akan ikut pergi ke mushola, tapi setelah dia merasa tertekan dengan pembulian itu, Rina tidak sama sekali mau menginjakkan kakinya lagi ke mushola, namun meskipun dia tidak ke mushola, tetap kewajiban lima waktunya ia lakukan di rumah, aku salut dengan adikku itu, meskipun jiwa dan hatinya sedang tidak baik baik saja, namun dia tidak sedikitpun meninggalkan ibadahnya, yang ada justru dia semakin kusuk beribadah dirumah, Alloh berilah keluasan hati untuk adikku bisa menerima ini dengan rasa syukur dan iklas.
waktu terus saja bergulir, aku sebentar lagi akan lulus dari SMP, hajah Safa sudah menawari untuk aku meneruskan ke SMA yang aku suka, namun aku menolaknya, bukan karena aku tak butuh, tapi aku merasa sungkan jika terus merepotkan beliau, meskipun Hajah Safa terus berusaha meyakinkan aku, jika beliau iklas dan tidak terbebani sama sekali, akan tetapi hati ini begitu berat untuk menerimanya, ada rasa sungkan dan malu, karena bagaimanapun biaya sekolah tidaklah sedikit, dengan hati berat aku memutuskan untuk berhenti sampai di SMP saja, biarlah gak papa, aku akan membantu ibu mencari uang, agar ibu tidak terlalu berat menanggung beban sendirian, itulah yang selalu menjadi pikiranku selama ini.
__ADS_1
saat kelulusan tiba, Om Huda dan istrinya berkunjung kerumah dengan membawa adikku yang dulu diadopsi mereka, nampak ibu begitu berbinar, ada raut bahagia menghiasi wajah lelahnya, senyumnya merekah, dan aku suka melihat ibuku seperti itu.
kedatangan om Huda ternyata mempunyai keinginan dan maksud lain, selain ingin berkunjung dan mempertemukan adik ke ibu, ternyata om Huda juga ingin membawaku ikut serta dengannya, om Huda ingin aku melanjutkan sekolah SMA ku di Blitar.
sebelum aku datang ternyata om Huda sudah ngobrol banyak dengan ibu, itu karena ibu dengan begitu semangat memintaku untuk mau ikut dengan om Huda, oooh ibu, taukah engkau, jika aku ingin bekerja saja, agar bisa meringankan beban deritamu.
ibu terus memaksa, dan akhirnya akupun menyetujui, aku hanya tidak ingin ibu kecewa, dan lagi pula, om huda juga menawarkan kalau aku bisa bantu bantu dirumahnya sepulang dari sekolah, dan aku juga akan menerima uang upah untuk itu, bahkan om Huda juga mengatakan kalau aku bisa pulang sebulan sekali untuk menjenguk ibukku.
__ADS_1
Dengan nilai terbaik aku lulus dari sekolah menengah pertama, ada rasa haru ketika aku menerima penghargaan di atas panggung sekolah, banyak ucapan selamat dan pujian yang terlontar dari para guru, disana dikursi paling depan aku melihat ibu meneteskan air mata bahagianya, Alloh terimakasih, semoga kelak aku bisa memuliakan wanita hebat yang saat ini sedang menitikkan air mata harunya untukku, ibu, aku akan berjuang keras untuk bisa membuatmu bahagia, bisik hati kecilku.
sepulang dari sekolahan, aku melihat Rina sedang belajar menulis dan membaca sendirian diruang tamu, ada rasa sesak Kala melihat adikku itu, nasib baik belum menghampirinya, tapi aku yakin, kelak ia akan bahagia, karena dia memiliki hati yang baik.
keesokan harinya, om Huda menjemputku, beliau menepati janjinya, ibu dan Rina melepas kepergian ku dengan mata berkaca kaca, pun dengan diriku, rasanya sangat berat melangkahkan kaki meninggalkan dua wanita hebat yang selama ini sudah menemani hariku, meskipun kita hidup dalam segala keterbatasan, tetapi kita saling menyayangi dan memiliki cinta untuk satu dengan yang lain dengan begitu tulusnya, hingga kepergian ini terasa begitu berat untukku maupun ibu juga Rina.
kemanapun kaki ini melangkah, doa serta cintaku akan tetap tertinggal untuk ibu dan adikku, aku selalu berjanji pada diriku sendiri, jika sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepas tanggung jawabku untuk hidup mereka, aku akan terus berjuang untuk memberi kebahagiaan dan hidup yang lebih baik untuk mereka, aku janji ibu, mbak janji Rina.
__ADS_1
ya Tuhan betapa berat langkah ini untuk pergi meninggalkan ibu dan adikku, mereka adalah semangat dan separuh hidupku, sungguh aku tak rela jika ada yang menyakiti mereka, untuk itulah aku menguatkan tekad untuk menerima tawaran dari om Huda, agar aku bisa melanjutkan pendidikan dan sekaligus bisa bekerja menghasilkan uang untuk aku berikan pada ibu.
hidup adalah perjuangan, kita tidak pernah tau bagaimana jalan hidup kita kedepannya, bukankah Tuhan tidak akan merubah nasib kita jika kita sendiri tidak berusaha untuk berubah.